LOGINMendengar sanjungan Gu Nan, Fang Zhe hanya tertawa pelan. Ia melangkah mendekati pintu perunggu raksasa itu, lalu berbalik menatap Gu Nan dengan pandangan tajam yang memancarkan ketenangan mutlak. "Tempat ini memang luar biasa, Tetua Gu," ujar Fang Zhe seraya menyunggingkan senyum tengil khasnya. "Kalau begitu, tidak perlu buang-buang waktu lagi. Kau cukup menunggu di luar saja selama beberapa jam." Gu Nan mendadak tertegun, matanya terbelalak heran. "B-beberapa jam? Tuan Muda Fang... memurnikan herba spiritual sebanyak ini dalam daftar tadi, bahkan seorang Grandmaster Alkimia tingkat atas biasanya membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu!" "Itu kalau Grandmaster Alkimia biasa," potong Fang Zhe santai, mengibaskan tangannya tanpa beban. "Untukku, beberapa jam saja sudah lebih dari cukup. Tapi ada satu syarat mutlak yang harus kau pegang teguh, Tetua Gu." Raut wajah Fang Zhe mendadak berubah menjadi teramat serius, menatap lurus ke dalam manik mata pengurus pavi
Seringai tipis mengukir wajah Fang Zhe saat jemarinya berhenti menari di atas kertas gulungan giok. Penjelasan Gu Nan mengenai bahaya fenomena alam—atau Petir Kesengsaraan Alkimia... memang sebuah fakta mendasar. Pil Tingkat Dewa berkemurnian sempurna yang diciptakan di tempat terbuka pasti akan memicu pancaran pendar langit dan aroma ilahi sejauh puluhan mil. Di tengah situasi sensitif menjelang turnamen klan Bao, hal itu tak ubahnya seperti menyalakan suar raksasa yang mengundang kawanan serigala haus darah. "Ucapanmu ada benarnya, Tetua Gu," gumam Fang Zhe seraya mengetuk-ngetuk gulungan daftar herbal di atas meja. "Membuat kekacauan di luar saat ini hanya akan menambah pekerjaan yang tidak penting." Melihat pancingannya dimakan, mata Gu Nan makin berbinar cerah. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memelankan suaranya hingga nyaris berbisik dengan nada misterius yang sarat akan daya pikat. "Bukan sekadar menghindari kekacauan, Tuan Muda Fang," pangkas Gu Nan seraya mengibaskan l
"Dan aku... Ingin menawarkan sembilan puluh batu spritual kelas Dewa untuk tiga puluh butir Pill yang ditawarkan anda..." Penawaran yang dilontarkan Gu Nan seketika membuat keheningan kembali melingkupi ruangan pribadi tersebut. Su Yin dan Ling Yin, yang tadinya sedang mengusap bibir usai tersedak teh, mendadak membeku di tempat dengan mata terbelalak lebar. "Se-sembilan puluh Batu Spiritual Kelas Dewa?!" batin Su Yin berteriak histeris dalam hatinya. Bahkan untuk sekte besar seperti Sekte Lembah Perawan, Batu Spiritual Kelas Langit saja sudah terbilang langka, apalagi Batu Spiritual Kelas Dewa... jenis batu energi paling murni yang mengandung esensi hukum alam semesta dan sangat sulit ditemukan di seluruh Benua Timur! Satu butir saja sudah cukup untuk memicu perang antarklan atau membiayai seluruh kebutuhan sekte selama bertahun-tahun. Tetua Gu Nan mengamati perubahan raut wajah mereka dengan cermat. Ia berdeham pelan, lalu menangkupkan kedua tangannya seraya berkata dengan nada
Teguran santai Fang Zhe memecah keheningan yang mencekam di lantai satu. Pelayan bergaun hijau lumut itu menyentak kesadarannya, buru-buru membungkuk dalam-dalam hingga tubuhnya hampir melipat dua, bibirnya bergetar hebat saat mencoba bersuara. "M-mohon maafkan hamba yang bermata buta ini, Tuan Muda Yang Mulia! Hamba... hamba segera..." Belum sempat pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, sebuah getaran lembut bergelombang merambati dinding kayu cendana bangunan. Aura spiritual yang tenang namun teramat dalam seketika melingkupi seluruh ruangan. KLAK... Sebuah pintu ukiran kayu giok di lantai atas mendadak terbuka secara spontan. Dari balik kegelapan ruangan pribadi tersebut, sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah bertuliskan pola alkimia emas melangkah keluar ke balkon interior. Raut wajahnya dipenuhi kekaguman mendalam dan keterkejutan yang tak mampu disembunyikan. Dia adalah Tetua Gu Nan, Pengurus Utama Paviliun Obat Agung cabang kota ini. Seorang Alkemis Tingkat
Tanpa sedikit pun keraguan, Su Yin melangkah maju memotong jalan di depan Fang Zhe. Kekesalannya yang memuncak akibat provokasi Long She serta tatapan meremehkan dari orang-orang di sekitarnya akhirnya meledak. Reaksi impulsif yang tak disangka-sangka ini bahkan membuat Ling Yin terbelalak kaget. "Kau ingin melihatnya, Long She?!" sengit Su Yin dengan nada dingin yang menyengat. "Kau ingin melihat bukti dari Sekte Lembah Perawan?! Bahwa kami murid murid sekte Lembah Perawan tidak membual kan?!" Dengan satu sentakan tangan, Su Yin menepuk kantong penyimpanan mistik di pinggangnya. WUSH—! Sebuah botol batu giok putih murni berukiran rumit melayang keluar dan mendarat mulus di telapak tangannya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Long She atau sang pelayan untuk merespons, Su Yin muka penutup botol giok itu dengan kasar. Seketika itu juga, gelombang aura spiritual yang begitu pekat dan murni memancar keluar secara masif! Aroma herba segar yang menenangkan jiwa melingkupi seluruh lant
Begitu langkah Fang Zhe, Su Yin, dan Ling Yin melintasi ambang pintu Paviliun Obat Agung, kehangatan ruangan yang dipenuhi aroma herba spiritual ratusan tahun menyambut mereka. Bangunan interiornya begitu megah, dilapisi kayu cendana berkualitas tinggi dan diterangi lampion-lampion batu minyak mistik. Su Yin, yang pinggangnya masih dirangkul santai oleh Fang Zhe, seketika mencubit pinggang pemuda itu dengan cukup keras hingga Fang Zhe meringis pelan tanpa bersuara. Su Yin buru-buru melepaskan pelukannya, pipinya memerah samar antara kesal dan malu akibat akting melampaui batas yang baru saja mereka lakukan di luar. "Ka-kau..." Namun sebelum Su Yin sempat memprotes godaan Fang Zhe, bisikan santai pemuda itu di udara mendadak tertangkap oleh telinga seseorang. "Pfft—hahahaha!" Sebuah gelak tawa yang agak ditahan namun terdengar cukup jelas memecah ketenangan lantai satu paviliun. Seorang pelayan muda bergaun hijau lumut yang bertugas menyambut tamu melangkah mendekati mereka sambil
DIIIIIING!Panel transparan berwarna biru muda muncul di hadapan Fang Zhe, hanya bisa dilihat olehnya. Di bawahnya, dua pilihan menyala terang.1. Bela Diri Dasar (Basic Combat Mastery).Meningkatkan refleks, kekuatan pukulan, teknik dasar pertarungan tangan kosong. Cocok untuk konfrontasi langsung
Fang Zhe terdiam sesaat.Tatapan warga desa itu hanya singgah sebentar sebelum berlalu, meninggalkannya berdiri sendiri di pinggir jalan aspal yang sunyi. Angin pagi bertiup dingin, menyapu pakaian compang-campingnya yang masih berbau darah kering dan tanah lembap.Desa Mati. Nama itu terasa tidak
“Ayolah, bibi cantik. Jangan berpura-pura suci. Bukankah kau juga ingin hidup lebih baik?”Suara laki-laki muda terdengar sombong dan sedikit mabuk. Yang langsung membuat jantung Fang Zhe bergetar cepat.Ia mengenali suara itu. Zhao Ming Yao, tuan muda ketiga keluarga Zhao, pemuda itu terkenal arog
Erina masih memperhatikannya beberapa detik lebih lama.Tatapannya tajam. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang Fang Zhe. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya secara perlahan.“Hari ini ada pertemuan penting.”Nada suaranya kembali profesional.“Pertemuan perdagangan bahan obat dengan k







