MasukAlex sempat memutar tubuh, berniat meninggalkan Amel. Namun langkahnya terhenti. Bahunya menegang, lalu ia menatap Amel lagi dengan dingin.
Amel meremas kain lap di tangannya—jari-jarinya memutih. Nafasnya tercekat, seolah seluruh udara di bar itu menolak masuk ke paru-parunya. “Anakmu di mana?” suara Alex terdengar datar, tapi tatapan matanya menusuk, membuat Amel mendongak spontan. “Dia… ada di dalam kamar, Bos,” jawab Amel, suaranya lirih namun terdengar jelas, seperti ketakutan akan salah ucap. Kerutan terlihat di dahi Alex. Tanpa menunggu, dia membalikkan badan, suaranya meledak memotong hiruk-pikuk bar, “Rani! Ke sini!” Kursi yang ditarik Rani bergeser kasar. Gadis itu terlonjak, wajahnya seketika berubah dari bosan menjadi panik. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya, lalu berjalan mendekat dengan senyum dibuat-buat. “Iya, Bos…” ucapnya manja, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Pindahkan anaknya Amel ke ruang karyawan. Titipkan pada Martha.” Rani membuka mulut, ingin protes—tapi Alex mengangkat satu tangan. Tegas. Tak ada ruang bantahan. “Jangan membantah. Cepat lakukan,” ucapnya, nada yang membuat udara sekitar ikut mengencang. Rani mendesah kesal, tumitnya menghentak lantai ketika ia berbalik menuju lorong. Suaranya terdengar tajam walau hanya lewat langkahnya. Amel segera melangkah maju, suara ketakutannya pecah keluar, “Biarkan saya saja, Bos. Saya… tidak ingin merepotkan siapa pun.” Alex menatapnya lama, seperti menilai kekuatan seorang ibu yang masih berusaha bertahan di tengah kehancuran hidupnya. “Kamu itu banyak pekerjaan di sini,” katanya lebih pelan namun tetap tegas. “Biarkan Rani yang bergerak. Martha adalah senior di bar ini… saya yakin dia bisa menjaga anakmu.” Amel menunduk lagi. Ada sedikit lega, sedikit takut, dan sedikit rasa yang bahkan ia sendiri tak mampu jelaskan. *** Kamar itu seperti kapal karam, baju-baju tergeletak tak beraturan, botol minuman kosong terguling di lantai, dan tirai kusut yang hanya membiarkan sedikit cahaya pagi merayap masuk. Seorang pria terjaga dengan desahan berat, wajahnya meringis menahan denyut di pelipis. Tangannya terangkat lambat, menekan kepala yang terasa seperti baru dihantam palu. Ia mengedip cepat, mencoba mengusir kabut sisa tidur dan alkohol yang masih mengekang. “Amel!” suaranya serak, parau. Ia menunggu. Hanya suara jam dinding yang menjawab. Pria itu kembali memanggil, lebih keras, seolah tembok bisa mengantarkan suaranya pada sosok yang ia cari. Namun ruang itu tetap bisu. Dengan gerakan kasar, ia menendang selimut yang kusut lalu memaksa tubuhnya berdiri. Lantai dingin menyentuh telapak kakinya, membuatnya mengumpat pelan. Ia berjalan tertatih melewati tumpukan barang, membuka pintu kamar dengan sisa tenaga. Koridor sempit, lampu redup, dan aroma semalam masih mengendap. Ia memeriksa dapur... kosong. Ruang tamu... sepi. Setiap ia memanggil nama yang sama, hanya gema yang terpental kembali. “Ke mana itu si Amel?” rahangnya mengeras, keningnya berkerut penuh gelisah. “Apa dia udah berangkat kerja?” Matanya melirik kalender yang menggantung—angka merah besar terpampang jelas. "Ini... hari Minggu.” Dadanya terasa sesak tiba-tiba. Ada sesuatu yang tak beres. Dan kesunyian pagi itu semakin menegaskan kekosongan yang tidam ingin ia pungkiri. Dia mengusap wajahnya, mencoba menata pikiran yang berantakan. Pandangannya terhenti pada lemari di sudut kamar, pintu kayunya terbuka sedikit, seperti ada orang yang baru saja membukanya. Langkahnya pelan mendekat, napasnya tercekat. Ia menyibak pintu itu dengan satu tangannya. Deretan hanger kosong yang masih menggantung, baju-baju Amel… setengah dari yang ia ingat seharusnya ada... tapi, kini menghilang. Meja rias juga tampak berbeda, tak ada lagi pita rambut favoritnya, parfum kecil yang biasa menyisakan aroma manis di udara pun lenyap. Jantungnya berdetak semakin cepat. “Pergi kemana sih lo, Mel…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Ia merogoh saku, menarik ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Nama Amel muncul di layar. Ia menekan tombol panggil. Tut… tut… Suaranya berulang, sampai akhirnya terputus. Ia mengepalkan ponsel itu, mencoba lagi dan lagi. Napasnya mulai memburu, keningnya basah oleh keringat dingin. “Angkat Mel… ayo dong angkat, jangan buat gue kesel,” bisiknya, marah dan bercampur takut. Ketika itu harapannya padam bersama nada sambung yang kembali gagal, ia langsung meraih jaketnya yang menggantung di kursi. Pintu depan dibuka dengan kasar hingga engselnya lepas. Udara pagi itu menerpa wajahnya, dingin dan tajam. Ia menyapu pandangan ke segala arah... jalan sempit, gang yang basah oleh embun, beberapa tetangga lewat tanpa ia pedulikan. Ia memanggil nama yang sama berulang kali, suaranya pecah di udara yang masih sepi. Setiap sudut ia periksa, setiap kemungkinan ia kejar. Tapi yang ia temukan hanya keheningan. Rumah mereka terasa sunyi… dan dunia mendadak terasa hampa tanpa Amel dan anak mereka di dalamnya. Perutnya mengencang. Ada rasa yang menusuk... campuran panik dan penyesalan sesaat. *** Hari sudah semakin siang, dan bar itu terasa seperti sarang lebah—ramai, riuh, tak ada jeda. Amel bergerak lincah dari satu meja ke meja lain, napasnya pendek, tapi tangannya tak pernah berhenti bekerja. Terlebih sekarang hari libur, pelanggan datang silih berganti. Ditambah lagi, ada klien-klien penting Bos Alex yang memenuhi ruangan VIP. Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Gelak tawa memenuhi lorong. Alex keluar sambil menjabat tangan para kliennya, setelan hitam yang di balut dengan jas, wajahnya santai, dan suaranya terdengar percaya diri. Tatapannya kini terlihat meneduhkan… biasanya dia selalu membuat orang lain merasa terintimidasi. Amel yang sedang menata gelas di bar, secara refleks ia menoleh kearahnya. Sekilas tatapan itu tertangkap. Hanya sedetik... tapi cukup untuk membuat jari-jarinya terhenti di atas meja. Alex tersenyum. Bukan senyum tipis yang setengah mengejek seperti biasanya. Senyum yang hangat… yang membuat garis rahangnya terlihat. Amel mengerjap pelan. Ya Tuhan… ternyata dia bisa tersenyum seperti itu? Ada sesuatu yang aneh menyusup ke dadanya. Hangat. Menggelitik. Membuat pipinya terasa memanas, ia buru-buru mengalihkan pandangannya, seakan tertangkap melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Senyum itu… diam-diam ingin ia lihat lagi. Setelah kliennya pergi, Alex menyampirkan jasnya di lengan tangannya. Suaranya menggema dalam bar yang mulai ramai lagi. “Amel.” Gadis itu yang sedang menyusun gelas sempat tersentak kecil. Ia buru-buru meletakkan lapnya, lalu menghampirinya dengan langkah yang cepat... seolah takut terlambat sedetik saja. Alex hanya mengangguk sambil melirik ke arah sebuah pintu di sudut bar. Ruang VIP. Tidak ada keluhan dari bibirnya. Namun, genggamannya pada lap mengencang. Ia membuka pintu ruang VIP dan langsung menahan napas. Udara pekat menyengat, gabungan alkohol tumpah dan asap rokok yang masih menggantung di langit-langit. Botol-botol miring di tepi meja, beberapa puntung rokok terjepit di antara piring bekas makanan. Lantai pun lengket, membuat sepatunya berbunyi setiap melangkah. Amel menarik napas pendek, mencoba menjaga raut wajahnya tetap netral, lalu ia mulai membersihkan seluruh ruangan yang berantakan, yang ditinggalkan para tamu sultan itu. Kain lap di tangannya bergerak cekatan, meski ada sedikit gemetar yang tak bisa ia sembunyikan. Di balik pintu yang perlahan tertutup, Alex masih berdiri, memperhatikannya sejenak... tatapannya sulit ditebak.Koridor lantai dua masih menyimpan sisa kehangatan pagi. Bau samar teh dan roti dari ruang makan belum sepenuhnya hilang ketika Alex menutup pintu kamar Lily pelan. Ia baru saja melangkah beberapa meter, terdengar suara langkah tergesa memecah ketenangan. Sepatu Joni bergesek cepat dengan lantai marmer, napasnya sedikit terdengar berat. “Bos,” panggilnya setengah menahan suara. Alex berhenti, dan menoleh kerah Joni sesaat. “Tadi Tuan Felix telepon,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. “Beliau lagi otw ke sini.” Alex terdiam, rahangnya mengeras sejenak, lalu ia memalingkan wajah. “Mau apalagi dia ke sini…” gumamnya, nyaris tak terdengar. Joni mengangkat bahunya, “ya… mungkin ada hal penting yang mau dibicarain sama lo.” Alex menghela napas panjang, "dia selalu punya alasan buat dateng kesini,” ucapnya dingin. Lorong kembali sunyi, hanya suara jarum jam dari kejauhan yang terdengar. “Bos,” suara Joni melembut, jarang-jarang ia bicara seperti itu. “Bagaimanapun… Tuan Felix itu a
Koridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses
Pagi merayap masuk lewat celah tirai, menorehkan garis cahaya tipis di dinding kamar. Amel membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Lalu bau kayu menguar, hamparan karpet tebal di bawah tempat tidur, dan lemari besar berwarna gelap yang asing baginya. Itu… bukan kamarnya. Ingatan semalam datang seperti arus balik... Alex, genggamannya, langkah cepat melewati lorong… dan pintu kamar itu yang tertutup pelan. “Jadi… aku benar tidur di sini,” bisiknya. Ada sesal yang tiba-tiba mencuat. “Lily…” Bayangan anak kecil itu sendirian di kamar membuat dadanya terasa berat. Ia bangkit buru-buru. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit terlonjak. Lorong Mansion itu masih sepi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar jelas, tik… tak… tik… tak… Seolah setiap detik ikut mengawasinya. “Alex?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya udara kosong. Amel menggigit bibirnya... setengah ragu dan cemas, lalu ia melangkah menuju dapur. Bau tumis bawang dan
Si penembak di bukit masih diam. Hujan menetes dari ujung laras, waktu berjalan perlahan… namun di dalam gudang, semuanya justru terasa semakin cepat. Alex berdiri diam di tempat. Tapi matanya... untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi memikirkan ruangan, senjata, atau siapa yang mengkhianati. Yang muncul justru wajah Amel dan Lily. Seketika seluruh tubuhnya menegang. “Kalau mereka berani mengincar meeting sebesar ini… berarti mereka berani menyentuh hal lain juga.” Sebuah ketakutan yang jarang ia rasakan merambat naik ke dadanya. Bukan takut pada peluru. Tapi pada kemungkinan… ada seseorang yang sudah memperhitungkan segalanya. Termasuk orang-orang yang tak seharusnya tersentuh. Termasuk Mansionnya. Alex mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tidak. Tidak boleh ada yang mendekati Mansionku, terutama mendekati mereka. Ia menoleh cepat, menatap Joni. Tapi bukan tatapan seorang bos pada anak buahnya. Lebih mirip seseorang yang sedang mempercayakan separuh hidupnya.
Ciuman itu membuat dunia seakan menghilang, tetapi justru di tengah keheningan itulah Amel tersadar, detak jantungnya bukan hanya karena rindu, tapi juga karena takut… takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perlahan ia menarik wajahnya, napasnya masih tersengal. “Alex…” suaranya bergetar. “Ini… kita tidak seharusnya...” Alex terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan. Matanya melembut, dan cengkeramannya di bahu Amel mengendur. “Aku tidak mau kamu merasa terpaksa,” ucapnya pelan. “Kalau kamu bilang berhenti… kita berhenti.” Kalimat itu membuat Amel justru makin sulit bernapas. Ada kehangatan yang berbeda di dada... bukan hanya rindu, tapi juga rasa aman yang selama ini jarang ia dapatkan. “Aku hanya… bingung,” bisiknya jujur. “Aku takut salah. Aku takut berharap terlalu jauh.” Alex menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Aku juga takut,” katanya. “Tapi setiap hari aku pulang… yang terlintas di pikiranku selalu kamu. Bukan sebag
Di dalam kamar yang temaram, Amel berbaring memunggungi jendela. Hujan yang turun di luar hanya terdengar samar, tapi kegelisahan di dadanya bergema jauh lebih keras. Entah sudah berapa kali ia memejamkan mata, berharap lelah menenggelamkannya ke dalam tidur. Namun setiap kelopak itu tertutup, bayangan Alex justru muncul... jelas, dekat, seolah pria itu hanya sejauh uluran tangan. Amel menarik napas panjang, tapi dadanya tetap terasa sesak. Ia meraih ponselnya lagi, entah untuk keberapa kali malam itu. Layar yang gelap menyala, memantulkan wajahnya yang pucat dan mata yang mulai memerah. Tidak ada notifikasi pesan dan tidak ada nama Alex yang muncul disana. Hening mendadak terasa sangat kejam. Harapan kecil yang sedari tadi ia peluk erat mulai retak perlahan. Jari-jarinya bergetar saat ia menurunkan ponsel itu di dada. Pertanyaan yang sama kembali berputar-putar di kepalanya... apa Alex memikirkannya juga? Atau hanya dirinya yang terlalu berharap? Air mata yang sejak tadi dita