Share

SUAMIKU KEKASIH IBUKU
SUAMIKU KEKASIH IBUKU
Penulis: HaniHadi_LTF

01. Bayangan

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 10:49:06

Mobil pengantin berhenti.

Gandes belum mampu mengatur napas. Gaun zamrud beludru yang membungkus tubuh tinggi mungilnya terasa berat, membuat langkah terseret seperti terikat rantai tak terlihat. Gemerincing perhiasan menambah sesak di leher, seolah setiap kilau mengingatkan bahwa dirinya hanyalah pengganti, bukan pengantin yang sesungguhnya.

Gandes memandang rumah besar bercat gading. Lampu gantung di beranda memantulkan cahaya kuning pucat, menciptakan bayangan panjang yang menelan halaman. Dingin merayap dari bawah tapak kaki. Tangannya menggenggam ujung kebaya, mencoba menenangkan gemetar yang tak bisa disembunyikan.

Jati melangkah lebih dulu, tegap, tenang, berseragam putih dengan sabuk emas mengilap khas perwira Angkatan Darat. Setiap gerakan miliknya menunjukkan kekuasaan, tapi juga menyisakan bara yang samar di wajah. Tatapan mata tajam seolah mengusir segala bentuk kelemahan dari sekitarnya. Gandes berjalan beberapa langkah di belakang, tanpa berani menatap lelaki itu.

Pintu terbuka. Aroma bunga segar menyambut, bercampur dengan wangi kayu tua dan parfum yang menguar lembut. Ruang tamu tampak megah. Gandes terdiam dengan jantung terasa bergemuruh. Di dalam sana, muncul sosok wanita setengah baya, membawa bingkisan berlapis kertas perak.

"Ini hadiah dari Ayu untukmu, Jati," ucap Bu Wendy, budenya Jati.

"Terima kasih, Bude. Tapi kenapa Ayu tak datang?"

Senyum tipis muncul dari bibir wanita itu, bukan senyum ramah, melainkan sindiran yang dibungkus sopan. Tatapan tajamnya mengarah pada Gandes, seolah menelanjangi seluruh keberadaan gadis itu.

"Wah, pengantin baru rupanya tak sabar masuk kamar. Tante ganggu ya?"

"Bude, jangan mulai," ujar Jati, nada berat, berusaha menahan.

"Kenapa? Tante hanya ingin melihat menantu pengganti itu. Mirip ibunya waktu muda, ya? Mudah-mudahan tak semurah ibunya." 

Gandes menahan napas. Tenggorokan terasa kering, jari-jari bergetar. "Bu, jangan hina Mama saya." Suaranya pecah.

Tatapan wanita itu memaku dirinya. "Kalau ibumu tahu malu, ia tak akan kabur saat akad. Anaknya tak perlu menanggung malu seperti ini."

Gandes memejamkan mata, menahan sesak.

"Cukup, Bude," ujar Jati keras. "Saya yang tanggung nama keluarga, bukan Bude."

Tawa sinis keluar pelan. "Ya, tanggunglah. Tapi jangan kaget bila perempuan itu nanti merepotkanmu, sama seperti ibunya."

Langkahnya menjauh, suara tumit menghantam lantai marmer hingga menghilang ke pintu. "Gadis begini kok dibandingkan Chandra Ayu," gumannya nyaris berbisik.

Hening. Gandes mematung. Pandangan kabur oleh air mata yang enggan jatuh. Dada terasa sesak karena luka yang disodorkan begitu terang. Ia menatap Jati, mata penuh amarah yang tak bisa disembunyikan.

Lelaki itu menatap balik, dingin, keras.

"Naik ke kamar." Suara datar, tapi tak bisa dibantah.

Gandes melangkah perlahan, mengikuti salah satu pembantu menuju tangga.

Kamar terbuka. Ruangan luas dengan dinding warna kelam, ranjang besar bertabur kelopak mawar, tirai panjang berayun pelan. Aroma melati memenuhi ruangan, menyusup ke paru, menyesakkan dada. Gandes berdiri menatap ranjang itu lama. Ia menggenggam kedua tangan, berusaha mengusir gemetar.

Suara langkah berat terdengar mendekat. Jati muncul di ambang pintu, wajahnya keras, mata tajam menelusuri sosok gadis di depannya.

"Kenapa masih berdiri?" 

Jati mendekat, jarak tinggal sejengkal.

"Atau mau kabur seperti ibumu?"

Napas Gandes tercekat.

"Kalau aku ingin pergi... apa mungkin? Tadi pagi kamu sudah buktikan, dengan kekuasaanmu kamu bahkan bisa mengusir seseorang yang seharusnya berada bersamaku dalam pelaminan kelak. Bukan orang tua seperti kamu."

Wajah Jati memerah, rahang mengeras. Tangan mengepal.

"Jaga ucapanmu, Gandes!" Ucap Jati keras. "Kamu harus tahu kewajibanmu, melayaniku sebagai seorang istri."

Gandes menelan ludah, kepala menunduk, suara bergetar.

"Aku bukan istri pengganti. Aku manusia yang punya hati. Pernikahan ini paksaan, aku tak harus melayanimu."

Tawa pendek keluar dari Jati, getir.

"Kamu pikir siapa dirimu bisa bicara seperti itu? Kamu hanya alat untuk menutup aib keluarga."

Gandes menatapnya, mata memerah. "Kenapa aku? Aku masih kuliah, aku punya kehidupan sendiri, aku juga punya seseorang yang aku cintai."

"Aku tak peduli," balas Jati tajam. "Kamu harus menanggung dosa ibumu."

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan.

Jati melepas topi seragam, meletakkannya di meja. Tangan membuka sabuk emas perlahan. Suara gesekan logam memecah hening, membuat napas Gandes memburu. Lelaki itu melepaskan kancing seragam, menyisakan kaos tipis yang menempel pada tubuh tegapnya.

"Mau apa kamu?" bisik Gandes.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Jati. "Mau apa, katamu?"

Langkah semakin mendekat.

Gandes mundur selangkah, namun kakinya terjerat ekor kebaya. Tubuh Gandes terhuyung, menambrak dada keras di hadapannya. Tangan Jati memegang pinggangnya, kuat, nyaris tanpa jarak.

"Lepaskan aku!" seru Gandes, suara bergetar.

"Takut aku menyentuhmu?" tanya Jati lirih, namun menekan.

Gandes menunduk. Napas terasa berat. Aroma tubuh Jati bercampur dengan wangi melati, menciptakan sesuatu yang aneh: ketakutan dan kelembutan dalam waktu bersamaan.

Tangan Jati terangkat, menyentuh dagu lembut Gandes, mengangkat wajahnya.

"Lihat aku."

Tatapan mereka bertemu. Waktu seolah berhenti. Di mata Jati ada amarah, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, semacam luka yang disembunyikan.

"Kenapa kamu yang harus ada di sini, hah? Kenapa bukan ibumu?" Nada suaranya serak, hampir putus asa.

Gandes menahan tangis. "Aku tak tahu apa-apa. Tolong lepaskan aku..."

Air mata menetes, jatuh tanpa bisa dicegah.

Wajah Jati semakin dekat. Napasnya menyentuh pipi. Satu tangan menumpu ke dinding, satu lagi di dagu Gandes.

Gandes menggigit bibir, menahan isak.

"Lepaskan... kumohon..."

"Diam!" bentak Jati, tapi suaranya tak lagi sekeras sebelumnya.

Jati menatapnya lama, wajahnya semakin dekat. Napas keduanya beradu. 

Sentuhan pertama begitu singkat, hanya desiran bibir Jati di kening, lalu bergeser ke pipi, turun ke dekat rahang.

Gandes membeku. Ia tak tahu harus melawan atau berteriak. Tubuhnya gemetar, matanya terpejam, napasnya tertahan.

"Kamu yang mau berada di posisi ini!" Nafas Jati makin memburu. Dengan serakahnya ia melumat bibir Gandes, mengambil ciuman pertama gadis itu

"Lepaskan... tolong, jangan..." suara Gandes serak.

Jati berhenti. Ia masih menahan bahunya, tapi matanya kini menatap wajah gadis itu lama, dalam, seolah menimbang sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan.

Seketika ia berbalik, melangkah menjauh, menekan napas berat.

Suara sabuk logam terdengar saat ia mengambilnya, tapi bukan dengan niat semula. Ia justru menendang kursi di dekat ranjang, marah pada dirinya sendiri.

"Bersihkan dirimu!"

Pintu tertutup, Jati melangkah pergi, namun hati Jati masih bergemuruh.

"Awas kamu, Gandes. Ini baru permulaan, kamu yang akan membayar penghinaan ibumu! "

Gandes berdiri diam, wajahnya basah. Ia diam. Hanya memandangi punggung Jati yang melangkah pergi meninggalkan kamar dengan langkah lebar.

Pintu tertutup pelan, tapi gema suaranya menggantung lama di kepala Gandes, membuat gadis itu luruh dan terisak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   126. Resort kosong

    Jati menepisnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menunduk, memaksa diri diam, memaksa pikirannya bertahan satu detik lagi.Gandes menatapnya, ngeri. “Mas…”“Kita hanya… harus keluar dari sini.”Jati menghembuskan nafas panjang, seperti orang yang hampir tenggelam lalu diseret kembali ke permukaan. Kakinya melemah, tapi ia masih berdiri dan terus memegang tangan Gandes. “Pak, biar saya yang jadi penghalang Bu Kanaya.” Kapten Hedi menghadang Kanaya.Kanaya langsung melangkah maju. “Kamu pikir bisa mengatur urusan keluarga kami?” Hedi menoleh sekilas, sorot matanya dingin. “Maaf, Bu. Perintah saya jelas.”Kanaya mendengus, menatap tajam pria di depannya. " Minggir kamu!" Kanaya menyenggol pria yang lebih pendek dari dirinya itu. Hedi mundur selangkah. Namun, tenaganya yang ternyata lebih kuat dari Kanaya tetap bisa mengalahkannya. "Saya juga bisa mengunakan kekerasan jika Anda menghalangi atasan saya."Jati mengangkat kepala. Pandangannya sedikit kabur, tapi ia masih bisa melihat jelas w

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   125. Resort kosong

    Jati merasakan dorongan terakhir, berusaha bangkit penuh, saat daun pintu terbuka dan cahaya luar menyelinap masuk, membelah ruangan."Mas..."“Apa yang terjadi?” suara Gandes pecah begitu daun pintu terbuka.Pandangannya membeku. Ibunya berdiri tanpa busana, tubuh condong mendekat, bibir hampir menyentuh wajah Jati. Jati setengah telanjang, wajah pucat, kedua tangannya mendorong bahu perempuan itu dengan sisa tenaga. Nafasnya tersengal, mata berair.“Gandes…” Jati berbisik, seperti orang terbangun dari mimpi buruk.Ibunya menoleh. Mata mereka bertemu. Sekejap itu cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang Gandes jaga seumur hidup.Kanaya segera mengambil kimono di lantai lalu memakainya. “Ma…” suara Gandes turun, hampir tak keluar. “Apa yang Mama lakukan?”Ibunya tersentak, lalu mundur setapak. Tangan terangkat menutup dada, bukan malu, melainkan kaget karena rahasia terbuka. “Kamu salah paham,” katanya cepat. “Mama hanya...”“Hentikan!” Gandes menjerit. Tangannya gemetar. “Aku lihat sem

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   124. Kado tahun baru

    Kanaya merayap lebih dekat, lengan menguat, dada menempel. "Kita tak perlu membuktikan apa pun. Rasakan saja."Ponsel bergetar meja kecil. Cahaya layar menyala, memantul dinding. Kanaya berhenti sesaat, melirik."Biarkan," katanya cepat, lalu kembali mendekat. Bibirnya menyentuh rahang Jati, turun perlahan.Jati menelan ludah. Tangan terangkat, menggantung antara menahan atau membalas.Getar ponsel berhenti. Sunyi kembali menyelimuti.Kanaya berbisik, "Aku di sini. Aku pasti membuatmu puas."Sementara Gandes yang masih berusaha menelpon nomer yang dipakai Jati menelpon semalam, mendengus."Jati, tolong angkat!""Sudahlah, Bu. Sepertinya Pak Jati tidak mendengar." "Bagaimana kita tahu mereka ada di resort yang mana?" Gandes sedikit bingung, ada yang terasa aneh menekan dadanya. "Yang penting kita cari landasan untuk mendarat duluh," ucap Kapten Hedi pilot helikopter itu. Gandes, mengangguk. “Dan, lapor, kita sudah masuk radius,” ujar Kapten Hedi sambil menurunkan kecepatan.“Visual

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   123, Perayaan tahun baru

    Siang itu Kanaya berfikir keras, bagaimana caranya ia bisa mengajak Jati berhubungan.Dengan memakai lingerie merah maroon, ia mondar mandir menimbang."Jika aku memakai cara obat, apa itu tidak berbahaya bagi Jati? Bagaimanapun juga, aku mengkhawatirkannya. Mau bagaimana lagi jika sampai hari ini aku tak berhasil mengajaknya tidur, aku takut, kapan-kapan bahkan tak ada kesempatan." Kanaya terus berfikir."Mas, sudah siang, apa kamu ngak ingin tidur siang? Aku lihat kamu tadi mencoba jalan ke taman komplek resort ini, " ucap Kanaya dengan mendekati Jati yang masih menata nafasnya setelah jalan beberapa meter dari resort yang mereka tempati.Air yang diberikan Kanaya sampai diminumnya tandas."Ramai ya di taman, orang pada ngrayain tahun baru?"Jati mengangnguk. "Kita bisa ngrayain berdua," ucap Kanaya berbisik."Ya Allah, ada apa dengan tubuhku ini, baru juga melangkah sedekat itu aku sudah lemas begini?" batin Jati. "Aku harus mencari cara bagaimana aku bisa segera kembali, lalu per

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   122. Kejutan tahun baru

    Paginya. Pagi sekali Kanaya sudah memesan makanan dan dandan cantik.Jati yang bangun kesiangan setelah sholat Subuh, sedikit kaget."Aku siapkan gulai kambing untukmu, biar kamu cepat pulih."Jati bangun, menakan makanan yang memang kesukaannya itu.Sepanjang mereka makan, Kanaya yang memakai Busana dengan dada rendah itu berkali-kali menatapnya.Saat Jati mengambil air minum, Kanaya memeluknya dari belakang. "Sekarang kamu milikku," ucapnya pelan.Jati berdiri kaku. "Aku masih butuh istirahat.Kanaya mendengus sambil membatin. "Kenapa aku merasa aneh? Apakah Jati beneran lupa ingatan? Lalu semalam, apa benar dia cuma dari luar, kenapa aku merasa heran kenapa handphone aku yang biasanya selalu aku letakkan terbalik, pagi tadi ghak terbalik?"Kanaya segera memeriksa handphonenya, dari chat WA sampai percakapan WA. "Tidak ada yangencurigakan, " guman Kanaya.Smentara pagi sekali, Maheswari sudah bersiap pergi."Gandes, kamu bareng Ibu ke kampus?""Memangnya Kanjeng Ibu ke mana?""Pingi

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   121. Mas?

    Maheswari muncul dari lorong, mengenakan mukena putihnya. Wajah perempuan itu resah walau sudah dapat khabar Jati selamat. "Kanjeng Ibu..."Maheswari menoleh. “Kamu sudah bangun jam segini?”Gandes mengacungkan ponsel, menahan Maheswari sebelum melangkah. “Tunggu. Mas Jati,” kata Gandes lirih. “Telepon.”Maheswari terdiam sejenak. Ia menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Matanya telah buram. “Assalamualaikum, Le," "ucapMaheswari sambil melangkah ke musala di sudut rumah. Karpet hijau terbentang rapi, aroma kayu dan wangi lavender bercampur. Ia duduk bersila, ponsel diletakkan di pangkuan. “Bagaimana khabarmu?” tanya Maheswari tenang, namun bergetar halus.Di seberang sana, Jati terdiam sesaat. Napasnya terdengar, berat. “Bu…”“Iya, Le.” Senyum kecil terbit tanpa Maheswari sadari. “Alhamdulillah, kamu selamat.”“Alhamdulullah, Bu."“Aku pikir aku telah kehilangan kamu.”"Jika aku pergi, siapa yang akan menjaga jagoanku kelak, Bu? "Maheswari menutup mata. Tangannya salin mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status