Se connecter"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua.
"Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang. "Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. . Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuku. "Bapak sengaja cari kesemapatan ya! Seenaknya main peluk-peluk!" sentakku kesal. Lihat mukanya aja geli, malah sampe dipeluk. Lagian bisa-bisanya aku tidur seranjang sama dia. Perasaan tadi malam aku nekat gelar karpet di lantai. Kok tiba-tiba udah di kasur aja. "Kamu yang ngusel karena kedinginan, lagian aku juga nggak nafsu sama bocah bau pesing." What? Dia ngatain aku. Kurang asem. Sok-sok an banget. Dia pikir dia keren berani ngatain aku. "Bapak jangan sembarangan ya ngatain aku--" "Aku nggak sembarang, itu fakta!" ujarnya datar tanpa banyak ekspresi. "Denger ya, Pak, gini-gini aku udah gede, bukan bocah!" "Dan denger juga ya bocah gede, nggak ada yang boleh manggil aku Bapak selain anak-anakku nanti, apa kamu mau aku jadiin anak?" "Dih ogah!" "Makanya jangan panggil 'Pak' nggilani!" "Yaudah 'Om', biar nggak ketuaan!" Aku mengangkat bahu, lalu ke kamar mandi bermaksud cuci muka dan mencuci pakaianku, tapi disana tidak ada pakaian satupun. Aduh jangan-jangan sudah dibuang sama pemilik rumah karena bau pesing. Duh mana itu celana jins favoritku yang beli di pasar Klithikan waktu ke Jogja. "Pakaianmu udah dicuci bersih dan nggak bau ompol," ucap Si Om saat aku celingukan mencari celana yang kena ompol. Laki-laki itu berbicara datar sambil berjalan melewatiku. "Siapa yang nyuciin?" Aku mengikutinya dari belakang. "Aku." Laki-laki itu berjalan menuju belakang rumah tempat menjemur pakaian. Dan benar saja, pakaianku sudah bertengger disana. "Kok Om yang nyuci? Semuanya dicuci sama Om?" tanyaku lagi. "Hm." Ya Ampuun semua dia cuci termasuk .... "Termasuk hello Kitty mu," jawabnya lagi datar. Oh Tuhan! Daleman hello Kitty warna pink yang selalu kurahasiakan juga dicuci sama dia. Toloooong .... * "Kok sepi si, orang-orang pada kemana ya?" gumamku sendiri. "Udah berangkat ke sawah pagi-pagi." Si Om ternyata mendengar gumamanku dan langsung menjawab. Aku hanya manggut-manggut kemudian melangkah, meneliti setiap inci ruangan. Rumah ini besar, tapi bentuknya tidak tertata. Ruang tamu dan pelataran luas, tapi kamarnya sempit. Ini pasti bangunan kuno tanpa arsitektur, yang penting berdiri kokoh dan atapnya rapet. Pengap nggak ada ventilasi. Dua jendela yang berjejer di ruang tamu sepertinya jarang sekali dibuka. "Om nggak ke sawah juga?" Aku berusaha bertanya dengan baik. Siapa tahu kan dia bisa diajak kompromi. "Nggak boleh, kata orang tua pengantin baru nggak boleh keluar rumah selama empat puluh hari, biar bisa fokus bikin anak katanya." Kalimat terakhirnya bikin aku merinding. Aku memundurkan langkah sampai menubruk meja. Walaupun dia ngomongnya tanpa ekspresi genit, tapi aku tetap geli. "Tapi itu dulu, sekarang ya enggak lah, udah modern," lanjutnya lagi seperti tahu apa yang aku pikirkan. Jangan-jangan dia ada keturunan dukun. Buktinya semalam juga dia tau kalau aku mau kabur. "Jadi kita cuma berdua aja, Om?" "He'em." "Awas kalo macem-macem!" ancamku tapi nggak bikin takut. Dia malah terkekeh. "Macem-macem yang kaya gimana, grepe-grepe kamu? Nggak nafsu aku, nggak ada yang menonjol juga." Dia mengangkat sebelah bibir. Sialan, dia lagi ngomentari tubuhku. Mentang-mentang aku nggak montok seenaknya aja dia ngatain. Ternyata dia itu mesum. "Apalagi aku tambah nggak napsu sama situ!" Aku bebalik arah, mau ke kamar lagi tapi sadar itu bukan kamarku. Padahal biasanya paling nyaman gegoleran di kasur. Tapi karena itu tempat tinggal Om Ipul, masa aku mau rebahan mulu. Jadinya aku keluar, mengitari rumah melihat-lihat dan juga cari celah untuk kabur. Kalau jam segini biasanya orang-orang pada ke sawah. Berarti besok aku bisa kabur. Aku ke belakang. Melihat jemuran. Daleman hello kitty-ku dipajang aja di bagian paling atas. Mana jemurannya dekat dengan tungku kayu. Bisa bau sangit nanti baju-bajuku. "Balik juga kamu." Terdengar si Om sedang berbicara dengan seseorang. Aku penasaran dan melihat ke depan. Disana ada seorang gadis seumuran denganku. Om Ipul sedang merangkul pundaknya. Gadis itu juga terlihat manja dengannya. Apa mungkin itu adiknya? Jadi aku punya adik ipar perempuan yang seumuran. Duh bisa-bisa nanti perang melulu. Kan yang namanya ipar dan menantu suka nggak akur kalau sama-sama perempuan. "Bojone ndi, Mas?" tanya gadis itu. Akupun segera berbalik dan berniat sembunyi biar nggak usah kenalan sama dia. Toh nanti aku mau minggat dari sini. Tapi sayangnya mereka sudah melihatku. "Hey!" Om Ipul memanggilku. Apaan Hey. Namaku bukan Hey. Tapi aku menoleh. "Loh kamu?" Gadis itu kaget melihatku. Aku juga nggak kalah kaget melihatnya karena tadi hanya melihat dari belakang. Ternyata gadis itu .... "Kamu kok item-item muka e?" tanyanya menahan tawa. Aku baru ingat, tadi pas mau mindahin daleman, nggak sengaja nyium pantat wajan yang dicantelin di sekitar sana.Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr
Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny
Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m
"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo
"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk
"Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma







