เข้าสู่ระบบSore itu, mobil hitam berhenti mulus di halaman rumah besar yang megah. Pilar-pilar tinggi menjulang, taman depan tertata rapi dengan hamparan rumput hijau. Begitu pintu mobil terbuka, para pekerja rumah segera berdiri berjajar, menundukkan kepala menyambut tuannya.
“Selamat datang, Tuan Ivander.” Ivander turun lebih dulu, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia melepas jasnya, lalu tanpa menoleh menyerahkan tas kerjanya pada Syafana. “Bawa ini.” Suaranya dingin, bak perintah tak terbantahkan. Syafana mendengus pelan, tetapi tetap meraih tas itu. “Baik, Pak," jawabnya patuh. Para pekerja menatap Syafana dengan sopan, beberapa bahkan memberi salam kecil. Syafana hanya mengangguk singkat. "Selamat sore." Mereka masuk ke dalam rumah. Langkah Ivander panjang dan mantap, sementara Syafana agak terseok menyesuaikan dengan berat tas yang ia bawa. Di sisi lain, Erlang berjalan dengan tenang, lalu mulai berbicara pelan kepadanya. “Syafana, ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang Tuan Ivander.” Syafana melirik Erlang. "Baik, Pak. Semuanya akan saya catat." Erlang tersenyum tipis. “Tuan Ivander menyukai kopi hitam. Takarannya harus pas, tidak boleh terlalu manis, tidak boleh hambar. Untuk makanan, beliau hanya makan yang sehat. Tidak suka makanan instan.” "Jadi beliau memegang gaya hidup sehat," gumam Syafana seraya mencatatnya. Erlang menahan tawa. “Gaya hidup Tuan Ivander memang sehat. Setiap bulan sekali, beliau rutin main golf. Beliau juga tidak suka dibantah, sangat menghargai ketepatan waktu, dan harus rapi.” “Pantas saja badannya bagus," gumam Syafana dalam hati. Erlang melanjutkan dengan wajah tetap serius. “Beliau suka sarapan pagi, dan kopi adalah menu wajib setiap harinya.” Syafana bergumam heran, “saya bukan istrinya, tapi kenapa harus mengurusi hal yang dikerjakan istri?” Erlang terdiam sejenak, lalu menoleh. “Karena meskipun sudah menikah, Tuan Ivander sama sekali tidak menyukai istrinya. Mereka tidak tinggal serumah.” Syafana terpaku sejenak mendengar hal itu. "Kalau boleh saya tahu, kenapa, Pak?" “Tuan Ivander dan Nona Celina dijodohkan,” jawab Erlang tenang. “Ayah Nona Celina pernah menolong ayah Tuan Ivander. Sebagai balas budi, pernikahan itu harus terjadi.” "Dijodohkan." Erlang tidak menanggapi gumaman Syafana. “Tugas kamu berikutnya, pastikan tidak ada tamu dadakan. Siapa pun yang ingin bertemu, harus punya janji lebih dulu. Arsip harus rapi sebelum diberikan. Dan satu lagi, beliau sangat menyukai kebersihan. Jangan biarkan ada debu sedikit pun di ruang kerjanya.” Sementara itu, Ivander sudah mengganti pakaiannya. Dengan langkah tenang, ia kembali ke ruang utama dan berdiri tegak. Syafana menyimpan buku catatannya ke dalam tas. “Mulai hari ini, Syafana akan tinggal di sini. Dia tidak boleh mengerjakan hal lain selain mengurus kebutuhan saya,” ucapnya dingin, membuat semua pekerja mengangguk patuh. Erlang menunduk hormat. “Baik, Tuan. Kalau begitu, saya pamit pulang.” "Laporan harus sudah ada di meja besok pagi!" sahut Ivander tegas. “Siap, Tuan.” Erlang lalu pergi meninggalkan rumah itu. Syafana berdiri kaku, masih memegang buku catatan kecilnya. “Saya harus tinggal di sini juga?” tanyanya dengan nada tak percaya. Ivander menoleh sebentar, sorot matanya tajam. “Kamu mendengar perintah saya dengan jelas, bukan?” Syafana memasang wajah tenang meski dalam hati ingin mengumpat. "Barang-barang saya masih ada di kosan." "Saya akan suruh orang mengurusnya," sahut Ivander datar. "Ikuti saya!" Dengan langkah malas, Syafana mengikuti. Mereka berhenti di lantai dua. Di sana, ada dua pintu besar saling berhadapan. Ivander membuka salah satunya. “Ini kamarmu. Berhadapan langsung dengan kamar saya.” Syafana melangkah masuk, matanya berkeliling. Kamarnya luas, lengkap dengan tempat tidur besar, lemari pakaian, meja kerja, bahkan balkon kecil. Meski terkesan nyaman, baginya kamar itu seperti jeruji emas. “Hidupku benar-benar berubah total,” gumamnya lirih. Belum sempat ia duduk, tiba-tiba Ivander berdiri di belakangnya. Tanpa aba-aba, lengannya melingkar, memeluk pinggang Syafana dari belakang. “Kamu harus ada kapan pun saya membutuhkanmu.” Suaranya dingin, datar, namun penuh tekanan. Syafana membeku sejenak, lalu menggigit bibir bawahnya. "Saya akan memberikan yang terbaik." Ivander menunduk sedikit, wajahnya dekat dengan telinga Syafana. "Jangan membuat saya kecewa!" Keesokan harinya, suasana kantor Ivander berjalan seperti biasa, pegawai lalu lalang, suara telepon berdering, dan aroma kopi pagi memenuhi udara. Namun, suasana berubah seketika ketika pintu kaca besar di lantai utama terbuka. Celina melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Gaun ketat berwarna merah marun membalut tubuhnya, cukup mencolok untuk membuat beberapa pegawai menoleh dengan tatapan kaget sekaligus iri. Sepatu hak tingginya berdetak lantang di lantai marmer, seolah menandai setiap langkahnya. Kepala tegak, wajah angkuh, Celina sama sekali tidak menghiraukan sapaan para staf. “Selamat pagi, Nyonya—” Salah satu resepsionis mencoba menyapa. Namun Celina hanya melirik sekilas dengan tatapan meremehkan, lalu melangkah lurus menuju lift eksekutif tanpa menjawab sedikit pun. Beberapa pegawai saling berbisik. “Itu kan istrinya Pak Ivander.” “Cantik sih, tapi galaknya minta ampun.” “Sama sekali nggak ramah, ya.” Tak butuh waktu lama, Celina tiba di lantai paling atas. Dengan langkah cepat, ia langsung mendorong pintu ruang kerja Ivander tanpa mengetuk. Di dalam, Erlang tengah sibuk mengatur berkas di meja tambahan. Lelaki itu sontak berdiri kaget. “Nona Celina? Anda tidak bisa masuk seenaknya—” “Diam, Erlang,” potong Celina ketus, lalu melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ivander yang duduk di kursi kerjanya langsung mengangkat wajah. Tatapannya dingin, alisnya sedikit berkerut. “Celina. Siapa yang mengizinkan kamu masuk begitu saja?” Celina tersenyum manis, meski matanya penuh keangkuhan. “Sayang, aku istrimu. Perlu izin apa lagi untuk masuk ke ruang kerjamu sendiri?” Ivander hendak membalas, namun pintu kembali terbuka. Syafana masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas. “Pak, ini kopinya ” Suara Syafana datar, jelas berniat segera keluar lagi setelah menaruh minuman itu. Namun begitu ia masuk, bola mata Celina langsung tertuju padanya. Dari ujung rambut Syafana yang tergerai sederhana, hingga kaki mungil yang berbalut sepatu datar. Pandangan Celina menajam, dan genggaman tangannya mengepal kuat. Wajahnya berubah, menahan amarah dan iri. Dia, lebih cantik dariku? bisik hati Celina. Bibirnya mengatup rapat, lalu perlahan senyum tipis penuh strategi mengembang. Saat Syafana melangkah melewati sisi kursi, Celina pura-pura tersandung dengan gerakan dramatis. Tubuhnya maju, bahunya menabrak Syafana cukup keras. “Astaga!” Nampan miring, kopi panas tumpah mengenai kemeja putih Syafana. Gadis itu spontan meringis, menahan rasa panas yang langsung menyengat kulitnya. “Aduh!” serunya refleks. Celina buru-buru menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura kaget. “Ya ampun! Maaf sekali, aku tidak sengaja, oh, kamu tidak apa-apa?” ucapnya dengan suara manis, namun bibirnya melengkung penuh kemenangan. Syafana menatapnya dengan mata menyala. “Kamu sengaja, kan?!” suaranya meninggi, ketus. “Apa maksudmu? Mana mungkin aku—” Celina berlagak polos, meski matanya jelas-jelas berkilat puas. Belum sempat perdebatan berlanjut, suara berat Ivander memotong tajam. “CELINA!” Ruangan seketika hening. Erlang menunduk, tidak berani angkat kepala. Syafana menggigit bibir, menahan perih sekaligus amarah. Ivander berdiri dari kursinya, wajahnya dingin dan penuh tekanan. “Keluar dari ruangan saya. Sekarang juga.” Celina membelalak. “Apa? Kamu mengusir aku? Aku ini istrimu!” “Dan kamu tidak berhak masuk seenaknya, apalagi mengganggu karyawan saya.” Suaranya bak cambuk yang menghantam keras. Celina terdiam, wajahnya merah karena malu dan marah bercampur jadi satu. Ia menoleh sebentar ke arah Syafana—tatapannya menusuk, penuh kebencian. “Pergi!” sentak Ivander lantang. “Awas kamu.”“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te
"Kalian harus mati!" teriak Celina penuh amarah dan dendam.“Syafana, Ivander!”Suara Nyonya Anindita dan Bu Salsa menerjang udara sore, nada histeris menusuk. Kedua wanita itu masih berdiri kaku di tepi jalan raya, pandangan keduanya terpaku pada mobil putih yang melesat dengan kecepatan tak masuk akal.Tanpa berpikir dua kali, Ivander langsung mencengkeram lengan Syafana dengan kuat, lalu menariknya dengan sekuat tenaga ke arah trotoar sebelah kiri. Sedangkan, mobil yang dikemudi oleh Celina bergerak cepat. Kakinya menginjak pedal rem dengan sekuat mungkin, namun mobil hanya meluncur lebih cepat, menggeliat seperti makhluk hidup yang hilang kendali.“Arghh!” teriak Celina histeris. Sebelum akhirnya, mobil wanita itu menghantam pembatas beton jalan hingga retak berantakan. Mobil meluncur terus lalu menghantam dinding parkiran dengan pukulan kencang, membuat semua orang menyaksikan terhenti sejenak.Tanah seolah bergoyang akibat benturan hingga membuat orang-orang berhamburan mendek
"Mau aku gendong?" tanya Ivander menawarkan diri. "Tidak, terima kasih. Aku masih bisa jalan sendiri," tolak Syafana.Koridor rumah sakit yang tadinya ramai mulai sepi seiring berjalannya waktu. Ivander, Syafana, dan Nyonya Anindita melangkah keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang jelas menunjukkan kegembiraan dan rasa lega. Ketika mereka tiba di area parkiran yang cukup luas, lampu penerangan jalanan mulai menyala redup karena senja mulai menjelma. Tiba-tiba, sebuah suara melengking terdengar dari arah samping, memecah kesunyian yang mulai menyelimuti tempat itu.“Ivander!”Semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka bergerak mencari sosok yang memanggil hingga akhirnya seorang wanita yang begitu familiar berdiri disana. "Dia ...!"Rahang Ivander langsung mengeras. Tanpa berpikir dua kali, ia menggeser tubuhnya perlahan agar benar-benar berada di depan Syafana, menjadikannya penghalang yang melindungi istrinya.Nyonya Anindita menatap Celina dengan tatapa







