Home / Romansa / SKANDAL PEWARIS CULUN / Bab 6. Gagalnya Trik Licik Balas Dendam

Share

Bab 6. Gagalnya Trik Licik Balas Dendam

last update Last Updated: 2025-08-19 16:19:58

Misha yakin, dia tidak salah dengar. 

“Zay? Apa kamu baru saja berdecak padaku?”

Pria itu nampak bergeming, ekspresinya sedatar biasanya hingga Misha harus menyipitkan mata untuk mencari celah.

Zayden menggeleng. “Tidak, Bu. Mungkin Anda salah dengar.”

“Benarkah salah dengar?” Batin Misha penuh keraguan. “Sepertinya tidak.”

Misha sangat yakin dia mendengar pria itu berdecak tadi. Namun sepertinya, percuma saja jika memaksa pria itu mengakuinya. Zayden pandai mengatur ekspresinya untuk mengelabui orang-orang. Setelah melihat sisi lain Zayden yang liar tadi malam, Misha tidak bisa lagi melihat pria itu seperti biasanya. Tatapan mata Zayden mengisyaratkan jika ada banyak hal yang disembunyikan olehnya. 

Teringat tentang hal semalam, tanpa sadar Misha merasa malu sendiri dan mengalihkan pandangan dari Zayden yang tengah menatapnya.

Misha mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka kembali ke pekerjaan. 

“Kalau begitu, tolong kamu lakukan riset untuk mencari beberapa bahan campaign beserta brand ambassador yang cocok untuk digunakan bulan depan.”

Zayden diam saja. Tidak langsung menurut dan mengiyakan seperti sebelumnya saat dia menerima perintah.

“Jadi, bukan hanya dokumen bertumpuk ini saja yang harus saya kerjakan, tapi juga melakukan riset untuk campaign?”

Misha mengangguk. “Benar. Cari yang sesuai dengan target pasar perusahaan.”

Zayden mengeryit, nampak sedang memikirkan sesuatu dan sepertinya Misha tahu apa yang tengah dia pikirkan karena Misha memang sengaja melakukannya. 

“Apa mungkin Zayden menyadarinya?” Gumam Misha dalam hati.

“Kenapa? Apa ada masalah dengan tugas ini?”

Zayden menggeleng. “Tidak, Bu Misha.”

“Bagus. Kalau begitu, kamu pasti bisa menyelesaikannya sebelum makan siang kan?”

Tidak hanya tugas yang banyak, Zayden juga ditekan dengan waktu yang sedikit untuk mengerjakannya. Misha awalnya yakin kalau Zay akan protes tapi ternyata pria itu malah mengangguk setuju.

“Bisa, Bu Misha.”

“Baiklah. Silahkan kembali ke tempatmu.”

Zayden mengangguk, membawa berkasnya dan berbalik pergi menuju ke mejanya di bawah tatapan Misha yang tidak lepas memperhatikannya dari belakang. 

Misha yakin, Zayden berdecak padanya tadi entah untuk alasan apa meski pria itu tidak mengakuinya. Hal itu malah membuatnya semakin kesal.

“Kita lihat saja, apa yang bisa aku lakukan padamu setelah ini,” ucap Misha dalam hati sembari tersenyum penuh akal licik.

***

“Bu Misha.”

Misha yang tadinya sedang fokus mengerjakan pekerjaannya tidak menyadari jika Zayden sudah berada di dekat mejanya.

“Iya. Apa ada yang mau kamu tanyakan?”

“Saya sudah melakukan riset campaign seperti yang diperintahkan dan sudah mengirimnya ke email. Silahkan Bu Misha cek pekerjaan saya.”

Misha terdiam sesaat. Perasaan belum lama dia memberikan banyak tugas pada pria itu hingga tidak menyangka jika bisa selesai secepat ini. Misha melihat ke arah jam tangannya dan waktu menunjukkan belum mencapai jam makan siang.

“Kamu sudah selesai mengerjakannya?” Misha mencoba memastikan lagi.

“Iya, Bu Misha.” 

Misha benar-benar takjub. Kinerja Zayden memang patut diapresiasi. Misha langsung mengecek email, menemukan file kiriman dari Zayden dan langsung membukanya. 

“Saya akan menjelaskannya satu persatu, Bu. Jadi, tema campaign yang saya ajukan…..”

Selagi Misha membacanya dengan teliti, Zayden di depannya tanpa diminta langsung memberikan penjelasan panjang lebar sesuai dengan apa yang dia tuliskan di file hingga membuat Misha tanpa sadar mengangguk-anggukan kepalanya penuh pemahaman. 

Tugas sebanyak itu yang Misha berikan ternyata bisa diselesaikan dengan baik dan dalam tenggat waktu yang cukup cepat. Misha kagum dengan kemampuan yang dimiliki pria di depannya itu.

Pantas saja jika Satria dan Sarah sering mengerjai Zayden karena dia mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan tanpa celah.

Misha diam mendengarkan hingga Zayden mengakhiri penjelasannya dan Misha berakhir menatapnya tidak percaya.

“Kamu mengerjakan semua ini sendirian?” tanya Misha, menujuk layar di depannya. “Tanpa bantuan siapapun.”

Zayden mengangguk. “Iya, Bu. Saya melakukannya sesuai dengan perintah yang diberikan Bu Misha.”

Misha mengeryit, kembali menatap layar monitornya dan membaca kembali semuanya. Penjelasannya sangat mudah dipahami dan sesuai dengan target yang diinginkan. Tidak ada cela sedikitpun yang bisa Misha koreksi.

“Apakah ada yang kurang, Bu Misha? Atau tidak sesuai?” tanya Zayden ragu.

Misha menggelengkan kepala. Kecewa karena Zayden bisa mengerjakan tugasnya dengan baik dan tidak ada yang bisa dikritik. Tidak sesuai dengan yang diharapkannya saat dia memberikan setumpuk tugas pada Zayden agar pria itu kerepotan mengerjakannya dan meminta bantuannya.

“Tidak. Kamu mengerjakannya dengan baik. Semuanya sesuai dengan ekspektasi.”

Zayden tersenyum tipis melihat Misha yang masih menatap layar monitornya hingga tidak menyadari ekspresinya yang puas. 

“Apa ada yang mau Bu Misha tanyakan terkait isi filenya?”

Misha menggelengkan kepala, nampak sepeti kecewa. “Tidak. Ini bisa digunakan untuk minggu depan.”

“Syukurlah, Bu. Apakah saya sudah boleh kembali ke meja saya?” 

Misha mengangguk, Zayden kembali ke mejanya, tidak menyadari tatapan kesal yang dilayangkan Misha dari tempatnya duduk. Niat awal ingin mengerjai Zayden namun malah Misha yang berakhir kecewa.

“Dasar pria menyebalkan!” Gerutu Misha dalam hati karena gagal membuat Zayden kerepotan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 62. Sesuatu Yang Harus Di Hadapi

    “Ma..”“Iya, sayang.”Misha mengelus kepala Arsa yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Setelah bermain di taman tadi, Misha mengajak Zayden untuk makan malam di apartemen dan laki-laki itu pulang tidak lama setelahnya karena dia tahu Misha membutuhkan waktu untuk berbicara secara mendalam dengan Arsa perihal Revan.Misha sangat menghargai sikap pengertian Zayden dan berterima kasih atas waktunya yang telah menemani Arsa bermain di taman. Misha bisa melihat ketulusan yang dipancarkan oleh Zayden yang mau menerima Arsa dan mencoba untuk dekat dengannya.“Om Zayden baik ya,Ma.”Misha tersenyum lembut. “Iya. Dia memang baik.”Arsa menatapnya lekat. “Apa dia akan menjadi Papa Arsa nantinya?”Misha tertegun oleh pertanyaan itu. Selama ini saat Misha sendirian saja membesarkan Arsa, belum pernah sekalipun anak itu menanyakan perihal Papanya. Misha juga tidak terlihat dekat dengan lelaki manapun hingga bisa membuat Arsa mengajukan pertanyaan itu.“Memangnya Arsa mau kalau Om Zayden jadi P

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 61. Rasa Nyaman Itu Kamu

    Misha mendapatkan surat panggilan dari pengadilan itu melalui pengacaranya. Jadi, setelah pulang dari liburan bersama Zayden dan Arsa, Misha tidak bisa mengabaikan hal itu. Bagaimanapun, inilah yang harus dia lewati untuk memperjuangkan Arsa. Untung saja ada Zayden dan pengacaranya yang benar-benar mendukungnya.Selama proses berlangsung, Misha hanya bisa diam mendengarkan semua hal yang dikatakan oleh pengacara Revan dan mengepalkan tangan dengan erat saat ucapan-ucapan tidak masuk akal terdengar. Pernyataan-pernyataan tidak mendasar yang menuduh Misha telah menjauhkannya dari anaknya sendiri.Misha melotot garang ke arah Revan yang duduk di seberangnya. Dalam hati mengatainya baj ingan karena membuatnya harus melalui semua ini. Masa-masa persahabatan mereka yang telah lama usai itu terasa semakin tenggelam. Misha bahkan saat ini berharap jika Revan kembali saja ke tempatnya dan tidak seharusnya datang kembali.“Saya keberatan!” Misha berdiri, sangat keberatan jika harus memberikan

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 60. Kesedihannya Adalah Kesedihanku

    Zayden belum menikah jadi dia sama sekali belum memikirkan perihal anak. Meski Papanya sangat menginginkan cucu yang diharapkan bisa menjadi penerus keluarganya nanti tapi selama ini Zayden belum berpikir untuk cepat-cepat menikah. Dia masih ingin memperkuat posisinya sebagai seorang pemilik perusahaan yang diakui.Namun, mencintai wanita yang memiliki seorang anak meski hanya anak angkat adalah sesuatu yang tidak diduga olehnya.Dia baru mengetahui kenyataan itu saat dia sudah tidak bisa menghilangkan bayangan Misha dari hati dan pikirannya. Jadi, saat ini Zayden hanya termangu menatap Arsa yang tidur dalam pelukannya setelah seharian bermain di disneyland sembari menunggu Misha ke kamar mandi.Apakah akan berbeda jika dia mengetahuinya sejak awal jika mencintai Misha maka harus bisa menerima Arsa sebagai anaknya?Zayden semakin memeluk Arsa dengan erat hingga membuat anak lelaki tampan itu terbangun.“Maaf,apa Om membangunkanmu?”Arsa tersenyum, mirip seperti senyuman Misha yang men

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 59. Kita Usahakan Untuk Bisa Bersama

    “Ini adalah bukti jika Arsa adalah benar anak kandungku.” Revan memperlihatkan selembar kertas hasil tes DNA yang telah dia lakukan tanpa seizinnya di depan mata Misha. Pria itu dengan liciknya melakukan hal itu diam-diam. “Apa kamu pikir selembar kertas ini bisa menghapus kenyataan bahwa selama tujuh tahun ini kamu menelantarkannya?” Misha menggeram marah, berusaha keras menahan luapan emosinya.“Misha…” Revan menatapnya tajam. “Kamu tahu sendiri apa alasan aku melakukan hal itu.”“Kalau sudah kamu buang, untuk apa lagi kamu datang mengambilnya!” Teriak Misha berusaha menahan amarah dan air matanya yang ingin keluar. Bayangan seorang bayi yang ditaruh begitu saja di depan panti asuhan terbayang lagi di matanya. Sampai kapanpun Misha tidak akan rela memberikan kembali Arsa pada Revan.Revan diam, Misha tidak akan membiarkan Revan semudah itu untuk mengambilnya kembali.“Aku merawatnya sejak malam itu kamu membuangnya di depan panti asuhan. Aku mencurahkan segalanya agar dia bisa men

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 58. Kesedihan Dalam Pelukanmu

    “Arsa.”Misha menghela nafas lega saat melihat Arsa sedang bersama dengan Lala yang baru saja akan keluar dari sekolah.“Mama.” Arsa mendekat seraya tersenyum lebar. “Mama dari mana?”Misha semalam memang tidak pulang karena lagi-lagi tanpa rencana dia malah terjebak percintaan panas dengan Zayden. Meski dia sudah memberitahu Arsa kalau kemungkinan dia tidak akan pulang karena ada kegiatan hanya untuk berjaga-jaga kalau dia mabuk dan akan menginap di rumah Dena.Faktanya, dia malah tidur bersama Zayden.“Mama baru pulang dan langsung kemari.” Misha mengedarkan pandangan ke sekitar dan tidak melihat Revan di manapun membuatnya heran. “Apa ada teman Mama yang datang dan mengajakmu pergi?” Tanyanya cemas.Arsa mengangguk. “Teman Mama. Namanya Om Revan. Tadi dia datang kemari memberikan bingkisan kue.”“Hanya itu saja?”“Iya.” Arsa mengangguk. “Lalu dia buru-buru pergi.”Misha melihat ke arah Lala yang langsung mengangguk membenarkan ucapan Arsa.“Hanya sebentar saja,Bu.”Misha mengerutka

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 57. Rindu Dan Kehangatan Yang Menyusup Kembali

    Misha duduk di sofa yang ada di ruang VIP di salah satu club malam terkenal di kota. Suara dentuman musik menambah pekat suasana malam yang semakin tidak terkendali. Dena membawanya ke acara ulang tahun salah satu temannya yang pernah Misha jumpai sekali hingga dia tidak akan terlalu canggung jika menemani Dena.Sudah sejak lama Misha jarang datang ke tempat seperti ini. Dia lebih suka menghabiskan waktu di apartemen bermain dengan Arsa.Padahal umurnya masih muda dan dia bebas untuk menyenangkan dirinya sendiri karena belum menikah namun memiliki Arsa dalam hidupnya membuat Misha banyak belajar tentang menjadi seorang ibu.Misha menyesap minumannya sembari memperhatikan area sekitar. Semakin banyak orang yang datang dan bersuka cita. Semua orang itu terlihat datang berpasangan dan saling berpelukan sambil bergoyang dengan pasangan mereka.Misha jadi teringat dengan Zayden. Misha berdecak, menegak lagi minumannya agar bayangan pria itu menghilang. Niatnya ikut dengan Dena tadi agar di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status