首頁 / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 68. Rasa Panas yang Entah Dari Mana

分享

Bab 68. Rasa Panas yang Entah Dari Mana

last update publish date: 2025-12-07 23:56:31

Mendadak mendapatkan adegan tambahan baru cukup membuat Adeline kini harus fokus pada script. Dia bahkan sejak tadi terus berada di ruangan khusus para artis, untuk membaca isi script dengan baik. Dia tidak mau sampai ada kesalahan. Pun untungnya tidak ada gangguan.

Tenggelam dalam mempelajari isi script membuat Adeline jelas tak sadar kalau sejak tadi Raphael berdiri di dekatnya menatapnya dengan tatapan hangat, dan senyuman maut—yang bertengger di wajah pria tampan itu.

“Kau terlihat ... sang
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 246. Merasa Curiga Dengan Jack Drawn

    “Adam, kau sudah dapat informasi dalang di balik kecelakaan di lokasi syuting waktu itu?” Cole datang ke lokasi dengan tujuan berharap Adam mendapatkan informasi yang sudah dia harapkan. Well, tampak jelas wajah Cole dilanda kepusingan hebat. Harusnya dia datang ke lokasi dengan wajah yang semangat, tapi sayangnya ia datang dengan raut wajah frustrasi. Apalagi keamanan di area syuting yang diperketat berlapis, menandakan media mulai bertindak tak waras.Adam mengembuskan napas kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut sebelum menatap Cole yang berdiri di hadapannya dengan gelisah.“Aku belum mendapatkan informasi apa pun. Rekaman CCTV di sudut barat ternyata terhapus otomatis, dan yang lainnya tidak menunjukkan hal mencurigakan. Sepertinya pelaku menghilangkan jejak dengan sangat rapi, seolah dia tahu persis letak kamera pengawas. Bagaimana ini? Apa kita harus melibatkan pihak berwajib?” tanyanya memastikan, dengan nada tersirat putus asa. Beban film ini sudah terlalu berat di pundakny

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 245. Kebaikan yang Menghanyutkan

    Suasana di ruang rias studio film terasa sedikit lebih hangat setelah lampu utama dinyalakan sepenuhnya. Adeline duduk di depan meja rias berbingkai lampu sorot, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin sambil mencoba merapikan helaian rambutnya yang sedikit basah oleh keringat sisa mimpi buruk tadi.Ponselnya masih tergeletak di atas meja, menampilkan layar gelap setelah dia sempat membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal pagi tadi:{Waspadai orang di sekitarmu, Adeline. Tidak semua orang membawa kebaikan.}“Adeline, kau yakin tidak apa-apa? Wajahmu masih kelihatan pucat,” ucap Nora sambil melangkah mendekat, membawa segelas air hangat yang baru saja diambilnya dari pantri kecil di sudut ruangan.Adeline mendengkah pelan, menerima gelas dari sahabatnya dan meneguknya sedikit. “Aku hanya kurang tidur, Nora. Mimpi buruk membuat mood-ku kacau. Kau tahu itu, kan?”Nora menghela napas panjang, lalu meletakkan tangannya di pundak Adeline, memberikan remasan lembut penuh dukungan. “I

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 244. Orang Datang Tak Selalu Membawa Kebaikan

    “Tidak!” Napas Adeline memburu hebat, dadanya naik-turun tak beraturan seolah dia baru saja habis berlari menembus badai. Matanya terbuka lebar, menatap kosong pada langit-langit kamar yang gelap gulita dan asing. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara jantungnya berdegup kencang seperti hendak meledak dari rongga dada.Lagi-lagi mimpi itu datang. Dalam mimpinya, Adeline merasa dirinya berdiri di atas selembar kaca tipis yang menggantung di jurang yang sangat gelap dan dalam. Dari kegelapan di seberang, bayangan Asher muncul menatap dingin dan tajam sambil mencengkeram erat tangan si kembar dan menarik mereka menjauh darinya.Adeline menjerit sekuat tenaga, memohon agar anak-anaknya dikembalikan, tapi suaranya tersedak oleh udara hampa. Sekejap kemudian, lantai kaca yang dipijaknya retak dan pecah berkeping-keping, membuatnya terjun bebas ke dalam keabadian yang gelap, sebelum akhirnya sebuah tangan misterius berwajah ramah—yang perlahan berubah menjadi seringai men

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 243. Keputusan Yang Tak Mau Pikir Dua kali

    Suasana di lantai teratas gedung pencakar langit Lennox Group di Manhattan terasa begitu sunyi, kaku, dan diisi oleh ketegangan yang sanggup meremukkan saraf siapa pun yang berada di dalamnya. Dari balik dinding kaca berukuran raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan panorama megah kota New York yang bertabur jutaan lampu malam, Asher Lennox berdiri terpaku bagaikan sebuah patung es.Kedua tangan pria itu dibenamkan ke dalam saku celana bahan berpotongan tailored berwarna arang gelap, sementara bahunya yang bidang menegak lurus dengan aura dominasi yang begitu tegas. Pantulan bayangannya di kaca tebal itu menyatu dengan kerlip lampu lanskap perkotaan di bawah sana, menciptakan gambaran seorang penguasa yang berada di puncak tertinggi, namun terkepung oleh kejenuhan dan kekacauan yang teramat sangat.Di dalam ruang kerja seluas ratusan meter persegi berinterior minimalis mewah itu, kesunyian malam hanya dipecahkan oleh suara deru halus dari sistem pendingin

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 242. Badai Membabi-buta

    Perjalanan dari basement apartemen menuju kawasan studio film di pinggiran Manhattan terasa begitu menyesakkan. Tampak di dalam mobil hitam yang dikemudikan Nora, tidak ada suara bising radio ataupun alunan musik pengisi kesunyian. Yang terdengar hanyalah deru halus mesin kendaraan, gesekan ban di atas aspal basah, dan helaan napas berat Adeline yang masih memburu.Pikiran wanita itu masih melayang liar pada konfrontasi mengerikan bersama Asher Lennox di parkiran apartemen tadi pagi. Ancaman gugatan hak asuh penuh itu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan bilah pisau beracun yang siap merobek kewarasannya kapan saja.Nora, yang fokus mengemudikan kendaraan dengan kedua tangan mencengkeram lingkar kemudi, beberapa kali melirik Adeline dari sudut matanya. Raut wajahnya menyuratkan kecemasan yang amat mendalam. Dia tahu betul sahabatnya itu sedang menanggung beban emosional yang hampir melampaui batas ketahanan manusia biasa.“Adeline ...,” panggil Nora pelan, memecah kesunyian di a

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 241. Ancaman Yang Bukan Gertak Sambal

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai tipis kamar apartemen, memantulkan bayangan keemasan yang menari pelan di atas lantai kayu yang dingin. Suasana di dalam unit apartemen bertingkat itu terasa begitu hening, menyisakan keheningan mencekam yang sangat kontras dengan gemuruh badai pikiran yang terus mengamuk di dalam kepala Adeline.Wanita itu memaksakan kelopak matanya untuk terbuka setelah hanya sempat terlelap selama dua jam. Setiap kali dia memejamkan mata, pikirannya langsung terbayang oleh masalah yang datang bertubi-tubi.Dengan langkah gontai dan sendi-sendi tubuh yang terasa kaku, Adeline melangkah keluar dari kamarnya. Tubuhnya masih terbalut jaket bomber tebal abu-abu milik Jack yang semalam sengaja dia bawa masuk ke dalam rumah. Aroma maskulin yang bersih dan samar dari kain jaket itu seolah menjadi satu-satunya barier yang menahannya agar tidak runtuh di tengah deraan rasa bersalah yang meremukkan rongga dadanya.Adeline menghentikan langkahnya sejen

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 4. Orang yang Sama, Tapi Semua Berubah

    Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 3. Semesta Mengizinkan Pertemuan

    Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 6. Kesialan Tanpa Habisnya

    Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 5. Berjuang Demi Kembar

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status