Home / Rumah Tangga / STRANGER WITH BENEFIT / Cincin Pernikahan Kita

Share

Cincin Pernikahan Kita

Author: DityaR
last update publish date: 2025-09-15 12:13:21

୨ৎ T O Y I જ⁀➴

Aku sedang duduk di sofa, memandangi cincin kawin yang Derrin tinggalkan.

Harusnya aku sudah tahu dia bakal kabur. Dari tadi pagi saja sudah terlihat gerak-geriknya kalau dia sama sekali enggak tertarik sama aku. Malah lebih terlihat takut sama aku dan sama apa yang sudah kita lakukan.

Enggak bisa menyalahkan dia juga, sih. Aku enggak bisa berharap dia bersedia jadi istri orang yang belum dia kenal.

Sementara aku?

Aku bisa saja terima, mungkin karena aku dibesarkan sama Mama yang percaya banget sama mitos. Atau mungkin juga karena aku sudah enggak merasa dapat self reward lagi dari dunia tinju seperti dulu. Rasanya, aku sudah harus cari pencapaian lain dalam hidup ini. Mungkin … ya ini, pernikahan.

HPku bergetar, nama Mama muncul di layar.

Aku keluarkan napas panjang. Ya sudah lah, harus diangkat. "Halo, Ma."

"Itu benaran?" Nada suara Mama jelas banget ingin aku klarifikasi soal gosip terbaru. Dia, kan mengikuti karierku dari awal.

"Cuaca di sana gimana?" jawabku sambil tertawa kecil.

"Cuaca apaan, jangan ngeles! Ayo lah!" Suara Mama yang lembut bikin bebanku sedikit tertolong, apalagi setelah kembali ke kamar, tapi kosong.

"Aku enggak tahu Mama lagi ngomongin apa."

"Kalau gitu, kasih teleponnya ke menantu Mama, biar Mama bisa nanya langsung." Dia tertawa.

Aku geleng-geleng kepala, memandang keluar jendela yang mengarah ke langit Bandung.

Harusnya pemandangan seperti ini membuatku merasa di puncak dunia. Dulu sih iya, sekarang sudah enggak lagi. Yang terpikirkan cuma Derrin semalam, menempel ke kaca saat kita pulang dari Chapel. Sekarang, kenangan itu malah seperti mimpi buruk, sadar kalau aku enggak bakal bisa merasakan itu lagi.

Enggak adil banget rasanya kalau aku harus duduk di sini, mereka ulang apa yang kita lakukan, sementara dia sudah hilang entah ke mana.

"Jadi gini, Ma, menantu Mama kayaknya enggak begitu suka jadi istri The-Rock."

Dari semua orang di dalam hidupku, Mama itu selalu yang paling mendukungku. Waktu aku mulai berantem di sekolah, dia lah yang menjemputku dari kantor polisi, terus menyuruhku pakai tinju itu buat sesuatu yang lebih positif, buat menyalurkan amarahku ke Papa. Dia juga yang selalu melihat sisi baikku, sementara orang lain cuma lihat sisi burukku.

"Mama enggak tahu, ya ... Hemm, tapi cewek mana sih yang enggak kepingin jadi istrinya The-Rock?"

Aku mengernyit. "Ya, ternyata dia salah satunya, Ma."

Mama keluarkan napas panjang, aku bisa dengar sendoknya berputar di cangkir teh. "Terus kamu mau ngapain sekarang?"

"Ya apa yang bisa aku lakuin, Ma? Aku kan enggak bisa ngikat dia di kasur."

Aku tahan diri biar enggak cerita kalau sebenarnya aku sempat meminta Derrin buat stay. Kalau aku bilang begitu, aku bakal terlihat seperti pengemis cinta banget, ya, kan?

Sementara aku suka Mama melihatku sebagai cowok yang selalu perfect.

"Jadi, apa yang bikin kamu akhirnya nikah sama dia?"

"Selain efek Vodka?" celetukku, enggak kasih dia waktu buat jawab. "Tapi ya, aku ngerti maksud Mama. Dan iya, aku rasain tanda-tanda juga."

Dari ujung telepon, suara Mama langsung berbunga. "Mama tahu banget kamu lagi berjuang mikirin pensiun. Ini bukan soal nyari adrenaline baru karena tinju udah enggak bisa kasih itu lagi, kan?"

Itu masalahnya sama Mama, dia seperti bisa membaca semua yang salah dari diri aku, dan dia enggak takut buat kasih kritik. Dia memahamiku lebih dari siapa pun.

"Aku aja belum mutusin soal pensiun, Ma. Vallent bisa bunuh aku kalau aku tiba-tiba berhenti. Tapi soal nikah sama si Derrin ini … entah kenapa aku juga pingin ngerti, kenapa aku bisa lakuin itu."

"Kenapa? Huum ... Toyi, kan Mama udah ngajarin kamu, jangan pernah permasalahin sesuatu yang udah terjadi. Yang terjadi ya terjadilah!"

Itu Mamaku. Dia tipe orang yang percaya sama insting, sudah dari dulu. Dia yakin setiap orang sudah punya jalan hidup yang sudah digariskan. Jadi aku tahu dia pasti berpikir kalau Derrin muncul di hidupku, aku menikahi dia secara tiba-tiba, itu memang sudah takdir buat aku.

"Aku tuh enggak suka ngejar sesuatu yang jelas-jelas enggak mau buat dikejar, Ma!"

Dia menyeruput tehnya. "Siapa bilang dia enggak mau dikejar? Emang dia sendiri ngomong gitu?"

"Tindakan dia aja udah jelas."

"Dengar ya, Toyi! Mama sering lihat kamu berantem, udah dari kecil." Dia berhenti sebentar, "Dan bukan cuma di ring tinju."

Aku mengerti maksud dia. Kadang aku juga merasa kalau semua yang aku punya selama ini harus aku rebut pakai perlawanan dulu.

"Udah deh, Ma. Jangan ngobrolin ini dulu, aku capek!"

"Mama sayang sama kamu, Nak. Kamu tetap anak kecilnya Mama yang keras kepala, kayak banteng rodeo. Malah lebih keras kepala dari orang-orang tolol yang suka naik banteng itu!"

"Makasih banyak, Ma."

"Mama tahu gimana rasanya ditinggal Papamu."

"Aku enggak mau ngomongin dia sekarang. Enggak ada hubungannya sama masalah ini."

Dia menyindir. "Kamu bercanda? Jelas ada hubungannya lah sama masalah ini. Jadi dia kabur, kan? Hemm ... Mama, sih juga enggak kebayang gimana rasanya jadi dia. Bangun tidur, sadar, terus tiba-tiba aja udah nikah sama orang yang enggak mama kenal. Kalau Mama jadi dia, mama juga pasti lakuin hal yang sama, karena Mama takut. Tapi dengar, ya Toyi ... kalau dia lagi duduk di kasur bareng kamu sekarang, mungkin Mama malah curiga sama niat dia buat nikah sama kamu!"

Aku enggak menyangka nasihat Mama kali ini ada benarnya juga.

"Justru karena dia enggak ada di situ sama kamu sekarang, dan mikir kalau nikah sama kamu mungkin sebuah kesalahan, itu tandanya dia bisa jadi cewek yang tepat buat kamu," imbuhnya sambil menyeruput teh lagi.

"Serius? Mama mikir dia cocok buat aku justru karena dia enggak mau sama aku?"

Jangan-jangan kali ini Mama sudah mulai enggak waras.

"Kalau cewek itu masih stay, besar kemungkinan ada udang di balik rempeyek. Mama sering lihat cewek-cewek kayak gitu di tiap pertandingan kamu. Yang nempel kayak lintah, terus pakai tubuh mereka buat godain kamu. Toyi, kamu tuh butuh cewek yang berani nantangin kamu!"

Mama ada benarnya juga. Ada sesuatu dari obrolan aku sama Derrin semalam yang bikin aku ke-trigger.

Aku masih ada sedikit ingatan waktu kita ngobrol di balkon sebelum kita mabuk berat. Tapi aku ingat jelas, aku tertawa lepas, dan itu pertama kalinya buat aku. Ditambah lagi, dia enggak pernah berhenti nyinyir soal profesiku yang dia anggap barbar, dan itu malah bikin emosiku makin terpancing. Dia menunjukkan kalau dia enggak bakal gampang nurut sama aku.

"Jadi Mama pingin aku ngapain?"

"Ya, minimal kamu tahu nama dia, kan?"

Iya, dan aku juga tahu dia tinggal di Pecang. Serius deh, siapa sih yang mau tinggal di Pecang selain ular sama buaya?

"Iya, namanya Derrin Sunya."

"Derrin, bagus, tuh. Jadi dari mana asal menantu Mama ini?"

Aku bersandar di sofa, garuk kepala. "Dari kota kecil di Pecang."

Mama tertawa. "Pecang?"

"Iya."

"Mama belum pernah ke Pecang."

Nah, ini, nih ... mama pasti bakal merayuku agar mengajaknya kalau aku benar-benar ke sana.

"Mama pingin aku ngapain sekarang? Datang ke sana, terus sujud minta dia tetap jadi istri aku?"

Aku membayangkannya saja sudah ngeri. Pasti berita di media bakal pasang mukaku dan kasih caption, "The Rock menangis karena wanita"

Big no.

"Menurut Mama sih, not bad."

"Aku ini The Rock, Ma. Ngapain juga aku harus mohon-mohon ke dia biar mau jadi istri aku?"

"Jadi menurutmu dia harus tunduk sama kamu, gitu ... terus bilang betapa beruntungnya dia dapatin kamu, hummm? Ayo sadar, Toyi. Kamu harus berantem dulu buat dapatin apa yang kamu mau!"

Mama ada benarnya. Aku bisa masuk ranking MMA karena enggak pernah berhenti memotivasi diriku. Dan aku masih di puncak klasemen karena aku enggak pernah mau kalah. Jadi, kenapa sekarang, saat insting yang sama menarikku, aku malah mau diam saja dan enggak berjuang buat dapatkan dia?

Tatapanku jatuh ke cincin yang aku putar-putar di jari.

"Oh … kayaknya kamu lagi mikirin buat pesan tiket ke Pecang, ya?"

Mama bernyanyi-nyanyi.

"Mungkin."

Aku masih punya sembilan puluh hari sebelum pertandingan berikutnya. Mungkin dalam waktu itu, aku bisa lakukan sesuatu agar Derrin Sunya tetap jadi Derrin The Rock.

"Mama ikut, ya?"

Sudah kuduga, dia pasti mau ikutan. Sifat protektifnya memang seperti itu.

"Kasih aku beberapa hari buat sendiri dulu lah, Ma."

Satu hal yang aku pelajari dari Derrin semalam, dia enggak bakal gampang kembali ke pelukanku. Kemungkinan besar dia malah kasih lututnya tepat di selangkanganku.

"Kenapa? Kamu malu bawa Mama?"

"Aku bakal telepon Mama kalau semuanya udah agak tenang," bujukku.

"Mama bangga sama kamu, Nak. Kamu udah melakukan hal yang benar. Ikutin aja kata hatimu."

Saat dia bilang begitu, aku langsung ingin injak rem. Karena mengikuti kata hati, biasanya ujung-ujungnya yang ada malah patah hati. Dan aku enggak mau itu.

"Makasih, Ma."

"Kabari Mama, ya!"

"Iya, aku bakal telepon. Cuma aku belum tahu kapan pastinya."

"Mama sayang sama kamu."

"Aku juga sayang Mama."

Begitu telepon ditutup, aku putar-putar cincin berlian di jari. Mama benar, aku harus kejar dia. Setidaknya buat tahu, kenapa aku sampai bisa menikahinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • STRANGER WITH BENEFIT   Tamat

    ୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Satu tahun kemudian ....Cowok-cowok mutusin buat bikin acara nonton bareng pertandingan di rumah mereka. Karena kemarin malem kita nggak bisa ngumpul, jadi sekarang kita nongkrong bareng Minggu sore sambil nonton rekamannya. Ada bagian dari aku yang kepikiran, apa nggak berat buat Toyi dateng ke acara kayak gini? Tapi dia selalu bilang dia enjoy aja. Dia emang udah pensiun sebagai juara, walau sekarang sabuknya jatuh ke orang lain, soalnya dia udah berhenti."Masih aja kamu nggak percaya sama aku?" Toyi melingkarin lengannya ke aku sambil melihatin juara baru pamer sabuknya. "Coba deh lihat muka si Patrick. Aku dulu bisa jagain muka aku tetep cakep gini." Dia nepok pipinya sendiri sambil nyengir.Pertarungan dia sama Patrick setahun lalu gila-gilaan banget buat ditonton. Aku sempet berdiri dan teriak dukung dia, tapi bagian nemenin dia pulih setelahnya tuh berat banget buat aku. Melihat suami aku yang kuat ampe susah bangun dari sofa itu bikin hati aku ngilu. Merek

  • STRANGER WITH BENEFIT   I Love You

    "Beneran? Kamu percaya aku?" Dia gigit bibir dalemnya, terus natap aku. "Awalnya aku percaya, tapi saat lihat barang-barang dia di suite kamu, aku nggak bisa bohong... itu kelihatan kayak bukti." Sialan, Anelle udah ngerusak momen reuni aku sama Derrin. "Jadi kamu nangis karena mikir aku selingkuh?" Dia geleng kepala. Syukurlah. Aku hampir gila barusan. "Aku nangis karena sempet ada momen aku ragu sama kamu. Emang sebentar banget, tapi tetep aja itu ada. Gimana kalau aku nggak pernah bisa percaya penuh sama kamu?" Aku nyenggol kepala ke belakang, hembus napas panjang. Harusnya sekarang aku udah di dalem dia, bukan malah sibuk ngeyakinin perasaan dan kesetiaan aku. "Dengan apa yang Anelle lakuin, siapa pun bakal kepikiran kayak gitu." "Tapi gimana kalau, Toyi? Gimana kalau rasa takut aku nggak pernah ilang?" Dia duduk di sofa, kepala ditutupin tangan. "Gimana kalau aku selalu jadi orang yang berantakan gini? Kamu hidup dengan gaya hidup yang bikin aku takut." Aku duduk

  • STRANGER WITH BENEFIT   Cemburu

    Dia diam, dan perut aku mules karena aku tau aku bakal bikin hari dia jadi jelek.Setelah kayaknya nunggu seabad, dia akhirnya nanya, "Apa?""Anelle nyergap aku di pesta dan ada orang yang ngejepret kita.""Oh.""Tolong dengerin dulu. Itu kejadian tiba-tiba. Dia nyamperin buat nyapa, aku udah mau nyuruh dia pergi, tapi dia malah nempel ke aku saat ada yang moto.""Toyi," katanya."Maksud aku, dia sengaja deketin aku biar kelihatan kayak kita pasangan.""Toyi.""Aku udah bilang ke dia buat minggat. Kataku aku suami orang dan aku bahagia."Dia malah ketawa. "Toyi.""Apa?""Nggak apa-apa. Aku ngerti. Kamu bakal foto bareng banyak orang.""Tapi dia mantan aku," kataku."Aku tau. Santai aja. Aku percaya sama kamu kok."Aku pengen dia ulang kalimat terakhir itu. "Serius kamu?"Dia ketawa. "Ya ampun, aku emang sensitif, tapi cuma gara-gara satu foto nggak bakal ngeganggu aku."Aku angguk, meski dia nggak bisa lihat. "Wah, syukurlah.""Kamu bener-bener butuh seks deh. Kamu kaku banget.""Inga

  • STRANGER WITH BENEFIT   Karpet Merah

    "Batang aku masuk ke dalem kamu, kamu ngeluh nikmat.""Lebih cepet," aku desah."Aku udah makin cepet. Aku balik posisi, sekarang kamu yang di atas, nunggangin aku, arahin batang aku ke pintu masuk kamu. Terus kamu naik-turun, aku remes tetek kamu. Kita sama-sama teriak, kulit nabrak kulit.""Jangan berhenti," aku mohon."Aku keluar masuk makin keras, jari aku main di kelentit kamu, muter-muter. Ayo keluar, Baby, keluar buat aku," katanya, dan aku pun meledak."Derrin, kamu ada di situ?" suara orang lain teriak.Hape aku jatuh dari tangan, nyemplung langsung ke kloset. Sial. Aku cuma bisa berharap dia udah kelar sebelum hape aku kecebur. Semoga Donna punya stok beras di dapur. Kalau nggak, aku harus kabur ke Izel Crater besok buat beli hape baru.Aku ambil hape dari kloset, keluar bilik, ketemu Connie berdiri di sana dengan tangan di pinggang."Pipi kamu merah banget, Sayang, kamu nggak apa-apa?"Aku angguk sambil cuci tangan. "Aku baik-baik aja. Cuma agak overwhelmed."Semoga aja Con

  • STRANGER WITH BENEFIT   Bandung

    "Malah makin ganteng dari dulu," Althaf nimbrung.Dia jalan ke arah meja kita bareng Donna, dan kedua adik aku cuma bisa melototin tanpa ngomong apa-apa.Aku ulurin tangan. "Hei, Gavin, aku Derrin Sunya. Kayaknya kamu kenal sama suami aku, Toyi, kan?" Gila, aneh juga nyebut Toyi kayak gitu keras-keras.Donna nyediain kursi buat Gavin gabung sama kita, sementara bisik-bisik mulai kedengeran dari meja-meja lain di restoran."Hei, Derrin. Seneng ketemu kamu. Jadi, Toyi udah cerita soal podcast kamu, tapi dia nggak bisa berhenti muji kota ini, jadi aku ngerasa harus dateng sendiri buat lihat apa yang aku kelewatan. Lagi pula, aku juga butuh kabur sebentar dari Bandung.""Kopi? Teh?" tanya Donna."Kopi item. Makasih." Dia senyum ke Donna.Mata Donna langsung melotot dramatis saat dia jalan pergi, tangan nempel di dada kayak mau pingsan. Jelas banget, cuma aku doang Sunya yang bisa ngobrol normal sama nih orang."Jadi kamu cuma main-main ke sini?" tanya aku."Iya, dan aku harus bilang, aku

  • STRANGER WITH BENEFIT   Jangan Kembali

    Aku memutar mata. Siapa bego yang bikin berita kita putus? Terus aku geleng. Aku enggak peduli, soalnya mereka jelas salah. Kalau ada yang enggak pasang taruhan di aku cuma gara-gara takhayul tolol itu, ya biarin aja.୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Jantungku langsung deg-degan saat lihat artikel yang bilang kalau aku sama Toyi putus. Itu berita bohong. Kayak yang Toyi jelasin waktu kita ngobrol semalem, ada aja orang yang bakal ngelakuin apa pun demi ketenaran atau duit. Dia udah pergi beberapa hari, aku coba sibukin diri sama kerjaan dan nyiapin podcast bareng Gavin Price, tapi tetep aja nggak ngaruh. Otak aku masih muter-muter mikirin Toyi terus di belakang kepala.Karena kita sebenernya masih barengan, bukan kabar putus itu yang bikin aku resah. Yang bikin aku kepikiran tuh fakta kalau dia nggak pernah menang pertarungan saat lagi punya pacar. Jadi aku bakal jadi alasan dia kalah? Setidaknya di mata dunia? Kenapa dia nggak pernah bilang soal ini ke aku sebelumnya?"Kayaknya kamu kebawa pikiran

  • STRANGER WITH BENEFIT   Selibat

    ୨ৎ T O Y I જ⁀➴“Nih.” Aku bawakan celana training sama kaos buat Derrin. “Bakal kebesaran sih, tapi coba.”“Yang bikin malu tuh kalau ternyata kekecilan.” Dia ambil bajunya terus menghilang masuk kamar.Aku mengecek email sebentar di HP, terus Derrin keluar lagi sudah pakai celana training abu-abuk

  • STRANGER WITH BENEFIT   Jet Pribadi

    ୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ Aku masuk ke kantorku, di stasiun penyiaran radio. Semua staf administrasi melirikku dari balik komputer mereka. Ada yang menyapa, tapi aku langsung pergi ke studio rekaman buat menyelesaikan segmen aku. Aku harus cerita ke pendengar soal pernikahanku a

  • STRANGER WITH BENEFIT   Kontrak Kita

    ୨ৎ T O Y I જ⁀➴ "Toyi, kamu harusnya pergi sekarang!" gernyit Derrin sambil mencubit pahaku di bawah meja. "Enggak, aku baik-baik aja, kok." Dia memperhatikanku dengan enggak sabaran. "Pasti capek, kan." Aku angkat bahu. " Enggak juga, or

  • STRANGER WITH BENEFIT   Brine & Barrel

    ୨ৎ D E R R I N જ⁀➴Tadi siang aku sama Marlin pulang ke Pecang, dan sekarang aku malah mengurung diri di rumah.Semua saudara-saudaraku lagi nongkrong di Brine & Barrel, Bar milik kakakku. Soalnya malam ini, adalah malam terakhir sebelum musim turis resmi dimulai. Dan semua orang di kota pasti meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status