LOGINKemegahan arsitektur klasik dan kemewahan interior mansion Lennox malam itu terasa begitu menyesakkan dada bagi Talia. Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit ruang utama seolah memantulkan bayangan kegelisahan yang tengah berkecamuk di dalam hatinya. Suasana rumah yang biasanya terasa megah dan menenangkan kini mendadak berubah menjadi sangkar emas yang pengap.Talia mondar-mandir di atas karpet wol tebal di dalam kamarnya, napasnya memburu dan dadanya naik-tak beraturan. Jemarinya yang berhiaskan cincin berlian mahal tampak bergetar hebat saat dia menggenggam erat ponselnya. Bertemu dengan Jack Drawn di Brooklyn tadi pagi benar-benar sukses merontokkan seluruh pertahanan mental yang selama ini dia bangun dengan susah payah di hadapan Asher.Pria itu tahu segalanya. Jack memegang kartu As yang bisa menghancurkan hidupnya kapan saja, merobek seluruh fasad kesempurnaan yang dia tampilkan sebagai Nyonya Lennox.“Sialan ... sialan!” geram Talia tertahan, menggigit k
Keheningan yang dingin dan berat langsung menyelimuti ruang kerja berarsitektur modern-klasik milik Asher. Suara detak jarum jam dinding berbingkai tembaga seolah terdengar kian memburu, beradu dengan aroma kayu jati segar, kulit interior, dan keharuman maskulin yang kental.Asher tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit berkualitas tinggi, mengerutkan kening sembari menatap pria bernama Jack Drawn dengan sorot mata biru yang tajam dan tak tersentuh. Jemari tangannya yang kokoh mengetuk-ngetuk permukaan meja mahoni dengan irama lambat namun teratur—sebuah gerakan refleks dari refleks naluriah predator puncak yang sedang mengamati pergerakan sosok asing di wilayah kekuasaannya.Laporan yang dia dengar tadi menyebutkan bahwa Jack Drawn bukanlah orang sembarangan. Pria itu memiliki cengkeraman kuasa yang cukup mematikan di industri jaringan komersial luar negeri. Namun, aura yang dibawanya masuk ke dalam ruangan ini terasa begitu mengganggu, seol
Jarum jam dinding di ruang rapat utama Lennox Group menunjukkan tepat pukul empat sore. Suasana ruangan berpanel kayu terasa begitu tegang, diselimuti pendingin udara yang berembus dingin.Asher duduk di ujung meja oval panjang, memosisikan dirinya bagaikan seorang penguasa yang tak tersentuh. Tatapan matanya yang tajam bak elang mengunci sosok pria yang baru saja melangkah masuk dengan santai.Pria itu adalah Jack Drawn.Jack tampil sangat elegan dalam balutan setelan jas buatan penjahit ternama Savile Row, London. Senyum tipis terukir di wajahnya—sebuah senyuman ramah yang justru memancarkan aura bahaya, bagaikan seekor serigala berbulu domba yang dengan sengaja melangkah masuk ke sarang singa.“Selamat sore, Tuan Lennox. Sungguh sebuah kehormatan bisa bertatap muka langsung dengan Anda,” ucap Jack dengan aksen Inggris yang kental dan sangat halus. Langkah kakinya terdengar mantap di atas karpet tebal saat ia berjalan mendekat.Asher tidak langsung berdiri. Dia membiarkan hening men
“Tuan, ini laporan keuangan yang Anda minta.” Paul menyerahkan laporan yang diminta oleh tuannya. Perintah yang dia dengar sudah sangat jelas, dia tak mau sampai menunda perintah dari tuannya itu.Asher meraih laporan keuangan, membaca laporan tersebut, memperhatikan setiap detail yang tertera di sana. Jemari tangannya yang kokoh membalik lembaran demi lembaran dengan ketelitian seorang pemimpin imperium bisnis.“Harga saham pagi ini tetap stabil. Laporan juga bagus. Kau awasi setiap cabang dan pastikan investasi yang aku keluarkan berhasil,” ucap Asher tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari angka-angka grafik keuntungan di lembar terakhir.Paul terdiam sebentar, tampak berpikir. “Hmm, apakah Anda ingin saya mengawasi juga investasi Anda di Luxe Vision Entertainment?” tanyanya memastikan.Asher menutup laporan yang diberikan Paul dengan suara letupan pelan yang memutus keheningan, lalu meletakkannya dengan tenang ke atas meja kayu yang mengilap.“Kecuali itu. Abaikan investasiku di
Kaki Talia mendadak terasa lemas melihat sosok pria yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Pria itu diam tak bersuara, hanya tangannya yang mencengkeram kuat lengan Talia, membuat wanita itu terperanjat terkejut luar biasa. Matanya melebar, bersamaan dengan debar jantung yang berpacu jauh lebih kencang dari biasanya.“Kau .…” Talia menelan salivanya susah payah. Dia kali ini mencoba menepis, tetapi sialnya pria itu malah makin mencengkeram lengannya, membuatnya kesulitan untuk melarikan diri. Cengkeraman itu begitu dingin dan presisi, seolah-olah pria di depannya sudah memperhitungkan setiap kemungkinan gerakan refleks Talia.“Lepaskan aku!” geram Talia dengan sorot mata penuh ancaman. Aura wajahnya menunjukkan jelas bahwa dia tak main-main dengan apa yang dia katakan.Pria itu tersenyum tipis, tanpa merasa takut sedikit pun. “Kalau aku tidak mau lepaskanmu, apa yang kau lakukan, hmm? Kau ingin teriak?”Talia mengumpat kasar dalam hatinya. Dia melirik ke sekitar area luar kafe yan
Satu tenggak alkohol sama sekali tak cukup untuk meredam gemuruh di dada Talia. Di sudut remang sebuah kafe yang terbilang sepi di kawasan Brooklyn, wanita itu duduk terpaku. Permukaan gelas kaca di tangannya sudah dingin, namun kontras dengan raut wajahnya yang menyimpan jutaan rasa frustrasi—sebuah gejolak emosi yang begitu pekat, seolah siap meledak kapan saja dan menghancurkan apa pun di sekitarnya. Gigi-giginya bergemelutuk halus, tetapi dengan sisa-sisa kendali yang ada, dia memeras seluruh tenaganya untuk menutupi topeng ketenangannya agar tak retak di depan umum.“Nyonya Lennox, Anda terlihat tidak baik-baik saja,” sebuah suara halus nan penuh nada nada sindiran memecah keheningan.Isolde muncul begitu saja di hadapan Talia. Wanita itu tampil memikat dengan pakaian seksi yang melekat sempurna di tubuhnya, memancarkan pesona yang berani sekaligus berbahaya. Tanpa menunggu undangan, Isolde menarik kursi kayu di seberang meja dan duduk dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







