LOGIN“Aku bilang turun sekarang, Talia,” potong Asher, menambahkan tekanan tajam pada setiap suku katanya.Talia berdecak kesal, matanya berkaca-kaca menahan rasa malu dan cemas. “Jawab dulu! Kau mau ke mana malam-malam begini?!”“Ada urusan pekerjaan penting yang harus aku bahas langsung dengan Paul. Sekarang turun dari mobilku,” tegas Asher lagi tanpa sedikit pun memandang ke arahnya.Talia mengembuskan napas kasar dengan dadanya yang naik turun, merasa sangat kesal dan terhina. Dia sangat membenci kenyataan bahwa Asher menolak untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Ingin rasanya Talia meluapkan amarah dan melawan, tetapi dia tahu betul batas keras kepala dan watak berbahaya dari suaminya itu. Lantas, hal terbaik yang bisa dia lakukan hanyalah melangkah keluar dari mobil dengan menghentakkan kakinya, memperlihatkan raut wajah yang dipenuhi kekesalan mendalam.Mobil sport Asher langsung meraung dan melesat pergi meninggalkan pelataran mansion tepat di detik setelah pintu mobil tertutup. P
Pintu mobil sport mewah milik Asher terhempas dan tertutup rapat, menyegel rapat gema musik dari ballroom dan kilatan pendar lampu blitz para pemburu berita di luar sana. Begitu kaca mobil kedap udara itu terkunci penuh, topeng keanggunan dan senyum manis penuh kebohongan yang sejak tadi dipasang Talia di depan para tamu VIP hancur tak berbekas. Wajah anggun itu mendadak mengeras, bergantikan dengan sorot mata yang menyala tajam dan sarat akan tuntutan yang meluap-luap.“Kau gila, Asher! Kau benar-benar sudah gila!” pekik Talia dengan suara geraman tertahan yang melengking kencang di dalam mobil. Wajah cantiknya memerah padam akibat aliran darah yang membakar amarahnya, kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.“Kenapa kau memeluk wanita itu?! Kenapa kau membiarkan semua orang melihatmu berpelukan dengannya?! Apa kau sadar siapa istrimu sekarang?! Aku, Asher! Aku istrimu!” lanjutnya dengan nada suara yang bergetar hebat, dipenuhi kekecewaan dan kecemburuan yang membak
Sebuah suara berat yang sarat akan kecemasan memecah ketegangan. Raphael muncul dari balik kerumunan dengan langkah lebar. Begitu melihat Adeline aman, guratan panik di wajah tampannya mereda, tapi tatapannya langsung berubah saat melihat keberadaan Asher di hadapan wanita itu. Raphael segera melangkah maju, menempatkan tubuhnya di antara Asher dan Adeline, secara efektif memutus kontak mata intens kedua orang itu.“Tuan Lennox,” ucap Raphael, suaranya terdengar ramah di permukaan tapi memiliki tekanan intimidasi yang nyata. “Terima kasih telah memastikan pasangan dansa saya tidak terluka saat lampu mati tadi. Saya sangat menghargain bantuanmu.”Asher menarik sudut bibirnya tipis, membentuk senyuman sinis yang sarat akan arogansi khas kelas atas. Pria tampan itu menegakkan punggungnya, menatap Raphael dari ketinggian posisinya dengan tatapan yang memancarkan dominasi dan kebekuan.“Tidak perlu berterima kasih, Tuan Vance,” balas Asher dengan nada datar yang menusuk. “Apa yang aku laku
Pasokan oksigen di sekitar Adeline mendadak seakan habis tersedot di kala tubuhnya terasa makin dirapatkan ke dalam dekapan pria itu. Jarak fisik di antara dirinya dan Asher benar-benar sudah terkikis habis. Asher merengkuhnya begitu erat, dengan gestur yang tidak bisa lagi dikategorikan sebagai sekadar ‘pertolongan darurat’. Pria itu dengan sengaja memanfaatkan momentum ini untuk mengambil kesempatan.Adeline tak bodoh. Dia sadar betul bahwa Asher sedang memanfaatkan keadaannya. Momen mati lampu seperti ini menciptakan kekacauan dan kebingungan di dalam gedung yang gelap gulita. Keadaan ini sama sekali tak bisa dikatakan aman seratus persen untuk reputasinya. Sebab, jika lampu darurat mendadak menyala dan orang-orang di ruang jamuan melihat dirinya sedang berada dalam posisi sedekat ini di pelukan Asher Lennox, dan tak menutup kemungkinan hal itu akan memicu rumor liar dan pemikiran sembarangan dari publik.Bukannya Adeline tidak tahu terima kasih. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa
Kegelapan yang pekat mendadak menelan seluruh kemegahan ballroom hotel bintang lima tempat acara jamuan makan malam eksklusif itu berlangsung. Bunyi dentang kristal, pendar lampu gantung raksasa yang mewah, dan sorot kamera media sirna seketika. Diiringi erangan pelan sistem audio yang mati mendadak akibat blackout, kepanikan massal langsung merayap cepat di antara ratusan tamu undangan dari kalangan selebriti ternama, elit bisnis dan pejabat tinggi tersebut.Suara gesekan gaun-gaun malam berbahan sutra mahal, gemeretak tumit sepatu di atas lantai marmer, langkah kaki yang serabutan, hingga bisikan cemas mulai bersahut-sahutan. Suasana santap malam yang hangat berkelas itu berubah menjadi gelombang riuh rendah yang mengaburkan arah, menciptakan paranoia sesaat di tengah kegelapan total tanpa pendar cahaya sedikit pun.Namun, bagi Adeline Hart, seluruh kebisingan dan kepanikan massal itu seolah meredup seketika, teredam oleh kesadarannya yang terhentak. Fokus sensoriknya seakan lumpuh
Dalam keadaan napas berat yang tertahan penuh paksaan, Asher terpaksa melangkah maju ke area lantai dansa bersama Talia. Tangan pria itu mendarat di pinggang Talia dengan kaku, formalitas tanpa nyawa. Senyum profesional yang dingin terpasang di wajah tampannya demi konsumsi publik dan kilatan lampu blitz.Namun, sayang fokus Asher sama sekali tidak ada pada wanita di depannya. Mata elang pria itu terus bergerak secara berkala, melacak siluet Adeline yang masih bergerak anggun dalam dekapan Raphael. Setiap kali melihat jemari Raphael merapat di tubuh Adeline, cengkeraman tangan Asher di punggung Talia tanpa sadar mengeras karena menahan gejolak cemburu yang membakar dada.“Asher, kau meremas gaun peninggalku terlalu kencang,” bisik Talia setengah mendesis, mencoba mempertahankan senyum manisnya di depan kamera walau hatinya kesal setengah mati merasakan ketidakhadiran jiwa suaminya di dansa ini.Asher tidak menyahut sama sekali. Pria itu hanya melonggarkan sedikit pegangannya tanpa mem
“Adeline? Are you okay?”Nora muncul, menatap Adeline yang tampak duduk melamun sambil memegang gelas di tangan. Dia mendekat, tapi sepertinya Adeline benar-benar tak menyadari kehadirannya.“Adeline?” panggil Nora lagi, di kala Adeline tetap tak menyadari kehadirannya. Padahal dia sudah mendekat,
Weekend yang seharusnya bahagia malah dipenuhi dengan rasa cemas bercampur kesal. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Adeline bersama dengan kembar serta Nora dan Marie telah tiba di apartemen. Setelah pindah restoran, Adeline meminta Nora menuju restoran yang ada di Brooklyn.Seharian Adeline m
Adeline mendorong agak paksa kembar untuk segera masuk ke dalam mobil. Tepat di kala kembar sudah masuk ke dalam mobil, Marie juga ikut masuk. Tinggal Nora yang masih berdiri pintu, menatap wajah Adeline yang agak panik dan terkesan terburu-buru seolah menghindari sesuatu.“Adeline? Are you okay?”
Central Park, Manhattan, New York. “Leo! Kejar aku!” Aurelia berlari sambil bermain memegang gelembung sabun yang ditiup menghasilkan bola-bola ke udara. Gadis kecil itu begitu tiba di Cintral Park langsung mengajak saudara kembarnya bermain.“Aurelia, tunggu aku.” Leo segera mengejar Aurelia. Pun







