Share

Bab 6

Author: Duyla
Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….

Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.

Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya tampak muram.

"Setiap orang yang mengkhianati Keluarga Linggar harus mati. Kamu begitu yakin kalau aku nggak bakal tega membunuhmu, 'kan?"

"Kalau begitu, nyawa kakakmu juga nggak perlu dipertahankan lagi."

Bibir Valeria yang pecah-pecah karena dehidrasi terbuka dengan susah payah. "Benar-benar … bukan aku …."

"Kalau kamu mau membunuh, bunuh saja aku!"

Valeria bangkit dengan tertatih. Suaranya yang serak dan kering terdengar gemetar.

Calvin mendengus dingin, lalu memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Valeria kembali ke kediaman Keluarga Linggar.

Di depan layar komputer, Calvin memaksa Valeria untuk menengadah.

Di sana, Valeria melihat Devan terbaring lemah di atas tempat tidur dengan kedua mata tertutup rapat.

Felix menyesuaikan sudut kamera ke arah dirinya sendiri, lalu berkata sambil tersenyum, "Valeria, kudengar kamu mengkhianati Calvin?"

"Kalau begitu, kakakmu harus menanggung akibatnya!"

Detik berikutnya, Felix mengangkat cambuk berduri di tangannya dan mencambuk punggung Devan dengan keras.

Mata Valeria langsung terbelalak dan telinganya berdenging hebat.

Valeria berlutut di kaki Calvin, memohon dengan merendahkan diri. "Aku benar-benar nggak mengkhianatimu! Pasti ada orang yang sengaja menjebakku …."

"Selain itu, kamu bisa memeriksa rekaman kamera pengawas! Di rumah sakit, akulah yang mendonorkan darah …."

"Aku mohon, lepaskan kakakku!"

Wajah Valeria pucat pasi, sementara di telinganya terus terngiang suara erangan kesakitan kakaknya.

Calvin menatap Valeria dengan tajam. Tatapannya sedingin es.

"Waktu aku terbangun di rumah sakit, cuma Tania yang menemaniku. Dokter dan pengawal, semuanya bilang kalau dialah yang menyelamatkanku."

"Kamu memohon pada Keluarga Sasmito demi Devan. Kalau itu bukan pengkhianatan, lalu apa namanya?"

Calvin melemparkan sebuah foto. Di dalam foto itu, Valeria tampak bersujud di depan pintu kediaman Keluarga Sasmito.

"Nggak! Aku nggak melakukannya!"

"Aku pingsan setelah darahku diambil. Aku nggak tahu apa yang terjadi setelahnya …."

Calvin tertawa karena saking marahnya. "Kamu pikir, aku akan memercayaimu?"

Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menahan Valeria dengan paksa, memaksa Valeria menyaksikan setiap detik saat Devan disiksa.

Ctaarrr!

Setiap ayunan cambuk yang mendarat, seakan menghujam tepat di jantung Valeria.

"Calvin! Lebih baik kamu bunuh saja aku!"

"Bunuh saja aku!"

Mata Valeria melotot seakan mau pecah, seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"Valeria, aku sudah bilang, jangan pernah bermimpi untuk bisa meninggalkanku …."

Di layar, saat Felix sedang lengah, Devan mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk memecahkan keramik di sampingnya, lalu menggunakan kepingan tajam itu untuk menggorok tenggorokannya sendiri.

Isak tangis yang tertahan tertelan oleh genangan darah. Seketika itu juga, tidak ada lagi secercah cahaya di mata Devan ….

...

Terdengar suara Felix yang kejam. "Belum juga puas main-main, sudah mati. Benar-benar nggak seru."

Seiring dengan padamnya layar, seluruh aliran darah Valeria seakan berbalik arah. Dadanya juga naik turun dengan hebatnya.

"Kak!"

Valeria meronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal. Dia lalu berlari menghampiri layar sambil menjerit histeris hingga suaranya serak.

Di sampingnya, Tania berkata dengan nada meremehkan, "Mati segampang itu. Beruntung sekali dia."

"Valeria, kamu mengkhianati Calvin. Menukar nyawa hina kakakmu dengan nyawamu sendiri, harusnya kamu bersyukur."

Valeria dengan secepat kilat menghancurkan vas bunga di sampingnya, lalu menyambar pecahannya dan menerjang ke arah Tania.

Mata Valeria merah padam, memancarkan niat membunuh yang begitu dingin.

Valeria ingin mereka membayar nyawa dengan nyawa!

Setiap serangannya yang mematikan, selalu diadang oleh Calvin.

Melihat Calvin mendekap erat Tania, Valeria pun tanpa ragu menghunjamkan pecahan kaca itu ke lengan Calvin. Saat darah merembes keluar, Valeria langsung mencengkeram leher Tania kuat-kuat.

Calvin melepaskan pegangannya karena menahan sakit. Melihat ekspresi Valeria yang tampak hilang akal, jantung Calvin langsung berdegap kencang.

Ini pertama kalinya Valeria melukainya.

Calvin tiba-tiba terpaku di tempat, seakan tidak mampu menggerakkan tubuhnya.

Wajah Tania mulai membiru karena tercekik. Sorot matanya tampak ketakutan. "Tolong …."

Tepat di saat Tania nyaris mati tercekik, barulah Calvin tersadar dan memukul Valeria dari belakang hingga pingsan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 7

    Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa,

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 5

    Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."Calvin menenangkan Tania dengan le

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 3

    Di perjamuan amal itu, Calvin menjaga Tania dengan penuh perhatian.Saat Tania merasa kedinginan, Calvin melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu wanita itu dengan penuh perhatian. Saat Tania tidak bisa minum alkohol, Calvin menggantikannya untuk minum. Bahkan, untuk perhiasan dengan harga selangi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status