LOGIN“Akan aku buat kamu menyesal, Syafana,” geram Celina dengan langkah tergesa.
Celina menuju rumah mewah yang berdiri angkuh di jantung kota. Rumah Tuan Alexander, ayah Ivander. Amarahnya mendidih, memenuhi setiap sudut hatinya. Begitu melewati ambang pintu, para pekerja membungkuk hormat, tapi Celina tak memperdulikannya. Hanya satu yang ada di benak yaitu mertuanya. “Mama ... Papa!” panggil Celina dengan suara tercekat, air mata buatannya mulai tumpah. Tuan Alexander dan nyonya Anindita menoleh, mereka saling berpandangan sejenak. Celina menghambur memeluk mereka, tubuhnya bergetar hebat. “Lho, Celina, kamu kenapa, Sayang?” tanya Nyonya Anindita lembut, membalas pelukan Celina erat. “Tadi aku ke kantor Mas Ivander. Tapi, Dia malah mengusirku karena perempuan lain!” bisik Celina lirih. Air matanya jatuh, membasahi pundak ibu Ivander. “Aku datang kesana untuk memberikan kejutan, tapi yang kudapat malah pengkhianatan!” Ayah Ivander mengerutkan kening, rahangnya mengeras membuat Celina melepaskan pelukannya. “Ceritakan semuanya dengan jelas, Celin! Siapa perempuan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?” “Perempuan itu ... sekretaris barunya! Dia selalu menempel pada Mas Ivander seperti lintah! Bawakan kopi, mengatur jadwal. Tadi aku tidak sengaja menumpahkan kopi yang dia bawa karena kesandung. Aku langsung minta maaf, tapi dia malah menyalahkan aku! Mas Ivander malah membelanya! Dia ... dia bahkan mengusirku di depan semua orang!” Celina terisak, air matanya semakin deras. “Aku merasa sangat malu, Ma, Pa! Harga diriku diinjak-injak! Aku ini istrinya, tapi diperlakukan seperti orang asing!” Nyonya Anindita terkejut, tangannya menutup mulutnya. Matanya membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Ya Tuhan, Ivander sudah keterlaluan! Ini tidak bisa dibiarkan!” tukasnya dengan tajam. Tuan Alexander mengepalkan tangannya, urat-urat di lehernya terlihat menegang. Wajahnya memerah karena amarah. Sedangkan, Celina tersenyum dalam hati, rencananya berjalan lebih dari lancar. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Ma, Pa. Aku sudah berusaha jadi istri yang baik untuk menarik perhatian Mas Ivander. Tapi kenapa dia setega itu padaku?” lanjut Celina lirih. Nyonya Anindita mengusap punggung Celina dengan lembut, mencoba menenangkannya. “Tenang, Sayang, kami akan membantumu. Kami tidak akan membiarkan Ivander memperlakukanmu seperti ini. Dia harus bertanggung jawab atas semua ini!” Tanpa sepatah kata pun, Tuan Alexander bergegas melangkah, meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Jemarinya dengan cepat mencari kontak Ivander, lalu tanpa ragu menekan ikon panggil. Hatinya mendidih mendengar aduan menantunya. Ia tak akan tinggal diam. “Tenang, Celina! Papa yang akan memberinya pelajaran,” ujarnya dengan nada penuh amarah. Celina tersenyum puas. Rencananya berjalan sesuai harapan. Tak lama kemudian, suara Ivander terdengar dari seberang sana, membuat ayah Ivander langsung menyambar dengan satu kalimat tegas, “Pulang! Kita akan mengadakan makan malam keluarga!” Hanya kalimat itu yang terlontar dari ponsel, membuat Ivander mendengus kesal. Ia tahu betul apa arti panggilan ini. Celina pasti sudah mengadukan semuanya. Kini tatapannya beralih pada Syafana yang sedang membereskan meja kerjanya. “Nanti malam, ikut saya ke rumah!” ajak Ivander dengan nada memerintah. Syafana tergelak. Ia langsung menggelengkan kepala dengan ekspresi ngeri. “Tidak, Pak! Terima kasih banyak atas tawarannya, tapi kalau saya datang ke sana, itu sama saja dengan bunuh diri.” Ivander menundukan kepala tepat di telinga kiri Syafana. Hembusan nafas pria tampan itu membuat bulu kuduk Syafana meremang. Jari Ivander menarik helaian rambut Syafana. “Jangan lupa kalau kamu sudah setuju dan tanda tangan kontrak,” bisiknya. *** Awan hitam mulai menghiasi langit kota, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah megah Tuan Alexander. Ivander keluar, diikuti Syafana yang gelisah dalam gaun malam yang membuatnya terlihat cantik. “Pak, ini ….” “Diam! Jangan berbicara!” potong Ivander tajam, tanpa menoleh. Syafana mengatupkan bibirnya, amarahnya tersulut. Ia merasa seperti boneka yang dipaksa menuruti kemauan Ivander. Sementara pria itu bersikap seolah ini hanya makan malam biasa. Mereka melangkah masuk. Tak ada sambutan ramah, melainkan tatapan membunuh dari semua orang. Syafana menelan ludah. “Ya Tuhan, ini bukan makan malam keluarga, tapi sidang pengadilan!” batinnya menjerit. “Ivander!” Suara Tuan Alexander menggelegar, memecah keheningan. Pria itu bangkit dari kursi, wajahnya merah padam. “Apa-apaan ini?! Beraninya kamu membawa wanita lain ke rumahku?!” “Syafana tidak terlibat dalam masalah ini, Pa!” balas Ivander dengan nada yang sama kerasnya. Matanya menyala, menantang amarah ayahnya. “Dia sekretarisku, dan dia di sini atas perintahku!” “Perintah katamu?!” Tuan Alexander mencibir sinis, mendekat selangkah. “Sejak kapan seorang sekretaris harus ikut campur urusan keluarga?! Kamu pikir Papa buta, Ivander?! Papa sudah mendengar semuanya dari Celina. Jangan kira Papa tidak tahu!” “Papa hanya mendengar dari sudut pandang wanita itu bukan aku!” “Jangan banyak bicara, Ivander! Usir dia dari rumah ini, kami semua tidak akan sudi menerimanya!” Para penjaga bergegas mendekat, bersiap menarik tubuh Syafana. Namun, Ivander melindunginya. “Berhenti!” bentak Ivander, rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya mulai terlihat menegang. Ia melirik Syafana, yang menunduk dalam. “Jangan ada yang berani mendekat! Jika kalian menyentuhnya akan aku pastikan kalian lenyap dari muka bumi ini!” “Oh, sekarang dia sudah berani meracuni pikiranmu Ivander? Sampai segitunya kamu membela dia.” “Karena aku yang menyuruhnya ikut kemari. Dia tidak bersalah!” “Tidak bersalah katamu?! Lalu, apa namanya kalau bukan bersalah? Dia menggoda anakku! Dia merusak rumah tanggamu! Apa kamu tidak lihat, Ivander? Dia hanya memanfaatkanmu!” “Dasar wanita murahan, beraninya menggoda suami orang!” pekik Celina suara yang menggelegar. Syafana tersentak, tubuhnya menegang. Ia mendongak, menatap Celina dengan tatapan terkejut dan marah. Tangannya terkepal erat hingga kukunya memutih. “Jaga ucapanmu, Celina!” bentak Ivander dengan dada kembang-kempis. “Kenapa? Aku salah?!” balas Celina dengan nada menantang, mendekat selangkah ke arah Ivander. “Semua orang juga tahu, wanita seperti dia hanya mengincar uang dan kekuasaan! Dia pasti sengaja menggoda kamu, Mas!" Brak! Ivander menggebrak meja dengan keras, membuat semua orang terlonjak kaget. Piring-piring dan gelas-gelas bergetar, beberapa bahkan terjatuh dan pecah. Matanya berkilat marah, menatap Celina dengan tatapan yang belum pernah dilihat sebelumnya. “Cukup, Celina!” bentak Ivander dengan suara bergetar, menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun. “Aku selama ini diam, karena aku masih menghargaimu sebagai istriku. Tapi sekarang, kamu sudah keterlaluan! Kamu menuduh orang yang tidak bersalah!” Ivander menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ia tidak boleh kehilangan kendali. Tapi, kata-kata Celina sudah melampaui batas. “Kamu ingin tahu siapa yang sebenarnya murahan di sini? Baiklah, akan ku beri tahu!” lanjut Ivander dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ia menatap Celina dengan tatapan jijik. “Selama ini, kamu selalu memainkan peran sebagai istri yang sempurna, sebagai wanita yang polos dan baik hati. Tapi, kenyataannya, kamu adalah seorang pembohong besar!” Ivander mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jasnya dan melemparkannya ke atas, tepat di kepala Celina. Semua foto-foto perselingkuhan Celina langsung berhamburan. “Ini bukti perselingkuhanmu, Celina! Foto-foto mesramu dengan pria lain! Jauh sebelum kita menikah, kamu sudah bermain api di belakangku! Kamu berhubungan dengan banyak pria!” Semua orang terkejut. Kedua orang tua Ivander saling bertukar pandang, wajah mereka pucat pasi. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Dengan tangan gemetar, mereka mengambil salah satu foto. “Dan ini,” lanjut Ivander dengan nada sinis yang semakin menusuk, menunjuk sebuah dokumen yang terlihat seperti laporan medis. “Hasil pemeriksaan medis yang membuktikan bahwa kamu pernah hamil dan menggugurkannya!”“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te
"Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek
"Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa







