MasukWajah Mayang menatap sendu awan putih berarak di luar jendela pesawat. Sisa-sisa sembab di wajahnya masih kentara. Bukan hanya karena bangun tidur namun karena bekas tangisnya sejak semalam dan shubuh tadi.
"Mbok!" Gumamnya lirih karena harus berpisah dengan pengasuh tercintanya, Mbok Ijah yang tak hentinya menangis mengantarkan kepergiannya di bandara.
Bayang-bayang sohibnya di Indonesia masih berada di pelupuk matanya. Keberangkatannya yang mendadak sejak wisudanya tiga hari yang lalu, menyisakan penyesalan di hatinya. Ia bahkan tak sempat mengikuti acara perpisahan di kampus juga liburan bareng teman-teman dekatnya.
"Mayang, ini handuk hangatnya. Kompres wajah kamu? Kita sudah mau sampai. Pakai bedak dan lipstiknya! Muka kamu kusut begitu." Titah sang mama setengah bersungut. Gadis itu hanya mengangguk enggan saat sang mama menghampiri kursinya.
Bahkan saat landing dan kakinya menapaki bandara Narita Jepang, keadaan Mayang masih belum berubah.
“Nanti Mama perkenalkan kamu sama dia. Kata Nyonya Takeda, dia yang akan menjemput kita. Tapi…kemana ya dia? Papa…dia..” Suara wanita di sampingnya itu terdengar samar-samar, tertelan oleh hingar bingarnya suasana sekitar bandara Narita yang riuh. Ditambah lagi pikiran Mayang seolah masih tertinggal di negeri kelahirannya, Indonesia.
“Mayang, Mayang, kamu ini jangan melamun seperti itu, dong! Nanti kalau tersesat bagaimana?” Mayang terhenyak mendengar pekikan Mamanya yang menarik lengannya tiba-tiba.
“Iya Ma, gak melamun kok!”
“Gak melamun bagaimana? Tadi kamu hampir nabrak orang, tuh! Aduh sayang, kita ini sudah di Jepang, pikiranmu masih dimana sih?!” Sahut mamanya kesal. Mayang hanya menundukkan kepalanya meski ia pun sama kesalnya lalu celingukan random.
“Mayang, fokus dong sayang! Kita sudah di negeri Sakura, lho! Pikiranmu masih di Indonesia ya, sayang!” Timpal ayahnya disertai mimik lucu memaksa gadis itu tersenyum geli.
“Mungkin iya. Habis kita harus buru-buru berangkat ke Jepang sih, pa! Aku aja baru lulus. Teman-temanku kecewa sekali waktu kubilang gak bisa ikut acara perpisahan kampus.” Ungkapnya sambil bergelayut manja. Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum lalu merangkul pundak putrinya.
“Sayang, kamu ini gimana, calon mertuamu itu sudah tidak sabar ingin ketemu kamu. Masa kamu terus-terusan bersikap seperti ABG. Gak pantes!” Ujar sang mama ketus.
Gadis itu hanya memberengut dan hanya berpaling ke wajah Papanya yang menurutnya lebih mengerti perasaannya.
“Papa hanya menuruti Visa kita, sayang. Kalau tidak sekarang, mungkin akan memakan waktu lebih lama lagi untuk mengurus Visa ulang. Lagipula, mungkin ini waktu yang tepat buat kita liburan bareng setelah kamu selesai kuliah. Jarang-jarang kan, kita bisa pergi bertiga seperti ini." Terang Aryo mencairkan suasana.
“Liburan apanya? Ini kan perjodohan. Aku cuma bonekanya.” Gerutu Mayang di sela langkah kakinya.
“Selamat pagi. Apa kabar, Tuan Haditama.” Seorang pria muda tiba-tiba menundukkan badannya di hadapan mereka dengan bahasa Jepang yang kental, membuat ketiganya terkesiap.
“Selamat pagi!“Jawab Aryo dan Cory dengan bahasa yang sama.
“Kenshi-san, apa kabar? Terima kasih sudah repot-repot menjemput kami! Bagaimana kabar orang tuamu?” Aryo tampak akrab dan fasih menjawab sapaan pria muda itu.
Mayang hanya memperhatikan mereka yang berbicara dalam bahasa Jepang yang sedikit pun tak ia mengerti. Meski selama ini kedua orang tuanya sering bolak balik ke negeri Sakura ini, Mayang sendiri tak pernah tertarik untuk belajar bahasa Jepang.
“Mayang, kenalkan ini Kenshi?” Sang mama menarik lengan Mayang ke hadapan pria itu. Spontan Mayang gelagapan ketika lelaki jepang itu langsung menyambut tangannya.
“Hai, apa kabar?” Ujar Mayang dengan bahasa Inggris yang ia kuasai. Dilihatnya laki-laki itu mengulas sebaris senyum lalu menundukkan badannya seperti kebiasaan orang-orang Jepang. Ragu-ragu Mayang pun ikut-ikutan menundukkan badannya.
“Senang bertemu denganmu!” Pria itu menjawab dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, membuat Mayang terpana, antara kaget, heran bercampur malu.
“Mobil kalian sudah menunggu! Mari!” Ujar pria itu lagi seraya menunjukkan arah jalan.
Mayang hanya mengikuti kedua orang tuanya di belakang. Mereka masih tampak asyik mengobrol dengan lelaki bernama Kenshi. Raut kebahagiaan tampak jelas dari wajah kedua orangtua Mayang. Sangat bertolak belakang dengan raut wajah Mayang yang masih memberengut sendu.
“Hah!” Mayang hanya mendengus pelan karena sepertinya hanya dia sendiri yang tidak merasa bersemangat saat itu.
Mayang sesekali melihat ponselnya. Beberapa kawannya tampak menghubungi, namun Mayang belum bisa membalas panggilan mereka. Selain karena salah satu tangannya sibuk menarik koper, ia tak mau sang mama sewot jikalau ia tersesat di antara orang-orang di bandara.
Ia masih tak menyadari jika sosok Kenshi sesekali melirik ke arahnya.
Sedangkan pikiran gadis itu melanglang buana tak karuan. Ia masih belum bisa menerima tujuan keberadaannya di negeri asing ini.
“Hai, siapa namamu?” Mayang menyambut seorang gadis remaja yang menghampirinya antusias. Minimal menghindarinya salah tingkah tiap kali bersitatap dengan Kenshi dari ujung ruangan yang seolah mengawasinya. “Namaku Mayuri, adik bungsu Kenshi.” Ungkapnya dalam bahasa Inggris dengan suara imut dan ceria. Wajahnya yang sedikit chubby tak menghilangkan kemiripan Mayuri dengan wajah kakak-kakaknya."Hey, you're so cute!" Puji Mayang sambil menyentuh dagu gadis berhijab itu. Kerudung pasmina cerah yang dibelitkan ke leher jenjangnya cukup serasi dengan dress overall putih berenda. Mayang merasa salut, di usianya yang masih belia Mayuri sudah memantapkan diri mengenakan hijab di tengah-tengah keluarga yang heterogen."Kamu juga cantik, oneechan!" Keduanya saling tersenyum, merasakan kenyamanan yang langsung kentara. "Bisakah kamu mengajariku bahasa Inggris, Oneechan!"“Ya, tentu saja. Kapan pun kamu mau, aku akan mengajari dan sering-sering mengobrol denganmu.”“Thank you. Oh ya sis, apa
“Ya, saya mulai menyukainya, kak!“ Mayumi tersenyum cerah mendengar jawaban Mayang.“Apa Kenshi memperlakukanmu dengan baik?”, tanyanya lagi setengah berbisik.“Ya, tentu saja. Kami masih baru saling mengenal, jadi ya...seperti itu?”, jawab Mayang tersenyum malu-malu.“Eeem, it’s OK! Nanti kamu akan terbiasa. Hanya saja kamu harus bersabar, dia juga sebenarnya masih sangat lugu.” Ujar Mayumi lagi diiringi tawanya yang renyah sambil melihat ke arah Kenshi yang tengah bermain dengan anak-anaknya.Mayang hanya tersenyum kaku, tak mengerti apa maksudnya.“Ayo, ambil camilan di sana. Ada juga minuman segar dan koktail. Jangan malu ya. Anggap rumah sendiri!” Wanita itu mengusap jemari lentiknya ke dagu Mayang sebelum berlalu, membuat Mayang hanya mengangguk-angguk malu.Tak berapa lama, seorang wanita baya dengan kimono lengkap cerah mendatangi Mayang. Ia duduk di tempat Mayumi sebelumnya duduk. Entah kenapa, sepertinya ia berada di tempat dimana orang-orang menghampiri dan ingin menanyain
“Selamat datang, Mayang-san!” Suara bernada bas berasal dari seorang laki-laki baya yang berdiri di sebrang meja terlihat memberikan senyum ramah sambil menundukkan badannya. Dari gerak-geriknya yang bersahaja Mayang bisa menebak itu adalah tuan Takeda, ayah Kenshi. Mayang pun membalas dengan menundukkan badannya tanda hormat.Dari cerita papanya semalam, ayah Kenshi termasuk salah satu orang Jepang yang cukup ramah di antara anggota keluarga Kenshi yang lain. Hal itu tentu saja membuat Mayang cukup tenang, karena di rumah itu, ia tak mengenal satu pun dari mereka yang hadir kecuali Kenshi.Tuan Takeda adalah orang pertama yang memutuskan masuk Islam dan mengajak keluarganya untuk juga mengikutinya. Kenshi sendiri adalah orang kedua yang menganut Islam, karena dialah yang paling sering mengantar sang ayah bertandang ke masjid-mesjid di sekitaran Tokyo untuk sekedar bertanya tentang bagaimana kehidupan orang Islam. Ketertarikan itu juga yang membawa Kenshi beberapa tahun belakang menga
“Kita sampai. Ayo!” Ujar Kenshi saat mobil yang mereka tumpangi berhenti.Hari itu Kenshi mengajak Mayang untuk pergi mengunjungi keluarganya di rumah orang tua Kenshi, sebelum acara pernikahan tiba.Mayang menyapu pandangannya keluar mobil.Mobil mereka berada di sebuah halaman luas yang dipagari tanaman dan pepohonan perdu yang telah dimodifikasi menjadi bonsai-bonsai yang unik. Beberapa tanaman mengakar ke dalam tanah dan sebagian lainnya masih berada dalam pot dengan ukiran yang khas.Warna hijau tanaman berdampingan kontras dengan jalanan berwarna hitam legam yang tampak bersih tanpa sehelai daun jatuh. Bisa ditebak sang empunya pasti mempekerjakan ahli taman dan tukang bersih-bersih dengan gaji yang lumayan mahal.Mayang sebenarnya masih canggung untuk bertemu dengan keluarga Kenshi yang memang belum pernah ia temui sejak datang ke negeri Sakura ini. Namun pertemuan ini juga sebagai salah satu media pertemuan dua keluarga yang beberapa hari akan dipersatukan menjadi sebuah kelua
“Kenshi, apa yang kamu lakukan disini? Sebaiknya kamu kembali!” Nyonya Kori tiba-tiba menghadang di depan Kenshi.“Nyonya, saya mohon, jangan terburu-buru!” Sergah Kenshi cepat.“Kami harus segera kembali ke Indonesia, jika tidak, mungkin semua terlambat.” Kory terlihat panik. “Nyonya, tenangkan diri anda dulu. Sekretaris Harita akan menjelaskan semuanya.”Kulihat Nyonya Cory masih ragu."Apa lagi yang harus dijelaskan?" Ungkap wanita itu menarik nafasnya berat.“Anda tenang dulu Nyonya, semua akan baik-baik saja.” Kenshi mencoba meyakinkan sambil menepuk bahu wanita itu. "Saya yakin, Tuan Hadiwijaya mempunyai pandangan yang sama dengan saya. Beliau sudah menemui ayah saya beberapa hari yang lalu."Kory menatap Kenshi tak percaya, namun mau tak mau ia hanya bisa mengikuti saat sekretaris Hirata mengajaknya berbicara di tempat terpisah. Mayang tengah duduk di salah satu bangku lounge saat Kenshi menghampiri. Wajahnya masih terlihat pucat, bibirnya kering, lingkar hitam di sekitar ma
Satu per satu terlihat pesawat lepas landas di bandara Narita. Tatapan Mayang tampak sayu dan kosong saat berada di deretan kursi tunggu. Siang ini, ia akan kembali ke tanah air setelah hampir seminggu ia terbaring di rumah sakit. Sang mama yang berada di sampingnya, masih sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali terlihat berbicara di telpon.Wajah Mayang masih tampak pucat karena belum sepenuhnya pulih selepas menginap di rumah sakit beberapa hari lalu. Namun mereka tetap harus berangkat karena tiket pesawat yang sudah terlanjur dipesan.“Apa masih terasa sakit, sayang?” Sang mama mengusap punggungnya.“Udah gak terlalu, ma!” Sahut Mayang menggeleng dengan suara lemah dan pikirannya yang tak menentu.“Apa mau makan atau minum sesuatu? Biar mama belikan!”Mayang kembali menggeleng. Nafsu makannya belum kembali seperti semula. Hanya pikirannya yang menanggapi pertanyaan mamanya. Akhirnya wanita itu hanya menghela nafasnya berat. Percakapan kemarin dengan Kenshi masih terus terngiang d







