Home / Romansa / Saat Aku Melepasmu / Bab 68. Rasa Panas yang Entah Dari Mana

Share

Bab 68. Rasa Panas yang Entah Dari Mana

last update publish date: 2025-12-07 23:56:31

Mendadak mendapatkan adegan tambahan baru cukup membuat Adeline kini harus fokus pada script. Dia bahkan sejak tadi terus berada di ruangan khusus para artis, untuk membaca isi script dengan baik. Dia tidak mau sampai ada kesalahan. Pun untungnya tidak ada gangguan.

Tenggelam dalam mempelajari isi script membuat Adeline jelas tak sadar kalau sejak tadi Raphael berdiri di dekatnya menatapnya dengan tatapan hangat, dan senyuman maut—yang bertengger di wajah pria tampan itu.

“Kau terlihat ... sang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 208. Ketegangan Yang Membentang

    Lokasi syuting mendadak seperti diselimuti ketegangan. Adeline telah dibawa ke ruang istirahat ditemani oleh Nora yang tentu saja tak mungkin jauh darinya, lalu Asher turut menemani, sedangkan Raphael bergeming di tempatnya dilanda dengan perasaan yang campur aduk.Adam di sana jelas tampak sangat marah. Apalagi Cole secara terang-terangan terus menyalahkan Adam atas apa yang telah terjadi. Sementara si sopir yang menjadi pengendara mobil telah diamankan. Kepolisian masih belum turut disertakan, karena khawatir akan membuat situasi masih panas. Lebih tepatnya masih dalam pemeriksaan internal, sebelum benar-benar polisi turut disertakan.“Adam, kau benar-benar ceroboh! Bagaimana bisa kau memilih pemeran yang menjadi sopir tapi malah tidak becus?! Kau tahu kalau sampai hal buruk terjadi pada Adeline, film ini akan berantakan! Adeline adalah pemeran utama, Adam! Kau ingin karier-mu hancur, hah?!” bentak Cole tak main-main.Sejak tadi, Cole sudah menahan diri tak membentak Adam, karena po

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 207. Kecemburuan Yang Di Luar Akal Manusia

    Jauh dari hiruk-pikuk kekacauan di pusat lokasi syuting—terhalang oleh rimbunnya deretan pohon pinus dan pagar pembatas yang mengitari area luar studio—sebuah sedan mewah berwarna hitam legam terparkir tanpa mencolok di balik bayang-bayang. Kaca jendela mobil yang dilapisi film super gelap membuat bagian dalamnya benar-benar tak tembus pandang dari luar.Tampak di dalam kabin yang sejuk berkat pendingin ruangan, suasana justru terasa panas membakar. Seorang wanita bergaun elegan duduk di kursi belakang dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang meluap-luap. Jari-jarinya yang mengenakan manikur mewah mencengkeram erat ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang mata yang tajam menatap lurus ke arah layar iPad di pangkuannya—memantau siaran langsung atau informasi samar dari kejauhan.Rencananya sempurna. Eksekusinya sudah dirancang sedemikian rupa. Rem mobil itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk melenyapkan Adeline selamanya, membuat wanita itu hancur di

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 206. Nyaris Merenggut Nyawa Adeline

    Posisi Adeline dan Asher cukup intim. Mereka malah saling menatap satu sama lain, seolah tidak ada siapa pun di sana, tetapi yang pertama kali menyadari dan memutus tatapan adalah Adeline. Wanita itu dengan sisa tenaganya mendorong dada bidang Asher—walau tak bisa membuat pria itu berpindah, tapi bisa membuat pria itu sadar. Asher yang menyadari bahwa posisinya dan Adeline sangat intim, dia segera bangkit berdiri, dan membantu Adeline untuk berdiri juga, tapi sayang kaki Adeline masih lemas, sehingga tak bisa berdiri tegak. Detik itu dengan sigap, Asher merengkuh pinggang Adeline, membantu wanita itu tetap berdiri tegak, dan kali ini Adeline tak bisa berkutik atau membantah akibat lengkingan suara Adam mengamuk jauh lebih keras dan menggema di area outdoor tersebut.Ya, apa yang terjadi cukup menegangkan dan membuat jantung semua orang berhenti berdetak. Semua begitu cepat, dan hal yang pasti terlambat sedikit saja, nyawa akan melayang. Tampak di tengah kerumunan kru yang masih terp

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 205. Pahlawan Yang Kebetulan

    Mobil yang dikemudikan oleh Nora berhenti mulus di tepi area set lokasi syuting outdoor yang sudah dipadati kesibukan pagi itu. Begitu pintu terbuka, Adeline melangkah turun, disambut oleh udara luar yang cukup sejuk dan hiruk-pikuk para kru yang hilir mudik membawa peralatan syuting. Nora juga turun, dia berjalan sigap sambil menenteng naskah dan segelas kopi hangat.Namun, langkah kaki Adeline mendadak terhenti seketika. Matanya menangkap sosok seorang pria tinggi gagah memakai mantel desainer kelas atas yang tengah berdiri di dekat area monitor sutradara.Asher.Kening Adeline berkerut samar. Kehadiran pria itu di lokasi syuting film sepagi ini tentu bukan sebuah kebetulan biasa. Pria itu menoleh sekilas, dan tatapan tajam mereka berdua sempat beradu di udara selama beberapa detik sebelum Adeline buru-buru mengalihkan pandangannya, menegakkan dagu demi menjaga profesionalismenya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis segala rasa penasaran dan ketidaknyamanan yang mendadak

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 204.Aurelie Demam

    Ketenangan malam di apartemen seketika buyar oleh suara rintihan tertahan yang lolos dari kamar tidur kembar. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan Adeline yang baru saja melepas penat setelah seharian berkutat dengan naskah dan persiapan syuting, langsung terbangun dari tidur pulasnya. Dia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran di tengah ruangan yang hanya diterangi lampu tidur temaram.Tiba-tiba, suara ketukan pintu kamar Adeline terdengar pelan, tapi terasa begitu mendesak dan penuh kecemasan.Adeline langsung bangkit duduk, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Masuk,” panggilnya seraya menyibak selimut dan bergegas melangkah turun dari ranjang.Begitu pintu terbuka, wajah pucat dan panik Marie, sang pengasuh setia, langsung menyambut pandangan Adeline. “Nyonya, maafkan saya mengganggu istirahat Anda malam-malam begini. Tapi ... ini gawat. Aurelie mendadak demam tinggi.”Adeline terkejut mendengar itu, tapi fanpa membuang waktu sedetik pun, dia berlari

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 203. Kebencian Yang Makin Menjalar

    Suasana kelab malam yang tadinya terasa bising dan penuh gairah mendadak berubah drastis menjadi mencekam bagi Talia. Darahnya serasa berdesir hebat, dan napasnya tercekat di tenggorokan begitu dia mengenali sosok pria yang berdiri tepat di hadapannya. Kilau lampu disko yang remang-remang menyoroti wajah pria itu, memperlihatkan senyum penuh rahasia yang selalu berhasil membuat Talia merasa terintimidasi.Pria itu adalah bayangan yang paling ingin dia kubur dalam-dalam.Refleks pertahanan diri Talia langsung bangkit. Alih-alih menyapa atau membalas senyuman itu, tubuhnya berbalik dengan gerakan secepat kilat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, dia menerobos kerumunan orang yang sedang berdansa, berusaha melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin sebelum pria itu berhasil menjeratnya dalam percakapan berbahaya.Namun, gerakan pria itu jauh lebih cepat dari perkiraannya. Sebelum Talia sempat melangkah jauh, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat, menahan la

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 7. Sentuhan Liar yang Tak Seharusnya Terjadi

    Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 6. Kesialan Tanpa Habisnya

    Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 5. Berjuang Demi Kembar

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad

  • Saat Aku Melepasmu   Bab 4. Orang yang Sama, Tapi Semua Berubah

    Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status