LOGINLima hari berlalu setelah debutante Viviana, sehari setelah Duke Arhend datang keesokannya juga kembali datang untuk memastikan, masih dengan jawaban yang sama Viviana tidak keberatan menikah dengannya demi orangtuanya.
"Nona, Duke Arhend kembali datang," ucap pelayan yang baru membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. "Aku akan menemuinya," sahut Viviana. Viviana menghampiri Duke Arhend yang duduk dengan tegak, raut wajahnya terlihat sangat serius, saat Viviana tiba Duke Arhend yang duduk langsung berdiri. "Haaaah, aku datang untuk memastikan lagi apa kamu serius bersedia menikah dengan ku," ucap Duke Arhend. "Aku sudah mengatakannya sejak kemarin, aku bersedia menikah dan ikut ke wilayah Utara, apa yang kukatakan masih kurang jelas," sahut Viviana. "Kalau begitu aku pergi, aku harap kamu tidak menyesalinya," ucap Duke Arhend membuat Viviana terlihat kebingungan. Viviana tidak mengerti kenapa Duke Arhend mendatanginya hanya untuk memastikan, padahal semua adalah permintaannya dan tidak mungkin dirinya menolak apalagi ancaman Kaisar yang bisa merugikan orangtuanya jika dirinya tidak mau menikah dengan Duke Arhend. Belum sempat Viviana melangkahkan kakinya pergi kembali ke kamarnya beberapa pelayan masuk dan berjalan ke arahnya, kado yang mereka bawa langsung di taruh di samping Viviana yang terlihat kebingungan. "Apa semua ini?" Tanya Viviana. "Ini kado yang diberikan Duke Arhend, Duke Arhend meminta Nona memakainya saat pernikahan," ucap salah satu pelayan. "Kalau kamu tidak mau memakai itu kita bisa pergi membelinya Viviana." Ayah Viviana berjalan mendekati Putrinya, Duke sudah membawa semua sebelum menemui Viviana untuk memastikan, jika Viviana yakin akan menikah dengannya semua yang dibawa akan diberikannya. "Aku akan memakai yang diberikan Duke Arhend ayah, sudah diberikan bukankah sayang jika tidak digunakan," ucap Viviana. "Viviana apa kamu serius akan menikah dengannya?" Tanya Liam pedang masih di genggamnya karena baru selesai berlatih. "Kalau kamu tidak mau katakan sekarang aku yang akan mendatangi Duke Arhend," sambung Liam. "Aku akan menikah Kakak, doakan saja aku bisa bahagia walau pernikahan ini bukan keinginanku," ucap Viviana. "Baiklah terserah saja," sahut Liam kembali pergi walau terlihat sangat kesal. ... . Pernikahan di adakan di gereja tempat yang sudah di tentukan oleh Kaisar, Viviana yang menggandeng tangan Duke Arhend berjalan lurus, tatapan dan bisikan yang bisa di dengar olehnya tidak dihiraukannya. Sesampainya di podium pendeta sudah siap, keduanya yang menganggukkan kepala tanda siap disambut pendeta. "Duke Arhend apakah anda bersedia mencintai Viviana Loisan seumur hidup?" Ucap pendeta. "Bersedia," sahut Duke Arhend singkat. "Viviana Loisan apakah anda bersedia hidup bersama Duke Arhend selamanya?" "Ya bersedia," sahut Viviana. "Dengan ini kalian berdua resmi menjadi pasangan, silahkan pengesahan," ucap pendeta. Duke Arhend memutar Viviana agar berada di depannya sebelum mengecup bibirnya, tepat sebelum bibirnya dan bibir Viviana bersentuhan tangan Duke Arhend menghalangi di tengah. Semua tidak ada yang melihat dan hanya Viviana yang tahu kalau keduanya tidak mencium satu sama lain, Viviana tidak tahu apa maksud Duke Arhend melakukan semua itu dan pernikahan mereka apakah sah di mata Dewa karena pengesahan tidak sempurna. "Sudahlah kenapa aku harus memikirkannya," gumam Viviana. "Selamat atas pernikahan kalian berdua, dengan ini kalian sudah menjadi suami istri cepatlah kembali ke utara," ucap Kaisar Damianas sambil berlalu pergi. ... Kereta kuda sudah menunggu di depan kediaman Viviana, Duke Arhend dan para Ksatria menjemput Viviana yang akan mengikuti mereka ke wilayah Utara. Kedua orang tua Viviana menangis, sebenarnya mereka tidak ingin Putri mereka pergi jauh, tapi Putri mereka sudah menikah dan sudah seharusnya pergi mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi dan dimanapun suaminya akan tinggal. "Nak jangan lupa kembali, jika mereka tidak memperlakukanmu dengan baik kembalilah kapanpun atau kamu bisa mengirim surat agar kami menjemputmu," ucap ibu Viviana sambil memeluk Putrinya. "Sering-seringlah berkirim surat, ibu mu pasti akan merasa kesepian saat kamu tidak ada di sini," sahut Ayah Viviana. "Baik," ucap Viviana pelan. "Kalian juga jaga diri baik-baik tidak perlu terlalu memikirkanku, aku sudah menikah dan bisa menjaga diri, suatu hari nanti aku pasti akan kembali untuk menemui kalian," sambung Viviana. "Putriku," sahut ibu Viviana yang masih memeluk putrinya dengan sangat erat. Kakak Viviana tidak ikut melepas kepergian adiknya itu dan malah menghampiri Duke Arhend, setelah saling berhadapan Liam menatap Duke Arhend tajam. Pria berbadan kekar seperti Duke saat ini resmi menjadi saudara iparnya sebenarnya Liam sangat tidak suka, tapi siapalah dirinya yang tidak mungkin bisa melawan seorang bangsawan bergelar Duke yang masih memiliki darah kaisar. "Jika terjadi sesuatu pada adikku saat dia mengikutimu aku akan meminta pertanggungjawabanmu sepenuhnya Duke, dan saat itu terjadi aku tidak peduli Siapa dirimu," ucap Liam. "Aku memang tidak bisa menjamin keselamatan adikmu, tapi selama dia bersamaku akan ku usahakan dia tetap selamat memangnya siapa yang berani mencari masalah denganku," sahut Duke Arhend. "Bukan hanya keselamatannya tapi juga kebahagiaannya kamu harus mengusahakan semua untuknya," ucap Liam. "Kalau kebahagiaannya aku tidak bisa menjamin, karena pernikahan ini... ." sahut Duke Arhend tidak melanjutkan perkataannya. Karena Duke Arhend mengajukan pernikahan orang tua Viviana dan kakaknya mengira kalau Duke Arhend mencintai Viviana, karena Duke mencintai Viviana sudah seharusnya dia membuat Viviana bahagia pikir mereka. Viviana menghampiri Duke Arhend yang terlihat sedang berbicara dengan kakaknya, setelah Viviana masuk ke dalam kereta kuda Duke bergegas menaiki kuda nya dan berjalan pergi memimpin rombongannya. Dari jendela kereta kuda Viviana melihat kakaknya yang menangis, dirinya dan Kakaknya sering bertengkar tapi Viviana sangat menyayangi kakaknya karena selalu menjaganya sejak kecil begitu juga dengan kakaknya. "Selamat tinggal," ucap Viviana sambil mengusap air matanya. ... Mata-mata yang dikirim oleh kaisar masih memperhatikan dari kejauhan, mata-mata dari Kaisar sengaja tidak mendekat karena tidak ingin Duke menyadari kehadirannya. Setelah Duke Arhend dan rombongannya pergi sang mata-mata kembali menghadap Kaisar Damianas, semua sudah pergi bahkan Viviana yang menjadi istri baru Duke Arhend ikut pergi ke wilayah utara. "Mereka semua sudah pergi meninggalkan ibukota, apa aku harus mengikutinya Yang mulia?" Tanya mata-mata. "Tidak perlu, akhirnya dia pergi juga sangat disayangkan aku harus melepaskan Lady itu, padahal akan sangata bagus jika dia menjadi selir ku, masih sangat muda," ucap Kaisar Damianas menjulurkan lidahnya. Di luar Pangeran Putra mahkota berdecak kesal, ibunya dan 6 wanita masih kurang, ayahnya memang tidak pantas menjadi Kaisar Pangeran Frang semakin yakin dengan rencana yang sudah dimulainya dari awal. "Huh, tunggu saja," ucap Pangeran Putra Mahkota Frang. "Berani menyakiti ibuku tidak hanya sekali memang yang menjadi Kaisar seharusnya adalah aku," sambung Pangeran Frang sambil berjalan pergi mengepalkan tangannya.Sebelum Duke Arhend kembali ke rumah Viviana menunggunya dengan tidak tenang, Viviana takut jika Kaisar tidak memberikan izin suaminya itu akan melakukan kekerasan, dan jika itu terjadi suaminya akan di tuduh menjadi pemberontak."Istriku, semua sudah selesai," ucap Duke Arhend yang baru saja membuka pintu."Suamiku," sahut Viviana sambil berlari memeluk Duke Arhend yang terlihat kebingungan."Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Duke Arhend."Tidak ada apa-apa, aku hanya takut," ucap Viviana."Baiklah semua sudah selesai, kita bisa kembali pulang," sahut Duke Arhend sambil mengelus kepala Viviana."Terima kasih sudah banyak membantu ku, tanpa istriku semua mungkin tidak bisa berjalan lancar," sambung Duke Arhend."Aku hanya melakukan tugasku," ucap Viviana."Tugas, sepertinya masih ada satu tugas lagi buat istriku," sahut Duke Arhend yang langsung mendorong Viviana ke tempat tidur.Duke Arhend mengangkat kaki Viviana ke tempat tidur, tangan Duke Arhend mulai mengelus paha Viviana dan mu
Setibanya kembali di kediamannya Viviana masih terus terpikirkan pembicaraannya dengan Lady Sahari, Viviana benar-benar tidak menyangka Lady Sahari akan menjadi Putri mahkota, tapi yang membuatnya tidak menyangka lagi setelah ini mereka tidak mungkin bisa bertemu secara pribadi. Viviana bisa menemuinya atas nama Duchess yang menemui Putri mahkota, semua yang berkaitan dengan kerja sama juga tidak bisa lagi melewati Lady Sahari dan harus langsung ke Marquis Glan. "Istriku kenapa sejak tadi kamu diam saja?" Tanya Duke Arhend. "Aku hanya kepikiran Lady Sahari yang akan menjadi Putri mahkota," ucap Viviana. "Bukankah itu bagus," sahut Duke Arhend dengan santai. "Benar, tapi itu membuat ku tidak lagi bisa bertemu dengannya secara pribadi," ucap Viviana. "Tidak perlu dipikirkan istriku, jika ingin menemuinya kamu tinggal pergi menemuinya atas dasar Duchess yang menemui Putri Mahkota," sahut Duke Arhend. Viviana hanya menganggukkan kepalanya, dirinya juga tahu kalau yang dikatakan sua
Semalam memang kesalahannya karena memancing birahi seorang Duke Arhend, pinggangnya benar-benar sakit karena suaminya itu tidak hanya melakukannya sekali, walau begitu Viviana sangat menikmatinya."Istriku kita mendapatkan undangan dari kediaman Marquis Glan," ucap Duke Arhend yang baru membuka pintu kamar."Istriku masih belum mau bangun dari tempat tidur," sambung Duke Arhend."Salah siapa yang membuat ku seperti ini," sahut Viviana memasang wajah cemberutnya."Tapi istriku menyukainya bukan," ucap Duke Arhend tersenyum nakal."Sudahlah, suamiku buka surat itu," sahut Viviana.Viviana yang membaca surat seketika tersenyum, sudah diduga olehnya kalau Marquis Glan tidak mungkin menolak kesempatan untuk bekerja sama dengan seorang Duke."Kenapa istriku tersenyum? Marquis Glan mengundang kita belum tentu menyetujui kerja sama dengan kita," ucap Duke Arhend."Marquis Glan pasti setuju, tapi sebelum itu dia akan bertanya memangnya apa keuntungan buatnya, apalagi itu juga membuatnya dicur
Viviana yang tiba di kediaman Marquis Glan turun dari kereta kudanya, tak berselang lama Lady Sahari yang di temani pelayannya menghampiri Viviana, Lady Sahari langsung memeluk Viviana yang memang sangat dirindukannya.Viviana dan Lady Sahari sudah berteman sejak masih kecil, Viviana sudah sering berkunjung ke kediaman Marquis Glan begitu juga dengan Lady Sahari sejak kecil sering mengunjungi kediaman Count Loisan."Bagaimana kabarmu Lady?" Tanya Viviana."Aku tentu saja baik, bagaimana denganmu? Apa Duke Arhend menyakiti mu?" Tanya Lady Sahari penuh khawatir."Tidak, Suamiku dan semua orang di sana sangat baik padaku," ucap Viviana sambil tersenyum."Benarkah? Kamu tidak perlu berbohong, katakan saja padaku semuanya kita adalah sahabat," sahut Lady Sahari tidak percaya."Aku tidak berbohong, suamiku sangat baik padaku," ucap Viviana.Walau tidak percaya Lady Sahari tidak memiliki pilihan selain mempercayainya, Lady Sahari menggandeng tangan Viviana masuk ke dalam kediamannya, taman y
Tepat setelah membuka pintu Liam berdiri di depan Viviana, keduanya saling bertatapan beberapa saat, Viviana langsung memeluk kakaknya itu dan mendapatkan pelukan balik oleh Liam.Duke Arhend mengernyitkan dahi tidak senang, seharusnya Viviana hanya boleh memeluknya tapi saat ini Viviana malah memeluk pria lain."Kakak, apa kabarmu?" Tanya Viviana tanpa melepaskan pelukannya."Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," ucap Liam."Kalau begitu apa yang kamu lakukan sekarang? Ibu ayah mengatakan kalau kamu jarang berada di rumah," tanya Viviana lagi."Aku hanya sedang bekerja," ucap Liam."Bekerja? Kenapa? Bukankah Kakak calon Count selanjutnya, kakak tidak perlu bekerja di tempat lain," sahut Viviana."Anggap saja untuk mencari pengalaman," sahut Liam."Kalau begitu bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja? Apa Duke memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Liam matanya menatap tajam ke arah Duke Arhend."Aku baik-baik saja, suamiku dan semua orangnya memperlakukan ku dengan baik," uc
Batu mineral walau hanya satu genggam tangan harganya sangat mahal, apalagi batu mineral sangat langka bisa mendapatkannya saja benar-benar sebuah keberuntungan.Penyihir Qiu yang menarik nafas panjang masih terus memperhatikan batu mineral di depannya, penyihir Qiu sudah memutuskan untuk membantu Duke Arhend, lagipula penyihir Qiu merasa tugasnya sangat mudah hanya perlu membuat teleportasi."Baiklah, aku setuju," ucap penyihir Qiu."Masih ada satu syarat lagi jika kamu ingin mendapatkan batu mineral ini," sahut Duke Arhend."Aku membawa barang melalui teleportasi, aku juga membawa kalian teleportasi ke kota itu sudah sangat berat sekarang mau kamu tambah apalagi," ucap penyihir Qiu kesal."Syaratnya tidak sulit, aku hanya meminta mu untuk tidak memberitahu siapapun darimana kamu mendapatkan batu mineral itu, aku tidak ingin keberadaan baru mineral ini diketahui oleh Kaisar," sahut Duke Arhend."Menjaga rahasia ya, kalau hanya itu aku tidak masalah," ucap penyihir Qiu."Berikan itu p







