Masuk“Adeline, kenapa kau malah melamun?” Suara lembut sarat akan keheranan itu memecah keheningan kamar. Nora melangkah menghampiri Adeline, menyerahkan segelas lemon tea hangat pada sahabatnya itu, sembari ikut melabuhkan duduk di tepi ranjang berukuran queen size tersebut.Malam ini, Nora memang memutuskan untuk menginap di apartemen Adeline. Kebetulan tadi mereka baru saja menghabiskan waktu bersama untuk makan malam di sebuah restoran di Manhattan, dan demi menghemat waktu serta menghindari lelahnya perjalanan tengah malam di tengah dinginnya angin New York, menginap adalah pilihan paling masuk akal.Namun, alih-alih menyambut kedatangan sahabatnya dengan obrolan ringan, Adeline justru terpaku. Wanita itu diam seribu bahasa, bahkan sama sekali belum menyadari kehadiran Nora di sisinya. Gelas lemon tea yang baru saja diserahkan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh. Pandangannya menerawang lurus ke depan, menembus dinding kamar, seolah ada beban tersembunyi yang tengah menghimpit dadany
“Jadi, apa sebenarnya yang membuatmu ingin menemuiku secara mendadak begini? Kau tahu sendiri, jadwalku selalu padat,” ucap Vivian Rhodes dengan nada manja tapi elegan. Wanita berambut merah menyala itu duduk menyilangkan kaki, memancarkan pesona khas sosialita kelas atas.Mereka tengah berada di sebuah kafe eksklusif tersembunyi di kawasan Brooklyn. Tempat itu sengaja dipilih karena suasananya yang tenang, pencahayaan temaram yang hangat, serta penjagaan privasi yang ketat. Jauh dari jangkauan lensa kamera paparazzi ataupun wartawan gosip yang selalu haus sensasi.Isolde tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang terukir di balik cangkir wine merah yang baru saja disajikan oleh pelayan berjas rapi. Cuaca di luar sedang berada di titik terdinginnya, membuat embusan napas mengepul tipis di udara. Meskipun tubuhnya sudah dibalut mantel bulu tebal bernilai fantastis, kehangatan dari tegukan wine tetap menjadi penyelamat terbaik bagi tubuhnya.“Aku langsung saja pada intinya, Vivian.
Dentuman musik bass yang berat, bergemuruh dalam ritme konstan, berpadu dengan kelap-kelip lampu laser warna-warni yang menyengat indra begitu Paul Benson mendorong pintu berat VIP lounge sebuah kelab malam eksklusif di jantung kota. Kelab malam menjadi tempat di mana Asher melepaskan penat dari pikirannya yang kacau.Pria tampan itu tampak berantakan, dan terus menenggak alkoholnya berkali-kali. Berbagai wanita muncul mencoba menggodanya, tapi tidak ada satu pun yang dia hiraukan. Dia tampak tak tertarik pada wanita-wanita seksi yang mencoba menggodanya.Asher hanya sendiri di sana, tapi itu hanya sebentar saja. Dia yang duduk menyendiri, kali ini tak sengaja menatap asistennya melangkah cepat menghampirinya dengan sorot mata menunjukkan seperti ada sesuatu. Ya, apa pun alasannya, tetap dia kesal melihat kemunculan Paul.“Kau membuntutiku?” seru Asher kesal pada sang asisten.Paul berhenti di depan tuannya, dan sedikit menunduk sopan. Dia sebenarnya tak bermaksud mengganggu tuannya,
Malam makin larut ketika Paul Benson baru saja menutup pintu depan unit apartemennya dan melemparkan kunci keyless serta dompetnya ke atas meja nakas dengan gerakan lesu. Dia menghela napas panjang, lantas melepaskan jas kerjanya yang terasa kaku dan menyesakkan setelah seharian penuh mengurus berbagai urusan bisnis yang sangat melelahkan. Tekanan di kantor hari itu benar-benar menguras fisik dan mentalnya hingga titik nadir. Ditambah lagi dengan mood tuannya, Asher Lennox, yang naik turun secara drastis sepanjang hari akibat masalah yang datang bertubi-tubi, membuat Paul harus selalu siaga dalam posisi tegang tanpa boleh sedikit pun melakukan kesalahan. Kesalahan kecil di lingkaran mereka bisa berakibat fatal.Setelah sejenak membiarkan bahunya yang kaku rileks, Paul melangkah pelan ke arah dapur kecil di sudut ruangan untuk meneguk segelas air dingin guna meredakan tenggorokannya yang kering. Namun, di tengah keheningan apartemen yang mulai merayap, ada satu hal mengganjal yang tiba
“Bagaimana keadaanmu, Adeline?” tanya Raphael, sembari memberikan teh madu pada Adeline. Pria tampan itu duduk tepat di samping Adeline yang kebetulan sedang berada di bangku kayu taman dekat lokasi syuting, mencoba mencari udara segar demi meredakan kepalanya yang sempat pening. Suasana sore itu cukup tenang, ditemani desir angin yang berembus pelan di antara rerimbunan pohon.Adeline menerima teh madu pemberian Raphael dengan kedua tangan. Uap tipis mengepul dari cangkir tersebut, memberikan kehangatan di tengah cuaca yang mulai mendingin. “Ya, aku sudah membaik, thanks untuk tehnya,” jawabnya hangat dan ramah, mencoba menampilkan gestur senormal mungkin.Raphael menghela napas pelan, tatapannya menyendu penuh perhatian ke arah wanita di sebelah kanannya. “Jujur saja, aku sempat khawatir kemarin. Kau tiba-tiba langsung pergi begitu saja tanpa pamit, dan posisi syuting belum sepenuhnya berakhir.”Adeline meremas cangkir kertas di tangannya, rasa bersalah langsung menyergap seketika.
Suasana di dalam apartemen milik Asher terasa kian pekat dan menyesakkan, berbalut aroma alkohol yang tajam menguar dari botol vodka di atas meja rendah. Cairan bening itu telah berkurang lebih dari setengahnya, menemani dalam keheningan yang tegang. Tampak di sudut ruangan, Paul berdiri dengan postur kaku dan penuh siaga, mengamati setiap gerak-gerik tuannya yang dilanda kegelisahan akut sejak kepulangan mereka dari kunjungan singkat ke taman publik tadi.Asher menuangkan sisa vodka ke dalam gelas kristalnya, meneguknya dalam sekali gerakan tanpa mempedulikan sensasi terbakar yang merambat di kerongkongannya. Gelas itu dia letakkan kembali ke atas meja dengan bantingan kasar yang memecah sunyi. Manik matanya menatap hampa ke dinding seberang, seolah tengah meresapi gejolak batin yang menolak untuk tenang.“Paul,” panggil Asher dengan suara berat nan serak, memecah keheningan yang mencengkeram. “Saat tadi aku menemui kembar di taman tadi, aku merasa ada yang janggal.”Paul mengerjap
Aroma tembakau begitu kuat melebur bersamaan dengan alkohol. Tampak di sebuah kamar di hotel mewah terdapat sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di dekat jendela besar, melihat pemandangan kota Paris yang gemerlap menunjukkan kemewahan.Langit malam tampak mendung. Sesekali muncul kilat petir,
Keheningan membentang dari dalam mobil. Adeline duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Nora duduk di kursi kemudi. Musim semi, memberikan udara menyejukan, tetapi angin cukup kencang membuat beberapa pohon bergoyang-goyang.“Adeline, kenapa kau malah pulang duluan?” tanya Nora sambil melirik Ad
Adeline tak bergerak sedikit pun. Tubuhnya membeku dengan pancaran mata menunjukkan jelas rasa terkejut, panik, cemas, dan rindu yang tak bisa terucapkan. Dia bahkan sampai menggelengkan kepala pelan, meyakinkan bahwa apa yang dia lihat ini mimpi. Ruangan itu seakan benar-benar tak memiliki pasok
Paris, Prancis.Empat tahun berlalu ... Suara ketukan heels menuruni podium sedikit terdengar bercampur dengan suara tepuk tangan dan musik yang berdentum. Tampak seorang wanita cantik berambut cokelat panjang dan bergelombang memberikan senyuman terbaik, di kala baru saja mendapatkan sebuah perng







