MasukSetibanya di rumah Viviana bergegas masuk kamarnya, Viviana menutup tubuhnya dengan selimut dan menangis cukup keras, padahal dirinya baru saja melakukan debutante kenapa dirinya sudah harus menikah, apalagi dirinya harus menikah bukan dengan orang yang disukainya melainkan dengan Duke Arhend dari Utara.
Walau jarang ke ibukota semua orang pasti tahu siapa Duke Arhend, Duke wilayah Utara iblis perang berdarah dingin yang akan membantai musuh tanpa sisa, pria yang seperti itu sangat tidak cocok untuknya pikir Viviana, Viviana bahkan berpikir Mungkinkah Duke Arhend tertarik padanya setelah dirinya tidak sengaja melirik ke arahnya sebelum masuk aula. Suara pintu terbuka saat ini seseorang duduk di samping Viviana, dari langkahnya Viviana sudah tau kalau yang datang adalah ibunya. "Ayah dan Ibu pasti akan mencarikan cara untuk membatalkan titah Kaisar, kami juga tidak bisa membiarkan mu menikah dengannya," ucap ibu Viviana. "Tidak peduli walau harus menjadi rakyat biasa, asal kita bisa bersama ibu dan ayah akan melakukannya," sambung ibu Viviana. "Tapi Bu aku... Hiks hiks," Viviana tidak melanjutkan perkataannya dan kembali menangis. "Dasar Duke Arhend sialan, karena punya kuasa dia berpikir bisa melakukan semua sesuka hatinya," teriak Liam yang berdiri di depan pintu. "Liam jaga bicaramu kalau sampai terdengar keluar kepalamu tidak akan selamat," ucap ayah Viviana. "Tapi memang seperti itu kenyataannya," sahut Liam. "Haaaah, aku akan mencari cara semoga saja pernikahan itu bukan dalam waktu dekat," sambung ayah Viviana. Dari kejauhan suara langkah kaki terdengar kepala pelayan Lik berdiri di depan pintu membawa sesuatu di tangannya, sebuah surat yang di stempel khusus dari istana kaisar membuat Ayah Viviana mengambil surat dengan cepat, ibu Viviana dan Liam bergegas menghampiri Ayah Viviana ingin memastikan isi surat yang baru saja dikirimkan untuk mereka. "Dengan ini Aku Kaisar Damianas memberikan perintah pernikahan Duke Arhend dan Lady Viviana, pernikahan paling lambat harus diadakan satu Minggu dari sekarang, jika pernikahan masih belum dilangsungkan di hari minggu terakhir seluruh wilayah Count Loisan akan menjadi milik kekaisaran. Titah tidak dapat dibatalkan dan tidak ada pengajuan perceraian seumur hidup setelah pernikahan berlangsung." Setelah membaca isi surat Ibu Viviana terduduk di lantai lemas, ayah Viviana yang baru memikirkan cara agar putrinya tidak menikah saat ini benar-benar tidak memiliki cara sama sekali, batas waktu pernikahan hanya satu minggu dan jika pernikahan tidak dilangsungkan keluarganya akan menjadi warga biasa yang diasingkan. Semua pergi keluar dari kamar Viviana, sambil menyandarkan tubuhnya Viviana menatap langit-langit kamarnya, melihat kedua orangtuanya yang sampai seperti itu memikirkannya Viviana menjadi sedikit kalut dan tidak tenang karena semua bukan hanya tentang dirinya, Viviana tiba-tiba berpikir mungkin memang dirinya sebaiknya menikahi Duke Arhend agar keluarganya tetap bertahan. ... Braaaaaaaak. Di tempat lain suara benda yang dibanting terdengar sangat keras, para pelayan tidak ada yang berani mendekat karena takut, Duke Arhend yang tidak pernah takut dengan apapun saat ini benar-benar terlihat tidak seperti biasanya. "Tuan, apa yang terjadi?" Tanya Ksatria Lis satu satunya ksatria wanita yang ada di pasukan Duke Arhend. "Aku mengajukan pernikahan," sahut Duke Arhend. "Apa!" ksatria Lis sangat terkejut. "Kenapa tiba-tiba menikah Tuan?" tanya Ksatria Lis. "Aku hanya ingin menyelamatkan Lady itu, aku yakin Kaisar ingin memanfaatkannya," ucap Duke Arhend. "Kalau begitu kenapa Tuan marah?" tanya Ksatria Lis lagi. "Lady itu sangat tidak cocok dengan ku dan wilayah Utara, tapi aku sudah terlanjur memintanya menikah denganku," sahut Duke Arhend. "Aku akan mendatangi Count Loisan, dan mengatakan kalau aku hanya ingin membantu Putrinya dari Kaisar," sambung Duke Arhend. ... Tepat setelah matahari terbit suara kuda terdengar jelas, beberapa penjaga masuk ke dalam untuk memberi tahu kalau Count Loisan kedatangan tamu, semalaman tidak bisa tidur dan pagi hari sudah ada yang bertamu Count Loisan terlihat kesal. "Siapa yang bertamu, padahal aku semalaman tidak bisa tidur karena terus memikirkan Putriku," ucap ayah Viviana. "Suruh masuk, aku akan mengatakan kalau setelah ini tidak ada yang diizinkan bertemu lagi," sambung ayah Viviana. "Aku tidak akan meminta maaf karena mengganggu waktumu, karena ku yakin permasalahan kita kamu juga ingin menyelesaikannya dengan cepat," sahut Duke Arhend yang sudah masuk lebih dulu. "Duke Arhend," ucap ayah Viviana. "Aku akan langsung ke intinya saja, sebenarnya aku... ." sahut Duke Arhend tidak melanjutkan perkataannya. "Apa sebenarnya yang Duke inginkan?" tanya Ayah Viviana. "Aku tidak mungkin membiarkan keluargaku menderita dengan cara kehilangan segalanya, tapi kenapa Putriku harus menikah denganmu," sambung Ayah Viviana. "Karena aku menginginkannya," sahut Duke Arhend yang terlihat kesal. Duke Arhend yang ingin mengatakan sejujurnya kalau dirinya hanya berniat membantu Viviana saat ini mengurungkan niatnya. "Kalian yang memiliki gelar lebih tinggi selalu melakukan semuanya," ucap Ayah Viviana. "Jangan memancing emosiku, aku datang hanya ingin... ." sahut Duke Arhend berteriak keras suaranya terdengar sampai ke kamar Viviana. "Kenapa marah jika tidak benar? bukankah seperti itu kenyataannya dan Duke memanfaatkan gelar itu untuk menikahi Putriku Viviana," ucap ayah Viviana. "Count kamu melewati batas kesabaranku," sahut Duke Arhend yang langsung menarik pedangnya. "Tidak, Tuan Duke maafkan ayah ku," ucap Viviana sambil berlari menghampiri Ayahnya. "Tolong maafkan ayah ku," sambung Viviana. "Sejak tadi ayahmu menguji kesabaranku, aku rasa dia sudah tidak menginginkan lagi nyawanya itu," sahut Duke Arhend. "Sial, sudahlah sepertinya percuma saja aku datang kemari," sambung Duke Arhend kesal. "Karena Duke sangat ingin menikah denganku mari kita lakukan." Ucapan Viviana mengejutkan semua orang termasuk Duke Arhend yang saat ini berada di depannya. "Putriku," ucap Ayah Viviana. "Bukankah memang itu yang Duke inginkan, pernikahannya juga sudah ditentukan waktunya oleh kaisar aku tidak ingin membuat keluargaku dalam masalah," sahut Viviana. "Apa kamu yakin?" Tanya Duke Arhend. "Berhentilah bertanya Duke, bukankah memang ini yang anda inginkan, jangan menyulitkan keluargaku lebih dari ini," ucap Viviana tegas walau sebenarnya ketakutan menyelimuti tubuhnya. Duke Arhend bangkit berdiri dan berjalan pergi tanpa berpamitan, saat ini mengatakan semuanya pada Viviana dan Ayahnya sepertinya percuma saja pikirnya. Setibanya kembali ke kediamannya yang ada di ibukota Duke Arhend menyandarkan tubuhnya, saat ini dirinya sangat kebingungan padahal dirinya yang mengajukan pernikahan kenapa saat ini dirinya merasa bersalah. "Haaaah... ." "Bagaimana Tuan, apa pembicaraannya berjalan lancar?" tanya Ksatria Lis. "Tidak tahu, sepertinya pernikahan akan tetap dilangsungkan," ucap Duke Arhend. "Bukankah itu bagus Tuan, wilayah utara sebentar lagi akan memiliki seorang Duchess," sahut ksatria Lis. "Aku melakukannya tanpa berpikir panjang, seharusnya aku berpikir lebih dulu seperti yang biasa aku lakukan, ini bukan seperti diriku," ucapan Duke Arhend membuat ksatria Lis ikut kebingungan. Ksatria Lis yakin Duke Arhend sebenarnya memiliki perasaan pada wanita yang akan dinikahinya, karena tidak mungkin pria berdarah dingin sepertinya mau membantu seseorang tanpa alasan dan imbalan.Duke Arhend masih mengejar seseorang berjubah hitam yang saat ini terus menghilang berpindah tempat, hanya dengan auranya saja Duke Arhend terus berhasil mengejar walau penyihir hitam berhasil lolos satu langkah di depannya, setelah merasakan aura penyihir hitam yang bersembunyi di sekitarnya Duke Arhend langsung mengayunkan pedangnya. Wheeeeeeeeees. Satu ayunan pedang Duke Arhend menebas beberapa pohon sekaligus, dari balik pohon penyihir hitam keluar dan menatap Duke Arhend. "Ternyata memang benar sangat sulit untuk menghabisi Duke Utara," ucap penyihir hitam. "Monster yang ada di goa wilayah ku, dan sekarang penyerangan apa ini perintah seseorang," sahut Duke Arhend. "Haruskah aku menjawabnya," ucap penyihir hitam sambil tersenyum. Duke Arhend yang tidak senang langsung mengayunkan pedangnya, penyihir hitam yang sadar dengan cepat serangan Duke Arhend langsung mengganti tubuh aslinya dengan bayangan, penyihir hitam berpindah tempat tak jauh dari Duke Arhend yang terliha
Sebelum Duke Arhend kembali ke rumah Viviana menunggunya dengan tidak tenang, Viviana takut jika Kaisar tidak memberikan izin suaminya itu akan melakukan kekerasan, dan jika itu terjadi suaminya akan di tuduh menjadi pemberontak."Istriku, semua sudah selesai," ucap Duke Arhend yang baru saja membuka pintu."Suamiku," sahut Viviana sambil berlari memeluk Duke Arhend yang terlihat kebingungan."Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Duke Arhend."Tidak ada apa-apa, aku hanya takut," ucap Viviana."Baiklah semua sudah selesai, kita bisa kembali pulang," sahut Duke Arhend sambil mengelus kepala Viviana."Terima kasih sudah banyak membantu ku, tanpa istriku semua mungkin tidak bisa berjalan lancar," sambung Duke Arhend."Aku hanya melakukan tugasku," ucap Viviana."Tugas, sepertinya masih ada satu tugas lagi buat istriku," sahut Duke Arhend yang langsung mendorong Viviana ke tempat tidur.Duke Arhend mengangkat kaki Viviana ke tempat tidur, tangan Duke Arhend mulai mengelus paha Viviana dan mu
Setibanya kembali di kediamannya Viviana masih terus terpikirkan pembicaraannya dengan Lady Sahari, Viviana benar-benar tidak menyangka Lady Sahari akan menjadi Putri mahkota, tapi yang membuatnya tidak menyangka lagi setelah ini mereka tidak mungkin bisa bertemu secara pribadi. Viviana bisa menemuinya atas nama Duchess yang menemui Putri mahkota, semua yang berkaitan dengan kerja sama juga tidak bisa lagi melewati Lady Sahari dan harus langsung ke Marquis Glan. "Istriku kenapa sejak tadi kamu diam saja?" Tanya Duke Arhend. "Aku hanya kepikiran Lady Sahari yang akan menjadi Putri mahkota," ucap Viviana. "Bukankah itu bagus," sahut Duke Arhend dengan santai. "Benar, tapi itu membuat ku tidak lagi bisa bertemu dengannya secara pribadi," ucap Viviana. "Tidak perlu dipikirkan istriku, jika ingin menemuinya kamu tinggal pergi menemuinya atas dasar Duchess yang menemui Putri Mahkota," sahut Duke Arhend. Viviana hanya menganggukkan kepalanya, dirinya juga tahu kalau yang dikatakan sua
Semalam memang kesalahannya karena memancing birahi seorang Duke Arhend, pinggangnya benar-benar sakit karena suaminya itu tidak hanya melakukannya sekali, walau begitu Viviana sangat menikmatinya."Istriku kita mendapatkan undangan dari kediaman Marquis Glan," ucap Duke Arhend yang baru membuka pintu kamar."Istriku masih belum mau bangun dari tempat tidur," sambung Duke Arhend."Salah siapa yang membuat ku seperti ini," sahut Viviana memasang wajah cemberutnya."Tapi istriku menyukainya bukan," ucap Duke Arhend tersenyum nakal."Sudahlah, suamiku buka surat itu," sahut Viviana.Viviana yang membaca surat seketika tersenyum, sudah diduga olehnya kalau Marquis Glan tidak mungkin menolak kesempatan untuk bekerja sama dengan seorang Duke."Kenapa istriku tersenyum? Marquis Glan mengundang kita belum tentu menyetujui kerja sama dengan kita," ucap Duke Arhend."Marquis Glan pasti setuju, tapi sebelum itu dia akan bertanya memangnya apa keuntungan buatnya, apalagi itu juga membuatnya dicur
Viviana yang tiba di kediaman Marquis Glan turun dari kereta kudanya, tak berselang lama Lady Sahari yang di temani pelayannya menghampiri Viviana, Lady Sahari langsung memeluk Viviana yang memang sangat dirindukannya.Viviana dan Lady Sahari sudah berteman sejak masih kecil, Viviana sudah sering berkunjung ke kediaman Marquis Glan begitu juga dengan Lady Sahari sejak kecil sering mengunjungi kediaman Count Loisan."Bagaimana kabarmu Lady?" Tanya Viviana."Aku tentu saja baik, bagaimana denganmu? Apa Duke Arhend menyakiti mu?" Tanya Lady Sahari penuh khawatir."Tidak, Suamiku dan semua orang di sana sangat baik padaku," ucap Viviana sambil tersenyum."Benarkah? Kamu tidak perlu berbohong, katakan saja padaku semuanya kita adalah sahabat," sahut Lady Sahari tidak percaya."Aku tidak berbohong, suamiku sangat baik padaku," ucap Viviana.Walau tidak percaya Lady Sahari tidak memiliki pilihan selain mempercayainya, Lady Sahari menggandeng tangan Viviana masuk ke dalam kediamannya, taman y
Tepat setelah membuka pintu Liam berdiri di depan Viviana, keduanya saling bertatapan beberapa saat, Viviana langsung memeluk kakaknya itu dan mendapatkan pelukan balik oleh Liam.Duke Arhend mengernyitkan dahi tidak senang, seharusnya Viviana hanya boleh memeluknya tapi saat ini Viviana malah memeluk pria lain."Kakak, apa kabarmu?" Tanya Viviana tanpa melepaskan pelukannya."Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," ucap Liam."Kalau begitu apa yang kamu lakukan sekarang? Ibu ayah mengatakan kalau kamu jarang berada di rumah," tanya Viviana lagi."Aku hanya sedang bekerja," ucap Liam."Bekerja? Kenapa? Bukankah Kakak calon Count selanjutnya, kakak tidak perlu bekerja di tempat lain," sahut Viviana."Anggap saja untuk mencari pengalaman," sahut Liam."Kalau begitu bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja? Apa Duke memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Liam matanya menatap tajam ke arah Duke Arhend."Aku baik-baik saja, suamiku dan semua orangnya memperlakukan ku dengan baik," uc
Duke Arhend yang memperhatikan dari kejauhan melihat ada yang tidak normal dari para monster, selain bermutasi para monster lebih agresif menyerang satu sama lain.Duke Arhend bergegas menarik pedangnya dan langsung berlari ke arah para monster, dengan mudah Duke Arhend membasmi para monster di dep
Di tempat baru kehangatan yang di dapat Viviana dari para pelayan dan ksatria yang menghormatinya membuat Viviana terkadang lupa, dirinya yang terpaksa menikah dengan Duke Arhend sampai saat ini belum bertemu lagi, saat mengingat itu Viviana terus tidak habis pikir apa yang dipikirkan Duke Arhend m
Viviana mengikuti pelayan yang berjalan masuk ke dalam, sambil memperhatikan sekelilingnya Viviana berpikir di dalam hati, rumah yang sangat luas bagaimana mungkin tidak memiliki banyak barang di dalamnya. "Nama mu Asa bukan?" tanya Viviana. "Benar Nyonya," sahut pelayan Asa. "Bolehkah aku be
Perjalanan menuju wilayah utara memakan waktu 7 hari jika melewati jalan biasa, sedangkan jika melewati portal hanya membutuhkan waktu 3 hari perjalanan. Kereta berguncang melewati bebatuan, siang hari berganti malam hari dan kereta kuda berhenti. Tok tok tok... "Permisi Nyonya, kita akan ber







