Share

Bab 5

Author: Duyla
Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.

Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."

Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa. Dia sudah terbiasa. Dia akan baik-baik saja."

"Kamu sudah bangun?" Tatapan Calvin mendarat ke arah Valeria. Melihat Valeria sudah sadar, pria itu pun berkata dengan nada datar, "Dengan kemampuanmu, membunuh seekor anjing serigala harusnya nggak sampai bikin kamu terluka separah ini."

"Kamu pasti marah padaku karena aku nggak melindungimu, jadi kamu sengaja …."

Valeria memotong ucapan Calvin dengan tawa sinis. Tawa itu menarik luka di perutnya yang didapat sebelumnya, sehingga membuat wajah Valeria langsung pucat pasi. "Pak Calvin, aku ini cuma pengawal. Mana mungkin aku menunggu majikanku untuk melindungiku?"

"Pengawal sepertiku ini, kalau mati tinggal cari penggantinya saja. Sangat praktis, 'kan?"

Calvin menatap Valeria dengan tenang. Suaranya terdengar dalam. "Kamu menyalahkanku?"

"Waktu itu situasinya darurat. Tania beda denganmu. Tubuhnya lemah. Sementara kamu sudah terbiasa bertarung mempertaruhkan nyawa. Kamu nggak bakal kenapa-napa …."

Valeria menjawab dengan nada dingin, "Aku nggak berani."

Dia memalingkan wajah, tidak ingin lagi menatap pria itu.

...

Tiga hari kemudian, mungkin sebagai upaya untuk menghiburnya, Calvin berinisiatif mengajak Valeria pergi menonton konser musik.

Mendengar ucapannya, Valeria menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosi rumit di matanya.

Sejak kecil, Valeria hanya menerima pelatihan bela diri dan teknik pembunuhan di kamp pelatihan. Dia tidak mengerti musik, apalagi menyukainya.

Sebaliknya, Tania justru berkata dengan penuh semangat, "Calvin, kamu bahwa rela habiskan puluhan miliar demi mendatangkan penyanyi luar negeri untuk tampil demi aku. Kamu baik sekali padaku …."

Benar saja.

Semuanya tetap demi Tania.

Saat konser musik berakhir, terdengar letusan tembakan.

Secara naluriah, Valeria langsung pasang badan melindungi Calvin dan mencabut pistol yang selalu dibawanya.

Kerumunan orang yang panik berlarian kocar-kacir ke segala arah, memisahkan Valeria dan Calvin di tengah kekacauan.

Saat Valeria berhasil menemukan Calvin, pria itu sudah tertembak di dada. Darah segar membasahi kemejanya.

Tania berdiri di samping dengan panik dan tidak berdaya. Dia menangis tersedu-sedu. "Calvin! Calvin!"

Valeria segera menggendong Calvin di punggungnya dan bergegas membawanya ke rumah sakit.

Dengan cemas, Valeria menunggu di depan pintu ICU. Dia mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Tak lama kemudian, dokter pun keluar. "Pasien mengalami pendarahan hebat dan butuh donor darah. Siapa di antara kalian yang golongan darahnya A?"

Asisten di samping mereka angkat bicara, "Bu Tania dan Valeria sepertinya sama-sama bergolongan darah A …."

Mendengar itu, Tania segera menyahut, "Tubuhku lemah. Aku nggak bisa mendonorkan darah …."

Belum sempat kalimatnya selesai, Tania menoleh ke arah Valeria. "Keluarga Linggar sudah membesarkanmu selama bertahun-tahun. Sekarang, waktunya bagimu untuk membalas budi …."

Valeria tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya menatap Tania dengan dingin dan tertawa sinis di dalam hati. Akan tetapi, Tania menganggap diamnya Valeria itu sebagai tanda penolakan.

"Apa maksudmu? Kamu nggak mau menyelamatkan Calvin? Kalian semua, cepat tahan dia dan ambil darahnya!"

Asisten itu tampak serba salah, hingga Tania kembali angkat bicara, "Apa kalian nggak bisa lihat siapa sebenarnya calon istri bos kalian di masa depan?"

Beberapa pengawal tidak lagi ragu-ragu. Mereka maju dan meringkus Valeria.

Dokter tidak berani bertindak. Akan tetapi, Tania berkata dengan angkuh, "Kalau terjadi sesuatu pada Calvin, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa meloloskan diri!"

Jarum suntik pun menusuk pembuluh darah Valeria.

Satu tabung darah, dua tabung darah, tiga tabung darah ….

Pengambilan darah itu berlangsung lama dan seakan tidak ada tanda-tanda akan berhenti.

Valeria merasa seakan nyawanya perlahan-lahan ikut mengalir hilang bersama darahnya.

Akhirnya, pandangan Valeria menjadi gelap gulita ….

Saat kembali tersadar, Valeria mendapati dirinya ternyata tergantung di tebing pinggir laut.

Embusan angin dingin menerpanya, membuat Valeria goyah, seakan siap jatuh kapan saja.

Sebelum Valeria memahami apa yang sebenarnya terjadi, suara Calvin sudah bergema di telinganya.

"Valeria, beraninya kamu memaksa mengambil darah Tania? Bukankah sudah kubilang kalau tubuh Tania lemah?"

"Bukan cuma itu. Kamu bahkan berani mengkhianatiku dengan membocorkan keberadaanku pada Keluarga Sasmito?"

"Apa kamu begitu membenciku cuma demi si penyakitan itu?"

Valeria pun menyadari bahwa dirinya kembali dijebak oleh Tania. Kali ini, dia tidak lagi membela diri, melainkan memilih untuk membisu.

Percuma saja, sebanyak apa pun dia bicara, pria itu tidak akan pernah memercayainya.

Nyawa ini adalah pemberian Calvin, maka anggap saja sekarang dia sedang mengembalikannya.

Melihat Valeria membisu, amarah Calvin pun makin meluap. "Aku mau lihat, sampai kapan kamu akan terus keras kepala!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 7

    Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa,

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 6

    Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya ta

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 3

    Di perjamuan amal itu, Calvin menjaga Tania dengan penuh perhatian.Saat Tania merasa kedinginan, Calvin melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu wanita itu dengan penuh perhatian. Saat Tania tidak bisa minum alkohol, Calvin menggantikannya untuk minum. Bahkan, untuk perhiasan dengan harga selangi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status