LOGIN“Adam, jadi syuting ditunda karena permintaan Tuan Lennox?” tanya Isolde menatap Adam dengan tatapan yang penuh selidik, menunjukkan betapa dia merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, tentunya dia tak mengutarakan apa yang ada di isi pikirannya. Bertanya berpura-pura bodoh memang tampak jauh lebih asyik.Adam mengangguk, menatap Isolde sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke arah clipboard di tangannya. “Ya, Tuan Lennox meminta syuting hari ini ditunda sebentar. Beliau ada sedikit urusan dengan Adeline. Hmm, beliau bilang ada beberapa prihal pekerjaan yang ingin beliau bicarakan pada Adeline.”Seringai tipis yang sarat akan makna muncul di wajah Isolde di kala mendengar itu. Rasanya dia ingin tertawa lepas detik itu juga, tapi dia tahu betul bagaimana cara menjaga imejnya di depan kru. Dia tak mau terlihat terlalu ketara. Isolde tampaknya jauh lebih suka menjatuhkan Adeline secara perlahan tapi penuh kekejian, menikmati setiap detik penderitaan mental yang akan dialami wan
Lonceng kecil di atas pintu kaca sebuah kafe rooftop yang tersembunyi menyambut kedatangan dua orang pengunjung. Tempat itu dipilih bukan karena popularitasnya, melainkan karena suasananya yang tenang dan terisolasi dari hiruk-pikuk keramaian. Dikelilingi oleh jajaran tanaman hias gantung dan pembatas kaca buram, kafe itu menawarkan privasi yang langka. Namun, suasana yang menenangkan di tempat tersebut sama sekali tidak sejalan dengan gejolak batin yang tengah dirasakan oleh Adeline.Begitu mereka tiba di meja sudut yang menghadap langsung ke panorama kota bergedung tinggi, Adeline sama sekali tidak membuang waktu. Dia langsung melipat kedua tangannya di depan dada, sementara dagunya sedikit terangkat. Alisnya yang elok bertaut tajam, memancarkan ketidaksukaan yang amat sangat terhadap situasi saat ini. Matanya menatap lurus ke arah pria di hadapannya, seolah tengah menilai seberapa besar tingkat kewarasan pria itu hari ini.“Katakan, kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Adeline, mel
“Leo, kau tahu? Tadi malam Daddy datang ke mimpiku membawakan boneka beruang warna pink! Aku yakin Daddy sangat rindu padaku!” kata Aurelie pagi itu, dengan senyuman manis di wajahnya, membanggakan bahwa tadi malam ayahnya hadir ke mimpi, memberikan boneka beruang warna pink.Suara pekikan riang Aurelie menggema cukup nyaring di ruang makan sederhana apartemen yang disewa Adeline selama di New York. Suasana yang tadinya tenang dan hangat mendadak berubah drastis menjadi begitu mencekam bagi Adeline. Kata-kata polos putrinya itu bagaikan tamparan tak kasat mata yang menghantam ulu hatinya, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang berusaha dia tutupi setiap hari.Namun, Adeline memilih untuk tetap diam. Dengan tangan yang sedikit kaku, dia terus melanjutkan aktivitasnya menghidangkan menu sarapan di atas meja. Untungnya, dia tidak sendiri, Nora dan Marie datang membantunya. Nora bahkan sengaja datang jauh lebih pagi dari biasanya, bukan sekadar untuk membantu, melainkan karena ia ingin
Suasana di ruangan itu mendadak berubah mencekam. Keheningan yang tercipta bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah kehampaan berat yang menghimpit rongga dada, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Ruangan kantor manajemen yang berpendingin ruangan itu mendadak terasa pengap, seolah seluruh oksigen di dalamnya tersedot habis oleh ketegangan yang teramat pekat.Di layar monitor, wajah sang penyusup kini terekspos tanpa celah. Garis rahang tegas, sorot mata yang dingin, dan cara berdiri yang begitu familiar terpampang nyata di bawah pantulan lampu darurat basement. Sosok di dalam video itu bukanlah orang asing yang tak dikenal, melainkan seseorang yang selama ini berada di lingkaran terdekat mereka.Nora. Manajer sekaligus sahabat terdekat Adeline.Paul merasa sekujur tubuhnya dilanda mati rasa. Otaknya berteriak menolak, berharap apa yang dilihatnya barusan hanyalah efek halusinasi atau trik kamera yang rusak akibat gangguan teknis. Namun, rekaman itu berputar t
Menunggu adalah sebuah bentuk penyiksaan yang paling tidak bisa ditoleransi oleh Asher. Detik demi detik yang merayap di jarum jam terasa mengejek kesabarannya. Bagi pria itu, duduk berpangku tangan dan menyerahkan segalanya pada laporan Paul yang berjalan lambat adalah opsi terburuk. Dia tidak bisa hanya duduk diam menunggu seperti orang bodoh sementara ada ancaman yang bermain-main di wilayah kekuasaannya. Instingnya mendesak untuk melihat sendiri rekaman CCTV di area basement apartemen asistennya itu, membuktikan segala kecurigaannya dengan mata kepalanya sendiri.Tak lama kemudian, deru mesin dua mobil memecah keheningan pelataran parkir. Mobil Asher meluncur masuk dan terparkir sempurna, disusul beberapa detik kemudian oleh mobil Paul yang mengekor di belakangnya. Begitu ban berhenti berputar, Asher langsung mendorong pintu mobilnya terbuka dan melangkah keluar dengan sigap. Di sisi lain, Paul bergegas menyusul, mengambil posisi di depan untuk menunjukkan arah menuju gedung manaj
Jemari kokoh Asher mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja kayu di ruangannya secara konstan, menciptakan irama monoton yang mencerminkan isi kepalanya yang sedang berantakan. Aura wajahnya terlihat sangat gelap, memancarkan emosi serta pemikiran yang bercampur aduk menjadi satu. Napasnya memburu, tidak beraturan, seiring dengan kepulan asap kelabu yang diembuskannya ke udara.Berkali-kali pria itu menyedot rokoknya dalam-dalam, mencoba mencari pelarian instan guna meredakan gelora pikiran yang kian menyesakkan dada. Tampak di atas meja kerjanya, sebuah gelas kristal berisi sisa cairan amber beralkohol tampak terabaikan di samping asbak yang sudah dipenuhi puntung rokok. Nikotin dan alkohol—kombinasi klasik yang selalu iaandalkan di kala logika dan ketenangannya diuji habis-habisan. Belakangan ini, hidupnya memang seolah diuji oleh serangkaian kejadian janggal yang sukses merusak ketenangan hidupnya secara total.Ketukan pelan pada pintu ruang kerjanya membuyarkan lamunannya.“Tuan .…” P
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng







