Share

BAB 86 Kerja Terus

Author: Adw_Canss781
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-29 19:26:17
Suasana depan toko bunga masih dipenuhi suara tawa kecil tiga bocah itu. Liana masih sibuk berdiri dekat Lintang sambil memeluk lengannya. Sedangkan Leyan sudah mulai membuka lagi paper bag makanan yang tadi dibawa pulang.

“Leyan…” Lintang kecil langsung menegur pelan. “Itu buat nanti dirumah.”

“Aku cuma lihat.” Leyan mengelak.

“Kamu lihat sambil makan.” Liana kembali protes.

“Dikit.” Leyan sampai menampilkan cengirannya.

Lintang sampai tertawa kecil melihat dua bocah itu. Namun bel
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 162 Takut Pulang

    Tatapan Lintang masih tertuju pada Hazel yang berdiri canggung dekat meja. Sementara di layar video call, Widya masih terus mengobrol ringan dengan Hazel sambil sesekali tertawa kecil mengenang kejadian lama itu. Sedangkan Levian mulai sibuk menimpali sana-sini dengan komentar absurd khas dirinya. Namun di tengah keramaian kecil itu pikiran Lintang justru perlahan melayang jauh ke masa lalu. Ke pagi dingin di Bandung bertahun-tahun lalu. Saat dirinya berjalan cepat mencari mommy nya yang katanya hampir kecopetan. Saat dirinya melihat seorang gadis berjalan menjauh dengan langkah ringan. Rambut dikuncir cepol, tubuh kecil dan dirinya waktu itu hanya melihat sekilas menatap punggung yang menjauh. Tanpa peduli, tanpa berniat mengenal lebih jauh. Karena saat itu pikirannya masih penuh hal lain. Tentang organisasi kampus, tentang hidupnya dan tentang Melisa. Tatapan mata Lintang perlahan turun. Rahangnya sedikit mengeras kecil. Sekarang setelah mengetahui semuanya dia baru sadar sesu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 161 Gadis Penolong

    Tatapan Widya masih memperhatikan sekeliling ruangan lewat layar video call. Semakin diperhatikan ruangan itu jelas terlalu bagus untuk ukuran rawat inap biasa. Lampu hangat, sofa besar, meja tamu lengkap dan interior yang lebih mirip suite hotel dibanding kamar rumah sakit. Alis perempuan elegan itu langsung naik perlahan. “Ini kamar bagus sekali…” Tatapannya menyipit curiga ke arah dua putranya. “VIP ya?” Detik itu juga Levian refleks menjawab paling cepat sebelum adiknya sempat buka suara lagi. “Oh tadi udah dipindahin mom. Awalnya dia di ruang rawat biasa.” Jawabannya terdengar sangat lancar. Sampai Lintang cuma bisa memandang datar ke arah kakaknya dari atas ranjang. Tatapan itu benar-benar seperti bilang, “Lo keterlaluan.” Namun Levian malah pura-pura sibuk mengatur angle kamera. Mereka mulai terlihat jauh lebih tenang sekarang. Karena setidaknya menurut versi cerita Levian, Lintang hanya sakit perut akibat salah makan. Tatapan perempuan itu perlahan kembali bergeser k

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 160 Mommy

    Suasana ruangan rawat malam itu perlahan mulai terasa lebih santai. Hazel bahkan sudah terlihat jauh lebih tenang dibanding siang tadi. Meski matanya masih sembab karena menangis, setidaknya sekarang perempuan itu sudah bisa ikut tertawa kecil mendengar ocehan Levian Ankara Narendra yang memang absurd dari lahir. Sedangkan Lintang kembali fokus pada tablet di tangannya sambil sesekali menjawab singkat ucapan kakaknya. Namun ketenangan itu mendadak buyar saat terdengar suara. 'BRRRTTT.' Ponsel milik Levian bergetar cukup panjang di atas meja. Laki-laki itu awalnya masih santai mengambil ponselnya sambil rebahan miring di sofa. Namun begitu melihat nama yang muncul di layar wajahnya langsung berubah. “Waduh…” Lintang bahkan belum menoleh. “Kenapa?” Levian langsung duduk tegak. “Daddy.” Detik itu juga Lintang akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya langsung menyipit tipis, dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini akan ke mana. Levian buru-buru menerima panggilan. “Halo dad—”

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 159 Kantor

    Mobil milik Levian akhirnya masuk ke area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Suasana kantor yang awalnya biasa saja perlahan mulai berubah saat beberapa karyawan menyadari mobil yang datang itu bukan mobil milik Lintang Aksara Narendra. Awalnya mereka hanya melirik sekilas. Namun begitu pintu mobil terbuka, satu persatu wajah mulai berubah tegang. Karena yang turun dari kursi pengemudi justru direktur utama mereka sendiri. Levian Ankara Narendra. Laki-laki itu turun santai dengan kacamata hitam masih terpasang, sementara tiga anak kecil ikut turun dari mobil dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding para karyawan yang melihat mereka. “ASTAGA…” Salah satu staf perempuan langsung menepuk lengan temannya pelan. “Itu pak Levian kan?!” “YA IYALAH!” “Ngapain direktur utama kesini mendadak?!” Beberapa satpam sampai refleks berdiri lebih tegak. Sedangkan dua staf marketing yang tadi masih bercanda dekat pintu masuk langsung buru-buru merapikan pakaian mereka. Karena

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 158 Kehilangan Kendali

    Setelah sambungan telepon itu terputus, ruangan rawat kembali dipenuhi keheningan. Namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berat. Hazel masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Tatapannya kosong lurus ke depan dan perlahan air matanya kembali jatuh. Awalnya sedikit tapi Satu. Lalu semakin banyak. Bahu perempuan itu mulai bergetar kecil. Bukan tangisan keras. Melainkan tangisan orang yang terlalu lama menahan semuanya sendiri sampai akhirnya tidak kuat lagi. “Aku… Suaranya pecah pelan. “Aku capek…” Hazel memang selalu terlihat menahan semuanya sendirian. Tetap bekerja, tetap mengurus anak-anak dan tetap bertahan. Padahal dirinya sendiri perlahan hancur. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya bergerak lebih dekat. Tangannya perlahan mengusap punggung tangan Hazel pelan. Lalu berpindah mengusap punggung perempuan itu perlahan. Gerakannya tenang dan hati-hati seperti takut membuat Hazel semakin rapuh. “Udah…” Suara Lintang rendah. “Jangan nangis terus.” Tatapannya turun

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 157 Emosi yang Meluap

    Suara kasar Rehan masih terdengar memenuhi ruangan rawat itu. Bentakan demi bentakan keluar tanpa jeda. Sedangkan Hazel duduk diam di atas ranjang dengan tubuh yang mulai menegang. Tatapan matanya turun, jemarinya menggenggam ujung selimut erat. Lintang bisa melihat jelas perempuan itu sebenarnya gemetar sedikit. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama hidup di bawah tekanan seperti ini. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya duduk lebih dekat di sisi ranjang. Lalu perlahan tangannya menyentuh tangan Hazel. Hangat dan tenang, tidak menggenggam keras. Hanya menyentuh pelan seperti memberi tahu dirinya ada di sana. Sentuhan kecil itu langsung membuat Hazel sedikit tersadar. Tatapan perempuan itu perlahan berpindah ke arah Lintang. Sedangkan laki-laki itu hanya menatap tenang sambil mengangguk kecil. 'Jawab. Kamu bisa.' Entah kenapa keberanian kecil itu akhirnya muncul lagi di diri Hazel. Perempuan itu menarik napas pelan, lalu akhirnya bicara. “Ngapain kamu repot-repot ke r

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 27 Menyampaikan Kebenaran

    Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 14 Eksekusi

    Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 12 Rencana Penjebakan

    Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 8 Benih Kesal dan Perhatian yang Terpecah

    Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status