Masuk“Tuan, Nyonya Talia terus mencari Anda. Beliau mendesak saya, meminta untuk membujuk Anda segera menghubunginya. Nyonya Talia sangat mencemaskan Anda, Tuan.”Paul melapor sembari menatap tuannya yang duduk bersandar di sofa kulit tebal, jemarinya menggenggam gelas kristal berisi vodka yang tinggal tersisa separuh. Paul sampai menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal—sebuah gestur refleks karena kebingungan dan kecemasan yang membuncah. Sejak tadi malam, tuannya lebih banyak memilih bungkam, meneguk alkohol tanpa henti seolah sedang mencoba membunuh sesuatu di dalam kepalanya. Perilaku tak biasa itu jelas mengirimkan sinyal bahaya bagi Paul.“Cukup katakan aku sibuk. Tidak perlu lagi direspons,” jawab Asher dingin, suaranya sarat akan penolakan yang tak bertepi. Dia bahkan enggan menatap layar ponselnya yang mungkin sudah dipenuhi panggilan tak terjawab. “Lebih baik kau laporkan padaku, informasi apa yang sudah kau dapatkan?” tanyanya kemudian, nada suaranya berubah menajam, tersirat
“Mom, di mana Dad? Kenapa hari ini aku tidak melihat Daddy sama sekali? Apa Daddy hari ini sudah berangkat kerja sebelum aku bangun?” tanya Alyssa yang sejak tadi menanyakan keberadaan ayahnya, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban dari ibunya. Gadis kecil itu sejak tadi pagi sudahTalia memijat keningnya yang mulai berdenyut membendung pening, menahan rasa kesal akibat putrinya terus menanyakan keberadaan Asher. Tadi malam setelah perdebatannya dengan Asher yang sengit hingga memicu dingin di antara mereka, dia bahkan tak mengetahui keberadaan suaminya itu. Sudah beberapa kali dia menghubungi Asher—jemarinya sampai gemetar menekani layar ponsel—tapi tak ada jawaban sama sekali. Bahkan Paul sudah dia coba telepon, dan jawaban Paul adalah Asher sibuk dengan pekerjaan.What the fuck. Itu jawaban yang sangat menyebalkan. Talia sudah mencoba mndesak Paul, agar Asher bisa bicara padanya paling tidak untuk sebentar saja, tapi sialnya Paul mengatakan Asher tidak bisa diganggu untuk sementara
Seharian penuh, Adeline memilih untuk mengurung diri di dalam apartemennya. Lebih tepatnya, dia sama sekali tidak berminat untuk menginjakkan kaki di luar pintu. Udara luar terasa terlalu penuh ancaman baginya saat ini. Bahkan, dia secara khusus meminta Marie untuk tidak membawa si kembar pergi ke taman seperti biasanya. Hari ini, dia menegaskan agar Leo dan Aurelie tetap bermain di dalam apartemen saja—entah itu menonton kartun kesukaan mereka di televisi, melukis, atau sekadar membaca buku-buku pelajaran ringkas. Bagi Adeline, menarik diri dari dunia luar adalah satu-satunya benteng pertahanan terbaik yang dia miliki sekarang.Selain mengurung diri, Adeline juga memilih untuk mematikan ponselnya total. Layar gelap tanpa kehidupan itu tergeletak begitu saja di atas meja. Proses syuting filmnya masih diliburkan dan belum ada kepastian jadwal lanjutan dari pihak rumah produksi. Menutup semua jalur komunikasi terasa begitu membebaskan, meski hanya sesaat. Dia sudah berpesan, jika memang
“Leo, kau ke mana saja? Kenapa kau kemarin menghilang? Kau tahu? Mommy menangis! Mommy khawatir padamu! Bibi Marie juga menangis. Lain kali kau pergi jangan jauh-jauh. Kau itu menyebalkan sekali!”Celotehan Aurelie memarahi Leo tepat di kala pagi menyapa. Gadis kecil itu bertolak pinggang dengan gaunnya yang sedikit kusut. Tangannya yang mungil berkacak di pinggang, menatap jengkel saudara kembarnya yang pergi membuat semua orang khawatir, termasuk dirinya. Ya, tak memungkiri gadis kecil itu juga menangis semalaman saat tahu Leo menghilang. Hanya saja, dia tampak gengsi untuk bercerita dan lebih memilih menumpahkan kekesalannya lewat ocehan panjang.Sementara itu, Leo yang duduk di kursi meja makan tetap tenang. Dia menyantap makanannya dengan lahap dan tanpa beban sama sekali. Jemari kecilnya memegang erat sepotong roti, mengunyah perlahan seolah tak ada omelan yang sedang menggelegar di depannya. Bocah laki-laki itu tidak kesal di kala mendapatkan celotehan dari saudara kembarnya. D
Jarum jam di dinding sudah melewati angka dua belas malam, tetapi sosok yang dinanti tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Tampak di dalam kamar bernuansa mewah yang sepi, Talia dilanda kegelisahan yang membakar. Langkah kakinya berulang kali bolak-balik mengikis lantai marmer, sementara matanya terus tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya erat. Harapan bahwa pesan singkatnya akan berganti status dibaca, atau ada panggilan balik dari Asher, ternyata hanya angan semata.Sejak tadi Talia tiada henti memborbardir ponsel suaminya dengan panggilan dan pesan bertubi-tubi. Hasilnya nihil. Ponsel Asher jelas aktif, tetapi pria itu secara sengaja mengabaikannya. Kenyataan itu membuat darah Talia serasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Entah urusan teramat penting apa yang membuat suaminya masih berada di luar pada jam sekrusial ini. Lagipula, sejak mengantar Alyssa pulang tadi, Talia sudah merasakan ada perubahan sikap yang aneh pada diri Asher—sesuatu yang dingin dan membenteng.Ponsel
“Sayang? Kau belum tidur?” Talia melangkah mendekat, matanya tertuju pada putri kecilnya yang duduk bersedekah dengan wajah yang terlipat sebal. Dua pengasuh yang tadinya berdiri sigap di dekat tempat tidur langsung membungkuk hormat, lalu bergegas pamit undur diri dengan gerakan tanpa suara begitu menyadari kehadiran sang nyonya rumah.“Aku belum mengantuk, Mommy.” ahut Alyssa pelan. Gadis kecil itu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang berhias kain sutra, memeluk erat boneka teddy bear merah muda kesayangannya. Sisa-sisa kekesalan masih jelas membayang di wajah cantiknya. Alyssa merasa tindakan ayahnya sangat tidak adil—dia dipaksa masuk ke kamar begitu saja, padahal permintaannya untuk kembali bermain dengan Leo bahkan belum sempat dijawab.Talia mengikis jarak, lalu mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Jemarinya yang terawat mengusap lembut helai demi helai rambut pirang dan panjang milik putrinya, mencoba menyalurkan rasa tenang.“Anak cantik tidak boleh menekuk wajah sepert
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok







