LOGINJati berdiri di ambang, wajahnya separuh gelap karena cahaya lampu dari luar. Tatapannya dingin, tapi di balik mata itu ada sesuatu,..kekacauan, kemarahan. Ia terdiam lama. Tangannya perlahan terangkat, seolah hendak menyentuh pipi Gandes. Saat wajahnya makin mendekat. Hidungnya hampir menyentuh wajah Gandes, gadis itu memejamkan mata, tubuhnya kaku menahan napas. Ia merasakan ketakutan, hinggah tangannya gemetar.
Jati menatap Gandes dari cermin rias. "Cantik juga kamu."
Gandes sudah ketar ketir, terlebih saat wajah Jati hampir menempel di pipinya. Namun tak lama, suara tawa kemudian terdengar. "Takut sekali wajahmu itu."
Jati masih terkekeh, suaranya pelan tapi penuh nada menghina.
"Kamu sekarang mengaca kan, Gandes?" ujar Jati, "udah tahu kan, kalau kamu sama sekali tak menarik, walau cantik."
Gandes menatapnya tanpa suara. Helaan napasnya berat, tapi matanya tetap kuat.
Jati mengangkat dagunya, senyum sinis melintas di bibirnya. "Tubuhmu itu... kecil. Pucat. Tak ada lekuknya. Dadamu rata. Apa kamu pikir aku bisa tergoda dengan gadis seperti kamu?"
Gandes menelan ludah, tapi tetap diam.
"Kanaya jauh berbeda. Setiap gerakannya... setiap inci tubuhnya... bisa bikin aku gila," lanjut Jati sambil terkekeh pendek. "Sedangkan kamu? Hanya bayangan hambar yang bahkan tak bisa membuatku menoleh dua kali."
Ucapan itu menggantung lama di ruangan luas itu, tajam seperti pisau.
"Aku tidak meminta kamu menoleh," sahut Gandes tenang. "Dan aku tidak perlu membuatmu gila."
Nada datarnya justru membuat Jati terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak mampu ia kendalikan. Ia memandang gadis itu lebih lama, kemudian tertawa kecil. "Keras kepala juga ternyata."
Wajah Jati kembali mendekat. Tiba-tiba saja ada yang aneh dalam jiwa lelaki itu. Dengan secepat kilat dia meraih tengkuk Gandes, mendekatkannya, lalu dengan rakusnya Jati menciumi Gandes.
"Lepaskan! Lepaskan aku, bi4d4b!" Gandes mendorong tubuh di depannya. Jati yang telah dibalut hasrat gelagapan hinggah terjerembab.
"Cih,.." Gandes meludah. Matanya nanar menatap marah pada pria di depannya yang masih mengatur nafas.
Jati yang seolah baru sadar apa yang baru saja ia lakukan, membthin pelan. "Bisa-bisanya aku merasa lain saat di dekatnya. Padahal selama ini, wanita diam seperti itu, tak pernah bisa menarik minatku."
Jati lalu berbalik, mengambil segelas air di meja, meneguknya pelan. "Besok ada upacara adus kramas. Aku ingin lihat bagaimana tubuhmu yang kamu bungkus rapat itu terlihat. " Jati masih berusaha mengelak dari harsratnya yang sebenarnya meluap. "Tapi kurasa tak akan ada yang menarik dari tubuhmu. Bahkan air pun mungkin makin membuat tubuh krempengmu makin tak terbentuk. Makanya kamu memilih pakaian longgar setiap hari."
Jati menatapnya sekali lagi dengan tatapan dingin, lalu berjalan ke kamar mandi. Suara air mengalir terdengar, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung. Ia berkali-kali mengguyur tubuhnya yang kepanasan . "Si4lan, bisa-bisanya aku jadi begini hanya dengan di dekat wanita itu!"
Gandes yang di luar, menarik napas panjang. Matanya menatap dengan kemarahan. Airmata tiba-tiba saja luruh.
Ia menatap cermin di hadapannya. Tubuhnya yang kurus seolah makin ringkih. Mungkin karena efek dia sering menahan lapar agar kiriman dari ibunya cukup untuk biaya hidupnya di kos-kosan. Bagaimanapun juga ia merasa perjuangan ibunya berat setelah kematian ayahnya.
Ia meraih tisu di meja, perlahan menghapus airmata di pipinya. Termasuk berkali-kali menghabus bibirnya yang terasa ternoda. Setiap usapan terasa seperti menghapus lapisan hidup yang bukan miliknya. Matanya basah.
Perlahan, tubuh Gandes luruh di lantai. Isak tangis ia tahan. "Mama, di mana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?" bisik Gandes.
Air mata Gandes kembali jatuh tanpa suara. Ia buru-buru menyekanya, takut jika lelaki itu keluar dari kamar mandi dan mendapati dirinya lemah. Ia menatap bayangan dirinya di cermin dengan mata sembab. Di balik pantulan itu, ia melihat bukan dirinya, melainkan sosok perempuan asing yang begitu letih, begitu rapuh.
Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Ia berdiri perlahan, menahan gemetar, lalu melangkah menuju kamar mandi luar yang dinginnya menggigit.
Langkahnya pelan, tapi pasti. Setiap tarikan napas terasa berat, seperti membawa beban seluruh malam. Ia membuka keran, menampung air di kedua telapak tangannya, lalu membasuh wajah. Dingin air itu seperti menusuk hingga ke tulang.
Air wudhu jatuh satu-satu dari ujung dagunya, seolah ikut membawa pergi noda, juga aib yang menempel di tubuhnya tanpa ia minta."Ya Allah..." bisiknya serak, "Aku cuma ingin bersih. Bersih dari takut ini, dari luka ini..."
Ia menutup mata, menahan air mata yang hendak luruh lagi. Setelah selesai berwudhu, Gandes kembali ke kamar itu.
Baju yang ia kenakan masih yang tadi, berat, tapi itu satu-satunya yang bisa ia miliki malam ini. Ia memakai stoking dari tas kecilnya, lalu meraih selimut, melipat ujungnya, menjadikannya sajadah.
Dalam temaram cahaya, ia berdiri. Takbir pertamanya lirih, nyaris tanpa suara.
Tubuhnya bergetar ketika rukuk, lalu bersujud lama, lebih lama dari biasanya. Dalam sujud itu, semua yang ia tahan akhirnya pecah. Air mata jatuh, membasahi selimut yang ia jadikan alas sujud."Ya Allah... kuatkan aku. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku cuma ingin selamat, ingin tetap jadi perempuan yang Kau cintai. Ampuni aku, lindungi Mama yang kini entah ada di mana. "
Suara isaknya tertahan. Di antara doa-doa itu, terselip nama yang masih ia genggam dalam diam. "Ryan,..kalau cinta kita benar, aku ingin Allah jaga aku untuk tetap untukmu, walau bibir aku telah ternoda. Maaf!"
Selesai salam, Gandes memeluk dirinya sendiri. Dingin mulai merambat ke seluruh tubuh, tak terasa ia rebah perlahan di lantai. Mata terpejam, sisa air mata masih membasahi pipi. Kelelahan karena tangis dan ketegangan membuat tubuhnya akhirnya menyerah.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi berderit pelan. Jati keluar, rambut cepaknya basah. Ia berhenti sejenak, menatap punggung Gandes yang meringkuk di lantai.
"Tidur?" gumannya pelan. "Bisa-bisanya setelah dia membuatku menahan hasrat sampai ke kamar mandi mengguyur diri, dia enak-enakan tidur?"
Jati berjalan mendekat, langkahnya nyaris tanpa suara di atas karpet. Cahaya lampu temaram membuat bayangan tubuhnya memanjang ke arah sofa. Ia berhenti di samping gadis itu, memperhatikan wajah yang tertidur di bawah cahaya redup.
Gandes tampak tenang. Matanya yang ditumbuhi bulu mata panjang dan lentik, menutup. Tak ada lagi sisa riasan, hanya wajah polos yang entah kenapa membuat dada Jati terasa berat.
Ia mendengus pelan, tersenyum kecil pada dirinya sendiri, lalu memalingkan wajah, seolah menepis pikiran yang muncul.
Namun tatapannya kembali, tanpa sadar. Saat itu Gandes bergerak kecil, lalu meronta.
Malam menelan halaman rumah. Mesin mobil menyala. Jalanan sepi. Lampu toko perhiasan masih menyala satu.“Mas, sudah tutup,” kata penjaga, terkejut.“Tolong,” pinta Jati. “Sebentar saja. Berapapun akan saya bayar.""Apa sepenting itu sampai tidak mau menunggu esuk?""Ini memang penting, saya tak ingin terjadi keributan lagi pada hidup saya. Saya tak ingin kehilangan dia lagi hanya karena cincin sialan ini.""Baiklah kalau sepenting itu."Jati duduk. Seorang pria berkacamata datang membawa alat. Benang nilon dililit rapi, jarum tipis menyelusup. Pelumas bening dioles. Tekanan pelan, sabar.“Tarik napas,” ujar pria itu.Jati mengangguk, menahan nyeri. Tarikan terakhir. Cincin meluncur lepas.“Berhasil,” kata pria itu.Jati menghembus panjang. Jari manis memerah, bekas cekik jelas.Ia memilih kotak beludru. Tanpa banyak tanya, membayar, lalu pergi.Rumah gelap saat ia pulang. Jam menunjuk lewat tengah malam. Langkahnya pelan menuju kamar. Pintu terbuka sedikit.Gandes terjaga, mata menat
"Tidak,” potong Jati cepat. “Kamu pulang sendiri."Kanaya terdiam.Gandes perlahan mengangkat kepala. Pandangannya jatuh ke wajah Kanaya. Lebam itu jelas, biru keunguan.“Mas…” panggil Gandes lirih. “Biarkan dia ikut.”Jati menoleh. “Kenapa kamu mau dia ikut? Dia sudah celakai kamu dan anak kita."Gandes menarik napas. “Aku takut… kalau dia masih di sini, orang itu kembali memukulnya.”Jati terdiam lama. Rahangnya mengeras. "Mas..."Akhirnya ia mengangguk kecil. “Baik. Semua ini demi kamu. Semoga kebaikanmu tidak disalahgunakan orang lain.'Kanaya merasa tersindir. "Bukankah aku tadi sudah minta maaf.""Aku mnegizinkan Mama ikut, tapi setelah aku sembuh, Mama harus menunjukkan di mana makam ibuku.""Baik, Ndes. Mama pasti akan antar kamu ke makamnya."Tanpa memperdulikan Kanaya, mereka berjalan mengikuti Hedi ke helikopter. Helikopter berputar pelan. Angin mengibaskan jilbab Gandes yang duduk bersandar, tubuhnya dirangkul Jati. Namun matanya sering menatap jemari Jati.Cincin itu be
Hedi berdiri dekat pintu. Wajahnya datar. Kunci mobil berada di tangannya. Ia melangkah masuk, melempar kunci itu ke meja.“Kunci mobil kamu,” ucapnya singkat. “Saya cuma mengembalikan.”King menatapnya dengan mata menyala. “Enak sekali kamu bawa mobil orang!”Hedi tak menjawab. Ia berbalik hendak pergi.“Tunggu!”Kanaya bergerak cepat. Tangannya meraih pergelangan Hedi. Genggamannya lemah tapi putus asa.Hedi menoleh. Tatapan mereka bertemu.Kanaya menelan ludah. “Jangan tinggalkan aku.”King tertawa dingin. “Lihat itu. Bahkan prajurit kecil pun lebih kamu harapkan daripada aku.”King meraih jaketnya. Langkahnya limbung tapi penuh amarah. “Urusan kita selesai. Jangan pernah menghubungi aku lagi."Pintu dibanting. Suara mesin mobil meraung, lalu menjauh menelan gelap.Hedi masih berdiri. Tangannya tertahan dalam genggaman Kanaya. Napas perempuan itu bergetar.“Hedi…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tolong…”Hedi menarik napas panjang. Tatapannya bingung. Lampu kamar berpendar redup, m
"Bukannya Anda Pak Jatiendra Manggala yang pernah terluka di sini? Istri Anda...Bu Kanaya, 'kan?" tanya suster itu menelisik Jati."Saya sudah sembuh dari amnesia, Mbak, " ucap Jati tak ingin berbelit. "Itu kesalahan, inilah istri saya yang sesungguhnya. Tolong dia. Dia hidup dan mati saya.""Mas... " Gandes masih mengerang kesakitan.Jati menggenggam tangannya khawatir. "Kamu dan jagoan kita pasti baik-baik saja. Percaya " hibur Jati.Gandes dipindahkan. Brankar bergerak cepat menyusuri lorong. Lampu putih terasa menyilaukan.“Pak, silakan tunggu di luar dulu,” ucap perawat.Jati langsung menahan. “Tidak. Saya ikut.”“Prosedur...”“Dia istri saya, Pak.” Suara Jati meninggi. “Saya tidak mau ke mana-mana.”Dokter Budi muncul, wajahnya serius. “Tenang dulu. Kami perlu periksa. Hanya saja, bagaimana Anda bilang ini istri Bapak?""Ternyata Pak Jati sudah sembuh dari amnesia, Dok." Suster yangg tadi bicara dengan Jati menjelaskan. "Ini istri beliau."Dokter Budi manggut-manggut. Sekilas m
"King mundur seoangkah. Pengakuan Kanaya membuatnya kaget. Seharusnya ia gembira, tapi tidak, apa yang baru saja terjadi membuat ia naik pitam. " Kamu hamil? Apa Bakungan itu yang menghamili kamu?""Ini anak kamu."Plak! Tamparan mengenai Kanaya. "Dasar wanita marahan! Bukankah aku selalu memakai pengaman saat bersamamu?" Kaki King sudah melayang. "Kamu tidur bersama orang lain dan kamu mau menjebak ku. Jangan mimpi kamu Kanaya! " Kembali tangannya menjambak rambut Kanaya lalu mendorongnya kasar. Kanaya tersungkur. Belum puas juga tamparan dilayangkan lelaki oti. "'Ampun… tolong…!”Suara itu menembus pintu resort seperti pisau. Gandes yang sudah mengangkat tangan hendak mengetuk pintu mendadak terpaku. Nafasnya tercekat. Itu suara Mama. Bukan rintih biasa. Ada rasa panik, sakit, dan ketakutan bercampur satu.“Mas…” Gandes berbalik cepat. Wajahnya pucat.Belum sempat Jati bertanya, jeritan kedua menyusul. Lebih keras. Lebih putus asa.“Tolooong…!”"Mas, itu Mama, tolongin dia.""I
“Bu Kanaya didatangi seorang lelaki, Pak. Jadi saya tinggal.” Hedi menunduk, enggan menatap Jati seolah dia tahu reaksi selanjutnya. Jati dan Gandes salin menatap.“Apa?” Mata Jati sampai membulatSuaranya rendah, tertahan.Hedi berdiri sedikit menjauh, nada bicaranya ragu, seperti orang yang sadar sedang membuka pintu masalah. “Saya lihat tadi, Pak. Sepertinya ada hubungan yang tak biasa diantara mereka.”“Siapa orangnya?” Jati menatap tajam."Apa itu yang kata Mama rekan bisnis?""Bisnis apa Mama kamu? Kamu tertipu, Gandes.'" Dia bilang ke sini karena ngurus bisnis baru." Gandes menunduk. Hedi mengusap tengkuk. “Saya juga awalnya nggak yakin. Tapi… ciri orang itu mencolok.”“Mencolok bagaimana?"“Tubuhnya agak tambun. Perutnya maju. Jalan santai tapi matanya awas. Sipit… mirip orang Cina. Pakai kemeja mahal, jam tangannya besar. Kayak bukan orang biasa."Jati menarik napas pelan. Dada terasa ditekan dari dalam. Potongan-potongan lama langsung menyatu, seperti puzzle yang akhirny







