เข้าสู่ระบบKata-kata itu meluncur bagai bilah pisau beracun yang menghujam jantung Asher tanpa ampun. Dada pria itu naik-turun dengan cepat. Napasnya menderu berat, memburu oksigen di ruangan yang mendadak terasa begitu sesak. Jemarinya yang tadi meremas kertas kini gemetar hebat—bukan karena ragu, melainkan karena gelombang amarah yang teramat membentang, kemarahan yang tak terkendali hingga mencapai ubun-ubun, siap meledak menghancurkan apa saja.Brak!Dengan satu sentakan brutal, Asher menghantamkan kepalan tangannya ke atas permukaan meja kerja yang tebal. Dentuman keras itu menggema di seluruh sudut ruangan.“Sialan ...,” geram Asher tertahan, suaranya keluar begitu serak, bagaikan raungan binatang buas yang terluka parah.Rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar lehernya menonjol keluar. Mata tajamnya menyala merah oleh amarah yang tak terperi. Dia sudah merasa ada yang janggal sejak bertemu dengan kembar. Dan sekarang semua terbongkar. Bahkan hasil test DNA yang pertama kali telah d
Nora menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru sambil mendengkus kesal. Dia melipat kedua tangan di depan dada, sementara napasnya masih memburu menahan sisa-sisa amarah akibat ulah Isolde di luar tadi.“Wanita itu benar-benar tahu cara menguji batas kesabaranku, Adeline,” sungut Nora tajam, matanya melirik ke arah cermin tempat sahabat sekaligus artinya duduk tenang. “Kalau bukan karena reputasi kita yang sedang dipertaruhkan, sudah kujejalkan naskah tebal tadi ke mulut sampahnya!”Adeline tidak langsung menjawab. Dia mengangkat wajahnya sedikit, menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu dressing room. Jari-jarinya yang lentik terulur merapikan letak anting di telinganya. Meski wajahnya tampak tenang bagai air di danau yang datar, jauh di dalam hatinya badai kecil sempat bergolak. Namun, Adeline adalah wanita yang tahu persis kapan harus menyimpan tenaga dan kapan harus menyerang.“Biarkan dia menggonggong sepuasnya, Nora,” suara Adeline mengali
“Morning, Adeline, bagaimana kabarmu?” Kalimat pertama yang diucapkan Isolde begitu melihat Adeline datang ke lokasi bersama dengan Nora—yang tentu saja tak mungkin membiarkan Adeline datang ke lokasi syuting sendirian setelah berbagai drama dan ancaman terselubung yang belakangan ini kerap terjadi.Adeline tampak malas menanggapi ucapan Isolde. Hanya saja, meski rasa jengah merayap di dadanya, ia tetap mempertahankan ketenangannya. Dia membalas sapaan itu dengan sorot mata dingin yang cukup menusuk, menatap lurus pada Isolde yang berdiri di hadapannya sambil menyilangkan tangan di dada, jemarinya dengan angkuh memainkan helaian rambut yang telah ditata sempurna oleh penata gaya.“Seperti yang kau lihat, aku baik,” jawab Adeline dingin, sengaja memangkas jarak toleransi dan menolak basa-basi pada wanita itu, yang sudah sangat ia hafal perangainya—selalu mencari celah untuk memancing emosi dan menciptakan masalah.Isolde tersenyum anggun, sebuah senyuman plastik yang sama sekali tidak
Pagi itu, Adeline berdiri diam di dekat jendela besar ruang tamu sambil menggenggam cangkir teh hangatnya. Sinar matahari pagi menerobos masuk, menyinari buket bunga mawar merah tanpa nama yang sejak semalam bertengger menonjol di atas meja. Aroma manis khas mawar bercampur harum teh melati menguar di udara, namun sama sekali tidak mampu menenangkan gejolak di dada Adeline.Pandangannya tertuju lekat pada buket bunga itu, sementara pikirannya masih dipenuhi rasa heran dan sedikit kegelisahan yang tak beralasan atas sosok misterius yang meninggalkannya di depan pintu larut malam tadi.Suara denting bel dan ketukan pintu yang teratur seketika memecah lamunannya. Adeline menarik napas dalam-dalam, melangkah mendekat, lalu memutar gagang pintu dan membukanya perlahan.Nora melangkah masuk dengan gaya sigapnya yang biasa, membawa tas tangan kulit dan memancarkan aura manajer yang selalu siap bekerja, padahal hari ini adalah hari libur. Namun, begitu melangkah melewati ambang pintu dan matan
Kemegahan arsitektur klasik dan kemewahan interior mansion Lennox malam itu terasa begitu menyesakkan dada bagi Talia. Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit ruang utama seolah memantulkan bayangan kegelisahan yang tengah berkecamuk di dalam hatinya. Suasana rumah yang biasanya terasa megah dan menenangkan kini mendadak berubah menjadi sangkar emas yang pengap.Talia mondar-mandir di atas karpet wol tebal di dalam kamarnya, napasnya memburu dan dadanya naik-tak beraturan. Jemarinya yang berhiaskan cincin berlian mahal tampak bergetar hebat saat dia menggenggam erat ponselnya. Bertemu dengan Jack Drawn di Brooklyn tadi pagi benar-benar sukses merontokkan seluruh pertahanan mental yang selama ini dia bangun dengan susah payah di hadapan Asher.Pria itu tahu segalanya. Jack memegang kartu As yang bisa menghancurkan hidupnya kapan saja, merobek seluruh fasad kesempurnaan yang dia tampilkan sebagai Nyonya Lennox.“Sialan ... sialan!” geram Talia tertahan, menggigit k
Keheningan yang dingin dan berat langsung menyelimuti ruang kerja berarsitektur modern-klasik milik Asher. Suara detak jarum jam dinding berbingkai tembaga seolah terdengar kian memburu, beradu dengan aroma kayu jati segar, kulit interior, dan keharuman maskulin yang kental.Asher tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit berkualitas tinggi, mengerutkan kening sembari menatap pria bernama Jack Drawn dengan sorot mata biru yang tajam dan tak tersentuh. Jemari tangannya yang kokoh mengetuk-ngetuk permukaan meja mahoni dengan irama lambat namun teratur—sebuah gerakan refleks dari refleks naluriah predator puncak yang sedang mengamati pergerakan sosok asing di wilayah kekuasaannya.Laporan yang dia dengar tadi menyebutkan bahwa Jack Drawn bukanlah orang sembarangan. Pria itu memiliki cengkeraman kuasa yang cukup mematikan di industri jaringan komersial luar negeri. Namun, aura yang dibawanya masuk ke dalam ruangan ini terasa begitu mengganggu, seol
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Tangan Adeline bergetar di kala memegang surat cerai yang baru saja dia terima dari pengacara suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca tak sanggup menahan air mata. Pasokan oksigen seakan mulai menipis akibat sesak yang ditimbulkan oleh rasa terkejut ini.Wanita itu tahu bahwa dia akan segera dikirim s
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







