Share

Bab 3

Author: Duyla
Di perjamuan amal itu, Calvin menjaga Tania dengan penuh perhatian.

Saat Tania merasa kedinginan, Calvin melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu wanita itu dengan penuh perhatian. Saat Tania tidak bisa minum alkohol, Calvin menggantikannya untuk minum. Bahkan, untuk perhiasan dengan harga selangit yang diinginkan Tania, Calvin rela memberikan penawaran tertinggi tanpa ragu demi membelikan Tania.

Valeria yang berjalan di belakang mereka, hanya bisa menatap pria angkuh itu, kini begitu memanjakan Tania dan melindunginya dengan sepenuh hati.

Ternyata, beginilah sikap Calvin saat mencintai seseorang.

Lalu, bagaimana dengan dirinya?

Hanya sebilah pisau yang bisa dibuang kapan saja.

Meski dia mati sekalipun, Calvin mungkin tidak akan peduli sedikit pun.

Para tamu undangan tampak sangat iri dan mulai berbisik-bisik, "Kapan Pak Calvin pernah bersikap sebaik ini pada seorang wanita? Kayaknya, Tania bakal segera jadi istrinya."

"Benar. Dulu aku sempat mengira Pak Calvin menyukai pengawal di sampingnya itu. Ternyata, aku saja yang berpikiran macam-macam."

"Mana mungkin wanita kayak gitu pantas bersanding sama Pak Calvin? Cuma wanita lembut seperti Tania-lah yang serasi dengannya."

Valeria mendengarkan semua bisikan itu dengan hampa, tanpa ada sedikit pun gejolak di hatinya.

Valeria sudah melihat dengan jelas, tidak ada tempat baginya di hati Calvin.

Akan tetapi, Valeria tidak menyangka akan bertemu Felix di tempat ini.

Dia pun mencari kesempatan untuk mendekati pria itu dan bertanya dengan suara rendah, "Di mana kakakku?"

Felix meneguk anggur merah di gelasnya. Tatapan matanya tampak penuh arti, sementara nada suaranya terdengar mengejek. "Mana pantas dia datang di acara kayak gini? Dia sedang mendekam di dalam kandang anjing."

Jantung Valeria langsung berdegap kencang. Matanya mulai memerah. Akan tetapi, dia berusaha keras agar suaranya terdengar tenang. "Apa yang harus kulakukan agar kamu mau melepaskannya?"

Felix memperhatikan Valeria dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian, dia mendekat ke telinga Valeria. "Naiklah ke atas dan layani aku sekali saja, gimana?"

Valeria tidak ragu sedikit pun. "Baik."

Asalkan bisa menyelamatkan kakaknya, meski harus mati sekalipun, Valeria rela melakukannya.

Di dalam kamar hotel.

Wajah Felix dipenuhi kegembiraan yang menyimpang. Dia menyibakkan pakaian Valeria, mengangkat cambuknya, lalu melecutkannya tepat ke arah luka-luka Valeria.

Tubuh Valeria gemetar hebat menahan perih. Akan tetapi, Valeria menelan kembali erangan kesakitannya.

Felix menikmati ekspresi wajah Valeria yang meringis menahan sakit yang luar biasa itu, lalu mengangkat kamera untuk memotretnya.

"Valeria, melihat sosok keras kepala sepertimu disiksa sampai jadi seperti ini, rasanya benar-benar … memuaskan."

Sebelum kata-kata penuh kemenangan itu selesai diucapkan Felix, pintu kamar tiba-tiba ditendang dengan keras hingga terbuka.

Calvin melayangkan satu tendangan hingga Felix terlempar. Sorot mata Calvin dipenuhi hawa membunuh yang mengerikan.

"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhnya?"

Felix buru-buru merangkak bangun dan berlutut di kaki Calvin.

"Pak Calvin, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia sendiri yang mau …."

Tatapan mata Calvin menjadi makin muram. Dia berjalan menghampiri Valeria, lalu mencengkeram dagunya dengan sangat keras.

"Apa yang dia katakan itu benar?"

Di belakang Calvin, Felix membuat isyarat tangan seperti menggorok leher, dengan ekspresi wajah yang kejam.

Valeria memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata sambil menggertakkan gigi, "Benar, kakakku ada di tangannya …."

Di dalam hati Valeria, terselip secercah harapan. Valeria berdoa, semoga setelah Calvin melihatnya disiksa sampai seperti ini, pria itu akan luluh dan mau menyelamatkan kakaknya.

Akan tetapi, Calvin menatap Valeria untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya tertawa sinis. "Demi Devan, kamu benar-benar rela melakukan apa saja, ya!"

"Valeria, kamu benar-benar hina."

"Gara-gara kelalaianmu menjaganya, Tania baru saja jatuh di ruang perjamuan. Katakan, hukuman apa yang pantas kuberikan padamu?"

Calvin menyeret Valeria pulang, mendorongnya ke dalam kamar mandi, lalu melucuti pakaiannya. Calvin kemudian mengempaskan Valeria ke dalam bak mandi, menyalakan pancuran dan mengguyur seluruh tubuh wanita itu dengan air yang mendidih.

"Kamu sudah disentuh oleh Felix. Kamu kotor. Bersihkan dirimu sampai bersih."

Air panas yang menyiram tubuhnya, langsung membuat kulit Valeria melepuh merah, semerah darah. Valeria tetap berdiri mematung, bahkan tidak mengerutkan dahi sedikit pun.

Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang menyayat hati di dalam dirinya.

Melihat Valeria tidak bereaksi, Calvin akhirnya meletakkan pancuran air itu. Suaranya yang dalam mengandung sedikit kegilaan. "Valeria, kamu cuma boleh jadi milikku seorang …."

Setelah Valeria selesai berpakaian dan keluar, sikap Calvin kembali menjadi acuh tak acuh. "Kaki Tania terkilir. Pergi dan buatkan sup untuknya sebagai permintaan maaf."

Valeria tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berjalan menuju dapur tanpa suara.

Valeria lalu membawa sup itu ke kamar Tania. Dia langsung keluar, tanpa berlama-lama sedetik pun di sana. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara teriakan Tania.

Valeria tidak memedulikannya. Namun, tak lama kemudian, Calvin menyeretnya ke hadapan Tania dengan wajah muram. "Katakan! Apa yang kamu campurkan ke dalam supnya?"

Melihat bintik-bintik merah yang memenuhi wajah Tania, Valeria pun tertegun sejenak sebelum akhirnya, wajahnya kembali dingin. Valeria menjawab dengan nada datar, "Aku nggak melakukan apa-apa."

Valeria tahu, ini siasat Tania.

Akan tetapi, Calvin justru tidak bisa menyadarinya. Dia mencicipi sup itu sedikit, lalu berkata dengan suara dingin, "Kamu jelas-jelas tahu kalau Tania alergi alkohol. Tapi, kamu masih saja memasukkan minuman keras ke dalam sup ini?"

Tania menghambur ke pelukan Calvin. Wajah kecilnya tampak pucat pasi. Bahunya bergetar hebat karena menangis. "Calvin, dia sengaja mencelakaiku …."

Calvin menepis mangkuk sup itu hingga tumpah. Kuah yang mendidih menciprat ke tangan Valeria dan langsung membentuk luka lepuhan yang besar.

Calvin melirik sekilas, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia segera menggendong Tania dan melangkah pergi dengan terburu-buru.

Calvin hanya melontarkan satu kalimat sebelum pergi, "Sebaiknya kamu berdoa agar Tania baik-baik saja."

Valeria tiba-tiba tertawa. Akan tetapi, di sela-sela tawanya, air matanya mulai mengalir jatuh.

Calvin, mencintaimu adalah hal yang paling kusesali seumur hidupku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 21

    Di kediaman lama Keluarga Aryaka.Valeria menyeduh secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Dia berharap kepulan uapnya bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti hatinya.Baru saja, saat dia melihat Calvin, bayangan kematian tragis kakaknya langsung terlintas di depan mata.Kenangan masa lalu itu masih terekam jelas, menyisakan kebencian yang sulit hilang di dasar hati Valeria."Valeria, Paman bilang Bi Salma baru saja membuat kue stroberi. Kamu mau coba sedikit?"Valeria tidak menjawab. Dia menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Bayu, menurutmu aku ini begitu nggak berguna, ya? Jelas-jelas dialah pelaku utama yang menyebabkan kematian kakakku. Tapi, waktu melihatnya, instingku justru ingin bersembunyi.""Selama sepuluh tahun terakhir, tiap hari aku dicuci otak untuk setia kepadanya. Sampai hari ini pun, tubuhku masih menyisakan insting-insting itu ….""Dulu, aku benar-benar mengira kalau di mana pun ada dia, di situlah rumahku."Belum sempat Valeria menyelesaikan kalimatnya, Bay

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 20

    Calvin menahan beberapa hantaman tongkat itu tanpa mengelak sedikit pun dan tanpa mengerang kesakitan sedikit pun.Para pengawal di sampingnya berniat maju untuk melindunginya. Akan tetapi, Calvin menghentikan mereka. "Kalian semua berdiri di sana. Jangan ada yang bergerak!"Calvin tahu betul bahwa tanpa pengampunan dari Pak Teja, dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Valeria.Dialah yang sudah menyebabkan kematian Devan dan dia juga yang dengan tangannya sendiri melepaskan tembakan yang nyaris menewaskan Valeria.Jangankan dipukuli, sekalipun harus menghadapi penderitaan atau bahaya ekstrem demi menebus kesalahan, Calvin akan menjalaninya dengan rela hati.Pak Teja memukul belasan kali hingga dia terengah-engah karena kelelahan."Pergi kamu dari sini!""Bajingan sepertimu nggak pantas menginjakkan kaki di kediaman Keluarga Aryaka!"Ekspresi wajah Calvin tidak berubah sedikit pun. Dengan suara gedebuk, Calvin langsung berlutut di tanah."Semua ini salahku! Selama Anda mengizin

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 19

    Vila Keluarga Linggar.Tania dibuang ke area penangkaran anjing selama tiga hari. Seluruh tubuhnya bersimbah darah. Bergerak sedikit saja sudah cukup untuk membuat Tania merasakan sakit yang menyayat ke sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu begitu hebat hingga Tania tidak sanggup lagi meneteskan air mata. Dia hanya bisa memohon dengan suara lirih, "Calvin, aku benar-benar menyadari kesalahanku …."Suara Calvin terdengar dingin. "Cukup. Lemparkan dia ke kamp pelatihan. Kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.""Jangan! Tolong jangan!"Tania tahu betapa mengerikannya kamp pelatihan Keluarga Linggar. Dia pun tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak histeris.Dibandingkan kamp pelatihan itu, Tania jauh lebih memilih dibuang ke penangkaran anjing."Tahu rasanya takut sekarang?" Calvin menatap Tania dengan wajah tanpa ekspresi. "Valeria masuk ke kamp itu saat berusia tujuh tahun. Begitu banyak bahaya yang sudah dia lalui hingga akhirnya bisa berdiri hidup-hidup di hadapanku. Kamulah yang su

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 18

    Kota Padma.Saat ini, Valeria sedang menatap hidangan dan suplemen makanan di atas meja makan. Dia terdiam lama tanpa menggerakkan sendoknya.Sejak dia diselamatkan oleh Bayu Yoganta dan dibawa kembali ke kediaman Keluarga Yoganta, pria itu tidak hanya mendatangkan spesialis untuk memeriksa kesehatannya, tetapi juga mengutus seorang ahli gizi untuk memulihkan kondisi fisiknya.Satu bulan berlalu. Tubuh Valeria sudah pulih dengan sangat baik dan berat badannya juga bertambah cukup banyak."Bayu, aku sudah nggak sanggup makan lagi."Bayu mengambil sayuran dan meletakkannya ke dalam piring Valeria. "Menurutku, kamu masih terlalu kurus. Makan yang banyak."Valeria teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, pria di hadapannya yang kini tampak tenang dan elegan ini masih seorang remaja, yang tanpa sengaja dia selamatkan.Waktu itu, usia Bayu mungkin baru sekitar sepuluh tahun. Dia terluka parah dan terbaring di tengah guyuran hujan, tampak seperti orang yang hampir mati.Saat pasu

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 17

    Mata Calvin merah padam. Tangannya mencengkeram erat buku catatan itu dan menggumamkan nama "Valeria" berulang kali.Setiap kata di dalamnya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya sedikit demi sedikit dan mencabik-cabik seluruh jiwanya hingga hancur berkeping-keping.Wajah keras kepala Valeria terbayang di depan mata Calvin, menyebabkan rasa sakit yang membuat Calvin sesak napas.Gadis itu selalu menjadi yang pertama melindunginya di saat bahaya dan tetap diam meski dirinya sendiri terluka.Saat dipersulit oleh Tania, Valeria menerima semua tatapan dingin dan ejekan itu tanpa mau membela diri.Valeria mencintainya.Valeria benar-benar mencintainya.Namun, pria itu?Dialah yang dengan tangannya sendiri mendorong Valeria ke dalam kehancuran ….Calvin berlutut di lantai, menangis hingga hatinya terasa hancur berkeping-keping.Hingga embusan angin sepoi-sepoi lewat, barulah Calvin tersadar sepenuhnya.Calvin membuka mata, sorot matanya kini sedingin es.Dia akan membuat Tania men

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 16

    Di Kantor Polisi.Wajah Calvin tampak pucat pasi. Ujung jarinya gemetar hebat.Calvin memejamkan matanya sejenak, lalu menyibak kain putih yang menutupi ranjang jenazah.Valeria terbaring dengan mata terpejam rapat. Wajahnya tampak pucat dan membengkak karena terendam air laut.Namun, hanya dengan sekali lihat, Calvin langsung bisa mengenali bahwa itu adalah Valeria.Pergelangan tangan Valeria tampak ramping dan pucat, masih menyisakan bekas luka kemerahan akibat jeratan tali.Calvin teringat hari itu. Dia sendirilah yang memerintahkan orang-orang untuk menggantung Valeria di tepi laut semalaman ….Tato bertuliskan CL di pergelangan tangan itu seakan sedang mentertawakannya.Mata Calvin memerah, ujung jarinya mengusap lembut pergelangan tangan Valeria.Dahulu, dia memaksa Valeria mentato inisial namanya. Calvin menganggap bahwa dengan cara itu, Valeria akan menjadi miliknya seutuhnya.Tidak akan ada yang bisa merebut Valeria.Setetes air mata jatuh, membasahi punggung tangan Valeria.C

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 7

    Calvin memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan obat penenang ke tubuh Valeria, lalu memerintahkan agar Valeria diawasi dengan ketat.Tania terbangun dari pingsannya. Dia merasa terkejut sekaligus ketakutan. "Calvin, dia ingin membunuhku!"Calvin menenangkan Tania dengan lembut, "Nggak apa-apa,

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 6

    Tengah malam, angin dingin di tepi pantai berembus makin kencang, membuat tali yang mengikat Valeria nyaris putus ….Setelah semalam berlalu, barulah Calvin memerintahkan orang-orangnya untuk menarik Valeria ke atas.Valeria dilemparkan ke kaki Calvin. Calvin berdiri membelakangi cahaya. Wajahnya ta

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 5

    Saat Valeria terbangun dan mencium bau disinfektan, rasa sakit yang hebat di lengannya langsung membuatnya tersadar sepenuhnya.Detik berikutnya, Valeria mendengar suara Tania. "Kalau bukan karena aku ingin pergi ke sana, Valeria nggak akan terluka parah begini …."Calvin menenangkan Tania dengan le

  • Saat Bunga Berguguran, Engkau pun Berpaling   Bab 4

    Ketika Valeria dibawa ke rumah sakit dan melihat betapa hancurnya hati Calvin saat mengkhawatirkan Tania, Valeria pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis.Calvin menatap Valeria dengan tatapan yang dingin. "Minta maaf.""Bukan aku yang melakukannya. Calvin, kamu benar-benar nggak bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status