MasukJuliant Gerva yang duduk di barisan kursi VIP langsung melompat berdiri, menelan ludahnya dengan kasar. Matanya membelalak menatap salah satu dari dua wanita itu. "Liora?! Mengapa dia memakai gaun pengantin?!"Seluruh aula besar Paviliun Keberuntungan Langit seketika riuh oleh bisik-bisik massal. Beberapa walikota yang hadir langsung menoleh ke arah Wali Kota Shange yang kini wajahnya memerah antara malu dan syok melihat putrinya, Liana, nekat melakukan aksi segila itu di depan publik provinsi Nan She.Sementara itu, di atas altar, atmosfer agung nan romantis yang dibangun Fang Zhe mendadak runtuh.Mei Lu yang baru saja menyunggingkan senyum manis langsung menaikkan sebelah alisnya, memicingkan mata ke arah pintu masuk. Dokter Irma yang berada di tengah seketika melipat tangannya di dada, tatapan matanya kembali dingin laksana jarum es, menembus langsung ke arah Fang Zhe. Sedangkan Erina yang polos hanya bisa mengerjapkan mata, memegangi buket bunganya dengan bingung.Glek.Fang Zhe,
"Kosongkan jadwal selama beberapa hari ke depan. Karena dalam tiga hari lagi, aku akan menepati janjiku. Aku akan menikahi mereka bertiga sekaligus," ucap Fang Zhe dengan nada mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Siska, gunakan seluruh sumber daya finansial dari Paviliun yang baru kita rebut. Atur dan rayakan pernikahan ini dengan semegah-megahnya! Aku ingin seluruh Provinsi Nan She tahu. Undang semua rekan bisnis, para petinggi kota, dan semua kenalan kita yang berbobot. Jangan hemat satu dolar pun." DEG! Mendengar deklarasi yang begitu berani, terbuka, dan tanpa kompromi dari Fang Zhe, pertahanan ketiga wanita itu runtuh sepenuhnya. Siska yang biasanya cekatan dan profesional sebagai asisten, langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan senyuman lebar mendengar hal ini... Dokter Irma yang terkenal dingin dan bermulut tajam seketika memalingkan wajahnya ke arah dinding, pura-pura batuk kecil sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hebat, ta
"Paviliun Keberuntungan Langit! Itu adalah raksasa finansial dengan cara licik dan kejam untuk menghancurkan seseorang. Bahkan Han Ling yang kejam sebagai kepalanya! Aku dan Bimo baru saja selesai menyusun strategi matang, menyiapkan jalur logistik, dan mengumpulkan jaringan informan terkuat kita untuk membantumu meruntuhkan tempat itu minggu depan. Tapi kau... kau menghancurkannya dalam beberapa jam?! Sendirian?!"Bimo yang berada di samping Paman Lu hanya bisa melongo, rahangnya seolah jatuh ke lantai. Buku catatan strategi yang sejak sore ia pegang kini tergeletak mengenaskan di bawah meja."Tuan Muda Fang Zhe... Anda benar-benar monster," sahut Bimo dengan suara serak, menggelengkan kepalanya pasrah. "Kami mengkhawatirkan Anda saat mendengar anda tidak berada didalam kamar... sampai kita semua hampir gila di sini, memikirkan bagaimana cara menembus formasi keamanan mereka. Ternyata bagi Anda, seluruh kekuatan Paviliun itu tidak lebih dari tumpukan kartu mainan yang siap dirubuhka
Wuuuush!Gema angin malam perlahan menyapu sisa-sisa aura ungu pekat yang ditinggalkan oleh utusan Pangeran Kedua. Fang Zhe masih berdiri tegak di atas atap beton, menatap langit malam Kota Khong yang sunyi. Gulungan sutra merah tua bersulam emas itu kini berada di genggamannya, diremas pelan sebelum akhirnya dilemparkan masuk ke dalam cincin penyimpanannya dengan acuh tak acuh."Ancaman, ya? Menarik," gumam Fang Zhe, sebuah senyum sinis yang tipis terukir di wajah tampannya. "Pangeran Kedua... kita lihat saja seberapa panjang leher para kultivator tersembunyimu itu jika berani mengusik ketenanganku."Diiiing!Tiba-tiba, sebuah suara berdenging jernih memecah keheningan di dalam benak Fang Zhe. Suara mekanis yang teramat familier dan dinanti-nantikan akhirnya menggema, membawa riak energi tak kasat mata yang menenangkan jiwa.[Notifikasi Sistem: Misi Tersembunyi 'Penghancuran Mutlak Paviliun Keberuntungan Langit' Telah Dinyatakan Berhasil!][Evaluasi Misi: Sempurna (Tingkat kehancura
Tubuh Fang Zhe berkelebat bagai bayangan semu, melebur bersama angin malam dan lenyap dari pandangan para petinggi Paviliun Keberuntungan Langit yang masih bersujud gemetar.Hanya dalam fraksi detik, Fang Zhe sudah berada di luar gedung, berdiri tegak di atas salah satu atap bangunan tinggi yang menghadap langsung ke arah jendela luar ruangan VIP tadi. Sepasang mata emasnya berkilat tajam, langsung mengunci sesosok siluet berpakaian hitam pekat yang tengah melesat cepat di antara atap-atap gedung Kota Khong."Gerakan yang lumayan. Tapi di hadapanku, kau tidak lebih dari seekor kura-kura," gumam Fang Zhe dengan seringai tipis."Langkah seribu petir!"Sreeeet!Fang Zhe menghentakkan kakinya. Aliran Qi murni yang dilapisi sisa elemen es tipis meledak di bawah pijakannya, mendorong tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang memicu dentuman udara kecil.Pria berpakaian hitam itu menyadari bahwa keberadaannya telah terbongkar. Merasakan gelombang tekanan angin yang mendekat dengan kecepata
Fang Zhe melirik Tuan Besar dengan seringai dingin. "...dia hanyalah seonggok sampah yang sedang menghitung mundur sisa napasnya."Mendengar ucapan Fang Zhe yang begitu dingin dan melihat kilatan es yang kembali bergolak di ujung jari pemuda itu, mental Tuan Besar benar-benar hancur lebur. Ketakutan akan kematian instan tanpa reinkarnasi membuatnya melupakan seluruh sisa harga diri yang ia miliki.Dalam benaknya saat ini, menyerahkan Paviliun Keberuntungan Langit adalah satu-satunya tiket untuk tetap bernapas. Persetan dengan takhta dunia bawah! Persetan dengan Han Ling yang sudah jadi mayat! Jangankan membalas dendam, seumur hidupnya Tuan Besar bersumpah tidak akan pernah mau lagi menyentuh atau berurusan dengan monster berwujud pemuda bernama Fang Zhe ini."C-Cepat...! Tunggu apa lagi, bodoh?!" raung Tuan Besar kepada belasan direksi dan pengurus inti yang masih mematung syok. Suaranya melengking histeris penuh keputusasaan."Turuti semua perkataannya! Siapkan dokumen pemindahtanga
Fang Zhe tidak menoleh. Wajahnya yang biasa terlihat santai kini sedingin es. Tangannya dengan tenang melepaskan sabuk pengaman, sementara matanya terpaku pada kendaraan lapis baja yang semakin mendekat di kaca spion."Irma, dengarkan aku baik-baik," suara Fang Zhe berat dan otoriter, memotong jeri
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Fang Zhe memutar tubuhnya. Langkah kakinya mantap, meninggalkan aura dingin yang masih membekas di ruangan VIP tersebut. Irma pun mengikuti dari belakang, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa sesak akibat tekanan atmosfer yang luar biasa. Di sepanjang
Suasana di dalam ruangan VIP itu benar-benar mencekam. Luna dan Ariel kini bukan lagi sekadar dealer cantik yang berwibawa; mereka tampak seperti binatang buas yang terpojok. Rambut mereka berantakan, dan keringat dingin melunturkan riasan wajah mereka yang tadinya sempurna. "TIDAK! INI TIDAK SAH!
Ketegangan di ruangan VIP itu kini berada di titik didih. Dealer dengan sarung tangan putih mulai membagikan kartu dengan gerakan yang sangat mekanis, seolah setiap gesekan kartu di atas kain beludru hijau itu adalah bagian dari algoritma yang sudah diprogram. Sret! Sret! Sret! Dua kartu tertutup







