LOGINXian Ren melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dari dalam. Rasa nyeri di bahu kirinya terasa semakin menjadi-jadi akibat tepukan keras dari Min Soo serta tabrakan dengan Ryu Wei di gerbang sekolah tadi. Ia melepas seragam sekolahnya dan berdiri di depan cermin. Pandangannya tertuju pada perban di bahu kirinya itu. Ada rembesan darah yang sudah membasahi kain tersebut."Sial. Sepertinya jahitan lukaku kembali terbuka," umpatnya pelan seraya memegang bahu kirinya.Terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamarnya."Han. Ini Kak Rin. Boleh aku masuk?"Xian Ren tersentak kaget dan dengan cepat meraih seragam sekolahnya, lalu menutupi bahu kirinya. "Masuk saja, Kak Rin. Pintunya tidak dikunci."Yuan Rin melangkah masuk ke dalam kamar, menatap ke arah Xian Ren yang masih berdiri di depan cermin. Gadis itu tampak terpesona dengan tubuh tegap dan atletis milik pemuda itu, lalu buru-buru memalingkan wajahnya."Ada apa, Kak Rin?" tanya Xian Ren, menatap ke arah kakak tirinya.Yua
Satu jam kemudian, beberapa mobil Kepolisian Distrik tiba di depan rumah Yuze. Beberapa anggota polisi mulai memasang garis polisi mengelilingi rumah.Detektif Kang berjalan sambil mengantongi amplop cokelat yang berisi surat perintah penggeledahan dari pengadilan setempat."Pastikan seluruh tim sudah mengenakan sarung tangan dan penutup sepatu yang steril," ujar Detektif Kang pada beberapa anggotanya dan dua petugas forensik yang ada di sana. "Dokumentasikan juga setiap ruangan sebelum kalian menyentuh barang apa pun.""Baik, Detektif!"Petugas ahli kunci membuka paksa gembok pintu depan. Begitu pintu terbuka, tim forensik mulai memotret ruang tamu dengan kameranya, sementara anggota penyidik menyisir area kamar dan ruangan lain.Di saat yang bersamaan, Detektif Kang menerima laporan dari unit patroli jalan raya dari radio komunikasinya."Lapor Detektif Kang. Kami berhasil menemukan mobil milik tersangka Yuze di area parkiran stasiun rest area kilometer empat puluh delapan. Kami suda
"Apa Detektif yakin kalau Yuze adalah pelaku utama di balik penculikan dan teror itu?" ucap Han Yu dengan suara bergetar."Untuk saat ini masih dugaan sementara berdasarkan bukti awal pelacakan kartu prabayar dan rekaman CCTV, Nyonya Han Yu. Kami belum bisa menyimpulkan sepenuhnya sebelum meminta keterangan dan memeriksa langsung dari yang bersangkutan."Han Yu menarik napas panjang, dadanya masih bergemuruh hebat. "Apa yang akan Detektif lakukan sekarang?""Hari ini tim kami akan mendatangi kediaman Saudara Yuze untuk meminta keterangannya," ujar Detektif Kang. "Saya harap Anda dan keluarga tetap tenang dan tidak menghubungi Saudara Yuze terlebih dahulu agar tidak mengganggu proses penyelidikan.""Baik, Detektif Kang. Terima kasih," ucap Han Yu.Panggilan itu pun berakhir. Han Yu meletakkan gagang telepon dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu kembali duduk di samping Bibi Hua."Ada apa, Han Yu? Siapa yang meneleponmu tadi?"Dengan wajah pucat, Han Yu menoleh ke arah Bibi Hua. "Dar
Suasana di meja makan pagi itu terasa sedikit tegang. Xian Ren sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, meski bahu kirinya masih tampak sedikit kaku di balik kemeja."Han, Ibu mohon hari ini kamu istirahat saja di rumah," ujar Han Yu seraya meletakkan piring di meja dengan raut wajah cemas. "Bahumu baru saja dioperasi kemarin lusa.""Aku sudah baikkan, Bu," ucap Xian Ren tenang. "Luka di bahuku juga sudah kering dan tidak terlalu sakit lagi. Kalau cuma bersekolah, itu tidak akan mengganggu pemulihannya, kan?"Yuan Rin yang duduk di samping ibunya ikut menimpal. Ia sendiri masih mengenakan pakaian santai karena belum berani berkuliah akibat rasa trauma yang masih ada. "Dengarkan saja kata-kata Ibu, Han," ujar Yuan Rin seraya menatap Xian Ren tajam. "Kamu itu nekat sekali. Nanti kalau bahumu tersenggol teman-temanmu di sekolah bagaimana?""Aku bisa menjaga diriku, Kak Rin. Ibu dan Kak Rin tenang saja." Xian Ren menghabiskan sarapannya dengan cepat, lalu berdiri dari kursi. "Ya
Dokter memastikan kondisi Xian Ren sudah stabil dan mengizinkannya untuk pulang. Setelah Han Yu menyelesaikan administrasi rumah sakit serta memesan taksi, mereka bertiga kemudian pulang ke rumah.Sekitar dua jam setelah mereka berada di rumah, terdengar ketukan dari pintu depan. Han Yu bergegas berjalan ke depan dan membuka pintunya.Detektif Kang berdiri bersama rekannya tampak berdiri di ambang pintu."Selamat siang, Nyonya. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahatnya," ucap Detektif Kang dengan sopan."Iya, Detektif Kang. Silakan masuk," ucap Han Yu seraya mempersilakan kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumah. Detektif Kang dan rekannya kemudian duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Han Yu. Sementara Xian Ren dan Yuan Rin berada di ruang keluarga sambil menoleh ke arah ruang tamu tersebut."Begini Nyonya Han. Kami datang ke sini untuk menyampaikan perkembangan penyelidikan kasus penculikan kemarin," ucap Detektif Kang seraya menatap ke arah Han Yu dengan waj
Xian Ren perlahan membuka matanya. Rasa nyeri yang menusuk masih terasa di bahu kirinya yang kini sudah diperban tebal.Di samping ranjangnya, Yuan Rin tertidur di kursi seraya menyandarkan kepalanya di tepi kasur. Han Yu dan Bibi Hua juga tertidur di sofa tak jauh dari sana.Xian Ren mencoba menggerakkan tangan kirinya dengan pelan. Rasa nyeri merambat naik, namun kondisinya sudah jauh lebih stabil pascaoperasi pengangkatan peluru tadi. Pergerakan kecil dari Xian Ren membuat Yuan Rin terbangun. Gadis itu mendongak seraya mengucek matanya. Saat menyadari adik tirinya sudah sadar dan menatapnya, raut wajah Yuan Rin seketika berubah haru."H-Han... Kamu sudah sadar?" bisik Yuan Rin pelan."Iya, Kak," ucap Xian Ren dengan suara yang sedikit serak. "Jam berapa sekarang?""Sudah jam empat pagi," jawab Yuan Rin seraya memegang jemari Xian Ren. Air mata kembali menetes di wajahnya. "Dokter bilang... Kamu kehilangan banyak darah. Tapi untungnya pelurunya tidak mengenai pembuluh darah utama."







