LOGINTwins Layla and Leo were close during their early childhood but when their parents divorced, they were separated. Leo stayed with their Dad while Layla felt that she had to take care of their mother. The twins missed each other but continued to live apart for years until at 16, Layla is joining her father and brother. However, the twins are now dramatically different. Will they get along? How will Leo react when he notices that one of his close friends has eyes for his twin sister? How will Layla react when the secrets she's running from come to light?
View MorePasien rumah sakit jiwa teramat tampan. Para dokter dan perawat langsung jatuh cinta padanya!!
Pemuda yang dinyatakan gila telah kembali dengan puluhan bodyguard dan mobil mewah. Kedatangannya mengejutkan seluruh rakyat San Alexandria Baru. Apa yang sudah terjadi padanya selama tiga tahun menghilang? Dia membawa banyak uang dan akan membeli kota! ________________________ "Lepaskan aku! Aku tidak gila!" Di suatu ruangan dengan pencahayaan yang remang, seorang pria terus berteriak. Kedua tangan dan kakinya dipasangi rantai. Baju yang melekat di tubuh sudah compang-camping. Rambutnya gondrong dan kusut. Bulu-bulu halus tumbuh di sekitar wajah yang tidak terawat. Kotor dan kumal, seperti orang yang tak pernah mandi. Aaron de Fortman, keadaanya sungguh memprihatinkan. "Hei, orang-orang sialan! Cepat lepaskan aku! Bajingan kalian semua!" teriak Aaron lagi. Rantai di tangan dan kakinya turut menimbulkan suara akibat dia berusaha melepaskan diri. "Heh, bisa diam tidak?! Dasar tidak waras!" Terdengar suara seorang pria dari luar penjara di mana dia berada. Aaron hafal suara itu. Marquez de Fortman, mau apa pria licik itu memasuki ruang bawah tanah ini? Apa untuk menyiksanya seperti yang biasa si brengsek itu lakukan saat dia kalah main poker atau mabuk bir? Aaron tidak takut sama sekali. Jika dirinya bebas, maka orang yang pertama akan dia habisi adalah Marquez! "Heh, orang gila! Mengapa kau teriak-teriak terus? Mau aku sengat dengan listrik lagi?!" Marquez sudah berdiri di depan pintu jeruji besi di mana Aaron dikurung. Pria tinggi itu menatap sambil tersenyum remeh melihat kondisi adik tiri yang menyedihkan di dalam sana. Aaron melempar tatapan sinis dengan mata berapi-api. Marquez de Fortman, pria itu adalah anak dari wanita licik yang ayahnya bawa ke rumah dan nikahi tiga tahun yang lalu. Usianya dua tahun lebih tua darinya. Arogan, biadap dan menjijikan! Sungguh tak patut dia memakai nama ayahnya di belakang namanya. Bahkan Marquez bukan anak kandung Tuan Fortman. Dia cuma anak tiri di keluarga ini. Entah siapa ayahnya. Mungkin seorang berandal atau bajingan. Namun sungguh gila! Pria sialan itu telah merebut segalanya yang ia miliki. "Apa lihat-lihat? Kau lapar? Mau makan?" Marquez masih memasang senyum remeh sambil membalas tatapan tajam Aaron. Menyedihkan sekali! Ahli waris keluarga Fortman telah dinyatakan gila oleh dokter kejiwaan. Kemudian Aaron dikurung dalam bangker ini. Di atas sana rumah besar keluarga Fortman, dan di bawah sini Aaron yang malang. Dia bisa makan daging setiap hari dan minum wine paling mahal di kota San Alexandria Baru. Sedang Aaron, setiap hari mereka hanya memberinya nasi basi dan air keran. Kadang pula Marquez memaksanya meminum air seninya juga. Sungguh malang betul nasib pemuda itu. Marquez tersenyum remeh melihat Aaron yang menyedihkan. Dua orang penjaga datang sambil membawa nasi basi dan air keruh untuk Aaron. "Ck!Ck!Ck! Tuan Muda Fortman yang malang ... selamat menikmati makan malam Anda!" Dua orang penjaga tertawa setelah menaruh apa yang dibawanya ke depan Aaron. Melihat lelucon itu, Marquez tertawa paling kencang. Aaron mengepalkan buku-buku jemarinya penuh emosi. Rahangnya menggeretak kuat. Dalam hati dia mengutuk Marquez dan ibunya yang licik. "Aku tak mau makan! Bebaskan aku, Bajingan!" berang Aaron. Ingin rasanya dia menghajar Marquez dan membuat pria itu tak dapat menunjukan senyumnya lagi. Marquez menahan tawanya lantas berkata, "Mau makan atau tidak itu bukan urusanku. Lebih cepat kau mati, itu lebih menguntungkan bagiku." "Bajingan kau Marquez!" Marquez tertawa geli melihat Aaron mengamuk. "Apa yang kau bisa lakukan? Seluruh San Alexandria mengira kau sudah gila setelah Daddy tiada. Kantor besar itu kini milikku. Juga pacarmu yang cantik itu, dia juga sudah tidur denganku. Apa lagi yang kau miliki? Kurasa ... mati jauh lebih baik untukmu, bukan?" "Biadap! Beraninya kau menyentuh Jesica!" Aaron benar-benar murka. Ingin rasanya dia mencabik-cabik tubuh Marquez dan mengambil jantungnya. Dia sungguh tidak terima kakak tiri licik itu telah tidur dengan pacarnya. Jesica adalah satu-satunya gadis yang dia cintai. Mereka nyaris menikah. Namun, kejadian tragis tiga tahun yang lalu telah merenggut cintanya. Juga masa depan dan mimpi mereka. "Wah! Lihatlah, dia sangat marah!" Marquez tertawa bersama para penjaga. Kemudian dia melanjutkan dengan mencondongkan wajahnya ke depan Aaron, "Heh, asal kau tahu saja! Jesica malam itu sangat cantik. Dia mengenakan pakaian tipis yang kau belikan untuk hadiah pernikahan. Aku menelusuri setiap inci tubuhnya tanpa sisa. Apa kau penasaran bagaimana rasanya? Aku bisa ceritakan." "Bajingan kau Marquez! Enyah kau dari sini! Brengsek!" Aaron semakin mengamuk. Amarahnya bisa membakar seluruh kota. Marquez dan para penjaga hanya tergelak tawa melihatnya. "Marquez, ada apa ini? Mengapa berisik sekali?" Suara seorang wanita mengejutkan mereka semua. Marquez dan dua orang penjaga segera menyudahi tawa mereka. Aaron hanya mendengus kesal. Dia tahu betul siapa wanita glamour yang datang. "Malam, Nyonya!" Dua orang penjaga menyapa wanita berpenampilan paripurna di depannya. Marisa Fortman, ibu kandung Marquez. Tak ada ular yang lebih berbisa dari wanita itu. Begitu pandainya dia memutar balikan fakta dan merubah hidup seseorang. Marisa memberi isyarat pada para penjaga untuk segera pergi. Sambil menikmati batang rokoknya, wanita itu mendekati Aaron. Bibir merah itu menyeringai tipis, lantas berbisik, "Andai saja kau tidak menolakku pada malam itu, mungkin saat ini kita sedang berkeringat bersama dalam selimut. Namun kau sungguh munafik, Aaron. Akhirnya kau harus mengalami semua ini. Menyedihkan sekali, bukan?" Aaron mengangkat kedua mata penuh emosi. Ingatannya kembali ke masa tiga tahun yang lalu. Malam itu sedang turun hujan. Markus pergi berpesta dan tak kunjung pulang. Tuan Fortman sedang terbaring sakit di Mega Hospital. Sedang Aaron baru saja tiba di rumah mewah mereka. "Aaron, apa kau sudah pulang? Syukurlah! Cepat ke kamarku sekarang! Ada yang ingin aku bicarakan dengan putraku yang tampan!" Aaron menatap heran pada layar ponselnya. Pesan singkat dari ibu tirinya sungguh aneh. Apa yang ingin Marisa bicarakan? Mengapa dia tidak pergi ke rumah sakit untuk menemani ayahnya? Wanita itu malah enak-enak di rumah! Aaron jadi geram. Dia lantas segera menuju kamar ibu tirinya. Marisa sedang duduk menghadap meja rias. Sehelai lingerie membalut tubuhnya yang ramping. Wanita itu sudah berusia 45 tahun, tapi dia begitu mahir berhias dan menyembunyikan usianya. Siluet tinggi muncul pada cermin lebar di depannya. Marisa segera bangkit dan langsung menoleh ke belakang. Aaron segera membuang pandangan ke lain arah. Sungguh tak pantas dia melihat istri ayahnya dengan pakaian seperti itu. "Apa yang ingin kau bicarakan? Cepatlah bicara, aku tak mau lama-lama di sini," ucap Aaron dingin, lantas memutar tubuhnya membelakangi Marisa yang sedang menuju padanya. Dia sungguh dibuat terejut saat ibu tiri memeluknya dari belakang. Marisa menghirup wangi cologne Aaron yang segar. Lama sudah dia menantikan saat seperti ini. Meski Aaron lebih pantas menjadi anaknya, tapi sungguh pesona pria muda itu membuatnya tak tahan. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Aaron yang masih waras berusaha melepaskan kedua tangan Marisa yang melingkar erat di sekitar perutnya. Marisa tersenyum seringai saat mata Aaron berusaha menggapai wajahnya di balik punggung. "Ayo kita lakukan, Aaron. Aku benar-benar tak tahan lagi ..." "Kau sudah gila!" Dengan kasar Aaron melepaskan cengkeraman tangan Marisa. Wanita itu jatuh terjerembab ke atas ranjang karena terdorong. Wajah merah Aaron membuatnya gemas. Marisa langsung menyambar lengan Aaron, lantas menarik paksa pemuda itu padanya. Dan saat Aaron terjatuh ke ranjang, Marisa segera menguasainya. "Aku sangat bernafsu padamu, Aaron. Puaskan aku malam ini, Sayang ..." Dengan wajah yang sudah merah karena birahi, Marisa cepat-cepat membuka kancing kemeja Aaron. Pemuda itu berusaha berontak saat sang ibu tiri memaksanya. Marisa sungguh tak tahu malu. Dia memaksa anak tirinya untuk melakukan hal kotor. Aaron jelas tidak mau. Brak! Marisa jatuh dari atas ranjang setelah Aaron mendorongnya kasar. Wanita itu sedang meringis sambil memegang pinggangnya yang sakit. Aaron tak peduli. Dia segera meninggalkan kamar itu. "Aaron, beraninya kau menolak ku! Aku akan membuat hidupmu menderita!" Ternyata ucapan Marisa malam itu tidak main-main. Lihatlah keadaan Aaron malam ini. Pria 25 tahun itu tak lagi terlihat seperti pewaris keluarga Fortman yang terkenal akan kecerdasan dan parasnya yang tampan. Dia hanya orang gila. Seperti berita yang tersiar selama tiga tahun ini. Lantas, apa yang telah terjadi pada Aaron tiga tahun yang lalu? Kisah ini baru saja dimulai.. Dewa Amour_POV LaylaThe next couple of years had some ups and downs but our friends stuck together through everything. At first, I had to fight with Leo, Van, Jake and even occasionally Finn for my independence and against their natural tendencies for being overprotective asses. Eventually, they got better or at least livable although I still had to punch Leo from time to time.Marissa and her Mom both moved to Porter for a 'fresh start'. It may seem strange to move to the place where your son/brother committed horrible crimes for a new beginning but somehow, it worked. Marissa had a long road to recovery but since she had so much support here, she has remained sober for the last years of high school and graduated with a full ride to a good school back in Chicago. She and Vander dated for a while again but just couldn't make it work. She ended up casually dating Jake for the last year of school and for some reason, they seemed to fit. Vander was happy for them both.Jake and Pam broke up right
POV FinnPeter and I walked back to our house a bit after Layla and Marissa went to bed. To say that I was frustrated was an understatement. I slammed the door closed and threw my hat on the table."It'll be ok, Finn. She's not going to leave. She's just pissed and needs some space." Peter tried to calm me."Space? How am I supposed to give her space when all I want to do is have her with me all the time? My head understands what she needs and wants but the rest of me is violently disagreeing" I storm. Peter nodded."I get that but you are going to have to find a way or you really will lose her" he replied. I sighed."I know. I know." I closed my eyes and took a deep breath."You know her. What should I do?" I asked him."Back off. Let her call you, let her make the first move. Give her some freedom. She's safe. Give her what she's asking for." he suggested."Freedom?" I asked weakly, knowing how dangerous that sounded."You have to risk losing her. She needs to find herself again. If
POV LaylaFinn finally parked his bike between Leo and Tom. I quickly took off the helmet and went to hop off when Finn grabbed my hand."Where are you going?" he growled. I glared at him."Inside." I replied, furrowing my eyebrows."Not without me. I meant what I said before. You need to stay with me." he ordered. I scoffed at him."Don't be ridiculous. I'm fine. This is the Den. It's safe!" I argued."No, he's right. The same goes for you, Eve." Leo piped in from behind me."What the hell?" Eve stormed and I looked at her. She looked as pissed as I felt. I was trying to be understanding and all but this was too much."Listen, we aren't some helpless girls that can't take care of ourselves." Eve began but Leo cut her off."That's sure what it seemed like today, am I right, Finn?" he snapped. Finn nodded as he looked at me."Are you fucking kidding right now?" I raged. I slapped Finn and Eve did the same to Leo. Neither of them reacted except to try to grab us. Eve grabbed my hand fir
POV Layla"What was that?" Dan shouted."I don't know. Come with me to check it out. Steven come with us. Pam, Suzy, watch them!" Tyler ordered. He pulled out two guns and handed one to Pam and one to Suzy."If they move, shoot them" he finished. He held his gun while both Dan and Steven pulled out theirs as well. The three of them ran up the stairs. I glanced at Jake's hands and saw that he was free as well. He raised his eyebrows at me and I nodded slightly. I started to double over and cried out."What's wrong with her?" Suzy demanded."It's my stomach. I think that I'm going to be sick" I called as Suzy walked over to me. Just as I was about to punch her, she fell at my feet. We all looked up in shock as Pam put her gun away. She had just hit her own cousin on the back of the head and knocked her out cold."I'm so sorry, Layla, Jake. I never wanted to do any of this. My dad and uncle forced me. They said that they would beat me if I didn't help." Pam cried as she went to untie me.
POV Marissa (Remember her? Billy's sister and Layla's best friend from Chicago?)I was so glad to be out of that rehab! Mom was overjoyed that I was out too. She was so happy that I convinced her to let me go visit Layla. I needed to make some things right with her and I knew that I needed to do it i
POV LaylaAfter we landed, Finn and I got our carry on bags as the rest of our friends did the same. We waited until everyone else had gotten off the plane to leave together. Finn and I followed our friends off the plane and into the airport. Keri led us all to the baggage claim where we wrestled wit
POV Layla"Since it's our last full day here, I think that we should enjoy the beach and house today and then go out for a nice dinner tonight." Eve announced at breakfast the next morning. The rest of us agreed."Great! There's a really nice steak and seafood restaurant not too far from here that I a
POV LaylaThe next day we decided to go sightseeing. Peter seemed in a better mood and loved every second of visiting the sights of the area which were not that exciting to the rest of us but we humored him. To be honest, it was boring but it got us out of the house and walking around. By the end of
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore