Início / Mafia / SUAMIKU MANTAN GENGSTER / 8. Perasaan Apa Ini

Compartilhar

8. Perasaan Apa Ini

Autor: DOMINO
last update Última atualização: 2025-11-12 17:33:23

Amel menghela napas pelan, lengan kirinya sudah mulai pegal. Botol-botol kosong berdenting kecil di atas nampan setiap kali ia merapikan posisi gelas yang miring.

Sisa alkohol menetes, membuatnya buru-buru mengelap meja yang lengket dengan kain lap yang sudah agak basah.

“Sabar, Mel,” gumamnya pada diri sendiri. Ia hanya ingin cepat menyelesaikan semua ini dan kembali ke kamarnya.

Saat semua tertata rapi, ia berdiri sambil menyeimbangkan nampan yang penuh di tangannya. Ia berbalik, namun... bayangan gelap sudah berdiri di belakangnya.

PRANKK!

Botol dan gelas saling menghantam lantai. Pecahannya berhamburan. Amel terlonjak mundur, dadanya berdebar tak karuan.

“Ma-maaf, Bos,” ucapnya terbata. Ia langsung jongkok dan berusaha meraih pecahan gelas itu dengan tangan gemetar.

Alex ikut berlutut di hadapannya tanpa sepatah kata. Wajahnya dekat sekali. Terlalu dekat.

Amel buru-buru meraih pecahan terbesar dan... “akh!” Ia mengerjap, darah langsung merembes dari telapak tangannya.

Sebelum ia sempat menarik napas, Alex menangkap pergelangan tangannya. Cengkeramannya kuat namun hangat. Tanpa memberi waktu baginya untuk bereaksi, bibir pria itu menyentuh kulitnya—mengisap darah yang mengalir.

Deg. Deg. Deg.

Suara jantungnya seperti memukul-mukul tulang rusuknya. Ia terpaku, wajahnya memanas. Nafasnya tertahan saat Alex mengangkat wajah, pandangannya menusuk lurus ke matanya.

Jarak mereka hanya sehela napas.

Alex sedikit menunduk. Nafasnya menyapu pipi Amel. Belum pernah pria itu sedekat ini… belum pernah menatapnya seolah hanya dia satu-satunya yang penting di dunia.

Bibir Alex semakin dekat... dekat...

Amel menutup matanya.

DRRT! DRRT!

Dering suara ponsel memotong udara di antara mereka.

Alex mendengus, rahangnya mengeras. Ia melepas tangan Amel perlahan, tapi tatapan itu masih tertinggal... menggantung... seolah ada sesuatu yang belum sempat ia lakukan.

Alex menyambar ponselnya dengan kasar. Ia berdiri, menjauh beberapa langkah dari Amel tanpa benar-benar mengalihkan pandangannya.

“Ya?” suaranya dalam dan dingin... jauh berbeda dari sebelumnya.

Amel menunduk, berusaha menetralkan napas yang masih berantakan. Tangan yang terluka ia sembunyikan di belakang punggungnya. Tapi darahnya menetes, membuat lantai sedikit memerah.

“Oke, tahan semuanya,” gumam Alex ke telepon, nada frustrasi. “Tahan mereka sampai gue datang.”

Ia menutup telepon tanpa pamit, kemudian dia menatapnya lagi—lebih intens dari sebelumnya. Seolah ia marah pada dunia karena telah mencuri momen yang baru saja terjadi.

“Lain kali kalau kerja, lebih berhati-hati lagi. Jangan ceroboh!" katanya ketus. Sikap yang tadinya hangat dan lembut dalam sekejap berubah menjadi dingin.

Amel menelan ludah.

“Baik Bos, saya minta maaf,” suaranya sedikit bergetar, tangannya mengusap noda darah di lantai agar tak terlihat.

Tiba-tiba Alex berlutut lagi di depan Amel. Ia meraih tangan Amel, menahannya agar tidak kabur lagi. Jemari besar dan hangat itu menyelimuti kulit Amel.

“Mana tanganmu yang terluka, "katanya.

Amel terpaku. Dia pikir, Alex akan pergi begitu saja, tapi dia masih memperdulikannya.

Alex merobek sedikit bagian bawah kaos dalamnya, tanpa pikir panjang... dia lalu membalut luka Amel dengan cekatan. Gerakannya cepat, tapi sangat hati-hati.

“Saya tidak mau ini terulang lagi,” gumamnya lagi, kini lebih pelan.

Amel menatap wajahnya dari dekat. Seolah tidak ingin melewatkan hal ini.

Bekas luka panjang di pipi kiri Alex, kini terlihat lebih jelas. Bekas luka itu bukan sembarang luka, tapi tanda kehidupan yang tak pernah ia ceritakan.

“Bos...” panggil Amel lirih.

Pria itu hanya mendongak, menatapnya dingin namun... ada sesuatu di balik itu. Sesuatu yang jauh lebih rapuh dari sekedar tatapan.

Sebelum Amel bisa berkata lebih jauh, Alex berdiri dan melonggarkan kerah kemejanya.

“Saya harus pergi,” katanya singkat.

Ia melangkah ke pintu—tapi tepat saat tangannya menyentuh handle, ia berhenti. Bahunya mengeras. Tanpa menoleh, ia berkata…

“Jangan sentuh pecahan itu lagi. Ambil sapu dan bersihkan dengan hati-hati,” tegasnya.

Lalu ia menghilang keluar dari ruangan itu

Amel berdiri membeku, memeluk lengan yang masih bergetar.

***

Waktu terasa sangat cepat. Begitu jam kerja selesai, Amel langsung menghembukan napas lega dan bergegas menuju ruang karyawan. Tumitnya mengetuk cepat lantai koridor, seolah jarak ke sana terlalu jauh.

Tangan Amel bergetar ringan ketika meraih knop pintu. Ia membukanya perlahan... khawatir mengganggu.

Begitu celah pintu melebar, suara tawa kecil memenuhi telinganya. Lily... putri kecilnya, duduk di pangkuan seorang wanita paruh baya, matanya membentuk bulan sabit, pipinya memerah karena terlalu banyak tertawa.

Rasa lelah Amel seketika itu hilang. Senyum mengembang tanpa bisa ditahan.

Lily menoleh dan spontan melompat turun, dia berlari kecil menghampiri Amel.

“Mama!” serunya, memeluk pinggang Amel dengan kedua tangan mungilnya yang hangat.

Amel membalas pelukan itu erat, menundukkan wajahnya ke rambut Lily... wangi sabun dari bar itu masih terasa.

“Kamu terlihat senang sekali sayang,” ucapnya lembut sambil mengusap halus rambut anaknya.

Wanita paruh baya itu ikut berdiri, wajahnya teduh. “Anakmu aman bersamaku,” ujarnya dengan suara yang menenangkan. “Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik hari ini? Jangan buat Bos Alex marah padamu.”

Amel mengangguk pelan. “Sudah, Bu. Pekerjaan saya sudah selesai,” ucapnya, mencoba memaksakan senyum meski wajahnya tampak lelah.

“Syukurlah kalau begitu,” ujar wanita itu sambil membetulkan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya. “Perkenalkan… namaku Martha. Aku yang bertugas membantu semua karyawan di sini, termasuk menjaga putri kecilmu ini.” Ia melirik lembut pada Lily yang sedang memeluk boneka lusuhnya.

Amel menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Salam kenal… nama saya Amel, Bu.” Ia meremas ujung seragamnya yang kusut, gugup.

“Iya, aku sudah tahu,” Martha terkekeh kecil. “Tadi Lily sudah bercerita banyak. Katanya ia punya ibu bernama Amel... ibu yang kuat, yang selalu bekerja keras untuknya.” Mata Martha berbinar penuh kekaguman, sementara Lily mengangguk bangga pada ibunya.

Amel tersenyum hambar... senyum yang hanya bertahan sedetik sebelum layu lagi.

“Bagaimana bisa kalian berdua berada di sini?” tanya Martha lembut, suaranya pelan namun mengandung rasa ingin tahu yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.

Pertanyaan itu seperti angin dingin yang langsung menusuk dadanya. Pandangannya jatuh ke lantai, bibirnya terkatup rapat.

Jemarinya bergerak resah, saling menggenggam seolah berusaha menahan cerita yang terlalu menyakitkan untuk keluar.

Martha segera menangkap kebisuannya. Senyumnya melembut, bukan lagi ingin tahu, melainkan mengerti.

“Tak apa,” ucapnya, menepuk ringan bahu Amel. “Aku paham. Kau tidak perlu cerita sekarang.” Ia memberi jarak, tidak ingin menekan. “Sebaiknya kau bawa Lily ke kamar dulu. Sebentar lagi para karyawan akan berganti pakaian di sini.”

Lily mencengkeram tangan ibunya, seolah takut dilepaskan lagi. Amel mengangguk, kali ini lebih mantap... meski hatinya masih dipenuhi ketidakpastian.

Amel mengucapkan terima kasih pelan sebelum menggandeng tangan Lily. Anak itu langsung menempel di sisi ibunya, langkah kakinya kecil dan berjingkat, seolah takut suara lantainya mengganggu seseorang.

Koridor menuju kamarnya terasa panjang. Lampu-lampu neon di atas kepala berkedip pelan, meninggalkan bayangan yang bergerak ketika mereka berjalan.

Lily menatap ibunya dari bawah. “Ma… kita tidur di sini lagi?” bisiknya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 119 Bersembunyi

    Lampu jalan berderet memanjang, cahaya kuningnya memotong hujan menjadi garis-garis patah. Mobil melaju lebih stabil sekarang, tapi keheningan di dalamnya masih berat, bukan canggung, melainkan penuh sisa-sisa emosi yang belum sempat diurai. Amel menatap jari-jari mereka yang saling menggenggam. Kulitnya masih dingin, tapi tangan Alex hangat, nyata. Ia menarik napas dalam-dalam. “Kamu kelihatan… berbeda,” katanya pelan. “Seperti orang yang baru saja memutus sesuatu.” Alex tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Karena memang begitu.” Ia memelankan laju mobil, menepi di bawah kanopi sebuah minimarket yang sudah tutup. Mesin dimatikan. Hujan masih jatuh, tapi kini terasa jauh. Alex menoleh sepenuhnya. “Dengar,” katanya, suaranya rendah tapi mantap. “Ayahku tidak pernah benar-benar melepas apa pun. Termasuk aku. Malam ini… itu pertama kalinya aku mengambil keputusan.” Amel mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Alex... lelah, tapi jujur. Ada sesuatu di sana yang belum p

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 118 Keputusan Alex

    Langkah kaki itu makin dekat, menggema tanpa ragu. Suara Alex memantul di dinding-dinding tinggi mansion, memecah keheningan yang selama ini berkuasa. “Di mana dia?” ulangnya, lebih keras. Ada sesuatu yang retak di balik ketegasan itu. Felix membuka pintu kamar sebelum Alex sempat mencapainya. Gerakannya tenang, terukur. Seolah ini semua sudah ia perhitungkan. Alex berhenti tepat di depan ayahnya. Dua pasang mata saling menatap. Sama-sama dingin. Sama-sama keras. Tapi hanya satu yang bergetar oleh emosi yang belum selesai. “Ayah,” kata Alex, suaranya rendah, tertahan. “Apa yang kau lakukan?” Felix melipat tangannya di dada. “Mendidikmu.” Di balik tubuh Felix, Alex melihatnya. Amel. Duduk setengah di ranjang, wajahnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Matanya membesar saat tatapan mereka bertemu. Bibirnya bergerak, seolah ingin memanggil namanya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Mel…” Alex melangkah maju satu langkah. Felix menggeser tubuhnya, cukup untuk menghalangi

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 117 Alex dan Tuan Felix

    Nama itu menggantung di udara, berat, menekan dada. Amel menatap gadis di hadapannya, napasnya memburu. “Tuan Felix…?” Ia menggeleng cepat, seolah berharap itu hanya kebetulan. “Ayahnya Alex?” Gadis itu tidak menyangkal. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya. “Tuan Felix tidak suka dengan wanita sepertimu,” katanya. “Apalagi kau sudah mendekati putranya.” Amel menegakkan tubuh meski rasa pusing masih terasa di pelipisnya. “Aku tidak berusaha mendekati Alex. Aku hanya...” “tidak perlu menjelaskan padaku,” potong si gadis. Senyumnya kembali menipis. "Aku tidak peduli itu.” Ia melangkah ke meja, mengambil sesuatu dari dalam kantong belanja. Bunyi logam kecil beradu. Sebuah ponsel diletakkan di atas meja, layarnya mati. “Ponselmu,” katanya. “Sepertinya, habis batrai. Amel menelan ludah. “Aku harus menghubungi Alex.” “Tidak malam ini," katanya datar. Hening menyusup di sela detik jam. Di luar, hujan kembali terdengar, lebih deras dari sebelumnya. “Berapa lama aku di si

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 116 Siapa Dia?

    Mobil Alex melesat membelah malam. Di balik kaca depan, kota tampak seperti garis-garis cahaya yang kabur. Tangannya mencengkeram setir lagi, kali ini bukan marah semata, tapi sesuatu yang lebih berbahaya... panik yang ia tekan sedalam mungkin. “Mel…” desisnya. “Kamu ada dimana sekarang, aku khawatir.” *** Sementara itu, di sisi kota yang lain, hujan tipis mulai turun, jatuh beruntun di aspal dan memantul menjadi kilau samar di bawah lampu jalan. Seorang gadis cantik berdiri di bawah kanopi minimarket yang hampir tutup. Ia berdiri sedikit menepi, seolah takut menghalangi jalan, bahunya condong ke depan menahan dingin. Jaket tipis yang ia kenakan sudah basah di bagian bahu dan lengan. Setiap kali angin berembus, kain itu menempel di kulitnya. Pandangan gadis itu menyusuri jalan di depannya, lampu mobil yang lewat, genangan air, bayangan orang-orang yang bergegas pulang. Kakinya melangkah setengah inci ke depan, lalu berhenti lagi. Tangannya mengepal, kemudian mengendur. Anta

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 115 Rani Kesal

    Gudang itu kembali sunyi setelah deru mesin menghilang di kejauhan. Lampu neon berkedip sekali… lalu stabil. Martin berdiri sendirian di tengah ruangan. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. Ia menunduk, memungut ponselnya dari lantai. “Alex… Alex,” gumamnya pelan. “Ternyata lo lemah cuma karena perempuan.” *** Di sepanjang jalan, Alex mencengkeram setir begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih. Lampu jalan melintas cepat di kaca mobil, tak satu pun benar-benar ia lihat. Rahangnya mengeras, napasnya berat. “Akh… sial,” gumamnya, menekan pedal gas lebih dalam. “Ke mana sih lo, Mel… gue udah bilang jangan keluar mansion tanpa izin.” Ia membanting setir saat melihat persimpangan. Mobil berbelok tajam menuju arah bar. Ban sedikit berdecit sebelum kembali melaju stabil. Beberapa menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di depan bangunan bercahaya redup. Alex keluar tanpa menutup pintu dengan hati-hati. Bam. Pintu mobil terhempas. Begitu ia melangkah masuk, su

  • SUAMIKU MANTAN GENGSTER   Bab 114 Ke Markas Black Dragon

    Gudang tua itu berdiri seperti bangkai besi di pinggir kota. Lampu-lampu jalan berkedip malas, menyisakan bayangan panjang yang merayap di dinding retak. Mobil hitam Alex berhenti mendadak. Pintu terbuka sebelum mesin benar-benar mati.Alex turun lebih dulu. Wajahnya dingin, matanya tajam, aura berbahaya menyelimuti langkahnya.Dua mobil pengawal menyusul, membentuk setengah lingkaran. Senjata sudah siap, tangan di pelatuk.“Masuk,” perintah Alex singkat.Pintu gudang didobrak. Suara besi beradu menggema keras, memecah keheningan malam.Di dalam... kosong.Hanya bau debu, oli lama, dan cahaya lampu neon yang berkedip setengah mati.“Martin!” suara Alex menggema. “Keluar lo!”Beberapa detik berlalu.Lalu terdengar suara langkah santai dari balik tumpukan peti kayu.“Sepertinya gue kedatangan tamu tak di undang nih,” suara itu muncul, datar tapi menyimpan ejekan tipis. “Mau ngapain lo kesini.”Martin keluar ke cahaya. Jaket kulitnya kusam, rambutnya sedikit berantakan, tapi sorot matan

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status