Masuk
“Bisa kau jelaskan apa ini?”
Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap menjerit merasakan sakit luar biasa.
Asher Lennox masih berdiri kokoh di depannya, dengan tatapan dingin dan ekspresi datar di balik wajah tampan serta arogan. Tak ada gejolak emosi yang tampak di sana, tetapi ketenangannya bagaikan ombak yang menyapu bersih pinggir pantai.
“Dari mana kau dapat foto itu?” tanya Asher dengan nada dingin, tak acuh.
Mata Adeline berkaca-kaca. “Ada paket yang berisikan foto-foto ini. Katakan padaku, siapa wanita yang bersama denganmu, Asher? Dan kenapa kalian ada di dokter kandungan?”
Asher menatap dingin foto yang ditunjukkan oleh Adeline. “Itu Talia. Dia sedang hamil,” jawabnya singkat, tanpa memikirkan perasaan Adeline.
Jantung Adeline bagaikan telah ditikam oleh belati tajam. “T–Talia hamil? M–maksudmu Talia mantan kekasihmu?” tanyanya lagi meminta penjelasan.
Asher mengangguk, menanggapi pertanyaan Adeline. “Ya, Talia, mantan kekasihku hamil. Dan ayah yang ada di kandungannya adalah aku.”
Mata Adeline membolakan kedua mata begitu kalimat dengan nada dingin itu terucap dari bibir suaminya. Jantungnya serasa berhenti berdetak, disusul rasa dingin menusuk yang mencabik setiap sudut hatinya.
“A–apa maksudmu, Asher?” tanya Adeline, dengan suara nyaris seperti bisikan. Bisikan antara keterkejutan dan rasa tidak percaya yang terlalu menohok. Kedua matanya memanas dengan cepat, mencoba memandang seraut wajah dingin di depannya.
Asher menatap dingin Adeline. “Kalimatku sudah sangat jelas. Talia hamil. Dia saat ini mengandung anakku.”
Adeline menggelengkan kepalanya, meyakinkan apa yang dia dengar ini adalah kesalahan. Kakinya sudah seperti jelly yang tak bisa lagi berdiri tegak. Dia sampai memegang pinggir sofa, guna memperkokoh pijakan kakinya di lantai marmer.
“K–kau mengkhianatiku?” tanya Adeline lirih, menahan sesak di dada yang seperti membakar dirinya.
“Sepertinya kau tahu sejak awal, aku tidak pernah mencintaimu. Pernikahan ini terjadi, karena permintaan keluarga kita,” jawab Asher dingin, dan tegas.
Lidah Adeline tiba-tiba saja mendadak kelu mendengar kalimat keji terlontar dari sang suami yang begitu dia cintai. Ya, pernikahannya dengan Asher masih terhitung sangat baru.
Satu tahun ini mereka resmi terikat sebagai pasangan suami istri. Meski pernikahan mereka datang karena perjodohan orang tua, Adeline diam-diam telah mencintai Asher dengan sepenuh hatinya. Namun, sebaliknya. Asher memang bersikap tanggung jawab penuh sebagai seorang suami, sayangnya Adeline tidak bisa menemukan sedikit pun cinta dalam setiap tindakan pria itu. Membuat mereka bak orang asing yang terpaksa hidup satu rumah.
Adeline selama ini meneguhkan prinsip di mana suatu saat Asher akan berubah lebut, mencintainya dengan luar biasa. Akan tetapi, alih-alih berubah fakta yang dia dapatkan adalah Asher dengan kejam terang-terangan mengatakan telah menghamili wanita lain.
“Katakan padaku bahwa semua yang kau katakan ini hanya bercanda,” jawab Adeline berharap sambil menggeleng tegas, meyakinkan bahwa apa yang dikatakan suaminya hanya omong kosong.
“Apa selama kita menikah aku adalah pria yang suka bercanda?” tanya Asher telak, sukses membuat Adeline tak bisa berkutik.
Adeline menundukkan kepala, air matanya sudah tak lagi tertahankan. “K–kenapa?” tanyaanya parau.
“Aku mencintai Talia. Sejak awal, aku yakin kau tahu aku tidak pernah mencintaimu,” jawab Asher tajam.
Adeline mati-matian berusaha keras menahan air mata yang nyaris tumpah. Namun, sayangnya air matanya tak bisa diajak bekerja sama. Dia meneteskan air mata, menyadari bahwa memang dia sudah kalah.
“Aku sudah meminta pengacara kita mengurus perceraian kita. Tapi, ternyata sebelum aku memberi tahu, sudah ada yang mengirimkan fotoku dan Talia. Jadi, aku rasa tidak perlu lagi aku menunggu. Aku ingin kita berpisah. Talia membutuhkanku,” kata Asher lagi, membuat tubuh Adeline terguncang.
“K–kau lebih memilih Talia?” tanya Adeline lagi, dengan kepala yang tertunduk lesu.
Asher mengangguk singkat. “Talia hamil anakku, aku tidak mungkin tidak memilihnya. Sejak awal pernikahan kita terjadi karena perjodohan orang tua, bukan keinginan kita. Sekarang kedua orang tua kita sudah tidak ada, jadi aku membebaskanmu dari ikatan yang membelenggu ini.”
Setiap kata yang terucap dari bibir pria itu seperti mengandung racun mematikan yang diteguk Adeline dengan pasrah. Matanya sejak tadi sudah berkaca-kaca, tetapi wanita 27 tahun itu tetap mempertahankan diri dengan mengusahakan agar air matanya tidak jatuh sekarang juga.
“Dalam waktu dekat, pengacaraku akan menghubungimu. Jangan persulit proses cerai ini. Aku akan memberikan kompenasasi untukmu,” sambung Asher, masih dengan nada dinginnya yang menambah rasa sakit di hati Adeline.
Namun, Adeline masih diam membisu dengan tatapan rumit tanpa kedip. Bayangan acak terus muncul dan menyesakkan kepalanya. Muncul secara bergantian, menumpuk, memutar secara cepat seluruh perjalanan mereka yang teramat singkat.
Satu tahun usia pernikahan mereka. Masih terhitung seumur jagung. Keduanya pun tidak memiliki waktu pendekatan cukup karena pernikahan langsung diadakan tanpa aba-aba. Meski begitu, Adeline tidak bisa menahan hatinya yang langsung jatuh pada pesona Asher.
Asher memiliki wajah tampan rupawan, dengan sikap dingin dan dominasi yang kental. Namun, pria itu tahu tanggung jawab dan memperlakukan Adeline dengan baik. Selama menikah, Asher memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai suami.
Adeline tak pernah merasa dicintai oleh Asher. Namun, dia tetap bertahan menjadi istri yang baik, karena yakin bahwa kelak mungkin saja Asher akan menjadi suami yang mencintainya dengan luar biasa.
Kenyataan yang ada impian Adeline hanyalah angan semata. Ternyata di belakangnya, suaminya itu diam-diam kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasih suaminya itu. Dia mengenal Talia, karena dulu hubungan Asher dan Talia tak direstui oleh keluarga Asher.
Bisa dikatakan bahwa perpisahan Asher dan Talia terjadi, karena orang tua Asher meminta pria itu untuk menikah dengan Adeline. Namun, Adeline tak pernah menyangka kalau ternyata Asher berani mengkhianatinya seperti ini.
“Harusnya jika kau mencintai Talia, pertahankan dia. Jangan menerima permintaan orang tuamu yang ingin aku menjadi istrimu,” ucap Adeline dengan nada bergetar.
Asher terus menatap dingin Adeline yang sejak tadi meneteskan air mata. Ada sesuatu di dalam hatinya, melihat wanita itu menangis, tetapi logikanya langsung berjalan bahwa ini memang yang dia inginkan.
“Ribuan kali aku menolak perjodohan denganmu. Tapi orang tuaku selalu mendesak bahkan tidak jarang memberikan ancaman menyudutkan. Sementara kau seperti orang idiot yang menurut pada orang tuamu. Kau dan aku tidak berada di posisi yang sama!” tegas Asher menekankan.
Adeline mengangguk, menyadari bahwa memang dirinya bodoh. Dia begitu mudah menerima perjodohan dengan Asher, padahal pria itu berkali-kali menolak. Kepolosannya menganggap bahwa Asher kelak akan mencintainya. Namun, ternyata bukan cinta yang dia dapatkan. Hal yang dia dapatkan hanya luka yang begitu dalam.
“Fine, jika itu maumu, akan aku penuhi. Kapan pengacaramu akan menghubungiku?” tanya Adeline seraya terus berusaha menguatkan diri.
“Secepatnya pengacaraku akan menghubungiku. Setelah kita berpisah, kau bisa tetap tinggal di mansion ini. Mansion ini untukmu,” ucap Asher dingin, dan menegaskan. Detik selanjutnya, dia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Adeline yang masih bergeming di tempatnya.
Tubuh Adeline langsung ambruk tepat di kala Asher pergi. Wanita cantik itu duduk di lantai marmer dingin, memeluk lututnya, menangis sekencang-kencangnya. Air mata berlinang membasahi pipi. Dia menumpahkan gejolak emosi yang mengekang jiwa.
Asher, pria yang menjadi cinta pertamanya, dan telah menjadi suaminya ternyata adalah orang yang menghancurkan Adeline. Cinta tak terbalas seperti mawar berduri. Akan ada bagian yang terlihat indah, tetapi akan ada yang terluka.
“Bagaimana kalau kau tahu bukan hanya Talia yang hamil, Asher?” bisik Adeline pilu, seraya memegang perutnya yang masih rata.
Jauh dari hiruk-pikuk kekacauan di pusat lokasi syuting—terhalang oleh rimbunnya deretan pohon pinus dan pagar pembatas yang mengitari area luar studio—sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir tanpa mencolok di balik bayang-bayang. Kaca jendela mobil yang dilapisi film super gelap membuat bagian dalamnya benar-benar tak tembus pandang dari luar.Tampak di dalam kabin yang sejuk berkat pendingin ruangan, suasana justru terasa panas membakar. Seorang wanita bergaun elegan duduk di kursi belakang dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang meluap-luap. Jari-jarinya yang mengenakan manikur mewah mencengkeram erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang mata yang tajam menatap lurus ke arah layar iPad di pangkuannya—memantau siaran langsung atau informasi samar dari kejauhan.Rencananya sempurna. Eksekusinya sudah dirancang sedemikian rupa. Rem mobil itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk melenyapkan Adeline selamanya, membuat wanita itu hancur di
Posisi Adeline dan Asher cukup intim. Mereka malah saling menatap satu sama lain, seolah tidak ada siapa pun di sana, tetapi yang pertama kali menyadari dan memutus tatapan adalah Adeline. Wanita itu dengan sisa tenaganya mendorong dada bidang Asher—walau tak bisa membuat pria itu berpindah, tapi bisa membuat pria itu sadar. Asher yang menyadari bahwa posisinya dan Adeline sangat intim, dia segera bangkit berdiri, dan membantu Adeline untuk berdiri juga, tapi sayang kaki Adeline masih lemas, sehingga tak bisa berdiri tegak. Detik itu dengan sigap, Asher merengkuh pinggang Adeline, membantu wanita itu tetap berdiri tegak, dan kali ini Adeline tak bisa berkutik atau membantah akibat lengkingan suara Adam mengamuk jauh lebih keras dan menggema di area outdoor tersebut.Ya, apa yang terjadi cukup menegangkan dan membuat jantung semua orang berhenti berdetak. Semua begitu cepat, dan hal yang pasti terlambat sedikit saja, nyawa akan melayang. Tampak di tengah kerumunan kru yang masih terp
Mobil yang dikemudikan oleh Nora berhenti mulus di tepi area set lokasi syuting outdoor yang sudah dipadati kesibukan pagi itu. Begitu pintu terbuka, Adeline melangkah turun, disambut oleh udara luar yang cukup sejuk dan hiruk-pikuk para kru yang hilir mudik membawa peralatan syuting. Nora juga turun, dia berjalan sigap sambil menenteng naskah dan segelas kopi hangat.Namun, langkah kaki Adeline mendadak terhenti seketika. Matanya menangkap sosok seorang pria tinggi gagah memakai mantel desainer kelas atas yang tengah berdiri di dekat area monitor sutradara.Asher.Kening Adeline berkerut samar. Kehadiran pria itu di lokasi syuting film sepagi ini tentu bukan sebuah kebetulan biasa. Pria itu menoleh sekilas, dan tatapan tajam mereka berdua sempat beradu di udara selama beberapa detik sebelum Adeline buru-buru mengalihkan pandangannya, menegakkan dagu demi menjaga profesionalismenya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis segala rasa penasaran dan ketidaknyamanan yang mendadak
Ketenangan malam di apartemen seketika buyar oleh suara rintihan tertahan yang lolos dari kamar tidur kembar. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan Adeline yang baru saja melepas penat setelah seharian berkutat dengan naskah dan persiapan syuting, langsung terbangun dari tidur pulasnya. Dia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran di tengah ruangan yang hanya diterangi lampu tidur temaram.Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar Adeline terdengar pelan, tapi terasa begitu mendesak dan penuh kecemasan.Adeline langsung bangkit duduk, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Masuk,” panggilnya seraya menyibak selimut dan bergegas melangkah turun dari ranjang.Begitu pintu terbuka, wajah pucat dan panik Marie, sang pengasuh setia, langsung menyambut pandangan Adeline. “Nyonya, maafkan saya mengganggu istirahat Anda malam-malam begini. Tapi ... ini gawat. Aurelie mendadak demam tinggi.”Adeline terkejut mendengar itu, tapi fanpa membuang waktu sedetik pun, dia berlari
Suasana kelab malam yang tadinya terasa bising dan penuh gairah mendadak berubah drastis menjadi mencekam bagi Talia. Darahnya serasa berdesir hebat, dan napasnya tercekat di tenggorokan begitu dia mengenali sosok pria yang berdiri tepat di hadapannya. Kilau lampu disko yang remang-remang menyoroti wajah pria itu, memperlihatkan senyum penuh rahasia yang selalu berhasil membuat Talia merasa terintimidasi.Pria itu adalah bayangan yang paling ingin dia kubur dalam-dalam.Refleks pertahanan diri Talia langsung bangkit. Alih-alih menyapa atau membalas senyuman itu, tubuhnya berbalik dengan gerakan secepat kilat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dia menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa, berusaha melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin sebelum pria itu berhasil menjeratnya dalam percakapan berbahaya.Namun, gerakan pria itu jauh lebih cepat dari perkiraannya. Sebelum Talia sempat melangkah jauh, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat, menahan la
Jarum jam di dinding kamar mewah itu telah menunjuk tepat pada pukul dua belas malam. Kesunyian malam yang pekat membungkus ruangan luas tersebut, tapi tidak mampu menenangkan gejolak emosi di dada Talia. Di atas tempat tidur berseprai satin, Talia terus-menerus menatap layar ponselnya yang menyala terang di tengah kegelapan. Jari-jarinya yang terawat menari gelisah di atas layar, mengetik ulang nomor yang sama untuk kesekian kalinya. Dia sudah menelepon Asher berulang kali, tetapi panggilannya sama sekali tidak direspons. Nada sambung yang monoton terus berdengung tanpa ujung, seolah mengejek kesabarannya yang kini telah habis terkikis.“Sialan. Kenapa dia tidak mau mengangkat teleponku?” desis Talia kesal, melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang dengan perasaan jengkel yang teramat sangat.Harga dirinya terluka hebat. Sebagai wanita yang terbiasa mendapatkan atensi penuh dan diprioritaskan dalam segala hal, diabaikan oleh Asher adalah bentuk penghinaan paling memualkan yang p
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du







