Se connecterSuara tawa hambar mendadak lolos dari bibir Adeline—sebuah suara yang terdengar begitu hampa, kering, dan menyayat hati, meski manik matanya sama sekali tidak memancarkan secercah pun rasa lucu.“Kenapa? Terkejut karena aku tidak lagi selemah dulu saat kau buang begitu saja ke jurang penderitaan?” cemooh Adeline, suaranya bergetar tipis namun mengandung racun yang mematikan. “Kau pikir setelah apa yang kau perbuat padaku, aku akan dengan sukarela membiarkan anak-anakku tahu siapa ayah mereka? Oh, tidak, Asher. Sampai kapan pun, aku tidak mau mereka tahu bahwa mereka memiliki darah seorang pengkhianat di tubuh mereka.”“Anak-anak itu juga darah dagingku!” bentak Asher, suaranya menggelegar dahsyat, memecah keheningan apartemen mewah itu hingga seolah menggetarkan dinding dan kaca jendela.Hilang sudah sisa-sisa kesabaran di dalam diri pria itu. Langkah kakinya maju menerjang bagaikan predator lapar yang kehilangan kendali, mencengkeram kedua bahu Adeline dengan kasar tanpa ampun. Cengk
“A-Asher … l-lepaskan aku,” ucap Adeline tertatih susah payah, meminta Asher melepaskan dirinya. Dia mati-matian berusaha untuk berontak, tapi jelas itu tidak mudah. Pria itu mencengkeram lehernya cukup kuat, bahkan mengunci seluruh pergerakannya dengan tubuh kokohnya, membuatnya benar-benar tak bisa lepas dari kungkungan maut itu.Kemarahan hebat membentang dan membakar setiap saraf di dalam diri Asher. Pria itu sudah kehilangan kewarasannya, sampai-sampai tak memedulikan rintihan sakit serta isakan tertahan yang lolos di bibir Adeline. Seluruh benaknya kini telah gelap, hanya terisikan oleh satu fakta telak yang baru saja terbongkar, Adeline telah dengan sengaja melakukan sabotase pada hasil tes DNA yang pertama. Pengkhianatan itu merayap ke kepalanya bagaikan racun mematikan.“Berani sekali kau menipuku, Adeline?!” geram Asher penuh amarah, suaranya bergemetar rendah penuh ancaman di dekat telinga wanita itu.Adeline nyaris kesulitan untuk bernapas akibat cengkeraman tangan Asher y
“Turunkan aku, sialan! Kau benar-benar sudah gila, ya?!”Adeline terus meronta dan memukul punggung bidang Asher begitu mobil mewah itu berhenti dengan sempurna di area parkir basement apartemen. Hantaman kepalan tangannya yang berulang kali mendarat di atas mantel tebal Asher sama sekali tidak menampakkan hasil. Alih-alih melunak atau sekadar mengendurkan kuncian, cengkeraman Asher pada paha dan punggung wanita itu justru semakin menguat, begitu erat hingga menyakiti kulit di balik pakaian tipisnya. Tanpa memedulikan umpatan bernada histeris maupun perlawanan fisik yang kian tidak beraturan, Asher membanting pintu mobil hingga dentumannya menggema di keheningan basement, lalu menyambar tubuh Adeline secara paksa dan membopongnya bak karung beras di atas bahunya.“Asher! Sialan, turunkan aku sekarang juga!” teriak Adeline histeris. Pandangannya berbalik ke bawah, memamerkan lantai semen dingin yang terus bergerak seiring langkah kaki Asher yang lebar dan terburu-buru. Rambut panjangny
Kata-kata itu meluncur bagai bilah pisau beracun yang menghujam jantung Asher tanpa ampun. Dada pria itu naik-turun dengan cepat. Napasnya menderu berat, memburu oksigen di ruangan yang mendadak terasa begitu sesak. Jemarinya yang tadi meremas kertas kini gemetar hebat—bukan karena ragu, melainkan karena gelombang amarah yang teramat membentang, kemarahan yang tak terkendali hingga mencapai ubun-ubun, siap meledak menghancurkan apa saja.Brak!Dengan satu sentakan brutal, Asher menghantamkan kepalan tangannya ke atas permukaan meja kerja yang tebal. Dentuman keras itu menggema di seluruh sudut ruangan.“Sialan ...,” geram Asher tertahan, suaranya keluar begitu serak, bagaikan raungan binatang buas yang terluka parah.Rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar lehernya menonjol keluar. Mata tajamnya menyala merah oleh amarah yang tak terperi. Dia sudah merasa ada yang janggal sejak bertemu dengan kembar. Dan sekarang semua terbongkar. Bahkan hasil test DNA yang pertama kali telah d
Nora menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru sambil mendengkus kesal. Dia melipat kedua tangan di depan dada, sementara napasnya masih memburu menahan sisa-sisa amarah akibat ulah Isolde di luar tadi.“Wanita itu benar-benar tahu cara menguji batas kesabaranku, Adeline,” sungut Nora tajam, matanya melirik ke arah cermin tempat sahabat sekaligus artinya duduk tenang. “Kalau bukan karena reputasi kita yang sedang dipertaruhkan, sudah kujejalkan naskah tebal tadi ke mulut sampahnya!”Adeline tidak langsung menjawab. Dia mengangkat wajahnya sedikit, menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu dressing room. Jari-jarinya yang lentik terulur merapikan letak anting di telinganya. Meski wajahnya tampak tenang bagai air di danau yang datar, jauh di dalam hatinya badai kecil sempat bergolak. Namun, Adeline adalah wanita yang tahu persis kapan harus menyimpan tenaga dan kapan harus menyerang.“Biarkan dia menggonggong sepuasnya, Nora,” suara Adeline mengali
“Morning, Adeline, bagaimana kabarmu?” Kalimat pertama yang diucapkan Isolde begitu melihat Adeline datang ke lokasi bersama dengan Nora—yang tentu saja tak mungkin membiarkan Adeline datang ke lokasi syuting sendirian setelah berbagai drama dan ancaman terselubung yang belakangan ini kerap terjadi.Adeline tampak malas menanggapi ucapan Isolde. Hanya saja, meski rasa jengah merayap di dadanya, ia tetap mempertahankan ketenangannya. Dia membalas sapaan itu dengan sorot mata dingin yang cukup menusuk, menatap lurus pada Isolde yang berdiri di hadapannya sambil menyilangkan tangan di dada, jemarinya dengan angkuh memainkan helaian rambut yang telah ditata sempurna oleh penata gaya.“Seperti yang kau lihat, aku baik,” jawab Adeline dingin, sengaja memangkas jarak toleransi dan menolak basa-basi pada wanita itu, yang sudah sangat ia hafal perangainya—selalu mencari celah untuk memancing emosi dan menciptakan masalah.Isolde tersenyum anggun, sebuah senyuman plastik yang sama sekali tidak
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
“Bisa kau jelaskan apa ini?”Adeline Hart memberikan sebuah foto di mana suami tercintanya sedang bersama dengan seorang wanita di dokter kandungan. Matanya sudah memerah, berkaca-kaca menunjukkan kepedihan. Dia mencoba meyakinkan bahwa itu mungkin hanya kesalahpahaman, tetapi entah hatinya tetap m







