Masuk“Adeline, kau cantik sekali.” Cole menyambut hangat Adeline datang ke jamuan makan malam, bersama dengan Raphael. Detik itu dia memberikan pelukan, dan Adeline membalas sebagai bentuk menghargai sambutan hangat Cole.“Thanks, Cole,” jawab Adeline dengan senyuman di wajahnya, sambil mengurai pelukan itu.Cole kini bergantian memberikan pelukan singkat pada Raphael sambil menepuk bahu pria itu. “Kau beruntung malam ini datang ke pesta bersama dengan artis cantik yang memiliki banyak fans.” Raphael tertawa singkat. “Kau benar. Aku memang beruntung.”Adeline menggelengkan kepalanya. “Kalian berlebihan sekali.”“Well, aku tidak berlebihan sama sekali. Malam ini kau tampil luar biasa cantik. Gaun yang kau pakai sangat cocok,” jawab Cole memuji.Adeline tersenyum, menanggapi ucapan Cole itu. Sementara Raphael memberikan senyuman isyarat ke arah Adeline, menandakan bahwa memang pujiannya ketika melihat Adeline adalah nyata, bukan bualan.Tak selang lama, perhatian mulai teralihkan pada pasan
Deretan mobil mewah memanjang di sepanjang Broadway, mesin mereka berdengung pelan di bawah cahaya lampu yang gemerlap. Beberapa tamu undangan datang dengan menggunakan sopir. Namun, ada yang memang tak memakai sopir seperti salah satunya adalah Raphael.Satu per satu sopir berseragam rapi turun dari kursi kemudi, membuka pintu. Pun mobil sport Raphael sudah tiba di sana. Pria tampan itu membukakan pintu untuk Adeline bersamaan dengan tangannya terulur membantu Adeline turun dari mobil. Tentu Adeline menyambut uluran tangan Raphael.Tak perlu ditanya lagi, kilat kamera memenuhi tempat itu. Adeline dan Raphael menjadi pusat. Sebagai pemeran utama di film yang digadang-gadangkan akan melejit, membuat para wartawan memburu gambar mereka. Apalagi mereka hadir bersamaan dimomen jamuan makan malam ini. Jadi, wajar sekarang wartawan mengincar mereka.Acara jamuan makan malam diadajan di Cipriani 25 Broadway, salah satu tempat paling prestisius di New York untuk mengadakan jamuan makan malam
Suara ketukan heels terdengar di lobi apartemen, membuat Raphael yang sedang berdiri di lobi sambil bersandar di mobil sport-nya langsung mengalihkan pandangan pada Adeline yang mulai muncul.Dalam hitungan detik, Raphael terpaku tak belum bersuara apa pun melihat Adeline yang tampil begitu sempurna. Gaun yang dia beli benar-benar dipakai wanita itu. Meski tak memakai perhiasan berlebihan, tapi Adeline malah menunjukkan bahwa wanita itu benar-benar seakan seperti wanita mahal.Aroma parfum lembut Adeline makin mendekat, dan Raphael masih belum bersuara apa pun. Pria tampan itu seakan tak bisa berkutik sedikit pun. Dia masih diam, dengan tatapan penuh kekaguman pada Adeline.“Hey, Raphael. Apa kau sudah menunggu lama?” ucap Adeline hangat begitu tiba di depan Raphael.“Cantik,” pujian Raphael spontan, di kala Adeline meminta maaf. Pria tampan itu bahkan seakan tak mendengarkan ucapan permintaan maaf Adeline. Hal yang dia fokuskan adalah penampilan Adeline yang begitu cantik.Adeline ter
Gaun berwarna gold dengan model kemben, dan belahan paha tinggi membalut tubuh Talia. Rambut digerai sempurna, dengan make up bold menyempurnakan menampilan wanita itu. Tak perlu ditanya lagi, berapa dana yang dikeluarkan Talia untuk penampilannya malam ini.Jelas, dia bahkan meminta designer ternama langganannya untuk membuatkan gaun pesta untuknya di malam yang menurutnya cukup penting. Dia ingin tampil sempurna karena dia ingin semua orang tahu bahwa dia layak bersanding dengan Asher Lennox.“Perfect,” ucap Talia memuji penampilannya. Dia masih mengatap cermin, tersenyum puas gaun yang dia sudah pesan sangat cantik di tubuh indahnya. Tak mau berlama-lama, dia segera menghampiri Asher yang berada di luar. Pria tampan itu masih belum berangkat ke jamuan makan malam, karena menjawab telepon dari rekan bisnis. Namun, tentu Asher tak tahu bahwa Talia nekat ingin ikut ke pesta.“Sayang ....” Talia mendekat, menghampiri sang suami yang baru saja menutup panggilan telepon.Asher yang hen
Gaun merah panjang membungkus tubuh indah Adeline. Punggung mulus wanita itu terekspos jelas. Rambut diikat ke atas dengan model messy bun, membuatnya makin anggun dan cantik. Riasan bold, menyesuaikan warna gaun membuat Adeline malam itu tampil seksi.Lipstik merah yang memoles bibir Adeline membuatnya makin terlihat menantang. Ya, gaun yang dipakai Adeline adalah pemberian Raphael—di mana pria itu ternyata memiliki selera yang bagus. Terbukti, Adeline tampil luar biasa.“Adeline, kau sudah siap?” Nora muncul, dan seketika dia terpaku melihat penampilan Adeline yang luar biasa cantik. Adeline mengalihkan pandangannya, menatap Nora. “Sudah. Aku sudah siap,” jawabnya sambil mendekat ke arah Nora yang berdiri di ambang pintu.“Oh, My God! Kau cantik sekali!” seru Nora sampai memutar tubuh Adeline, berdecak kagum.Adeline tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kau terlalu berlebihan, Nora.”Nora berdecak lagi sambil menyentil pelan kening Adeline. “Apa yang aku katakan itu fakta. K
Cuaca di New York sedang kurang bagus. Awan gelap menutupi, dan tampak kilat cahaya petir yang seolah membelah langit megah. Adeline yang sudah selesai syuting segera berpamitan pada semua orang di lokasi untuk segera pulang. Dia tak mau berlama-lama. Pun tentu Nora sudah bersiap. Cuaca yang kurang baik membuat Adeline tampak terburu-buru.Beberapa pemeran film When I Let You Go sudah bergegas kembali ke hotel, sedangkan Raphael dengan santai masih ada di lokasi syuting sambil menikmati beer yang baru saja diantar oleh manajernya. Pria tampan itu rupanya masih belum mau kembali ke hotel. Mungkin dia memang tak takut meski harus hujan besar.“Kau mau tambah?” tawar Elijah Stone, manajer Raphael, di kala melihat beer Raphael sudah habis.Raphael mengangguk sama sekali tak menolak di kal Elijah memberikan satu kaleng beer padanya. “Thanks,” jawabnya singkat.Elijah menenggak beer. “By the way, apa Adeline setuju memakai gaun yang kau belikan untuknya di pesta nanti?” tanyanya penasaran.
Malam makin larut. Asher yang tadi berada di kamar memilih untuk berada di ruang kerjanya. Perkataan Talia tadi berhasil memancing emosi, membuatnya enggan untuk langsung tidur. Setelah tadi dia membersihkan tubuh, dia langsung mendatangi ruang kerjanya yang ada di mansion, dan segera menenggak seg
“Asher? Kau dari mana?” Kalimat pertama yang ditanyakan Talia di kala melihat Asher sudah pulang. Wanita itu tampak berusaha menahan diri. Dia tak mau mengomel, karena sadar suaminya baru pulang dari bekerja.“Paul sudah menjawab pertanyaanmu, kan?” balas Asher dingin, tampak tak acuh. Ya, sebelumn
Suasana malam penuh keheningan. Hujan yang tadi turun cukup deras kali ini sudah berhenti. Awan gelap sudah menyingkir, tergantikan dengan kumpulan awan cerah yang tak lagi menutupi keindahan bulan dan bintang.Adeline duduk tenang di dalam mobil, membiarkan Asher melajukan mobil. Tak ada percakapa
“Bagaimana keadaannya?” tanya Asher pada sang dokter yang baru saja selesai memeriksa luka di kepala Adeline. Tampak sorot mata pria itu dingin, menunggu sang dokter menjawab apa yang dia tanyakan.Sang dokter tersenyum di kala sudah memasang perban di kepala Adeline. “Luka di kepala Nyonya Hart ti







