MasukSuasana di ruang rias studio film terasa sedikit lebih hangat setelah lampu utama dinyalakan sepenuhnya. Adeline duduk di depan meja rias berbingkai lampu sorot, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin sambil mencoba merapikan helaian rambutnya yang sedikit basah oleh keringat sisa mimpi buruk tadi.Ponselnya masih tergeletak di atas meja, menampilkan layar gelap setelah dia sempat membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal pagi tadi:{Waspadai orang di sekitarmu, Adeline. Tidak semua orang membawa kebaikan.}“Adeline, kau yakin tidak apa-apa? Wajahmu masih kelihatan pucat,” ucap Nora sambil melangkah mendekat, membawa segelas air hangat yang baru saja diambilnya dari pantri kecil di sudut ruangan.Adeline mendengkah pelan, menerima gelas dari sahabatnya dan meneguknya sedikit. “Aku hanya kurang tidur, Nora. Mimpi buruk membuat mood-ku kacau. Kau tahu itu, kan?”Nora menghela napas panjang, lalu meletakkan tangannya di pundak Adeline, memberikan remasan lembut penuh dukungan. “I
“Tidak!” Napas Adeline memburu hebat, dadanya naik-turun tak beraturan seolah dia baru saja habis berlari menembus badai. Matanya terbuka lebar, menatap kosong pada langit-langit kamar yang gelap gulita dan asing. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, sementara jantungnya berdegup kencang seperti hendak meledak dari rongga dada.Lagi-lagi mimpi itu datang. Dalam mimpinya, Adeline merasa dirinya berdiri di atas selembar kaca tipis yang menggantung di jurang yang sangat gelap dan dalam. Dari kegelapan di seberang, bayangan Asher muncul menatap dingin dan tajam sambil mencengkeram erat tangan si kembar dan menarik mereka menjauh darinya.Adeline menjerit sekuat tenaga, memohon agar anak-anaknya dikembalikan, tapi suaranya tersedak oleh udara hampa. Sekejap kemudian, lantai kaca yang dipijaknya retak dan pecah berkeping-keping, membuatnya terjun bebas ke dalam keabadian yang gelap, sebelum akhirnya sebuah tangan misterius berwajah ramah—yang perlahan berubah menjadi seringai men
Suasana di lantai teratas gedung pencakar langit Lennox Group di Manhattan terasa begitu sunyi, kaku, dan diisi oleh ketegangan yang sanggup meremukkan saraf siapa pun yang berada di dalamnya. Dari balik dinding kaca berukuran raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan panorama megah kota New York yang bertabur jutaan lampu malam, Asher Lennox berdiri terpaku bagaikan sebuah patung es.Kedua tangan pria itu dibenamkan ke dalam saku celana bahan berpotongan tailored berwarna arang gelap, sementara bahunya yang bidang menegak lurus dengan aura dominasi yang begitu tegas. Pantulan bayangannya di kaca tebal itu menyatu dengan kerlip lampu lanskap perkotaan di bawah sana, menciptakan gambaran seorang penguasa yang berada di puncak tertinggi, namun terkepung oleh kejenuhan dan kekacauan yang teramat sangat.Di dalam ruang kerja seluas ratusan meter persegi berinterior minimalis mewah itu, kesunyian malam hanya dipecahkan oleh suara deru halus dari sistem pendingin
Perjalanan dari basement apartemen menuju kawasan studio film di pinggiran Manhattan terasa begitu menyesakkan. Tampak di dalam mobil hitam yang dikemudikan Nora, tidak ada suara bising radio ataupun alunan musik pengisi kesunyian. Yang terdengar hanyalah deru halus mesin kendaraan, gesekan ban di atas aspal basah, dan helaan napas berat Adeline yang masih memburu.Pikiran wanita itu masih melayang liar pada konfrontasi mengerikan bersama Asher Lennox di parkiran apartemen tadi pagi. Ancaman gugatan hak asuh penuh itu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan bilah pisau beracun yang siap merobek kewarasannya kapan saja.Nora, yang fokus mengemudikan kendaraan dengan kedua tangan mencengkeram lingkar kemudi, beberapa kali melirik Adeline dari sudut matanya. Raut wajahnya menyuratkan kecemasan yang amat mendalam. Dia tahu betul sahabatnya itu sedang menanggung beban emosional yang hampir melampaui batas ketahanan manusia biasa.“Adeline ...,” panggil Nora pelan, memecah kesunyian di a
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai tipis kamar apartemen, memantulkan bayangan keemasan yang menari pelan di atas lantai kayu yang dingin. Suasana di dalam unit apartemen bertingkat itu terasa begitu hening, menyisakan keheningan mencekam yang sangat kontras dengan gemuruh badai pikiran yang terus mengamuk di dalam kepala Adeline.Wanita itu memaksakan kelopak matanya untuk terbuka setelah hanya sempat terlelap selama dua jam. Setiap kali dia memejamkan mata, pikirannya langsung terbayang oleh masalah yang datang bertubi-tubi.Dengan langkah gontai dan sendi-sendi tubuh yang terasa kaku, Adeline melangkah keluar dari kamarnya. Tubuhnya masih terbalut jaket bomber tebal abu-abu milik Jack yang semalam sengaja dia bawa masuk ke dalam rumah. Aroma maskulin yang bersih dan samar dari kain jaket itu seolah menjadi satu-satunya barier yang menahannya agar tidak runtuh di tengah deraan rasa bersalah yang meremukkan rongga dadanya.Adeline menghentikan langkahnya sejen
“T-tuan, kau tidak apa-apa?” cicit Adeline terbata-bata di sela napasnya yang memburu. Suaranya hampir tenggelam di antara derasnya air hujan yang tumpah ruah menghantam tanah dan rumput basah.Pria itu tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang kelabu menatap lurus, mengunci manik mata Adeline yang melebar karena syok. Dia perlahan menggeser tubuhnya dari tanah basah, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang tegap dan tenang, seolah insiden yang nyaris merenggut nyawa mereka barusan hanyalah tiupan angin berlalu.Tangan kokohnya terulur ke depan. Adeline, dengan sisa-sisa tenaga dan rasa terkejut yang masih menguasai dadanya, menerima uluran tangan itu. Tarikan tangan pria tersebut begitu kuat dan mantap, membantu Adeline berdiri tegak meski kedua kakinya masih terasa gemetar hebat.“Aku baik-baik saja,” jawab pria itu rendah. Suaranya berat, tenang, dan tertata rapi. Matanya menyapu penampilan Adeline sekilas dari atas sampai bawah. “Tapi sepertinya kau yang jauh dari kata baik-
Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Cole akan bertemu dengan Asher—keheningan membentang. Adeline sejak tadi hanya diam, meski sejak tadi Cole berusaha untuk mengajaknya bicara. Wanita itu tampak mati-matian menyembunyikan kepanikan di wajahnya.Ya, Adeline duduk di mobil Cole, seakan dia du
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







