Share

Bab 3

Author: Lalala
Jelas sekali, Nathan salah menangkap maksudnya.

Dia merentangkan tangan dan memberi isyarat. Seketika, ribuan titik cahaya menyala di luar jendela.

Puluhan ribu drone terbang ke angkasa, membentuk siluet sepasang pria dan wanita yang sedang berpelukan di langit malam.

Di tengah seruan kagum dan iri orang-orang, Nathan merangkul Selina ke dalam pelukannya.

Saat cahaya di langit berubah membentuk tulisan [Selina, aku mencintaimu], napasnya menyapu telinga Selina. Dengan penuh ketulusan, Nathan berkata, “Selina, aku akan mencintaimu selamanya.”

Selina mendongak melihat langit. Tulisan Selina itu berubah menjadi Hayle yang samar, lalu perlahan menghilang ditelan langit malam.

Selina tertawa sinis.

Saat menoleh, pandangannya tepat bertemu dengan tatapan Nathan.

Namun, pria itu sedang menatap sosok wanita di sudut restoran, itu Hayle.

Di depan meja makan wanita itu terpajang dua botol alkohol yang kosong. Tubuhnya tampak begitu murung, seperti bunga bakung lembah yang layu dihantam hujan, kesepian sekaligus mengundang rasa iba.

Genggaman Nathan pada tangan Selina pun mengerat.

Hingga setelah Selina menjerit kesakitan, barulah Nathan tersadar dan buru-buru meminta maaf, “Maaf, Selina. Aku ada urusan dadakan di kantor. Aku suruh sopir antar kamu pulang, ya.”

Selina memandangi hidangan di atas meja yang masih utuh dan belum tersentuh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

Di sebuah tikungan, dia menghentikan mobil dan meminta sopir pergi, lalu menyetir sendiri berbalik arah.

Dari kejauhan, Selina langsung melihat Nathan menggendong Hayle yang tubuhnya sudah lemas, lalu bergegas naik ke ambulans.

Selina mengemudi mengikuti mereka sampai ke rumah sakit. Di sana, dia menyaksikan Nathan berlari masuk sambil menggendong Hayle, suaranya serak sangking paniknya,

“Dokter! Istriku alergi alkohol! Tolong selamatkan istriku!”

Saat perawat mendorong Hayle masuk ke unit gawat darurat, Nathan terjatuh berlutut di lantai karena kehabisan tenaga.

Pemandangan itu membuat hati Selina menegang.

Begitu mirip dengan kejadian bertahun-tahun lalu, saat dirinya berhasil keluar dari Keluarga Sein.

Saat itu, Nathan juga sangat panik. Dia bahkan mencengkeram tangan dokter sambil memohon, “Tolong selamatkan Selina! Dia itu nyawaku….”

Adegan yang sama, tapi orang yang berada dalam pelukannya dan nama yang keluar dari mulutnya kini telah berubah.

Janji-janji manisnya ‘akan mencintaimu selamanya’, kini seperti gelembung sabun yang pecah dan menghilang tanpa jejak.

Begitu Hayle didorong keluar, Nathan langsung menggenggam tangannya. Dengan wajah pucat, dia berkata, “Sayang, aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan. Jangan menakutiku seperti ini lagi.”

Hayle memalingkan wajah dengan lemah, “Kamu pergi temani dia saja. Aku memang hanya orang asing. Bukannya kamu bilang mencintainya? Kok masih peduli dengan hidup dan matiku?”

Nathan buru-buru menutup mulutnya. Tatapan matanya dipenuhi kepanikan yang tak pernah sekalipun dia tunjukkan pada Selina.

“Sayang, di antara kita, dialah orang asingnya. Berjanjilah padaku, jangan sakiti dirimu lagi.”

Selina berdiri di belakangnya. Jantungnya seakan terus disayat dengan pisau tumpul hingga hampir membuatnya tak bisa bernapas.

Tiba-tiba, dia teringat kejadian di aula leluhur Keluarga Gunawan. Saat kakek Nathan hendak menghukumnya, Nathan melindunginya erat-erat dengan tubuhnya sambil menggeram dengan mata memerah,

“Selina itu nyawaku! Dibandingkan dengan dia, kalian nggak ada apa-apanya! Orang asing seperti kalian, apa haknya menyentuhnya?”

“Kalau mau pukul, pukul saja aku!”

Sungguh konyol. Belum lama berlalu, sekarang malah Selina yang menjadi ‘orang asing’ di mulut Nathan.

Hatinya seperti dihantam palu. Tubuhnya membeku di tempat, tak sanggup bergerak.

Tepat saat itu, terjadi keributan di ujung lorong. Nampan yang dibawa seorang perawat muda terjatuh, terdengar bunyi ‘plang’.

Nathan yang sigap bergerak cepat menendang nampan itu menjauh, melindungi Hayle agar tidak terluka sedikitpun.

Namun, botol kaca berisi obat-obatan itu malah melayang tepat menghantam betis Selina.

Selina terhuyung jatuh. Pecahan kaca menancap di telapak tangannya dan darah langsung mengalir membentuk garis merah.

Orang-orang di sekitar langsung berteriak kaget. Nathan menoleh sekilas, bahkan alisnya tak berkerut sedikitpun.

Dia hanya mengambil selembar cek dari dompet, melemparkannya ke kaki Selina, lalu berbalik pergi sambil melindungi Hayle.

Air mata yang dari tadi tertahan di mata Selina akhirnya menetes.

Semuanya terjadi dalam hitungan detik.

Perawat muda itu baru tersadar kembali dan buru-buru membantu Selina berdiri untuk mengobati lukanya.

Di ruang rawat, suara para perawat yang sedang bergunjing terdengar sampai ke telinganya.

“Istri Pak Nathan benar-benar beruntung sekali. Nggak hanya tampan, tapi juga mencintainya.”

“Kalian nggak tahu saja, sebenarnya dia bukan alergi. Begitu masuk unit gawat darurat, dia bilang pada kami kalau dia sengaja mau menguji suaminya. Nggak disangka suaminya sampai panik seperti itu.”

Salah satu perawat menatap tangan kiri Selina yang sudah terbalut perban tebal seperti roti, lalu menghela napas penuh simpati.

“Kamu benar-benar sial. Untung saja wajahmu nggak terluka… lagipula siapa suruh kamu nggak punya suami sebaik itu, nasib orang memang berbeda-beda.”

Selina mendengarkannya dengan hati yang mati rasa. Seluruh tubuhnya terasa dingin membeku, rasa perih di telapak tangannya menusuk langsung ke dalam jantung.

Dia memungut cek itu tanpa bersuara, lalu pandangannya tertuju ke atas nampan.

Gelang tasbih kayu berlumuran darah tergeletak di sana.

Itu adalah gelang yang didapatkan Nathan setelah dia berlutut menaiki seribu anak tangga waktu itu. Nathan juga menyalin bait-bait suci dengan tangannya sendiri, lalu mempersembahkannya pada dewa selama empat puluh sembilan hari penuh. Barulah memasang gelang tasbih itu ke tangan Selina.

Saat itu, Nathan berkata, “Selina, selama cintaku masih ada, gelang tasbih ini akan melindungimu selamanya.”

Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga, tapi perasaannya telah berubah sejak lama.

Bahkan gelang tasbih ini pun tak mau lagi melindunginya sedikitpun.

Jika begitu, tak perlu dipakai lagi.

Selina baru saja keluar dari ruang rawat saat Nathan datang mencari perawat untuk mengganti obat Hayle.

Pandangan sudut matanya sekilas melirik tasbih di atas nampan.

Seketika, matanya terbelalak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status