LOGIN“Wah, Mommy sudah pulang!”Pekikan nyaring Aurelie memecah keheningan ruang tengah. Mata kecil mungil itu berbinar seketika saat mendapati sosok ibunya berdiri di ambang pintu. Tanpa membuang waktu, kaki-kaki kecilnya melompat gembira, menyerbu Adeline dan memeluk pinggang sang ibu erat-erat. Tidak mau ketinggalan, Leo yang duduk di sebelahnya langsung mengabaikan sendok makannya dan berlari ikut membenamkan wajahnya di pelukan Adeline.Suasana hangat itu terasa begitu langka. Kedua bocah kembar itu berbinar bukan tanpa alasan, ibunya pulang jauh lebih awal dari biasanya. Di hari-hari biasa, saat Adeline pulang, si kembar sudah dipastikan sudah terlelap dalam mimpi indah. Namun kali ini, di saat mereka tengah menikmati suapan demi suapan dari Marie—pengasuh setia yang sabar menemani mereka—ternyata Adeline sudah pulang.“Hey, Sayang-sayang Mommy...” Adeline berlutut, membiarkan gaun kerjanya menyapu lantai. Ia mengusap lembut kepala kedua buah hatinya, lalu menyunggingkan senyum hanga
“Adeline, kau istirahatlah,” kata Nora seraya menginjak rem perlahan, menghentikan mobil persis di depan area drop-off lobi apartemen.Keputusan mengantar Adeline pulang diambil tanpa perdebatan. Jadwal syuting resmi diliburkan selama dua hari ke depan pasca-insiden mengerikan tadi pagu—sebuah kecelakaan berdarah yang nyaris saja mencabut nyawa Adeline jika sedikit saja takdir berpihak berbeda. Pembekuan kegiatan syuting ini bukan tanpa alasan, Cole dan Adam kini sedang bergerak dalam kepanikan penuh, melancarkan penyelidikan tertutup untuk mencari dalang di balik semua ini. Ketakutan mereka bukan sekadar bayangan, terlebih setelah Asher Lennox melempar peringatan keras tanpa kompromi yang mampu menghancurkan karier siapa pun dalam sekejap.Adeline menoleh, matanya yang masih menyisakan jejak kelelahan menatap wajah Nora. “Thanks, Nora. Kau ... tidak mau mampir sebentar?”Nora menggeleng halus, jemarinya mengetuk kemudi dengan gestur terburu-buru. “Tidak untuk hari ini. Aku masih ada
Sebuah bisikan rendah meluncur pelan dari seberang sana. Suara serak seorang pria yang sangat tidak asing di telinga Talia, suara yang seketika mampu membangkitkan kengerian tersendiri di lubuk hatinya yang paling dalam.Seketika itu juga, jantung Talia seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Napasnya tercekat, lalu berembus kasar dan tidak beraturan. Kepingan memorinya langsung berputar mundur, mengingat sosok pria dari masa lalu yang pernah muncul kembali dalam kehidupannya setelah sekian lama menghilang tanpa jejak. Sialnya, pria itu kini kembali hadir di saat yang sama sekali tidak ia inginkan, kembali menghantui dan mengusik ketenangan hidupnya yang rapuh.“Kau—” Talia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Tangan kanannya mencengkeram erat bodi ponselnya hingga buku-buku jarinya kembali memutih.Pria di seberang sambungan telepon itu mendadak tertawa rendah. Suara tawa yang terdengar dingin, kelam, dan mengerikan di telinga Talia.“Berhenti mencoba untuk menghindariku, Tali
Talia melempar tas tangan bermerek miliknya ke atas sofa kamar dengan kasar, disertai raut wajah yang menyeringai menahan amarah luar biasa. Berbagai umpatan dan makian kotor lolos begitu saja di dalam hati, bergemuruh menciptakan badai frustrasi di kepalanya. Sialnya, meskipun dadanya bergemuruh hebat dan ia sangat ingin berteriak meluapkan emosi, ia harus menahan diri mati-matian. Dia sadar betul bahwa dirinya sedang berada di rumah, tempat di mana putri kecilnya, Alyssa, bisa mendengar suara tangisan atau amukannya kapan saja. Dia tidak boleh menunjukkan sisi gelapnya di hadapan sang buah hati.“Berengsek, kenapa Asher bisa ada di sana?!” gumam Talia penuh penekanan, sementara tangannya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tampak kilat kemarahan yang menyala-nyala di matanya, menyiratkan emosi yang nyaris tak terkendali dan siap meledak kapan saja.Hal utama yang membuat emosi Talia meledak-ledak hingga ke ubun-ubun adalah kenyataan bahwa Asher mendadak muncul di l
Aroma khas alkohol beralkualitas tinggi dan tembakau mahal berpadu, melebur menjadi satu di udara ruang kerja pribadi Asher yang terletak di lantai paling atas gedung perusahaannya. Di sana, pria itu berdiri kaku di balik dinding kaca yang luas. Ya, pria itu memutuskan kembali langsung ke perusahaan tepat setelah dia meninggalkan lokasi syuting yang riuh. Pagi tadi, niatnya datang ke sana sebenarnya sederhana, dia ingin memantau langsung proses produksi, apalagi setelah dia mendapatkan informasi bahwa proses pengambilan gambar untuk film tersebut sudah mendekati bagian ending. Ada dorongan aneh yang menuntun langkahnya ke sana, sebuah intuisi yang membawanya pada sebuah kenyataan pahit yang sama sekali tidak pernah dia duga akan terjadi di depan matanya sendiri.Sesampainya di lokasi, alih-alih disambut progres syuting yang lancar, dia justru mendapati sebuah insiden mengerikan yang membuat darahnya mendidih.Perasaan marah, kesal, dan panik yang sempat dia pendam kini bercampur aduk,
Suasana di sudut luar area panggung utama tampak temaram, tertutup bayangan truk-truk peralatan syuting yang menjulang tinggi. Tampak di sanalah Isolde melangkah tergesa tapi tetap dengan gestur anggunnya, menjauh dari pandangan semua orang. Lebih tepatnya dia benar-benar menghindar, agar tidak ada orang-orang yang melihat keberadaannya saat ini.Saat dia memastikan berada di tempat yang sepi dari jangkauan para kru, tangan lentiknya langsung merogoh saku mantel wolnya, menarik keluar sebuah ponsel. Jari-jari lentiknya bergerak terampil menyentuh layar, menghubungi sebuah nomor rahasia yang tidak tersimpan di kontak. Nomor itu dia simpan hanya untuk saat-saat darurat seperti ini.Sambungan itu terhubung setelah nada dering ketiga.“Halo? Wah, wah, tidak biasanya kau menghubungiku langsung. Apakah ada skandal baru yang ingin kau jual?” suara serak di ujung seberang menyapa dengan nada sinis tapi sarat akan ketertarikan. Itu adalah Benny Drawn, seorang jurnalis investigasi independen se
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







