Se connecter“Mom, sudah kembali?” tanya Aurelie begitu melihat ibunya masuk ke dalam apartemen. Nadanya polos, dengan tatapan penuh tanya. Gadis kecil itu tampaknya tak langsung masuk ke dalam kamar. Dia malah duduk di ruang tamu bersama dengan Leo, seakan memang menunjukkan dia menunggu ibunya untuk pulang.Adeline bermaksud langsung ingin kembali ke kamar, tetapi dia memekik terkejut di kala kedua anak kembarnya malah menunggunya. Dia masuk ke dalam apartemen dalam keadaan melamun. Jadi, kalau dia terkejut hal tersebut adalah wajar.“Ya Tuhan, kenapa kalian tidak di kamar?” tanya Adeline dengan embusan napas panjang sekaligus menyentuh dadanya sebentar di kala merasakan debar jantungnya berpacu agak lebih kencang akibat keterkejutan itu.“Kami menunggu Mommy,” jawab Aurelie dengan senyuman di wajahnya.“Ya, kami menunggu Mommy,” sambung Leo yang berdiri tepat di samping Aurelie.Marie yang ada di sana segera menatap sopan sang majikan. “Nyonya, kembar tadi sudah saya ajak ke kamar, tapi mereka
“Mom, sudah kembali?” tanya Aurelie begitu melihat ibunya masuk ke dalam apartemen. Nadanya polos, dengan tatapan penuh tanya. Gadis kecil itu tampaknya tak langsung masuk ke dalam kamar. Dia malah duduk di ruang tamu bersama dengan Leo, seakan memang menunjukkan dia menunggu ibunya untuk pulang.Adeline bermaksud langsung ingin kembali ke kamar, tetapi dia memekik terkejut di kala kedua anak kembarnya malah menunggunya. Dia masuk ke dalam apartemen dalam keadaan melamun. Jadi, kalau dia terkejut hal tersebut adalah wajar.“Ya Tuhan, kenapa kalian tidak di kamar?” tanya Adeline dengan embusan napas panjang sekaligus menyentuh dadanya sebentar di kala merasakan debar jantungnya berpacu agak lebih kencang akibat keterkejutan itu.“Kami menunggu Mommy,” jawab Aurelie dengan senyuman di wajahnya.“Ya, kami menunggu Mommy,” sambung Leo yang berdiri tepat di samping Aurelie.Marie yang ada di sana segera menatap sopan sang majikan. “Nyonya, kembar tadi sudah saya ajak ke kamar, tapi mereka
“Ya, aku teman ibumu. Lebih tepatnya kami cukup dekat,” jawab Asher santai, seolah ucapan yang baru saja meluncur dari bibirnya bukanlah sebuah kesalahan besar yang bisa menghancurkan pertahanan wanita di depannya.Sebuah senyuman tipis bertengger di wajah tampannya—jenis senyuman penuh percaya diri yang memperlihatkan kepuasan tersirat karena berhasil memancing reaksi emosional Adeline. Asher menikmati setiap detik kepanikan samar yang berusaha ditutupi wanita itu.“Mommy tidak bilang kalau Paman adalah teman dekat Mommy,” sambung Leo sembari mengerutkan keningnya hingga membentuk lipatan tipis di dahi.Bocah laki-laki yang sedari tadi tak banyak bicara itu menatap Asher dengan raut wajah penasaran bercampur bingung. Dalam ingatan kecil Leo yang terstruktur rapi, ibunya tidak pernah sekali pun menyebut nama ayah Alyssa sebagai seseorang yang dekat atau berharga. Kecurigaan murni khas anak-anak mulai bertumbuh di benaknya.Adeline merasa terdesak ke sudut yang sangat berbahaya. Sial b
Adeline mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Ujung-ujung kuku jarinya terasa menancap kuat ke telapak tangan, meninggalkan rasa perih yang menjadi satu-satunya penahan agar emosinya tidak meluap begitu saja. Ingin rasanya dia memaki pria di depannya saat ini—pria yang tanpa rasa salah muncul di momen paling krusial, di kala dirinya sedang menikmati waktu hangat bersama si kembar.Dada Adeline bergemuruh, sesak oleh gejolak amarah yang bertumpuk dengan rasa panik. Oh, tidak perlu dijabarkan betapa kacau dan menggebu perasaan yang tertahan di dalam dadanya saat ini. Namun, sekali lagi, kepingan memori pahit itu kembali berputar. Logikanya berbisik kejam bahwa dirinya dan anak-anaknya masih bisa bernapas lega hari ini salah satunya adalah karena campur tangan Asher Lennox.Hal yang paling Adeline benci dari hidupnya adalah permainan takdir. Di kala dirinya mati-matian berusaha melangkah jauh, mengikis setiap jejak masa lalu, semesta justru bolak-balik mendesaknya untuk kem
Uap tipis masih membumbung dari cangkir karton di genggamannya. Adeline baru saja hendak menyesap kopinya kembali ketika perasaannya mendadak tidak enak. Sensasi aneh—seolah ada sepasang mata berniat tajam yang sedang menguliti setiap gerak-geriknya—membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak seketika.Namun, dia berusaha rasional dan segera menepis perasaan paranoid itu. Mungkin hanya perasaan melayang khas pagi hari, pikirnya. Dia tetap bertahan duduk tenang di atas bangku kayu, mencoba menikmati pemandangan di depannya, si kembar yang tampak begitu asyik dan tertawa lepas saat mengejar bola di atas rumput taman.Akan tetapi, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Seketika itu pula, Adeline merasakan ada aura berat yang bergerak mendekat ke arahnya. Udara di sekitarnya mendadak terasa berganti secara drastis. Matanya mulai beredar mengawasi sekitar, dan tepat pada detik itu, napas Adeline seolah-olah terhenti sepenuhnya.Ya, jantungnya terasa melompat ke tenggorokan, lalu b
Sinar matahari pagi di Central Park merebak lembut, menembus sela-sela pepohonan yang mulai merona keemasan. Angin musim gugur berembus tipis, membawa kesegaran dingin yang menyapu wajah. Tampak di atas hamparan rumput hijau yang terawat, gelak tawa riang memecah keheningan pagi.Aurelie dan Leo berlarian penuh semangat, mengejar sebuah bola plastik berwarna merah cerah. Tawa renyah si kembar menggema, murni tanpa beban. Marie berdiri tak jauh dari mereka, mengawasi setiap langkah kecil anak-anak itu dengan senyum hangat di wajahnya yang menyiratkan kedamaian.Sementara itu, Adeline duduk di salah satu bangku kayu di bawah rindangnya pohon oak besar. Dia mengenakan sweater rajut oversized berwarna krem dan celana jeans santai, rambut cokelatnya diikat asal-asalan tapi tetap memancarkan keindahan alami. Di tangannya, sebuah cangkir kopi karton memberikan rasa hangat yang menjalar ke jemarinya.Melihat kembar bergerak bebas tanpa bayang-bayang kamera atau gangguan media membuat dada Ade
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m







