共有

Bab 7

作者: Duyla
Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.

Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"

Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa, aku akan menanganinya."

Tania belum sepenuhnya pulih dari perasaan nyaris mati barusan. Nada bicaranya terdengar panik. "Nggak! Valeria nggak akan mendengarkanmu. Kakaknya sudah mati. Dia pasti akan balas dendam pada kita!"

"Calvin, ayo kita bunuh dia!"

Calvin terdiam sejenak. Ekspresinya langsung berubah dari lembut menjadi sedingin es.

"Selain aku, nggak ada yang boleh menyentuhnya."

"Tania, bersikap lembut dan pengertian adalah kelebihanmu. Jangan lupakan itu."

Tania tersentak sadar dan segera melembutkan nada suaranya. "Calvin, aku cuma merasa begitu ketakutan. Tolong jangan marah …."

Wajah Calvin sedikit melunak. Dia lalu memberi perintah kepada asistennya, "Bawa kembali jenazah Devan. Bagaimanapun, dia kakak kandung Valeria. Dia harus segera dimakamkan dengan layak."

...

Valeria membuka matanya dari pingsan dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

Pikirannya sepenuhnya terpaku pada gambaran kematian Devan.

"Kak, aku pasti akan balaskan dendammu."

Lantaran Calvin sudah yakin bahwa dia mengkhianatinya, Valeria pun akan benar-benar melakukannya!

Kakak beradik Keluarga Damira sudah menyebabkan kematian Devan. Valeria akan pastikan mereka membayar utang darah itu dengan nyawa!

Di mata Valeria hanya tersisa kebencian yang menggila, sementara ujung jarinya sedikit gemetar.

Tiga hari kemudian, Calvin datang menjenguk Valeria dengan raut wajah yang lembut. "Valeria, besok pemakaman kakakmu. Pergilah mengantarnya untuk terakhir kali."

Valeria mengangguk patuh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat Valeria begitu penurut, Calvin pun merasa lega di dalam hati. Dia berjalan mendekat dan mengusap lembut kepala Valeria dengan telapak tangannya.

"Kalau saja dari dulu kamu menurut seperti ini, semuanya nggak akan jadi serumit ini."

Valeria berkata dengan tenang, "Calvin, besok bolehkah Felix hadir? Aku mau dia minta maaf secara langsung pada kakakku …."

Wajah Valeria tampak kuyu. Nada bicaranya begitu lembut hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa iba.

Calvin pun tanpa sadar mengiakan permintaannya.

...

Keesokan harinya.

Valeria duduk di dalam mobil. Dia memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela.

Saat mobil sampai di depan gerbang pemakaman, Calvin dan Tania turun terlebih dahulu.

Dengan cepat, Valeria merangkak dari kursi belakang ke kursi pengemudi, lalu mengunci semua pintu mobil.

Tatapan Valeria tertuju pada Felix yang berdiri di depan gerbang pemakaman. Felix mengenakan kemeja bermotif dengan wajah yang tampak menyeringai.

Kebencian yang sudah lama dipendam Valeria, kini menyelimuti dirinya. Valeria pun menginjak pedal gas dalam-dalam, lalu melaju lurus ke arah Felix.

Felix menyadari ada yang tidak beres dan baru saja hendak melarikan diri. Akan tetapi, mobil itu sudah menghantamnya dengan keras hingga dia terpental dan jatuh terjerembap ke tanah.

Valeria memutar setir, berniat untuk kembali menabraknya.

Beberapa mobil SUV hitam mengadang di depan mobilnya. Namun, Valeria tidak ragu sedikit pun. Berkali-kali dia menginjak pedal gas, menerjang maju menghantam rintangan di depannya.

Bahkan, ketika bagian depan mobilnya sudah ringsek dan darah segar mengucur deras dari keningnya, Valeria tetap tidak berhenti ….

Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk membongkar paksa kunci mobil. Saat dia memukul Valeria hingga pingsan, Valeria berkata, "Calvin, selama aku masih hidup, tiap menit dan tiap detiknya, aku nggak akan pernah menyerah …."

Sesaat sebelum kehilangan kesadaran, Valeria mendengar Calvin berbisik, "Valeria, kenapa kamu selalu saja … bikin aku kecewa?"

…

Saat Valeria kembali terbangun, Calvin mengangkat kelopak matanya dan melirik Valeria dengan acuh tak acuh. "Tiga tulang rusuk dan satu kaki Felix patah. Apa amarahmu sudah cukup terlampiaskan?"

"Kemarin aku sudah perintahkan orang untuk memakamkan Devan. Masalah ini sudah dianggap selesai."

Valeria menatap Calvin dengan penuh kebencian. "Nggak mungkin."

Tatapan mata Calvin menjadi agak dingin. "Kamu mau kakakmu nggak bisa istirahat dengan tenang, bahkan setelah dia mati?"

Napas Valeria tertahan. Dia menatap Calvin dengan tidak percaya.

Tatapan mata Calvin tampak kelam dan sulit dibaca. Suaranya juga menjadi rendah. "Cukup minta maaf pada Felix di hari dia keluar dari rumah sakit, jadi masalah ini akan dianggap selesai."

"Mulai sekarang dan seterusnya, nggak ada yang diizinkan untuk mengungkitnya lagi."

Hari di mana Felix keluar dari rumah sakit, bertepatan dengan pesta ulang tahun Calvin.

Di atas kapal pesiar, para tamu undangan datang berbondong-bondong.

Valeria mengenakan gaun terusan berwarna hijau zamrud, dengan rambut disanggul tinggi.

Tania tidak tahan untuk tidak mencibir, "Kalau sudah berdandan, kelihatan lumayan juga. Pantas bisa memikat hati Calvin!"

"Nanti, mintalah maaf baik-baik pada kakakku. Kalau nggak, akan kuhamburkan abu kremasi Devan ke udara!"

Valeria meliriknya dengan dingin tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat pesta sudah berlangsung setengah jalan, Felix muncul dengan duduk di kursi roda. Valeria berjalan menghampirinya sambil membawa segelas anggur merah.

Melihat Valeria, Felix sama sekali tidak merasa panik. Sebaliknya, dia berkata dengan nada meremehkan, "Cuma kamu? Masih berani bermimpi ingin membunuhku?"

Valeria berkata dengan acuh tak acuh, "Aku memang nggak seharusnya menabrakmu …."

Valeria melangkah ke belakang kursi roda Felix. Dengan cepat, dia mencabut tusuk konde dari sanggul rambutnya dan menyayat tenggorokan Felix.

Darah segar tepercik ke wajah Valeria, tetapi bibir Valeria justru tersenyum puas.

"Harusnya aku membunuhmu dengan cara seperti ini!"

Seketika itu juga, para tamu undangan lari berhamburan menyelamatkan diri.

Valeria mengangkat tangan untuk menyeka bekas darah di sudut bibirnya. Dia lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Suara tawanya melengking bagai raungan hantu, sehingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ngeri.

Matanya yang hitam pekat seakan siap menelan apa pun yang ada di hadapannya.

Tiba-tiba, Valeria melihat Tania menjerit histeris. Seketika itu juga, matanya kembali dipenuhi niat membunuh. Valeria pun langsung menerjang ke arah Tania.

Tepat saat tusuk konde Valeria hampir menyentuh leher Tania, terdengar suara letusan tembakan.

Tubuh Valeria tertembus peluru yang dilepaskan oleh Calvin dan langsung jatuh ke laut layaknya sehelai daun kering yang gugur.

Saat air laut menelan tubuhnya, Valeria melihat bayangan dirinya saat berusia tujuh tahun. Seorang anak yang begitu kurus dan lemah, sedang berebut tulang dengan anjing liar untuk dimakan.

Saat itu, Calvin menyodorkan sepotong paha ayam padanya dan bertanya, "Kamu mau ikut pulang bersamaku?"

Valeria memejamkan mata dan di lubuk hatinya, dia berbisik lirih, 'Nggak.'

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 6

    Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya ta

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 5

    Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."Calvin menenangkan Tania dengan le

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 3

    Di perjamuan amal itu, Calvin menjaga Tania dengan penuh perhatian.Saat Tania merasa kedinginan, Calvin melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu wanita itu dengan penuh perhatian. Saat Tania tidak bisa minum alkohol, Calvin menggantikannya untuk minum. Bahkan, untuk perhiasan dengan harga selangi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status