LOGINGubernur Nan She, dengan tangan yang gemetar hebat dan napas yang memburu, akhirnya meraih pena itu. Ia tidak punya pilihan. Di depannya berdiri seorang pemuda yang baru saja membuang martabat militer provinsi ke tempat sampah. Dengan satu goresan kasar, surat penunjukan keamanan darurat resmi ditandatangani.Melihat hal itu Fang Zhe tersenyum puas. Ia mengambil dokumen itu, lalu merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan satu nama di kontaknya: Siska."Halo, Siska," suara Fang Zhe terdengar santai, namun penuh nada perintah. "Hentikan semua aktivitas ekspansi di kota Shange. Aku ingin seluruh pusat operasional Alkemis Dewa dipindahkan ke Provinsi Nan She malam ini juga. Jangan bawa barang-barang lama, beli yang baru di sini. Aku sudah mengamankan gedung tertinggi dan jalur distribusi utama. Kirimkan tim akuisisi sekarang."Di seberang telepon, Siska sempat terdiam sesaat sebelum menjawab dengan nada tegas, "Dimengerti, Tuan Muda. Dalam enam jam, markas pusat akan berpindah koordi
Juliant Gerva menatap Fang Zhe dengan penuh harap. Bagi keluarga Gerva, menjadi pemasok tunggal untuk Alkemis Dewa bukan sekadar kontrak bisnis, melainkan tiket emas menuju dominasi absolut yang akan membuat kekayaan mereka melipat ganda hingga tujuh turunan. Namun, Fang Zhe hanya menatap dokumen di tangannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Juliant. Sebuah tawa kecil, hambar, dan terdengar meremehkan keluar dari bibirnya. "Hehehe..." "Menjadi pemasok tunggal?" Fang Zhe melirik Juliant melalui sudut matanya. "Juliant, jangan biarkan ambisimu membuatmu menjadi rabun. Kau pikir aku memindahkan Alkemis Dewa ke sini hanya untuk bermain-main di kolam kecil bernama Provinsi Nan She?" Juliant mengerutkan kening, senyum di wajahnya perlahan memudar. "Apa maksudmu, Tuan Muda? Keluarga Gerva memiliki perkebunan herbal terbaik di provinsi ini. Tidak ada yang bisa menandingi kualitas kami." Fang Zhe melangkah menuju jendela besar aula, menatap hamparan kota yang sibuk di bawahnya. "Ta
Fang Zhe menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, menatap Gubernur Nan She dengan tatapan santai seolah mereka sedang mendiskusikan menu makan siang, bukan masa depan sebuah provinsi."Sederhana, Gubernur," ucap Fang Zhe sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Aku ingin izin usaha eksklusif untuk memindahkan seluruh operasional Alkemis Dewa dari Kota Shange ke pusat Provinsi Nan She. Aku ingin gedung tertinggi di kota ini, jalur distribusi tanpa pajak untuk tiga tahun pertama, dan perlindungan hukum penuh dari segala bentuk gangguan... termasuk gangguan dari ormas atau organisasi swasta yang merasa memiliki wilayah ini."Mendengar itu, Luna yang sejak tadi menahan napas, mendadak menjerit dengan suara melengking penuh kemarahan."TIDAK! JANGAN BERANI-BERANI, GUBERNUR!" teriak Luna sambil menunjuk wajah Fang Zhe dengan jari gemetar. Wajah cantiknya kini tampak mengerikan karena amarah yang memuncak. Sebagai otak di balik strategi bisnis Paviliun Keberuntungan Langit, Luna tah
Mobil yang dikendarai Fang Zhe melesat membelah jalanan provinsi Nan She. Di sampingnya, Irma masih berusaha menetralkan debar jantungnya... bukan karena takut lagi, melainkan karena panggilan "Sayang" yang tadi terlontar begitu saja dari bibir Fang Zhe."Kita tidak ke kota Shange, Fang Zhe?" tanya Irma saat menyadari arah mobil bukan menuju gerbang tol luar Provinsi, melainkan kembali ke kota terbesar di provinsi."Shange terlalu kecil untuk rencana sebesar ini, Irma," sahut Fang Zhe sambil melirik saldo rekening di ponselnya. "$120 miliar adalah modal yang terlalu besar jika hanya disimpan. Aku akan membangun Pusat Toko Alkemis Dewa di sini. Jika kau ingin memotong akar Paviliun Keberuntungan Langit, kau harus menghancurkan dominasi ekonomi mereka di pusatnya."Fang Zhe menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung megah dengan pilar-pilar putih tinggi... Itu adalah Kantor Kepresidenan Gubernur Nan She. Tempat di mana Penguasa Provinsi bertahta.Disaat yang sama...Ketika Fang
Tak lama setelahnya...Fang Zhe berdiri tegak dengan tangan di saku, sementara notifikasi di ponselnya berdenting pelan... Itu sebuah pesan enkripsi yang mengonfirmasi bahwa angka astronomis sebesar $60 miliar telah mendarat dengan mulus di rekening rahasianya. Total, dalam waktu singkat, ia telah menguras $120 miliar dari brankas Paviliun Keberuntungan Langit."Uang sudah masuk," ucap Fang Zhe datar. "Kalian bebas. Anggap saja ini diskon untuk nyawa murah kalian."Mendengar itu, Jenderal Guan dan para prajuritnya seolah mendapatkan mukjizat. Nafas mereka yang sedari tadi tercekat mulai berangsur normal. Dengan kaki yang masih lemas, mereka berusaha bangkit, saling memapah untuk segera menjauh dari "Iblis" berbaju santai tersebut.Saat Mereka ingin segera masuk ke dalam kendaraan militer dan menghilang dari pandangan Fang Zhe selamanya.Namun, baru saja Jenderal Guan menyentuh pintu mobilnya...Cekleeeek!"Siapa yang mengizinkan kalian pergi dengan tubuh utuh?"Suara Fang Zhe yang di
Jenderal Guan merogoh sakunya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Dalam situasi terjepit antara maut dan kebangkrutan, ia hanya memiliki satu kartu as. Ia menekan nomor satelit terenkripsi yang hanya digunakan untuk urusan hidup dan mati. "Tuan... Tuan Besar..." suara Guan tercekat saat sambungan telepon terhubung. Di seberang sana, di sebuah ruangan mewah yang aromanya dipenuhi cerutu mahal, sosok pria paruh baya yang dikenal sebagai Tuan Besar Paviliun Surgawi mengerutkan kening. Ia sedang menyesap wine, menunggu kabar bahwa pria bertopeng telah menjadi mayat dan uang 60 miliar dolarnya yang hilang telah kembali. "Guan? Kau menelepon untuk melaporkan kepala bocah itu sudah di atas meja, bukan?" tanya Tuan Besar dengan nada angkuh. "Tuan... situasinya... situasinya berbalik," Guan menelan ludah, melirik Fang Zhe yang sedang asyik memutar-mutar kunci mobil di jarinya. "Pasukan kita... semua peluru tertahan di udara... Saya... saya butuh 60 miliar dolar sekarang juga." PRANK
Pagi di Paviliun Obat biasanya dimulai dengan aroma tenang dari rebusan herbal dan gesekan pelan lesung kayu. Namun, bagi Fang Zhe, pagi ini terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Kalimat terakhir Erina tentang hukuman "tidur di halaman" masih terngiang di telinganya, member
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Karena Tatapan dingin Erina tertuju tepat pada Fang Zhe.“Semalam ini, kau seharusnya beristirahat…” katanya perlahan.“Lalu kenapa kau malah keluar hingga pagi hari?”Nada suaranya tidak keras.Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin menekan.Dua pega
erIrma masih menatap Fang Zhe tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah ingin menembus sampai ke dalam pikirannya. “Fang Zhe…” katanya pelan. “Ilmu medis seperti itu… kau benar-benar hanya ‘pernah belajar beberapa kali’?” Ia menyilangkan tangan di dada. “Dan kau belajar dari mana?” Ruanga
Gang sempit itu terasa kembali sunyi.Lampu jalan yang redup menerangi empat tubuh pria keluarga Zhao yang tergeletak tak bergerak di tanah.Fang Zhe berdiri dengan ekspresi tenang.Sementara di depannya, Dokter Irma masih mencoba menenangkan napasnya.Beberapa detik kemudian ia akhirnya berkata pe







