Share

Bab 3. Temu Sore

Author: DNOV
last update Huling Na-update: 2025-01-20 16:31:15

Baru sekitar satu jam setelah keluarga Hadiwijaya tiba di Tokyo, mereka beristirahat di salah satu hotel bintang 4 yang sepertinya telah dipersiapkan sebelumnya. 

"Pa, jangan lupa disiapkan berkasnya! Besok kita harus ke Osaka." Cory tampak sibuk membuka koper dan merapikan beberapa pakaian ke dalam lemari hotel.

"Iya, ma! Tenang saja, papa sudah siapkan semua di tas terpisah."

Keduanya tampak sibuk di kamar yang terpisah dari kamar Mayang. 

"Haah, capek nya!" Mayang memilih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit yang begitu asing. Perjalanan panjang Soetta-Narita tidak hanya membuat tubuhnya lelah, pikirannya masih galau. 

"Duh, ni perut gak bisa diajak kompromi!" Mayang mengelus-elus perutnya yang keroncongan.

Mau tak mau mereka kembali turun ke resto hotel mencari penganan untuk sekedar mengisi perut sebelum malam menjelang. 

“Apa kamu suka kamar hotelnya sayang?” Tanya Aryo pada putrinya yang terlihat lesu saat mereka tengah menyantap hidangan.

“Hm, lumayan pa!” Jawab Mayang singkat lalu menyuapkan nasi ke mulutnya. Sang ayah hanya tersenyum.

“Oya, maaf sayang, malam ini kami harus langsung menemui klien, jadi tidak apa-apa kan meninggalkanmu di hotel! Lagipula sepertinya kamu capek.”

Glek. Mayang langsung mendelik mendengar ucapan mamanya itu.

“Hah, di sini? Di kamar hotel? Sendirian? Memang papa dan mama mau kemana? Apa aku boleh ikut saja? Aku kan baru menginjak kaki di negeri antah berantah ini.” Suara Mayang memelas sambil menenggelamkan kepala di bahunya. Aryo tersenyum geli mendengar keluhan anak gadisnya itu. 

“Gak apa-apa dong! Kamu kan sudah besar! Di rumah juga sudah biasa sendiri." Kori berusaha meyakinkan. 

"Itu kan di rumah, ada mbok Irah sama Moli. Kalau di hotel sendirian aku takut, ma! Mana kamar hotel kan jarang dihuni. Tempat asing pula. Masa papa mama tega sih ninggalin aku? Aku ikut aja gimana?" Rengek Mayang mirip anak kecil lengkap dengan wajah memelasnya.

Hadiwijaya hanya tertawa kecil menyaksikan putri semata wayangnya itu yang masih bertingkah laku kekanakkan. Namun ia tak berkomentar dan malah asyik menikmati desert puding karamelnya. 

"Coba saja jalan-jalan di sekitar hotel ini. Pemandangannya di luar mama lihat bagus, lho! Atau kamu bisa coba relax di Spa Hotel. Hotel ini hotel bintang 5, sayang! Jarang-jarang kan kamu menikmati fasilitas mewah seperti ini. Ya kan, Pa!” Tutur Cory seolah tak mempedulikan wajah putrinya yang sudah memberengut kesal. Sang papa juga malah sibuk mempersiapkan dokumen yang akan dibawanya.

Dia memang terbiasa ditinggal sendiri di rumah selama ini, tapi itu juga selalu ditemani kucing persia Moli, dua ekor burung kenari, dan juga tentu saja Mbok Jum, pembantu rumah tangga yang sudah 20 tahun ini bersamanya. Jadi sebenarnya, dia tidak betul-betul sendirian di rumahnya.

“Tapi ma…!”

Tililitt! Suara HP sang Mama menghentikan rengekan Mayang dan ia hanya bisa memandangi kedua orang tuanya itu dengan pandangan tak percaya.

Bagaimana ini? Lebih tepatnya ia merasa cemas karena harus berada di kamar hotelnya sendiri malam ini. Padahal ini kali pertamanya datang ke negeri yang masih asing baginya dan tidak ada seorang pun yang ia kenal di sekitar situ. Jangankan kenal, ia tak mengerti dengan bahasa negeri ini. 

Maunya protes, tapi jika harus berdebat dulu dengan mamanya, gadis itu menyerah seketika dan akhirnya hanya tersenyum pias. Sama seperti biasanya.

Mayang masih duduk lesu di salah satu kursi restoran, ia masih enggan menuju kamarnya sejak kedua orang tuanya pergi. Kali ini ia memilih duduk di salah satu tempat duduk yang berada di sisi jendela kaca besar dengan secangkir kopi mix, sehingga dia bisa melihat pemandangan di luar hotel dengan leluasa. Sudah hampir satu jam ia hanya bolak balik menengok ponselnya, melihat notifikasi dari akun-akun social media yang ia aktifkan dan sesekali menghubungi karibnya.

[Assalamu'alaikum! Hai, beb! Sorry, aku baru bisa telponan. Sampaikan maaf ke teman-teman, gak bisa ikut hepi-hepi. Have fun, ya! OK, bye bye!] Ungkapnya di ponsel dengan nada murung.

Wajah Mayang tampak cemberut dengan mata berkaca-kaca memandangi status kawan-kawannya yang kini sedang liburan ke pulau Seribu pasca wisuda kemarin. Jujur dia sedih karena baru kali ini ia tidak bisa ikut serta. Apalagi kalau bukan karena kepergiannya ke Jepang ini yang begitu terkesan buru-buru.

“Apa saya mengganggu?” Seseorang tiba-tiba menegurnya membuat Mayang menoleh ke asal suara.

Wajahnya penuh tanda tanya namun ia memaksakan senyumnya sambil menggelengkan kepala. Rupanya pria yang siang tadi menjemput keluarganya di bandara.

“Anda sendiri?” Tanya pria itu menyelidik.

“Hm, ya. Orang tuaku langsung ada urusan.” Mayang merasa rancu dengan pertanyaan pria itu. Anehnya lagi ia mendengar seorang Jepang berbicara fasih dalam bahasa Indonesia.

“Anda, Kenshi?"

"Ya, nama saya Kenshi."

"Ee, kamu tidak bersama... maksudku tidak bertemu kedua orang tuaku?” Tanya Mayang penasaran.

Pria itu masih berdiri di samping Mayang dan terlihat hanya menyunggingkan senyumnya, lagi.

“Tidak. Saya bekerja di sini Nona!” Jelasnya.

"Ooh!" Mayang mengangguk ragu, meski ia sebenarnya bingung dengan maksud kehadiran pria itu.

“Apa mungkin Nona mau saya antar jalan-jalan?“ Mayang kembali heran mendengar pertanyaan itu. 

"Antar jalan-jalan?" Matanya mendelik dengan kening berkerut.

Bagaimana mungkin pria yang baru ditemuinya sore tadi tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan. Mayang masih terpaku di kursinya sambil sesekali melihat ke arah pria itu dengan pandangan setengah menyelidik.

Seolah tahu jalan pikiran gadis itu, Kenshi hanya menyungingkan senyum ramahnya.

“Tadi saya sudah menjemput Nona di bandara, saya juga bisa mengantar nona melihat-lihat kota atau tempat lain yang ingin nona kunjungi. Tentunya dengan ijin Tuan Hadiwijaya. Saya akan mengantar Nona kembali ke sini. Apa ada masalah?”

Mayang tertegun mendengar penjelasan Kenshi barusan. Ia tiba-tiba terpana oleh senyuman Kenshi yang seolah-olah hanya ditujukan padanya, membuatnya sulit berkata-kata.

“Oh, eem. OK!” Ujar Mayang lalu buru-buru beranjak dari kursinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 46. Kencan Tak Terduga

    Rupanya keramaian itu adalah sebuah lokasi plaza terbuka mirip Gangnam Street di Korea. Di kanan-kiri terdapat barisan toko-toko dari merek-merek terkenal. Terdapat kafe dengan meja di sisi jalan dan resto kecil yang penuh. Rasa lelah sekejap hilang dengan pemandangan itu. Berbagai pernak-pernik seolah membius Mayang untuk sekadar menghampiri dan Kenshi hanya mengikutinya.Tiba di sebuah butik, Kenshi menariknya masuk hingga ke dalam. Mereka disambut pelayan toko yang ramah. Mayang termangu dengan maksud Kenshi.“Pilih baju yang kamu suka!” Ujar Kenshi sambil terus memegang tangan gadis itu. Mayang tampak enggan, karena merasa tak memerlukan pakaian baru saat ini.“Pakaianku masih banyak yang belum kupakai di koper, aku…” Kenshi mengambil salah satu gaun kasual di antara deretan pakaian di dekatnya, lalu menempelkannya ke dada Mayang yang kaget.“Aku akan menunggumu di luar sampai kamu mengganti pakaian.” Kenshi mendorong Mayang hingga masuk ke ruang ganti. Lelaki itu menutup pintu da

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 45. Tread Mill

    Mayang PovTingtong.Suara bel pintu seolah menjadi penyelamatku. Saat kubuka mata kulihat Kenshi telah berlalu meninggalkan aku yang masih duduk terpaku. Tanpa berpikir dua kali aku segera melompat turun dari nakas pantri lalu berlalu cepat menuju toilet. Aku terduduk di atas tutup toilet dengan degup jantungku yang masih tak beraturan karena ulah Kenshi barusan. Rasa-rasanya aku belum sanggup keluar untuk berhadapan dengan pria itu.Aku terperanjat ketika tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan Kenshi yang sekonyong-konyong muncul lalu menghampiri."Apa yang kau lakukan di sini. Ayo, kita sarapan!" Sahut Kenshi yang langsung menarik tanganku untuk keluar toilet.Aku masih melongo di depan meja makan. Aku masih membayangkan kekonyolan yang mungkin terjadi jika saja aku tadi sedang buang air lalu Kenshi masuk seperti tadi.Ya, Allah. Aku masih tak bisa habis pikir dengan kelakuan pria di depanku yang matanya tak pernah lepas menatapku seolah aku adalah buruan yang siap ia santap. "K

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 44. Morning Kiss

    MAYANG POVDegdeg. Degdeg. Dadaku masih terasa berdegup kencang sejak semalam. Aku sulit memejamkan mata sejak Kenshi berada di satu kamar denganku. Bagaimana tidak, sepertinya ia selalu mencari celah untuk mendekatiku. Bahkan ia sudah berani memelukku dari belakang saat di balkon. Aku masih merasa canggung jika bersitatap dengannya, hingga semalam aku sengaja pura-pura tidur.Hampir terperanjat kaget ketika kudapati Kenshi tengah terlelap di sofa pagi ini. Sepertinya ia kelelahan dan tidur di ruang tamu semalam. Aku yakin dia juga kelelahan. Setelah resepsi, kemarin dia masih sibuk rapat dengan koleganya. Padahal seharusnya, seperti yang dia katakan, hari-hari ini hari bulan madu kami.Tanpa sadar aku memperhatikan wajah pria di hadapanku ini. Wajah tampan yang selalu tampak cool itu begitu terlelap dengan dengkuran yang halus. Tiba-tiba ia bergerak. Aku pun mundur tanpa bermaksud membangunkannya atau malah takut ia menyadari kehadiranku. Aku pun segera menuju kamar mandi.Kenshi se

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 43. Jaket Alami

    KENSHI POVSiang keesokan harinya, aku baru saja menemui kolegaku dari Amerika yang akan segera check out dari hotel. Rasanya aku ingin segera kembali ke kamar. Bagaimana pun aku tak akan melepaskan kesempatan untuk bersama gadis bernama Mayang yang kemarin telah menjadi istriku.Aku mendapati Mayang tengah tidur di sofa, tak jauh berbeda saat dia tertidur di atas sajadahnya malam tadi. Rasa lelah setelah rentetan acara pernikahan dan resepsi kemarin tak dapat dipungkiri lagi membuat Mayang kelelahan. Tak berniat mengganggu tidur manisnya, kuselimuti tubuh semampainya dengan jas yang kukenakan.Tak berapa lama aku keluar dari kamar mandi, namun gadis itu sudah menghilang dari sofa. Penasaran kucari ia di ruangan lain di kamar luas itu namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Aku mencoba menghubungi ponselnya dan suara ponsel malah terdengar dari arah sofa. Pikiranku mulai menduga macam-macam. Apa mungkin gadis itu melarikan diri lagi setelah pernikahan?Aku memicingkan mata saat des

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 42. Malam Yang Ambigu

    MAYANG POVRasa lelah yang begitu mendera tak dapat kupungkiri lagi. Aku masih dalam balutan gaun pengantin di kamar hotel mewah yang sore tadi aku masuki. Sesekali aku ke toilet, mengerjakan shalat, dan akhirnya berjalan ke sana kemari tak jelas. Meski pun aku sudah menemukan pakaian dari dalam koper, namun aku belum bisa mengganti pakaian karena aku belum berhasil membuka resleting gaun pengantin yang dikombinasikan dengan puluhan kancing di bagian punggung yang sulit kulepas sendiri."Duuh, gimana ini? Mana sudah mau malam, aku belum mandi. Sebentar lagi pasti Kenshi datang," keluhku lalu terduduk di sofa dan meraih ponselku, memerika beberapa notifikasi di chat dan medsos.Beberapa kawan tampak memberi ucapan dan mengetahui kabar pernikahanku, padahal aku merasa belum membagikan berita apa pun. Aku khawatir jika Kenshi keberatan dengan hal itu. Apalagi kondisi perusahaan papa juga sedang goyah.“Makasih say, ucapan selamatnya. Doakan aku aja ya!” Isi salah satu voice note-ku memba

  • SUAMI JEPANGKU TERNYATA PENGAGUM RAHASIAKU   Bab 41. Kamar Bulan Madu

    Saat Mayang masih dengan wajah penuh keterkejutannya, seorang lelaki berwajah khas jepang datang menghampiri Kenshi."Kenshi-san, selamat atas pernikahannya. Semoga anda berdua bahagia dan harmonis!" ucap lelaki itu dalam bahasa Jepang yang kental sambil menundukkan badan lalu menyalami Kenshi.Mayang yang melihat itu hanya ikut menundukkan badannya saat lelaki itu juga menunduk ke arahnya. "Terima kasih, Haruki! Maaf, istriku belum mengerti bahasa Jepang," terang Kenshi sambil menoleh ke arah Mayang yang celingukan meski dengan senyum yang tersungging manis dari wajah lugunya. “Oh, I see. Miss, congratulation for your marriage! Hope you can enjoy your honeymoon!” ucap Haruki di depan Mayang."Thank you!" balas Mayang masih dengan senyumnya. Setelahnya, Kenshi mengobrol sebentar dengan pria bernama Haruki itu lalu dengan Mayang masih celingukan. Tanpa sengaja ia mengeratkan tangannya di lengan Kenshi, membuat pria itu menoleh."Haruki, kami akan ke kamar, istriku sepertinya lelah,"

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status