Share

75 | Rasa Bersalah

Author: MissLucky
last update publish date: 2026-09-12 21:46:13

Cahaya matahari pagi menembus celah tirai tipis, tetapi lorong rumah sakit itu masih terasa dingin dan sunyi.

Arash berdiri di dekat pintu ruang rawat. Di hadapannya kini ada, Dara, Bramantyo, Irawan, dan Melati baru saja tiba. Bramantyo duduk di kursi roda, sementara Irawan berdiri di belakangnya. Dara tampak paling gelisah. Sejak tiba, pandangannya tidak pernah lepas dari pintu ruang rawat tempat Gisel berada.

"Rash, Gisel benar-benar sudah sadar?" tanya Dara dengan suara bergetar. "Kondisiny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   99 | Biarkan Mereka Percaya

    Setelah menyelesaikan cuci piringnya, Bhaskar mengelap tangannya dengan serbet kering lalu berjalan menuju area taman belakang. Langkahnya terhenti sejenak ketika melihat Gisel yang sedang duduk bersila di atas rumput sintetis. Perempuan itu tampak memangku salah satu kucing Persian milik Neneknya, mengelus bulu tebal binatang itu dengan gerakan lembut. Raut wajah Gisel terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali Bhaskar menjemputnya di halte depan kompleks tadi subuh.Bhaskar melangkah mendekat dan menyandarkan tubuhnya pada tiang kanopi di dekat Gisel.“Sel,” panggil Bhaskar pelan.Gisel mendongak, jemarinya seketika berhenti. “Kenapa, Kak?”“Kamu kapan mau pulang?” tanya Bhaskar dengan nada santai.Gisel kembali menunduk, mengelus punggung kucing itu lagi. “Belum tahu, Kak. Untuk sementara aku mau menginap di sini dulu.” Gisel kemudian mendongak lagi, menatap Bhaskar dengan rasa penasaran. “Kenapa emangnya, Kak?”Bhaskar hanya tersenyum dan menggeleng kecil. “Enggak a

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   98 | Menikmati Sejenak Ketenangan

    Pagi itu, udara segar kawasan Bogor menyambut kedatangan mereka. Motor sport berwarna hitam yang dikendarai Bhaskar perlahan memasuki pekarangan sebuah rumah berarsitektur klasik yang megah dan asri. Taman luas dengan pepohonan rindang mengelilingi bangunan dua lantai tersebut, memberikan nuansa hangat sekaligus tenang di tengah kesunyian pagi.Motor akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Gisel perlahan turun, lalu mengangkat kedua tangan untuk membuka pengait helm di bawah dagunya. Namun, jemarinya sedikit kesusahan membuka pengait itu.Bhaskar, yang masih duduk di atas motor, memperhatikan Gisel dari balik kaca spion. Pria itu menyunggingkan senyum tipis."Bisa, Sel?" tanya Bhaskar.Gisel mengangguk kecil tanpa menoleh. Jemarinya masih sibuk mencoba membuka pengait helmnya. "Bisa, Kak."Beberapa detik berlalu, tetapi helm itu masih belum terlepas. Gisel akhirnya mengembuskan napas kesal.Melihat hal itu, tawa kecil lolos dari bibir Bhaskar. "Gak bisa, kan?"Gisel akhirnya menurunka

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   97 | Untuk Terakhir Kalinya

    Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Arash berniat mencari Gisel. Namun kabar tentang Hendra membuat seluruh rencana itu kembali tertunda. Arash masih mematung di tempatnya. Tangannya yang memegang ponsel perlahan turun ke sisi tubuh. Matanya menatap Rian dengan sorot mata penuh tidak percaya. “Apa maksudmu ditemukan, Rian?” Suara Arash terdengar berat. “Jelaskan.” Rian menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Pihak kepolisian Singapura baru saja menghubungi saya, Pak. Mereka menemukan jasad yang tersangkut di antara dermaga tua. Lokasinya tidak jauh dari tempat penyekapan Bu Gisel dua minggu lalu.” Kalimat itu seketika membuat Arash terdiam. Kejadian dua minggu lalu di Singapura, ketika Pak Hendra mendampingi Gisel untuk mencari keberadaan Dara yang dikabarkan berada dalam bahaya, justru berakhir menjadi petaka. Selama dua minggu, tidak ada seorang pun yang tahu apakah pria itu masih hidup atau tidak. Namun pagi ini, sebuah jasad ditemukan di lokasi

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   96 | Menepi Sejenak

    Satu Jam Sebelumnya...Tepat pukul tiga pagi, kompleks perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan masih begitu sepi. Lampu-lampu jalan menerangi deretan rumah mewah yang nyaris tak menunjukkan aktivitas. Hanya suara kendaraan yang sesekali melintas dari jalan utama yang terdengar di tengah kesunyian.Gisel berjalan pelan menyusuri trotoar jalan utama kompleks. Ia hanya mengenakan sweater rajut longgar dan celana panjang, tanpa membawa tas besar maupun koper. Di dalam sakunya hanya ada ponsel dan dompet kecil.Setibanya di luar gerbang utama kompleks, Gisel melangkah menuju sebuah halte bus yang sepi di pinggir jalan raya. Ia duduk di bangku besi yang dingin, lalu merapatkan sweaternya saat hembusan angin menerpa wajahnya yang pucat.Matanya yang sembab menatap kosong ke arah jalanan yang masih lengang.Ia tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya. Ia tahu betul, jika pergi ke sana, Mamanya pasti akan bertanya macam-macam. Situasi juga akan semakin rumit jika Arash menyusulnya ke rumah

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   95 | Kembali

    SUV hitam itu berhenti mendadak di depan rumah Laras. Rian bahkan belum sempat mematikan mesin ketika Arash sudah membuka pintu dan turun dari mobil.Beberapa mobil polisi dan ambulans sudah ada di pekarangan rumah. Garis polisi terpasang di sekitar pintu utama, sementara sejumlah petugas masih bergerak keluar-masuk.Arash langsung mempercepat langkah menuju pintu utama yang rusak akibat didobrak.Begitu melewati pintu tersebut, pemandangan di ruang tamu membuat langkahnya melambat sejenak.Pecahan vas bunga keramik berserakan di lantai marmer. Ruang tamu itu terlihat berantakan setelah yang terjadi beberapa menit lalu. Salah satu pengawal yang terluka kini duduk bersandar dengan lengan yang sudah dibalut kain kasa oleh petugas medis. Kini ia sedang memberikan keterangan kepada seorang polisi.Namun, perhatian Arash segera beralih kepada sosok wanita yang terduduk diam di sofa.Laras.Suara langkah Arash yang mendekat membuat Laras mendongak pelan. Matanya yang sembab dan merah langsu

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   94 | Kelemahan Arash

    Laras membeku di tempat.Untuk beberapa saat, ia hanya mampu menatap pria yang berdiri di hadapannya. Jantungnya berdegup begitu keras sampai suara detaknya terasa memenuhi telinga.Pak Lukman.Bagaimana mungkin pria yang sedang jadi buronan itu bisa berada di dalam rumahnya?Senyum miring terukir di bibir pria itu. “Kaget melihat saya ada di rumah kamu, Laras?” suara Pak Lukman terdengar berat dan parau, tetapi masih cukup jelas di tengah kesunyian rumah.Laras mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding tembok yang dingin. Tangannya yang gemetar mencengkeram ujung cardigan yang melekat di tubuhnya. Napasnya terasa sesak dan sulit diatur.“Pak... Pak Lukman? Bagaimana Bapak bisa ada di dalam rumah saya?” bisik Laras dengan suara tercekat.“Kamu tidak perlu tahu. Saya sudah ada di sini sejak tadi menunggu kamu,” jawab Lukman sambil tertawa. “Kamu terlihat sangat rapuh Laras, sama rapuhnya dengan perlindungan yang diberikan Arash untuk kamu.”Pak Lukman melangkah maju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status