Share

BAB 25 Testpack

Penulis: Adw_Canss781
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 23:51:55

Pagi itu, kost masih sunyi. Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.03, tapi Hazel sudah terbangun, terengah-engah menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Tubuhnya panas, perutnya bergejolak, dan setiap kali ia menelan ludah rasanya hampir ingin muntah lagi. Ia menekuk tubuh di tepi ranjang, hoodie menutupi bahunya, masker tergantung di dagu.

Sekejap ia menatap jendela, langit masih gelap, udara pagi sejuk, tapi tak mampu menenangkan tubuhnya yang gelisah. Weekend seharusnya waktunya istir
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang sedang memegang gelas es teh manis berhenti sesaat. Perasaan aneh kembali muncul seperti deja vu. Karena semalam untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membuka freezer di rumah orang tuanya tengah malam dan mengambil satu cup besar es krim, bahkan ia menghabiskannya sendiri. Padahal sejak kecil ia tidak pernah suka es krim. Ia tidak suka rasa terlalu manis, terlalu dingin, terlalu enek. Dulu ibunya sering memaksa membelikannya berbagai macam rasa, tapi selalu berakhir tidak dimakan. Namun semalam berbeda, ia tiba-tiba sangat ingin. Dan sekarang, Hazel juga menginginkan hal yang sama. Lintang mengerutkan kening tipis. Beberapa hari terakhir memang banyak hal aneh terjadi padanya. Ia tiba-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 36 Pesanan yang Sama

    Miranti sempat mencari Hazel ke parkiran fakultas kedokteran. Biasanya Hazel menunggu di sana, hanya saja hari itu Hazel tidak ada. Miranti pun turun lagi dan berjalan ke arah gerbang kampus. Baru beberapa langkah, matanya langsung menemukan Hazel yang sedang berdiri dekat pos satpam. Hazel berdiri sambil memegang plastik rujak buah di tangannya dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wajah Hazel terlihat sedikit lebih hidup. Masih pucat, masih lelah, tapi ada binar kecil di matanya. Miranti langsung menghampirinya. “Kamu dari mana? Mama cari di parkiran tadi.” Hazel menoleh. “Oh... tadi beli ini” katanya pelan sambil sedikit mengangkat plastik rujaknya. Miranti melihat isi rujak itu, lalu tanpa sadar tersenyum lega. “Tumben.” “Aku tiba-tiba pengen.” jelas Hazel yang wajahnya benar-benar sumringah hanya karena makan rujak. Miranti tersenyum lembut. “Bagus kalau sudah mau makan.” Hazel mengangguk kecil. “Tadi ada bapak-bapak lewat jualan di depan.” Miranti ter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 35 Hunian Baru dan Perubahan

    Setelah mengantar Hazel ke kampus keesokan paginya, Miranti tidak langsung pulang. Ia langsung memutar arah menuju perumahan yang kemarin sore ia datangi. Saat sampai di perumahan, yang dilihat pertama oleh Miranti, perumahan itu ternyata cukup tenang. Jalannya masih bersih dan sepi, beberapa rumah masih terlihat baru dan belum ditempati. Di dekat gerbang ada kantor pemasaran kecil, Miranti masuk ke sana. Di dalam, ia disambut oleh seorang marketing perumahan. “Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Miranti tersenyum ramah. “Saya mau tanya, masih ada rumah kosong?” “Masih, Mbak. Tapi tinggal dua unit lagi”, jawab marketing. Miranti sedikit terkejut. “Padahal kemarin sepertinya masih beberapa ya?” Marketing itu tersenyum. “Iya, kemarin dua unit baru saja terjual.” Marketing itu lalu mengambil brosur dan memperlihatkannya pada Miranti. Ia menjelaskan ukuran rumah, luas tanah, bahan bangunan, dan fasilitas di dalam perumahan itu. Rumah yang ditawarkan memang tidak

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 34 Ngidam yang Sama

    Malam itu di kost, Hazel sedang duduk di kasur sambil bersandar ke dinding. Di sampingnya ada bungkus camilan yang tadi dibeli di minimarket dan satu es krim yang belum sempat ia habiskan. Sementara Miranti duduk di lantai sambil memainkan ponselnya. Beberapa detik kemudian, wajah Miranti sedikit berubah seperti menemukan sesuatu. “Hazel.” “Hm?”, sahut Hazel. Miranti menatap Hazel. “Ibu tadi nemu rumah yang cocok buat kamu.” Hazel menoleh pelan. “Rumah?” Miranti mengangguk lalu mendekat, memperlihatkan layar ponselnya. “Itu, perumahan baru dan sepertinya masih ada beberapa rumah kosong.” Hazel melihat foto-foto rumah di layar. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup bagus. Minimal jauh lebih nyaman daripada kost sempit yang sekarang. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur kecil, ruang tamu, dan halaman depan yang meski kecil tetap cukup. “Di mana?”, tanyanya. Miranti kembali menjelaskan.“Nggak terlalu jauh dari kampus. Paling sekitar lima kilometer.” Hazel k

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 33 Perubahan Lintang

    Setelah selesai menemani Melisa berbelanja, mereka memutuskan makan malam sekalian di mall, tentu saja Melisa yang memilih tempatnya. Ia memilih restoran steak yang cukup mahal, salah satu restoran favoritnya setiap pergi bersama Lintang. Begitu mereka duduk, Melisa langsung memesan banyak, steak wagyu, mashed potato, pasta, salad, dan minuman. Lintang sejak tadi hanya menurut, pikirannya masih terasa kacau sejak sore, ia berusaha terlihat biasa saja di depan Melisa. Sampai akhirnya makanan datang, aroma daging, mentega, dan saus hangat langsung memenuhi meja. Melisa yang sejak tadi antusias langsung tersenyum. “Kelihatan enak banget...”, katanya sambil mengambil ponselnya sebentar untuk memotret makanan. Sementara Lintang justru langsung menegang. Begitu mencium aroma steak itu, perutnya tiba-tiba terasa mual, sangat mual. Ia mencoba menahannya, menarik napas pelan, namun yang ia rasakan justru semakin parah. Bau daging dan mentega itu terasa terlalu menyengat. Wajahnya perlaha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 32 Antara Hazel, Lintang dan Kevin

    Begitu masuk ke mobil, Hazel baru saja menutup pintu ketika hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar. Ia langsung menoleh ke kursi belakang, nasi bebek goreng itu sudah di pindahkan oleh Miranti ke kursi belakang. “Ada bebek goreng?”, tanyanya spontan. Miranti yang sedang memasang sabuk pengaman menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Kamu paling hafal ya sama bau bebek.” Hazel menatap bungkus makanan di kursi belakang itu beberapa detik. “Iya dong”, katanya pelan. “Kan beda sama bau ayam...” Ada sedikit cahaya di wajah Hazel. Matanya yang sejak pagi terlihat muram kini sedikit berbinar. Miranti sampai memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil. “Baru nyium baunya aja udah ketahuan.” Hazel tidak menjawab, tatapannya masih tertuju ke bungkus makanan itu. Entah kenapa, aroma nasi bebek goreng, sayur asem, sambal, tempe dan tahu itu membuat perutnya yang sejak beberapa hari terakhir sulit menerima makanan terasa sedikit lapar lagi. Dan Miranti diam-d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status