Share

Bab 4

Author: Lalala
Baru saja hendak mendekat untuk memastikannya, tiba-tiba ponselnya malah berdering.

Di layarnya tertera nama [Hayle]. Dari balik telepon, terdengar suara manjanya, “Sayang, kepalaku sakit.”

Nathan kembali melirik tasbih di atas nampan. Jarinya mengelap di samping tubuhnya, tapi pada akhirnya tetap berbalik dan mengikuti perawat pergi.

Malam pun tiba dan hujan mulai turun.

Luka-luka lama Selina kembali terasa nyeri. Dia meringkuk di balik selimut, tubuhnya tak henti-hentinya gemetar.

Dulu, setiap kali hujan turun pada malam hari, Nathan selalu memeluk seluruh tubuhnya, menggunakan kehangatan tubuhnya untuk mengusir rasa dingin yang menyelimutinya.

Dia pernah dengan penuh cinta berkata, “Selina, semua luka ini ada karena diriku. Mulai sekarang, setiap kali malam hujan, aku akan selalu menemanimu.”

Namun kini, dia telah mengingkari janjinya.

Ponsel Selina bergetar. Hayle kembali mengirim pesan.

[Selina, ada wanita tua di rumahnya. Katanya dia mempertahankannya di rumah hanya karena ingin membalas budi. Aku kesal sekali, jadi menghukumnya berdiri di tengah hujan deras!]

Dalam video yang dikirim, terlihat Nathan berdiri di tengah hujan deras tanpa payung. Setelan jas mewahnya sudah basah kuyup dan melekat erat di tubuhnya, menampakkan garis tubuhnya yang ramping.

Kilatan petir sesekali menerangi wajahnya yang pucat dan keras kepala.

Selina menatap wajah yang begitu familiar dalam video. Tiba-tiba dia tertawa. Saat tertawa, air matanya malah menetes.

Membalas budi?

Jika benar ingin membalas budi, kok bukannya mendukung dirinya terbang bebas ke angkasa, pria itu malah menjadikan cinta sebagai sangkar untuk mematahkan kepakan sayapnya?

Di dalam ponselnya masih tersimpan pesan yang dikirim Nathan siang tadi, [Selina, aku ada rapat lintas negara, nggak perlu menungguku.]

Konyol sekali. Ternyata rapat lintas negara yang dimaksud adalah pergi menghibur wanita lain agar kembali tersenyum.

Selina memejamkan matanya penuh penderitaan, membiarkan air mata meresap basah ke dalam sarung bantal.

Saat terbangun keesokan harinya, pintu kamar tidur terdorong terbuka dengan pelan.

Nathan yang memakai pakaian santai melangkah masuk dengan kedua mata yang memerah.

Dia berjalan ke tepi ranjang, lalu dengan lembut menggenggam tangan Selina yang terbalut perban tebal dan bertanya, “Selina, siapa yang melukaimu? Jimmy mengganggumu lagi? Padahal aku sudah menyuruhnya….”

Saat tengah bicara, Nathan tersadar dirinya hampir keceplosan. Dia langsung mengecup kening Selina dan melanjutkan, “Selina, nanti aku ajak kamu jalan-jalan ke arena pacuan kuda, untuk membuang penat.”

“Siapapun yang melukaimu, aku pasti akan membalaskan dendammu.”

Selina menjawab pelan, “Nggak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri.”

Setelah itu, Nathan menunjukkan perhatian yang luar biasa. Membantu Selina mencuci wajah, menyuapinya sarapan sesuap demi sesuap, lalu mengganti obatnya dengan obat terbaik.

Selina hanya menatap kosong bekas kemerahan di leher Nathan. Dia membiarkan pria itu melakukan apa saja padanya, seperti boneka tanpa jiwa.

Arena berkuda milik Keluarga Gunawan terhubung langsung dengan lapangan golf.

Begitu tiba di sana, mereka langsung melihat sosok berpakaian putih di kejauhan. Hayle memakai rok pendek golf dan berdiri di samping seorang klien pria dengan senyuman terpaksa yang tampak tertekan.

Langkah kaki Nathan terhenti. Dia menoleh menatap Selina dengan nada suara yang dipaksakan santai,

“Dia itu asisten baru yang direkrut perusahaan. Ada perjanjian beasiswa dengan perusahaan kita dan baru lulus tahun ini.”

Selina tersenyum tipis dan bertanya, “Kamu nggak mau ke sana untuk melihatnya?”

Pandangan mata Nathan terkunci pada dirinya, raut wajahnya tampak begitu tulus, “Selina, kamu itu istriku. Yang lain nggak ada hubungannya denganku.”

Selina tak menjawab lagi. Dia menggenggam erat tali kekang, naik ke atas kuda, lalu melaju ke arah yang berlawanan.

Nathan ikut berkuda di sampingnya, tapi tatapannya terus-menerus tanpa sadar melayang ke arah lapangan golf. Dia tampak begitu tak fokus seolah kehilangan jiwanya.

Hingga akhirnya, dia melihat tangan klien pria itu hampir menyentuh pinggang Hayle. Nathan segera menarik tali kekang kudanya.

“Selina, tiba-tiba aku teringat ada telepon dari klien yang belum kubalas. Aku suruh staf menemanimu, ya.”

Selina mencibir, lalu memacu kudanya ke depan.

Saat berkuda sampai ke balik rimbun pepohonan yang tersembunyi, desah manja seorang wanita samar-samar terdengar.

Disusul dengan suara serak berat seorang pria yang terkekeh pelan, “Sayang, bagian mana saja yang disentuh dia? Bilang padaku, aku akan membersihkannya.”

“Jangan… jangan sentuh bagian sana….”

Suara wanita yang malu, bagaikan jarum halus yang menusuk tajam ke gendang telinga.

Selina menarik tali kekang kudanya, menatap lurus ke balik dedaunan yang renggang.

Dua sosok tubuh tampak saling berpelukan erat, tak lain adalah Hayle dan Nathan.

Rasa marah, jijik, putus asa… berbagai emosi bergolak hebat di dalam dadanya, hingga akhirnya semuanya berubah menjadi kesunyian yang mematikan.

Selina memutar kudanya, berniat pergi.

Namun tiba-tiba, kuda yang ditungganginya terkejut dan mulai berlari tak terkendali.

Selina menggenggam tali kekang sekuat tenaga, berusaha menenangkan kudanya.

Namun, sejumlah kuda di sekitar juga ikut panik, langsung membuat suasana menjadi kacau.

Para staf bergegas mendekat dengan panik, tapi tak seorangpun yang berani maju.

Tepat saat Selina hampir berhasil menenangkan kuda yang mengamuk itu, ‘plak’ tali kekangnya tiba-tiba putus.

Dorongan kuat itu membuat tubuhnya terlempar keras ke udara, lalu jatuh menghantam lantai.

Sesaat sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan, dia melihat wajah Nathan yang pucat dan mendengar teriakannya yang penuh kepanikan, “Selina.”

Namun, dia tetap melindungi Hayle yang ketakutan di dalam pelukannya erat-erat….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 23

    Acara wisuda kali ini, Selina tampil di atas panggung sebagai lulusan berprestasi untuk menyampaikan kata sambutan.Bintang yang dulu pernah redup itu, akhirnya menyingkirkan abu yang menutupinya, lalu bersinar terang di panggung yang memang menjadi miliknya.Di bawah panggung, Steven menggendong Luna yang sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Brian yang kini terlihat semakin dewasa dan tampan.Begitu kata sambutannya selesai, Brian naik ke panggung dan memberinya seikat bunga matahari yang cerah.Sementara itu, di sudut yang jauh, ada seorang pria yang masih dengan rakus menggambarkan setiap lekuk wajahnya.Selama tiga tahun, Nathan sudah datang ke Wiras sebanyak seratus enam puluh kali. Dia tak pernah melewatkan satu pun pertunjukan Selina.Pada hari Selina melahirkan, dia bahkan berlutut menaiki seribu anak tangga di sebuh kuil demi memohon sebuah tasbih baru untuknya.Namun, Selina tak pernah sekalipun menemuinya.Kondisi tubuh Nathan semakin memburuk. Dokter bilang depr

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 22

    Mimpi indah itu terputus oleh suara perawat.Nathan membuka matanya perlahan. Yang dilihatnya adalah wajah asistennya yang tampak agak murung.Begitu melihatnya tersadar, asistennya buru-buru melapor, “Pak Nathan, identitasmu bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya kita pulang lebih dulu.”Nathan mencabut jarum infus dan duduk, “Siapkan mobil, kita ke Keluarga Joman.”Sementara itu, Selina sedang menikmati buah ceri yang baru saja dicuci sendiri oleh Brian sambil berjemur di kursi santai.“Brian, waktu itu aku hanya menggunakanmu sebagai tameng karena keadaan mendesak. Jangan salah paham.”Steven memandangi Brian yang begitu rajin dengan wajah kesal.Brian mengambil selimut tipis dan meletakkannya di dekat tangan Selina, memastikan dia bisa meraihnya dengan mudah saat membutuhkannya.“Iya, aku nggak salah paham.”Melihat Brian seolah tak peduli dengan perkataannya, Steven pun menggeleng dan kembali melukis.Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Ketiga orang itu mel

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 21

    Keesokan harinya, saat keluar rumah, Selina baru menyadari bahwa ternyata Nathan belum pergi.Dia bersandar lesu di pintu mobil. Begitu melihat Selina, sorot matanya yang tadinya redup langsung kembali bersinar.“Selina, kamu mau pergi ke mana? Aku bisa mengantarmu.”Namun, Selina tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri.Nathan pun mengemudikan mobil dan mengikuti dari belakang dengan wajah muram.Dia tak percaya. Baru dua bulan berlalu, bagaimana mungkin Selinanya sudah jatuh cinta pada orang lain?Lagipula, semua masalah di antara mereka hanyalah salah paham. Selama Selina sudah tak marah lagi, dia pasti akan kembali ke sisinya.Baru setelah tersadar kembali, Nathan baru menyadari bahwa tujuan Selina adalah ke rumah sakit.Selina sakit? Untuk apa dia ke rumah sakit?”Sambil menyesali dirinya yang tak menyelidiki semuanya dengan lebih teliti, dia juga terus mengawatirkan kondisi Selina.Hingga akhirnya, dia mengikuti Selina masuk ke bagian ginekologi.Di sana, dia

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 20

    Selina sedang mengurus cuti kuliahnya. Beberapa hari belakangan ini, dia terus bolak-balik antara rumah dan kampus.Di tikungan dekat kampus, dia tak sengaja menabrak seseorang.Selina buru-buru berdiri tegak dan meminta maaf, “Maaf.”Namun, orang itu malah langsung memeluknya erat. Suaranya terdengar terisak, “Selina, akhirnya aku menemukanmu.”Mendengar suara itu, seluruh tubuh Selina menegang. Dia langsung mendorongnya menjauh, “Nathan, kok kamu bisa ada di sini?!”Wajah Nathan tampak terluka, dia menjelaskan, “Selina, terlalu banyak salah paham di antara kita. Bisakah kamu mendengar penjelasanku?”Mahasiswa yang berlalu-lalang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran.Selina membawanya ke sebuah kafe di dekat kampus.Dengan mata berkaca-kaca, Nathan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.Usai menjelaskan, dia hendak meraih tangan Selina. Suaranya terdengar tergesa-gesa, “Selina, aku dan Heyli hanya hubungan kontrak. Surat menikah kami itu palsu. Aku ditipu oleh kakek.”“He

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 19

    Steven mengangguk dengan agak malu.Dia segera mengalihkan topik, “Selina, sekarang kamu sudah kembali, sudah waktunya aku memperlihatkan bisnis keluarga padamu. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengelolanya.”Selina tak langsung membongkar niat kakaknya. Dia sudah mau mengambil kuas lagi, jadi sepertinya tak lama lagi dia juga akan bisa kembali berjalan.Bagaimanapun, dia tak ingin Steven terus terjebak dalam rasa bersalah.Tepat saat itu, sepiring steak yang sudah dipotong disodorkan padanya.Brian mengedipkan mata padanya.Melihat interaksi mereka, Steven pun menggertakkan giginya.“Brian, adikku nggak akan menikah keluar, hanya menerima pria yang mau menjadi menantu yang tinggal di rumah kami. Kamu nggak memenuhi syarat. Soal perjodohan dulu hanyalah candaan orang tua, jangan dianggap serius.”Sambil berkata begitu, Steven juga menuangkan semangkuk sup seafood untuk Selina.Namun entah kenapa, tiba-tiba perut Selina terasa mual dan berputar hebat.Melihat kondisinya yang tak beres, B

  • Saat Aku Belajar Mencintai Diriku Sendiri   Bab 18

    Hendra melemparkan tongkatnya hingga jatuh di dekat kaki Nathan, “Kurang ajar! Kamu berani melawan?!”Nathan menatapnya dengan dingin, “Kakek, kamu yang memaksaku melakukan semua ini. Aku hanya menyesal nggak mengambil keputusan ini lebih awal dan malah menyetujui syarat konyol yang kamu berikan.”Nathan menatap wajah kakeknya yang terlihat lebih tua dalam waktu singkat, lalu menghela napas pelan.“Kakek, sebenarnya kamu tahu sejak awal kalau Selina akan meninggalkanku, ‘kan? Karena itulah, kamu mengajukan satu syarat itu. Hanya aku yang masih bodoh dan percaya bahwa setelah semua ini selesai, aku bisa hidup tenang dengan Selina.”Nathan terdiam sejenak, seolah telah mengambil sebuah keputusan besar.“Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Selina, hubungan keluarga kita akan berakhir sampai di sini.”Usai bicara, Nathan menyuruh orang-orang membawa Hendra pergi.Setelah itu, dia menelepon seseorang, “Siapkan identitas baru untukku. Aku mau pergi ke Wiras.”“Harus tiga bulan kemudian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status