LOGINPagi harinya,
"Gandes, kenapa kamu nggak turun-turun?" Suara lantang Maheswari memecah kesunyian pagi. "Wanita kok pagi-pagi begini belum ke dapur, belum nyiapin apa pun. Apa kamu pikir rumah ini hotel?"
Gandes menatap cermin bundar di depannya. Rambutnya yang semalam masih diikat seadanya kini berantakan. Hijabnya kusut, kebaya yang melekat di tubuhnya sudah tak nyaman. Ia menunduk, menatap jemarinya yang menggenggam ujung kain dengan gugup.
"Saya cuma bawa baju ini, Bu," jawabnya, setengah berteriak dari kamar. "Jadi belum ganti."
Langkah berat terdengar dari bawah, diiringi derit anak tangga. Aroma melati menyergap lebih dulu sebelum sosok Maheswari muncul di ambang pintu. Rambutnya disanggul rapi, tatapannya tajam tapi tenang, seperti seorang juri yang siap memberi hukuman pada peserta yang gagal mematuhi aturan.
Wanita itu melangkah masuk tanpa permisi. "Kamu ini pengantin baru, Gandes. Seharusnya bangun paling pagi, masak buat suami. Bukan malah duduk termenung begini," ucapnya dingin, tangan terlipat di dada. "Kalau begini caranya, bagaimana kamu mau jadi ibu rumah tangga yang baik?"
Gandes hanya menatap bayangan Maheswari lewat cermin. Suaranya ia tahan agar tetap sopan. "Saya belum tahu letak dapurnya, Bu. Takut salah taruh alat masak."
Kalimat itu keluar begitu saja. Ia bahkan tahu jawabannya hanya akan memperkeruh suasana. Tapi diam terlalu lama juga akan dianggap kurang ajar.
Maheswari menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. "Alasan," desisnya. "Rumah mana pun dapurnya pasti di belakang, bukan di atap."
"Ada dapur yang di depan sekarang, Bu. Bentuknya kayak pantri. Jadi nggak di belakang kayak dulu lagi."
Gandes mencoba tersenyum kecil, tapi senyum itu tak sampai ke mata. Ia tahu, setiap kata yang keluar darinya hanya akan dianggap sebagai pembelaan tak tahu diri.Maheswari mendengus pelan, seperti menahan jengkel. "Zaman boleh berubah, tapi sopan santun jangan. Wanita Jawa itu harus tahu tempatnya."
Hening sesaat. Gandes menghela napas pelan, lalu berdiri, berjalan ke arah jendela. Tirai tipis menyingkap cahaya yang lembut, menerpa wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Matanya bengkak, bekas air mata semalam masih terlihat samar.
"Saya ke sini juga mendadak, Bu. Belum sempat bawa apa-apa," ucapnya lirih.
Maheswari mengerling tajam. "Jadi kamu ke sini tanpa baju ganti? Pengantin macam apa itu? Dasar emang kere."
Hati Gandes tersentak. Kata itu seperti duri yang menusuk pelan tapi dalam. Kere,... Ia mengatupkan bibir, menunduk agar air matanya tak jatuh. "Mungkin memang aku kere, Bu. Tapi tidak perlu diingatkan dengan kata yang sekejam itu."
"Bukannya Ibu sudah tahu kalau aku manten dadakan?" suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tenang.
Langkah kaki terdengar dari tangga. Jati muncul dengan kantong belanjaan dari butik ternama. Wajahnya masih mengantuk, tapi senyumnya kecil saat melihat ibunya.
"Kanjeng Ibu, ada yang diperlukan?" tanyanya.
"Ya," jawab Maheswari cepat. "Belikan istrimu baju. Masa pengantin cuma punya satu baju, itu pun kebaya berekor."
Jati meletakkan kantong itu di atas ranjang. "Sudah, Bu. Saya belikan semuanya, lengkap. Sampai baju rumah dan alat rias," katanya datar, lalu melirik Gandes dengan nada menggoda. "Saya kira ukurannya pas. Saya kan lumayan paham soal itu."
Maheswari mendesis. "Iya, siapa yang nggak tahu kamu paling paham soal wanita. Makanya umurmu tiga puluh tiga baru kawin. Sibuk berkelana."
Jati hanya menunduk. "Mandilah, lalu pakai baju itu," katanya pada Gandes, mencoba menengahi ketegangan.
Gandes menatapnya sekilas. "Kamu tak perlu repot-repot belikan aku baju. Aku bisa ambil bajuku di kos."
Mata Maheswari langsung membulat. "Kamu mau pergi ke kos? Acara belum selesai, Dhuk! Jangan seenaknya pergi dari rumah. Emang kamu nggak ngerti adat?"
"Bu, yang namanya adat kan nggak harus diturut semuanya. Toh cuma sebentar. Saya nggak akan kabur."
"Mulai sekarang kamu harus menjaga unggah-ungguh di sini," balas Maheswari tajam. "Jangan membantah."
Gandes menunduk, tangannya sibuk merapikan lipatan kebaya yang mulai kusut. Tapi pipinya terasa panas. "Kenapa aku harus selalu disalahkan? Aku cuma ambil baju, bukan kabur. Kenapa setiap langkahku harus diperhitungkan seperti maling yang ditangkap di rumah orang?"
"Eh, kok bisa tahu ukuranku?" guman Gandes pelan.
"Feeling," jawab Jati cepat.
"Feeling apa mata elang?" sahut Maheswari.
"Ya dua-duanya. Kan semalam aku dan dia udah,.."
"Jati!" Maheswari langsung memotong tajam. "Jangan bicara hal itu di depan orang tua! Kamu nggak tahu malu, ya?"
Jati menunduk, menahan senyum. "Maaf, Kanjeng Ibu."
Sementara Gandes tertegun. Ia memandang keduanya bergantian, merasa dadanya sesak. "Apa maksudnya? Apa benar semalam...? Tidak. Aku masih ingat betul. Aku tidak kehilangan apa pun walau aku kemudian ketiduran."
Maheswari melirik jam di pergelangan tangannya. "Cepat suruh dia ganti. Masih banyak kerabat yang datang . Jangan sampai tamu melihat menantuku seperti orang habis begadang."
Gandes mengangguk pelan. "Bu, boleh saya tanya sesuatu?"
"Apa lagi?"
"Saya bukan menolak, Bu. Cuma takut salah langkah," katanya hati-hati. Nafasnya mulai berat. Acara itu, adus keramas,..membuat pikirannya kacau. Ia tahu artinya: pengantin wanita yang telah melalui malam pertama harus mengenakan jarik yang hanya dililitkan di dada. Tapi... dia tidak melaluinya, juga tak mungkin mengenakan pakaian seperti itu.
"Apanya yang salah langkah?" tanya Maheswari, alis terangkat.
"Saya belum tahu maknanya. Emang acara ini perlu banget ya?"
Maheswari mendekat, menatapnya lurus. "Maknanya supaya kamu bersih. Bukan cuma badan, tapi juga hati. Supaya tidak bawa sifat-sifat buruk dari rumah lamamu ke rumah ini."
Kata-kata itu seperti tamparan. Sifat buruk dari rumah lamaku? Apa salah orang tuaku? Apa salahku? Gandes menelan ludah, berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah.
Ia hanya mengangguk pelan, lalu membuka kantong belanjaan dari Jati. Di dalamnya tersusun rapi pakaian berwarna lembut, harum, dan ada satu kotak kecil berisi alat rias. Semua begitu mewah, tapi terasa asing. Seolah tiap helainya bukan untuk dirinya, melainkan untuk peran yang dipaksakan kepadanya.
Jati mendekat. "Aku melakukan ini bukan untukmu. Tapi untuk keluargaku, supaya tidak dipermalukan lagi."
Dada Gandes seketika kaku. "Tidak dipermalukan lagi? Jadi aku ini sekadar pelindung nama keluarga? Pengganti seseorang yang lebih pantas?" Ia menatap lantai, menahan gemetar.
Maheswari mengembuskan napas keras. "Cepat ganti. Perias bisa datang kapan saja."
"Bu..." suara Gandes nyaris tak terdengar.
Maheswari menatapnya lagi, dengan sorot mata yang penuh waspada. "Apa lagi?"
"Kalau saya... tidak ikut acara itu, bagaimana?"
“Bu Kanaya didatangi seorang lelaki, Pak. Jadi saya tinggal.” Hedi menunduk, enggan menatap Jati seolah dia tahu reaksi selanjutnya. Jati dan Gandes salin menatap.“Apa?” Mata Jati sampai membulatSuaranya rendah, tertahan.Hedi berdiri sedikit menjauh, nada bicaranya ragu, seperti orang yang sadar sedang membuka pintu masalah. “Saya lihat tadi, Pak. Sepertinya ada hubungan yang tak biasa diantara mereka.”“Siapa orangnya?” Jati menatap tajam."Apa itu yang kata Mama rekan bisnis?""Bisnis apa Mama kamu? Kamu tertipu, Gandes.'" Dia bilang ke sini karena ngurus bisnis baru." Gandes menunduk. Hedi mengusap tengkuk. “Saya juga awalnya nggak yakin. Tapi… ciri orang itu mencolok.”“Mencolok bagaimana?"“Tubuhnya agak tambun. Perutnya maju. Jalan santai tapi matanya awas. Sipit… mirip orang Cina. Pakai kemeja mahal, jam tangannya besar. Kayak bukan orang biasa."Jati menarik napas pelan. Dada terasa ditekan dari dalam. Potongan-potongan lama langsung menyatu, seperti puzzle yang akhirny
Jati menepisnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menunduk, memaksa diri diam, memaksa pikirannya bertahan satu detik lagi.Gandes menatapnya, ngeri. “Mas…”“Kita hanya… harus keluar dari sini.”Jati menghembuskan nafas panjang, seperti orang yang hampir tenggelam lalu diseret kembali ke permukaan. Kakinya melemah, tapi ia masih berdiri dan terus memegang tangan Gandes. “Pak, biar saya yang jadi penghalang Bu Kanaya.” Kapten Hedi menghadang Kanaya.Kanaya langsung melangkah maju. “Kamu pikir bisa mengatur urusan keluarga kami?” Hedi menoleh sekilas, sorot matanya dingin. “Maaf, Bu. Perintah saya jelas.”Kanaya mendengus, menatap tajam pria di depannya. " Minggir kamu!" Kanaya menyenggol pria yang lebih pendek dari dirinya itu. Hedi mundur selangkah. Namun, tenaganya yang ternyata lebih kuat dari Kanaya tetap bisa mengalahkannya. "Saya juga bisa mengunakan kekerasan jika Anda menghalangi atasan saya."Jati mengangkat kepala. Pandangannya sedikit kabur, tapi ia masih bisa melihat jelas w
Jati merasakan dorongan terakhir, berusaha bangkit penuh, saat daun pintu terbuka dan cahaya luar menyelinap masuk, membelah ruangan."Mas..."“Apa yang terjadi?” suara Gandes pecah begitu daun pintu terbuka.Pandangannya membeku. Ibunya berdiri tanpa busana, tubuh condong mendekat, bibir hampir menyentuh wajah Jati. Jati setengah telanjang, wajah pucat, kedua tangannya mendorong bahu perempuan itu dengan sisa tenaga. Nafasnya tersengal, mata berair.“Gandes…” Jati berbisik, seperti orang terbangun dari mimpi buruk.Ibunya menoleh. Mata mereka bertemu. Sekejap itu cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang Gandes jaga seumur hidup.Kanaya segera mengambil kimono di lantai lalu memakainya. “Ma…” suara Gandes turun, hampir tak keluar. “Apa yang Mama lakukan?”Ibunya tersentak, lalu mundur setapak. Tangan terangkat menutup dada, bukan malu, melainkan kaget karena rahasia terbuka. “Kamu salah paham,” katanya cepat. “Mama hanya...”“Hentikan!” Gandes menjerit. Tangannya gemetar. “Aku lihat sem
Kanaya merayap lebih dekat, lengan menguat, dada menempel. "Kita tak perlu membuktikan apa pun. Rasakan saja."Ponsel bergetar meja kecil. Cahaya layar menyala, memantul dinding. Kanaya berhenti sesaat, melirik."Biarkan," katanya cepat, lalu kembali mendekat. Bibirnya menyentuh rahang Jati, turun perlahan.Jati menelan ludah. Tangan terangkat, menggantung antara menahan atau membalas.Getar ponsel berhenti. Sunyi kembali menyelimuti.Kanaya berbisik, "Aku di sini. Aku pasti membuatmu puas."Sementara Gandes yang masih berusaha menelpon nomer yang dipakai Jati menelpon semalam, mendengus."Jati, tolong angkat!""Sudahlah, Bu. Sepertinya Pak Jati tidak mendengar." "Bagaimana kita tahu mereka ada di resort yang mana?" Gandes sedikit bingung, ada yang terasa aneh menekan dadanya. "Yang penting kita cari landasan untuk mendarat duluh," ucap Kapten Hedi pilot helikopter itu. Gandes, mengangguk. “Dan, lapor, kita sudah masuk radius,” ujar Kapten Hedi sambil menurunkan kecepatan.“Visual
Siang itu Kanaya berfikir keras, bagaimana caranya ia bisa mengajak Jati berhubungan.Dengan memakai lingerie merah maroon, ia mondar mandir menimbang."Jika aku memakai cara obat, apa itu tidak berbahaya bagi Jati? Bagaimanapun juga, aku mengkhawatirkannya. Mau bagaimana lagi jika sampai hari ini aku tak berhasil mengajaknya tidur, aku takut, kapan-kapan bahkan tak ada kesempatan." Kanaya terus berfikir."Mas, sudah siang, apa kamu ngak ingin tidur siang? Aku lihat kamu tadi mencoba jalan ke taman komplek resort ini, " ucap Kanaya dengan mendekati Jati yang masih menata nafasnya setelah jalan beberapa meter dari resort yang mereka tempati.Air yang diberikan Kanaya sampai diminumnya tandas."Ramai ya di taman, orang pada ngrayain tahun baru?"Jati mengangnguk. "Kita bisa ngrayain berdua," ucap Kanaya berbisik."Ya Allah, ada apa dengan tubuhku ini, baru juga melangkah sedekat itu aku sudah lemas begini?" batin Jati. "Aku harus mencari cara bagaimana aku bisa segera kembali, lalu per
Paginya. Pagi sekali Kanaya sudah memesan makanan dan dandan cantik.Jati yang bangun kesiangan setelah sholat Subuh, sedikit kaget."Aku siapkan gulai kambing untukmu, biar kamu cepat pulih."Jati bangun, menakan makanan yang memang kesukaannya itu.Sepanjang mereka makan, Kanaya yang memakai Busana dengan dada rendah itu berkali-kali menatapnya.Saat Jati mengambil air minum, Kanaya memeluknya dari belakang. "Sekarang kamu milikku," ucapnya pelan.Jati berdiri kaku. "Aku masih butuh istirahat.Kanaya mendengus sambil membatin. "Kenapa aku merasa aneh? Apakah Jati beneran lupa ingatan? Lalu semalam, apa benar dia cuma dari luar, kenapa aku merasa heran kenapa handphone aku yang biasanya selalu aku letakkan terbalik, pagi tadi ghak terbalik?"Kanaya segera memeriksa handphonenya, dari chat WA sampai percakapan WA. "Tidak ada yangencurigakan, " guman Kanaya.Smentara pagi sekali, Maheswari sudah bersiap pergi."Gandes, kamu bareng Ibu ke kampus?""Memangnya Kanjeng Ibu ke mana?""Pingi







