Se connecter“Astaga,” gumam Syafana syok.
Celina terdiam membeku. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar. Rahasia kelam yang selama ini ia simpan rapat-rapat telah terbongkar di depan semua orang. Keheningan mencekam menyelimuti ruang makan. Hanya terdengar suara nafas yang berat dan detak jantung yang berpacu kencang. Tubuh Celina mendadak gemetar. Tuan Alexander memecah keheningan seraya menatap Celina. Suaranya dingin dan menusuk, “Celina, apa benar semua ini?” Celina tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam, air mata kembali membasahi pipinya. Meski dalam hati dia mengumpat kesal. Bagaimana Ivander bisa tahu semuanya? “Jawab Papa, Celina!” bentak Tuan Alexander, suaranya menggelegar. “Apa benar kamu pernah hamil dan menggugurkannya? Apa benar kamu berselingkuh di belakang Ivander?” Celina menggeleng lemah, otaknya berpikir cepat untuk bisa menyangkal. “Itu bohong, Ma. Ini semua pasti akal-akalan Mas Ivander demi menutupi kesalahannya.” “Kamu menjijikan!” teriak Nyonya Anindita histeris, air mata membanjiri wajahnya. “Kamu pembohong, Celina! Kamu sudah menipu kami semua! Mama pikir kamu wanita baik-baik, ternyata kamu hanya seorang wanita murahan!” “Aktingmu sungguh luar biasa, Celina. Aku selama ini diam, bukan berarti aku tidak tahu,” debat Ivander sinis. Nyonya Anindita bangkit dari kursi dan menghampiri Celina. Ia menarik rambut Celina dengan kasar, membuat wanita itu menjerit kesakitan. Wajah Nyonya Anindita jelas terlihat kecewa. “Kamu sudah mempermalukan keluarga kami. Jika bukan karena ayahmu dan kami bersahabat, mana mungkin kamu bisa masuk jadi bagian keluarga kami.” “Argh ...! Lepaskan, Ma. Ini semua pasti kebohongan!” Celina meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Nyonya Anindita. “Kebohongan katamu?!” Nyonya Anindita mendorong Celina hingga terhuyung ke belakang. “Semua bukti sudah jelas terpampang di depan mata! Kamu pikir kami bodoh?!” "Semua bukti sudah jelas, Celina!" sahut Tuan Alexander dengan nada dingin yang menusuk. Kepalanya terasa pening, hatinya hancur berkeping-keping. Wanita yang ia pilih menjadi menantunya, orang yang ia percaya baik dan lugu, ternyata punya sisi liar yang tidak pernah mereka bayangkan. “Itu pasti editan!” teriak Celina histeris, air matanya membanjiri wajahnya. Ia menggelengkan kepala dengan keras, berusaha meraih tangan kedua mertuanya. “Mas Ivander pasti sudah mengedit semuanya! Semua ini pasti demi pelacur itu!” “Jaga ucapanmu, Celina! Syafana bukan pelacur. Kamu yang pantas disebut seperti itu!” bentak Ivander tidak terima. Tak ada pergerakan apapun dari kedua mertuanya membuat Celina melepaskan tangan mereka dengan kasar. Ia melangkah cepat menuju Syafana dengan tangan terkepal erat, amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. “Ini semua gara-gara kamu!” Tangan Celina mulai melayang di udara, bersiap mendarat di pipi Syafana. Namun, dengan sigap, Syafana sudah lebih dulu menahannya. Matanya menatap tajam Celina. “Jangan asal menuduh!” “Brengsek! Lepaskan tanganku … kamu pantas mendapatkan ini semua!” desis Celina dengan nada penuh kebencian. “Jangan berani menyentuh saya, Nona Celina,” ucapnya dengan suara bergetar. “Atau saya yang akan membalasmu berkali-kali lipat!” Syafana menghempaskan tangan Celina dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Ia melirik Ivander seolah meminta izin kepadanya untuk menjelaskan semuanya. Ia ingin membersihkan namanya, ia ingin membuktikan bahwa ia tidak bersalah. “Saya bekerja sebagai sekretaris Tuan Ivander karena terpaksa! Saya butuh uang untuk pengobatan ayah saya. Saya tidak punya pilihan lain.” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, “Saya bukan wanita murahan seperti yang kalian pikirkan! Saya tidak pernah menggoda Tuan Ivander! Seperti kata Tuan Ivander, saya datang kemari atas perintahnya.” Orang tua Ivander seketika terdiam, tatapan mereka beralih dari Ivander, ke Celina, lalu akhirnya tertuju pada Syafana. Ada keraguan yang mulai menyelinap di mata mereka. Mereka melihat kejujuran dalam sorot mata Syafana. Nyonya Anindita, yang tadinya penuh amarah, kini menatap Syafana dengan ekspresi yang melunak. “Benar, aku yang memaksanya untuk bekerja denganku,” ujar Ivander mantap. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang masih terasa, namun juga ada harapan untuk sebuah pemahaman. Kata-kata Ivander menggantung di udara, memaksa semua orang untuk merenungkan kembali apa yang baru saja terjadi. Nyonya Anindita menghembuskan napas panjang, bahunya merosot. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa penyesalan yang mendalam. Ia menatap Celina dengan ekspresi kesal. “Mama kecewa padamu, Celina.” Ayah Ivander melakukan hal yang sama. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghilangkan pening yang menyerang kepalanya. Ia merasa bodoh karena telah begitu mudahnya percaya pada citra sempurna yang selama ini ditunjukkan Celina. “Masih mau percaya pada menantu kesayangan kalian?” tanya Ivander sinis. “Bukankah aku sudah pernah bilang? Aku menerima Celina karena kalian yang memaksa.” "Kami... kami keliru," ucap Nyonya Anindita lirih, memecah kesunyian yang menyesakkan. Ia menatap Ivander dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan Mama, Nak. Mama salah karena tidak mencari tahu lebih banyak soal Celina. Mama pikir dia gadis baik seperti ucapan Carina tapi ternyata…” Tuan Alexander mengangguk setuju. "Papa juga minta maaf, Ivander. Papa sudah salah menilai situasi ini. Papa terlalu fokus pada nama baik keluarga, sampai lupa melihat kebenaran yang ada di depan mata." Ia menatap Celina dengan tatapan dingin, namun kali ini ada sedikit rasa kasihan yang tersirat. “Celina, apa yang kamu lakukan sangat memalukan. Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini, dan itu tidak bisa dimaafkan.” Ivander hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Ia menatap raut wajah Celina yang menunduk lemah. Tak ada lagi sikap kesombongan yang selama ini selalu terpancar dari dirinya “Ivander, Papa rasa sebaiknya kamu ceraikan saja Celina. Sebelum semua aib-nya tersebar luas dan malah membuat keluarga kita terseret,” lanjutnya begitu saja. “Mama setuju! Kita sudah susah payah membangun reputasi baik keluarga ini, jangan sampai nama baikmu dihancurkan oleh wanita tak tahu diri!” sambung Nyonya Anindita. Kata-kata itu menghantam Celina seperti petir di siang bolong. Ia tersentak, matanya membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?!” seru Celina histeris, air matanya kembali membanjiri wajahnya. “Tidak! Jangan lakukan ini padaku, Ma, Pa!” “Ini demi kebaikanmu juga, Ivander,” lanjut Tuan Alexander kembali dengan nada tegas. “Sebelum aib ini tersebar luas dan menjadi bahan gunjingan orang, lebih baik kamu segera mengakhiri pernikahan ini saja.” Celina menggelengkan kepala dengan keras, menolak semua perkataan mertuanya. Ia tidak ingin kehilangan Ivander. Ia tidak ingin kehilangan semua yang telah ia raih selama ini. Tanpa ragu, ia berlutut di hadapan Ivander, meraih tangannya erat. “Mas, tolong jangan ceraikan aku,” ucapnya dengan suara yang bergetar hebat, memohon dengan segenap hatinya. “Aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan. Aku janji akan berubah. Aku mohon, beri aku kesempatan kedua .…”“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te
"Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek
"Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa







