Share

BAB 25 Testpack

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-25 23:51:55

Pagi itu, kost masih sunyi. Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.03, tapi Hazel sudah terbangun, terengah-engah menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Tubuhnya panas, perutnya bergejolak, dan setiap kali ia menelan ludah rasanya hampir ingin muntah lagi. Ia menekuk tubuh di tepi ranjang, hoodie menutupi bahunya, masker tergantung di dagu.

Sekejap ia menatap jendela, langit masih gelap, udara pagi sejuk, tapi tak mampu menenangkan tubuhnya yang gelisah. Weekend seharusnya waktunya istir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 79 Tatap Muka

    Lintang masih berdiri di depan toko bunga sambil memandangi tiga bocah kecil di depannya. Lampu toko yang hangat menerpa wajah-wajah kecil itu pelan. Sedangkan langit Bandung sudah mulai benar-benar gelap sekarang. Liana masih memeluk paperbag makanan sambil menatapnya penuh harap. “Nanti kesini lagi kan Om?” Lintang diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil samar. “Kalau Om gak sibuk ya.” Liana langsung sedikit manyun. “Kenapa sibuk terus…” “Karena Om kerja.” jawab Lintang. “Om kerja dimana?” tanya Leyan. Lintang mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah ujung jalan seberang taman. Di sana terlihat gedung tinggi kantor cabang Narendra Group Bandung berdiri cukup mencolok dengan lampu-lampu kantor yang masih menyala. “Di kantor yang ada disana.” Leyan langsung mengikuti arah telunjuknya. Matanya membulat kecil. “Kantor yang gede itu ya Om?” Lintang mengangguk. “Iya.” “WAH…” Leyan tampak benar-benar kagum sekarang. “Itu punya Om?” Lintang tertawa kecil.

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 78 Makan Bersama

    Aroma bebek goreng hangat memenuhi meja mereka. Suara sendok beradu pelan dengan piring bercampur suara ocehan tiga bocah kecil yang tidak pernah benar-benar diam sejak tadi. Leyan jelas jadi yang paling fokus dengan makanan. Bocah itu makan dengan lahap sekali, paha ayam di satu tangan. Sedangkan paha bebek di piringnya sudah mulai habis setengah. “Pelan-pelan.” Lintang sampai tertawa kecil melihatnya. “Nanti keselek.” Leyan langsung menggeleng cepat sambil tetap mengunyah penuh semangat. “Enggak.” Sedangkan Liana justru mulai sibuk sendiri dengan dada ayam goreng pilihannya. Ia mencoba menyuir sendiri. Gagal lalu mencoba lagi, lalu masih gagal. “Kok susah…” Lintang memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya menarik pelan piring kecil itu ke arahnya. “Sini.” Liana langsung mendongak. “Hm?” “Om bantu.” ucap Lintang. Mata bocah kecil itu langsung berbinar. “YEAAY.” Sedangkan Lintang yang duduk di samping adiknya langsung menghela napas kecil. “Makanya belajar makan sendiri

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 77 Makan dengan Si Kembar

    Mobil hitam milik Lintang Aksara Narendra akhirnya berhenti di depan bangunan besar dengan papan nama khas yang menyala cukup mencolok. Bebek Goreng Pak Karim - Bandung. Cabang Bandung memang berbeda dibanding cabang lain. Bangunannya jauh lebih besar, lebih modern dan selalu ramai hampir setiap hari. Lampu-lampu hangat di bagian depan resto mulai menyala menyambut sore yang perlahan menuju malam. Area parkir cukup penuh, beberapa keluarga terlihat baru datang. Sedangkan aroma khas ayam dan bebek goreng langsung tercium bahkan sejak mereka baru turun dari mobil. “WAAAH…” Liana langsung membulatkan mata kagum begitu melihat bangunan besar di depannya. “Bagus bangettt…” Sedangkan Leyan sibuk melihat papan nama resto sambil menunjuk kecil. “Yang itu gambar bebeknya lucu.” Lintang sampai tersenyum kecil melihat reaksi mereka. Ia turun lebih dulu lalu membukakan pintu satu per satu. “Pelan-pelan aja.” Seat belt dilepas, Liana langsung turun duluan sambil lompat kecil. Sedangkan L

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 76 Izin Makan

    Aroma bunga segar langsung terasa begitu mereka mendekati toko bunga kecil di pinggir taman itu. Deretan bunga warna-warni memenuhi bagian depan toko mawar, lily, baby breath dan beberapa tanaman gantung kecil tersusun rapi di rak kayu dekat pintu masuk. Belum juga benar-benar sampai Liana sudah lebih dulu berlari kecil sambil masih menggandeng tangan Lintang. “NENEKKK!” Suara cemprengnya langsung memenuhi toko bunga. “NENEK! NENEK DIMANAAA?” Lintang kecil spontan menutup wajah kecilnya sendiri. “Liana…” gumamnya pasrah. Sedangkan Leyan malah tertawa kecil melihat kakaknya teriak-teriak seperti toa berjalan. Tak lama kemudian seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu belakang toko sambil membawa beberapa tangkai bunga yang baru dipetik. “Ya ampun Liana…” Ia langsung menghela napas sambil tertawa kecil. “Jangan teriak-teriak. Nenek denger kok sayang.” Liana langsung nyengir lebar. “Lupa.” Miranti menggeleng kecil sebelum akhirnya memperhatikan tiga cucu kecil itu lebih

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 75 Namanya Hazel

    Lintang masih duduk di bangku taman dengan dada tang terasa sesak. Kalimat kecil itu membuat dada Lintang terasa seperti diremas semakin keras. “Enggak…” Suaranya keluar lebih pelan sekarang. “…enggak jelek kok.” Tatapan mata Lintang kecil akhirnya kembali naik ke wajahnya. Bocah kecil itu terlihat benar-benar mendengarkan. “Kalau gitu…” Ia mengernyit kecil. “…kenapa ayah bilangnya sambil marah-marah ke Bunda?” Lintang langsung menegang lagi. “Kamu lihat?” Lintang kecil mengangguk pelan. “Gak sengaja.” Tatapannya kembali turun. “Soalnya Bunda pernah ajak kami ke rumah di Jakarta…” Suara bocah itu mulai mengecil. “Tapi ayah gak suka.” Lintang diam, rahangnya perlahan mengeras. “Terus ayah suruh Bunda antar kami balik ke sini.” lanjut Lintang kecil. Angin sore bergerak pelan melewati bangku taman itu dan setiap kalimat kecil yang keluar dari mulut anak di sampingnya terasa seperti menghantam kepala Lintang tanpa jeda. Lintang kecil memainkan jemarinya sendiri pelaNa Nada suaran

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 74 Anak Haram

    Lintang Kecil masih berdiri tenang di dekat bangku taman sambil memperhatikan Lintang Aksara Narendra lekat-lekat. Tatapan bocah kecil itu benar-benar fokus, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari wajah laki-laki di depannya. Sedangkan Lintang sendiri mulai kesulitan mengendalikan pikirannya. Semakin lama semakin terasa jelas kemiripan itu. Bentuk wajah kecil itu, cara diamnya, tatapan tenang yang terlalu dewasa untuk anak seusianya dan terutam raut wajah datar saat memperhatikan orang. Persis dirinya waktu kecil. Di belakang mereka, suara Liana dan Leyan masih terdengar saling ribut sambil berlarian muter-muter. “Balikin punyaku!” “Enggak!” “Leyan jahat!” “Putri manja!” “AKU BUKAN MANJA!” Liana langsung mengejar adiknya sambil manyun kesal. Sedangkan Leyan ngakak kecil sambil kabur membawa botol gelembung sabun. Lintang kecil hanya melirik sekilas ke arah dua saudaranya lalu kembali menatap Lintang. Ekspresinya tetap tenang. “Om orang sini?” Lintang menggeleng kecil. “

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 17 Kenyataan yang Menyakitkan

    Hazel tidak ingat kapan tepatnya ia berhenti menangis. Yang ia ingat hanya lelah. Lelah yang menumpuk, menggerogoti tubuhnya sampai tidak ada lagi tenaga yang tersisa, bahkan sekadar untuk mengeluarkan suara. Tangisnya semalam tidak benar-benar berhenti, hanya melemah terseret pelan sampai akhirnya

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 16 Hazel yang Malang

    Cahaya remang dari lampu tidur menyinari wajah Hazel. Kelopak matanya bergerak pelan, bergetar seolah menolak untuk benar-benar sadar. Namun perlahan, ia membuka mata, pandangan Hazel masih buram. Langit-langit kamar terasa asing. Nafasnya berat, tubuhnya terasa kaku dan nyeri, seolah setiap bagian

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 15 Eksekusi yang Terlaksana

    Tubuh Hazel terasa lemas, setiap gerakan terasa berat. Ia menyadari dirinya tak bisa bergerak bebas, tangan sementara kaki dan badannya ditahan oleh beberapa sosok yang lain disana, tubuhnya juga terasa kaku akibat obat bius yang diberikan padanya. Panik mulai merayapi setiap sudut pikirannya. Sos

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 14 Eksekusi

    Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status