Share

04. Pelukan

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 10:51:35

"Lepas,.. lepaskan aku!" teriak Gandes dengan gelisah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Jati bergegas mendekat. Tapi Gandes sudah kembali tenang. Ia mengusap pipi dengan punggung tangan. Napasnya kembali teratur, benar-benar tertidur.

Jati menghela napas panjang, lalu berjongkok di depannya.

"Dia menangis?" gumannya lirih.

Tangannya sempat ragu sebelum menyentuh pipi Gandes dan menghabus air matanya.

"Kulitnya dingin. Terlalu dingin untuk seorang pengantin di malam pertama," guman Jati lagi.

Beberapa detik, Jati hanya diam, menatap wajah itu. Hatinya seperti diaduk. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia cari. Balas dendam, pembuktian, atau mungkin hanya pembenaran dari luka lama.

Tatapannya turun perlahan. Kerudung Gandes masih membingkai wajah mungilnya yang cantik. Ia menelan ludah, lalu menghela napas berat. Cahaya lampu menimpa wajahnya, memperjelas garis rahang tegas dan sorot mata tajamnya. Tangannya bergerak pelan, menyentuh kerudung di kepala Gandes. Hendak melepas hijabnya.

Jati kembali ragu.

"Apa lebih baik aku pindahkan saja tidurnya?" gumam Jati sambil menatap pakaian pengantin Gandes. "Aku lupa kalau dia tak bawa pakian. Tapi ini sudah malam, mana ada toko pakaian jam segini," keluh Jati lirih, tapi cukup untuk menembus telinga Gandes.

Samar-samar, Gandes mendengar suara itu di antara kantuk dan lelah yang menindih seluruh tubuhnya. Ia tidak benar-benar tidur, tapi juga tidak sepenuhnya sadar. Kepalanya berat, pikirannya masih kacau sejak siang tadi, sejak takdir mempertemukannya lagi dengan pria yang dulu pernah ia panggil papi.

Ia baru menyadari dingin menelusup lewat sela kain pengantin yang masih melekat di tubuh.

Beberapa detik kemudian, tubuhnya terasa terangkat. Ada lengan kuat yang membopong, lalu aroma tubuh lelaki itu memenuhi napasnya. Gandes ingin menolak, tapi suaranya tertelan. Mungkin karena terlalu letih, tubuhnya hanya diam, pasrah seperti boneka tanpa daya.

Ia baru tersadar benar ketika merasakan sesuatu menarik pelan kerudung di kepalanya. Seketika matanya terbuka. Dalam cahaya temaram, bayangan Jati berdiri di depannya, tangannya masih menggenggam ujung jilbabnya.

"Apa yang kamu lakukan?" seru Gandes cepat, menepis tangan itu.

Jati tersentak. "Kamu tidur memakai hijab, aku cuma mau melepasnya biar kamu nyaman," ucap Jati datar, tapi nadanya tetap dingin.

"Kamu mengambil kesempatan saat aku tidur dengan melapas jilbabku."

"Kamu ngak salah bicara seperti itu?"

"Jangan sentuh aku." Gandes bangun, memegangi kerudungnya yang nyaris terlepas. "Kamu tak berhak."

Jati menatapnya tajam. "Aku suamimu, Gandes. Jangankan jilbabmu. Seluruh pakaianmu pun bisa aku lepas sekarang juga jika aku mau. Sayangnya aku tak tertarik. Aku melepas hijabmu hanya karena biar kamu tidur dengan nyenyak, besuk masih ada acara."

"Bagiku kamu bukan suamiku yang patut melihat auratku. Kamu hanyalah suami yang memaksa pernikahan," balasnya cepat. "Aku tidak memilihmu. Aku bahkan tidak mau berada di sini."

Jati menahan napas sejenak, kemudian tertawa pendek. "Lucu. Aku baru saja membopongmu ke ranjang, memastikan kamu tidak kedinginan di lantai. Dan sekarang kamu malah marah? Apa kamu tidak mengerti kalau aku kasihan padamu?"

"Aku tidak butuh belas kasihanmu."

"Bukan belas kasihan," sahut Jati, suaranya meninggi. "Itu hakku."

"Hakmu?" Gandes menatapnya, matanya bergetar tapi suaranya tegas. "Kamu hanya punya kertas akad, bukan hatiku."

Ucapan itu menampar. Dada Jati naik turun menahan emosi.

Ia mendekat cepat, membuat Gandes mundur hingga punggungnya menempel ke tiang ranjang.

"Jangan pakai nada itu padaku," kata Jati pelan tapi tajam. "Aku bisa buat kamu menyesal."

Gandes menatap balik, berusaha tegar. "Aku sudah menyesal sejak siang tadi, sejak aku kaupaksa duduk di pelaminan."

Tatapan mereka saling menantang. Hening hanya sekejap, lalu Jati menghela napas berat, menunduk, kemudian kembali menatapnya.

"Kamu tahu?" ucap Jati, suaranya pelan tapi mengandung nada sinis. "Tubuhmu itu pasti pegal tidur di lantai. Tapi kamu tetap keras kepala, seperti ibumu."

"Jangan kamu hina ibuku!"

"Memangnya kenapa? Benar kan?" ujar Jati sambil mendekat lagi, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Gandes.

Gandes memalingkan wajahnya. 

"Ibumu sudah pergi. Kamu tak ada tempat lain selain di sini kalau kamu pingin terus hidup, terus kuliah. Jadi aku peringatkan, kamu jangan bertingkah yang membuatku kesal. Termasuk, kamu harus tidur di ranjang ini, bukan di lantai."

Gandes mencoba menggeser ke samping, tapi lengan Jati cepat menahan bahunya. Ia menatapnya tajam.

"Lepas!" seru Gandes.

"Kenapa? Aku hanya ingin memastikan kamu tak jatuh dari tempat tidur," sahutnya, nada suaranya menipu tenang, tapi genggamannya kuat.

"Kamu,.." Gandes belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Jati menariknya. Tubuh Gandes terseret hingga jatuh di pelukannya.

"Lepas,.. lepaskan aku!" Gandes meronta, tapi dada Jati sudah menahan geraknya.

"Berhenti melawan!" bentak Jati, suaranya serak. "Aku bahkan belum menyentuhmu seperti suami seharusnya!"

Gandes berusaha melepaskan diri, tapi genggaman itu terlalu kuat. "Kamu pikir aku benda milikmu?"

"Bukan benda," bisik Jati di telinganya, nadanya rendah, nyaris berbahaya. "Tapi istri."

Gandes menggigit bibir, air matanya mulai menggenang. "Aku bukan istri, aku tawananmu."

Kata-kata itu membuat Jati diam. Matanya perlahan berubah, tak lagi sekadar marah, tapi terluka. Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Gandes dari jarak sangat dekat.

Beberapa detik mereka hanya saling diam, napas beradu, mata bertemu tanpa kata.

"Kamu benci aku sedalam itu?" tanya Jati pelan.

Gandes menatapnya, bibirnya bergetar. "Aku tak tahu. Yang kutahu, aku ingin bebas darimu."

Keheningan membeku. Lalu Jati tertawa pelan, getir. "Bebas? Segampang itu kamu bilang ingin bebas?"

Jati bergeser. Ia mendekap Gandes lagi, lebih erat, hingga Gandes kembali menahan napas. Gadis itu berteriak kecil, dua kali, tapi suaranya tertahan di antara dadanya sendiri.

"Lepas!" suaranya serak, hampir menangis.

Jati kembali mendekapnya, kali ini lebih erat. Gandes tercekik oleh isak yang tertahan di dada.

Namun Jati hanya berbisik di telinganya, "Aku nggak akan melepaskanmu. Mulai sekarang kamu harus membiasakan tidur dalam dekapanku." Napasnya berat, panas terasa di antara jarak yang terlalu dekat.

Gandes menutup mata, tubuhnya tegang. Ia telah pasrah. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

Jati mengeratkan pelukannya, dengan berkali-kali mencium ubun-ubun Gandes seolah membenarkan tindakannya sendiri. Sementara Gandes diam, matanya menatap kosong, air mata jatuh tanpa suara.

"Ryan, maafkan aku,.. selama ini bahkan tanganmu tak pernah sekalipun menyentuhku, walau kamu selalu ada untukku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   33. Selamat!

    "Maaf kalau saya tamu tak diundang, " Kata-kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu memotong sisa tawa, mematahkan bisik, membuat suasana seolah berhenti beredar.Beberapa kepala menoleh serempak. Senyum menipis. Ada yang langsung saling sikut, ada yang berdehem canggung. Ada yang bertanya, siapa dia. Kanaya berdiri dekat pintu. Wajahnya lebih tirus, sorot mata redup, tubuhnya terbungkus busana sederhana warna abu. Rambutnya tertutup rapi dengan hijab senada. Tak ada perhiasan mencolok, tak ada wibawa lama yang dulu sering membuat orang segan dengan kebesaran namanya sebagai perias handal, khususnya di kalangan rumah Jati yang terkenal sebagai kawasan kerabat keraton Yogyakarta. Maheswari bangkit paling dulu.“Kamu? Siapa suruh ke sini? Kok berani datang sesukanya?” tanyanya beruntun, tenang tapi tajam. “Acara keluarga begini bukan tempatmu.” Bu Wendy yang kebetulan datang, berdiri setengah langkah belakang ibunya Jati. Wanita setengah baya itu menatap Kanaya tanpa senyum, dag

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   131. Tiga bulanan

    Malam menelan halaman rumah. Mesin mobil menyala. Jalanan sepi. Lampu toko perhiasan masih menyala satu.“Mas, sudah tutup,” kata penjaga, terkejut.“Tolong,” pinta Jati. “Sebentar saja. Berapapun akan saya bayar.""Apa sepenting itu sampai tidak mau menunggu esuk?""Ini memang penting, saya tak ingin terjadi keributan lagi pada hidup saya. Saya tak ingin kehilangan dia lagi hanya karena cincin sialan ini.""Baiklah kalau sepenting itu."Jati duduk. Seorang pria berkacamata datang membawa alat. Benang nilon dililit rapi, jarum tipis menyelusup. Pelumas bening dioles. Tekanan pelan, sabar.“Tarik napas,” ujar pria itu.Jati mengangguk, menahan nyeri. Tarikan terakhir. Cincin meluncur lepas.“Berhasil,” kata pria itu.Jati menghembus panjang. Jari manis memerah, bekas cekik jelas.Ia memilih kotak beludru. Tanpa banyak tanya, membayar, lalu pergi.Rumah gelap saat ia pulang. Jam menunjuk lewat tengah malam. Langkahnya pelan menuju kamar. Pintu terbuka sedikit.Gandes terjaga, mata menat

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   131. Tak lepas

    "Tidak,” potong Jati cepat. “Kamu pulang sendiri."Kanaya terdiam.Gandes perlahan mengangkat kepala. Pandangannya jatuh ke wajah Kanaya. Lebam itu jelas, biru keunguan.“Mas…” panggil Gandes lirih. “Biarkan dia ikut.”Jati menoleh. “Kenapa kamu mau dia ikut? Dia sudah celakai kamu dan anak kita."Gandes menarik napas. “Aku takut… kalau dia masih di sini, orang itu kembali memukulnya.”Jati terdiam lama. Rahangnya mengeras. "Mas..."Akhirnya ia mengangguk kecil. “Baik. Semua ini demi kamu. Semoga kebaikanmu tidak disalahgunakan orang lain.'Kanaya merasa tersindir. "Bukankah aku tadi sudah minta maaf.""Aku mnegizinkan Mama ikut, tapi setelah aku sembuh, Mama harus menunjukkan di mana makam ibuku.""Baik, Ndes. Mama pasti akan antar kamu ke makamnya."Tanpa memperdulikan Kanaya, mereka berjalan mengikuti Hedi ke helikopter. Helikopter berputar pelan. Angin mengibaskan jilbab Gandes yang duduk bersandar, tubuhnya dirangkul Jati. Namun matanya sering menatap jemari Jati.Cincin itu be

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   130.Cincin

    Hedi berdiri dekat pintu. Wajahnya datar. Kunci mobil berada di tangannya. Ia melangkah masuk, melempar kunci itu ke meja.“Kunci mobil kamu,” ucapnya singkat. “Saya cuma mengembalikan.”King menatapnya dengan mata menyala. “Enak sekali kamu bawa mobil orang!”Hedi tak menjawab. Ia berbalik hendak pergi.“Tunggu!”Kanaya bergerak cepat. Tangannya meraih pergelangan Hedi. Genggamannya lemah tapi putus asa.Hedi menoleh. Tatapan mereka bertemu.Kanaya menelan ludah. “Jangan tinggalkan aku.”King tertawa dingin. “Lihat itu. Bahkan prajurit kecil pun lebih kamu harapkan daripada aku.”King meraih jaketnya. Langkahnya limbung tapi penuh amarah. “Urusan kita selesai. Jangan pernah menghubungi aku lagi."Pintu dibanting. Suara mesin mobil meraung, lalu menjauh menelan gelap.Hedi masih berdiri. Tangannya tertahan dalam genggaman Kanaya. Napas perempuan itu bergetar.“Hedi…” suaranya nyaris tak terdengar. “Tolong…”Hedi menarik napas panjang. Tatapannya bingung. Lampu kamar berpendar redup, m

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   129. Maafkan Ibu

    "Bukannya Anda Pak Jatiendra Manggala yang pernah terluka di sini? Istri Anda...Bu Kanaya, 'kan?" tanya suster itu menelisik Jati."Saya sudah sembuh dari amnesia, Mbak, " ucap Jati tak ingin berbelit. "Itu kesalahan, inilah istri saya yang sesungguhnya. Tolong dia. Dia hidup dan mati saya.""Mas... " Gandes masih mengerang kesakitan.Jati menggenggam tangannya khawatir. "Kamu dan jagoan kita pasti baik-baik saja. Percaya " hibur Jati.Gandes dipindahkan. Brankar bergerak cepat menyusuri lorong. Lampu putih terasa menyilaukan.“Pak, silakan tunggu di luar dulu,” ucap perawat.Jati langsung menahan. “Tidak. Saya ikut.”“Prosedur...”“Dia istri saya, Pak.” Suara Jati meninggi. “Saya tidak mau ke mana-mana.”Dokter Budi muncul, wajahnya serius. “Tenang dulu. Kami perlu periksa. Hanya saja, bagaimana Anda bilang ini istri Bapak?""Ternyata Pak Jati sudah sembuh dari amnesia, Dok." Suster yangg tadi bicara dengan Jati menjelaskan. "Ini istri beliau."Dokter Budi manggut-manggut. Sekilas m

  • SUAMIKU KEKASIH IBUKU   128. Tolong Istri saya!

    "King mundur seoangkah. Pengakuan Kanaya membuatnya kaget. Seharusnya ia gembira, tapi tidak, apa yang baru saja terjadi membuat ia naik pitam. " Kamu hamil? Apa Bakungan itu yang menghamili kamu?""Ini anak kamu."Plak! Tamparan mengenai Kanaya. "Dasar wanita marahan! Bukankah aku selalu memakai pengaman saat bersamamu?" Kaki King sudah melayang. "Kamu tidur bersama orang lain dan kamu mau menjebak ku. Jangan mimpi kamu Kanaya! " Kembali tangannya menjambak rambut Kanaya lalu mendorongnya kasar. Kanaya tersungkur. Belum puas juga tamparan dilayangkan lelaki oti. "'Ampun… tolong…!”Suara itu menembus pintu resort seperti pisau. Gandes yang sudah mengangkat tangan hendak mengetuk pintu mendadak terpaku. Nafasnya tercekat. Itu suara Mama. Bukan rintih biasa. Ada rasa panik, sakit, dan ketakutan bercampur satu.“Mas…” Gandes berbalik cepat. Wajahnya pucat.Belum sempat Jati bertanya, jeritan kedua menyusul. Lebih keras. Lebih putus asa.“Tolooong…!”"Mas, itu Mama, tolongin dia.""I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status