Mag-log in“Adeline, kau benar-benar tidak apa-apa, kan? Maksudku, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang juga. Mungkin saja ada luka dalam atau cedera tersembunyi yang belum terasa karena kau masih shock. Aku khawatir setengah mati padamu. Kalau sampai hal buruk terjadi padamu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri,” ucap Nora dengan napas tersengal.Nora menatap Adeline dengan tatapan penuh gelisah, berkali-kali dia memeriksa kondisi fisik atasannya dari ujung kepala hingga kaki. Meski secara kasat mata Adeline terlihat baik-baik saja dan tidak ada darah yang mengalir, rasa cemas di dada Nora tidak serta-merta mereda. Insiden maut yang terjadi di lokasi syuting hari benar-benar di luar nalar, sebuah kecelakaan yang tak pernah disangka-sangka bisa merenggut nyawa dalam hitungan detik.Adeline tersenyum tipis, berusaha menenangkan wanita yang setia mendampinginya itu. “Aku baik-baik saja, Nora. Tarik napasmu dalam-dalam. Anggap saja apa yang terjadi hari ini adalah musibah kecelak
Lokasi syuting mendadak seperti diselimuti ketegangan. Adeline telah dibawa ke ruang istirahat ditemani oleh Nora yang tentu saja tak mungkin jauh darinya, lalu Asher turut menemani, sedangkan Raphael bergeming di tempatnya dilanda dengan perasaan yang campur aduk.Adam di sana jelas tampak sangat marah. Apalagi Cole secara terang-terangan terus menyalahkan Adam atas apa yang telah terjadi. Sementara si sopir yang menjadi pengendara mobil telah diamankan. Kepolisian masih belum turut disertakan, karena khawatir akan membuat situasi masih panas. Lebih tepatnya masih dalam pemeriksaan internal, sebelum benar-benar polisi turut disertakan.“Adam, kau benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa kau memilih pemeran yang menjadi sopir tapi malah tidak becus?! Dan bagaimana bisa adanya sabotase? Kau tahu kalau sampai hal buruk terjadi pada Adeline, film ini akan berantakan! Adeline adalah pemeran utama, Adam! Kau ingin karier-mu hancur, hah?!” bentak Cole tak main-main.Sejak tadi, Cole sudah menahan
Jauh dari hiruk-pikuk kekacauan di pusat lokasi syuting—terhalang oleh rimbunnya deretan pohon pinus dan pagar pembatas yang mengitari area luar studio—sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir tanpa mencolok di balik bayang-bayang. Kaca jendela mobil yang dilapisi film super gelap membuat bagian dalamnya benar-benar tak tembus pandang dari luar.Tampak di dalam kabin yang sejuk berkat pendingin ruangan, suasana justru terasa panas membakar. Seorang wanita bergaun elegan duduk di kursi belakang dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang meluap-luap. Jari-jarinya yang mengenakan manikur mewah mencengkeram erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang mata yang tajam menatap lurus ke arah layar iPad di pangkuannya—memantau siaran langsung atau informasi samar dari kejauhan.Rencananya sempurna. Eksekusinya sudah dirancang sedemikian rupa. Rem mobil itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk melenyapkan Adeline selamanya, membuat wanita itu hancur di
Posisi Adeline dan Asher cukup intim. Mereka malah saling menatap satu sama lain, seolah tidak ada siapa pun di sana, tetapi yang pertama kali menyadari dan memutus tatapan adalah Adeline. Wanita itu dengan sisa tenaganya mendorong dada bidang Asher—walau tak bisa membuat pria itu berpindah, tapi bisa membuat pria itu sadar. Asher yang menyadari bahwa posisinya dan Adeline sangat intim, dia segera bangkit berdiri, dan membantu Adeline untuk berdiri juga, tapi sayang kaki Adeline masih lemas, sehingga tak bisa berdiri tegak. Detik itu dengan sigap, Asher merengkuh pinggang Adeline, membantu wanita itu tetap berdiri tegak, dan kali ini Adeline tak bisa berkutik atau membantah akibat lengkingan suara Adam mengamuk jauh lebih keras dan menggema di area outdoor tersebut.Ya, apa yang terjadi cukup menegangkan dan membuat jantung semua orang berhenti berdetak. Semua begitu cepat, dan hal yang pasti terlambat sedikit saja, nyawa akan melayang. Tampak di tengah kerumunan kru yang masih terp
Mobil yang dikemudikan oleh Nora berhenti mulus di tepi area set lokasi syuting outdoor yang sudah dipadati kesibukan pagi itu. Begitu pintu terbuka, Adeline melangkah turun, disambut oleh udara luar yang cukup sejuk dan hiruk-pikuk para kru yang hilir mudik membawa peralatan syuting. Nora juga turun, dia berjalan sigap sambil menenteng naskah dan segelas kopi hangat.Namun, langkah kaki Adeline mendadak terhenti seketika. Matanya menangkap sosok seorang pria tinggi gagah memakai mantel desainer kelas atas yang tengah berdiri di dekat area monitor sutradara.Asher.Kening Adeline berkerut samar. Kehadiran pria itu di lokasi syuting film sepagi ini tentu bukan sebuah kebetulan biasa. Pria itu menoleh sekilas, dan tatapan tajam mereka berdua sempat beradu di udara selama beberapa detik sebelum Adeline buru-buru mengalihkan pandangannya, menegakkan dagu demi menjaga profesionalismenya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis segala rasa penasaran dan ketidaknyamanan yang mendadak
Ketenangan malam di apartemen seketika buyar oleh suara rintihan tertahan yang lolos dari kamar tidur kembar. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan Adeline yang baru saja melepas penat setelah seharian berkutat dengan naskah dan persiapan syuting, langsung terbangun dari tidur pulasnya. Dia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran di tengah ruangan yang hanya diterangi lampu tidur temaram.Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar Adeline terdengar pelan, tapi terasa begitu mendesak dan penuh kecemasan.Adeline langsung bangkit duduk, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Masuk,” panggilnya seraya menyibak selimut dan bergegas melangkah turun dari ranjang.Begitu pintu terbuka, wajah pucat dan panik Marie, sang pengasuh setia, langsung menyambut pandangan Adeline. “Nyonya, maafkan saya mengganggu istirahat Anda malam-malam begini. Tapi ... ini gawat. Aurelie mendadak demam tinggi.”Adeline terkejut mendengar itu, tapi fanpa membuang waktu sedetik pun, dia berlari
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,







