تسجيل الدخول"Eh lo semua tahu gak?! Waktu udah ngintip jawaban gue, gurunya bilang 'anak-anak isinya santai aja jangan ngasal, ini bukan pelajaran bahasa Indonesia yang bisa ngarang cerita!' gitu."Tawa terdengar mengisi ruang yang ada di area tenda pedagang kaki lima yang ditempati. Safir juga tidak bisa menahan senyumnya atas keluhan Widra barusan. Suapan pun jadi terhenti karena takut tersedak. "Ya lo, ulangan Biologi kenapa malah bikin cerita rakyat?" Sam menimpali. "Eh anjir, gue terpaksa soalnya cuman inget halamannya doang, isinya nggak!" Widra memukul-mukul meja yang ada di depannya dan langsung ditahan oleh Mahesa agar tidak roboh dadakan. Setelah pulang sekolah, lebih tepatnya ketika Sam datang bersama Safir, Eight memutuskan untuk makan siang bersama lebih dulu. Mereka memilih tempat kaki lima di jalan, di penjual nasi bakar yang menurut Yuga sudah tidak bisa diragukan lagi bagaimana enaknya. Maka dari itu, semua setuju untuk berkumpul di sana, meski dua orang tidak hadir. Satu, Har
Masa-masa ujian yang menyibukkan benar-benar tiba sesuai dengan waktunya. Memang jadwal pulang akan lebih awal dibanding biasanya, tetapi untuk Safir itu semua tidak ada gunanya. Rumah tidak bisa ia jadikan sebagai tempat istirahat nyaman, tidak ada teman menggosip yang menyenangkan, atau kekasih yang dapat diandalkan. Bahkan untuk sekarang, berharap Eight datang pun rasanya berlebihan. Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, tapi Safir masih duduk di kursinya dengan earphone menyumbat sebelah telinga. Mungkin ia akan seperti itu sampai sekolah kosong? Tidak masalah. Sekarang matanya menangkap sesosok yang juga duduk di kursinya sendirian, membaringkan kepala di atas meja tampak nyaman. Sebenarnya, Safir ingin sekali beranggapan jika Jho tetap diam di sana karena hendak menemani Safir, tapi sepertinya itu berlebihan. Mungkin saja Jho ketiduran.Benar, bisa saja cowok itu tidak sengaja tidur di jam pelajaran terakhir dan sampai sekarang tidak ada yang membangunkannya. Jari
"Harka." Sebuah kemajuan di mana Safir bisa berbicara lebih dalam berdua dengan Harka. Pada awalnya dia sangat ketakutan dengan kapten Eight itu, tapi sejak Harka terus mendorongnya maju, batas diantara keduanya juga menjadi pecah hingga menghilang. Hanya saja, benarkah itu tidak bisa abadi? Safir menekan-nekan jarinya sendiri. "Aku juga nolak keputusan itu ... aku mungkin orang luar yang gak tahu apa-apa, cuman tahu sekilas dan garis besar, tapi aku ngerti gimana perasaan mereka yang gak mau kehilangan."Tatapan Harka mengarah tepat pada kedua bola mata Safir yang sedikit tertutupi bulu mata lebatnya. Sudah lama sekali Harka hanya bisa menatap Neyna, rasanya muak dan benar-benar membuatnya tidak bisa bernapas. Kali ini, dia bisa melihat orang lain dengan lekat dan jelas, begitu bisa dia nikmati sendiri. Ketulusan dan murni, bukan manipulasi atau intimidasi, Harka tak bisa lepas dari dua mata yang kini balas menatapnya dengan hangat. "Lo ngerti rasanya?" Harka bukan mengejek, tetapi
Safir tidak tahu apa yang dipikirkannya beberapa menit lalu hingga dia berani duduk di boncengan Harka. Dalam perjalanan pulang yang sama sekali tidak melegakan, hanya ada semilir angin dan suara kendaraan lain yang menemani keduanya. Sesekali Safir melirik ke samping kanan atau kiri, melihat kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai, jauh dari kemacetan. Tidak seperti keberangkatan tadi, sekarang formasi Eight tidak lengkap.Setelah terjadi keributan di pemakaman, tidak ada yang membuat suasana menjadi baik, semuanya memilih diam dan membiarkan bagaimana Harka bertindak. Widra, Yasa, dan Mahesa pergi lebih dulu meninggalkan mereka. Safir tahu betul, mereka tidak rela, mereka tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Harka dan Sean, tapi mereka dibuat seolah menghadapi jalan buntu. Tidak ada pilihan. Menatap ke depan di mana punggung Harka dibalut oleh jaket berwarna navy, tatapan Safir tak lepas dari itu. Selain masalah Eight ini, ia juga memikirkan permintaan Harka agar Safir m
"Rencana apa?" Widra bertanya dengan penuh kebingungan. "Jangan-jangan ...." Sean bergumam sendiri, yang membuat tatapan teralih padanya. "Ini tentang pembicaraan kita sebelum masuk rumah sakit?" Kepala Harka mengangguk. "Iya." "Apa?" Yuga ikut bersuara. "Kalian ngomongin apa? Apa ada hal buruk?" Harka menggeleng, tatapannya terarah tak jelas saat ini. "Gue gak bisa ngebawa-bawa kalian terus kayak gini. Banyak hal yang harus kalian lakuin tapi ketahan karena batas yang dibuat Nugroho. Hidup itu ... kesempatan buat hidup itu cuman sekali, gue pikir sia-sia aja kalau kalian terus kayak gini." "Maksud lo apa sih, Ka?" Sam maju selangkah mendekati Harka. "Apa maksud lo--""Serahin diri ke polisi." Perkataan Harka membungkam semua yang ada. Tatapan mereka berubah tajam dengan napas yang terasa sulit untuk dikendalikan, terutama Safir yang tidak menyangka akan mendengar hal itu. Jika Harka mengatakannya, itu berarti mereka semua memang akan menyerahkan diri ke polisi?"Yang bener aja,
"Kenapa?" Pertanyaan dari Benji itu melayang pada Ferdi. "Ayah nanya ini karena peduli sama dia, atau--""Ayah cuman gak mau kamu luka lagi." Ferdi menepuk-nepuk puncak kepala Benji. "Sana mandi dulu, ganti baju, terus makan."Kedua mata Benji mengamati Ferdi untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk dan berbalik meninggalkan Ferdi di sana. Lagipula sebuah kemustahilan jika Ferdi memang peduli pada anaknya yang pertama. Sangat sulit dipercaya. Mungkin, itu tidak akan pernah terjadi selama Benji hidup di sini.Ferdi sendiri mendudukkan dirinya di sofa, istirahat sejenak sebelum sebentar lagi berangkat ke kantor. Tangannya bergerak memijat pelipis hingga tak lama kemudian mendengar suara pintu terbuka. Pandangan Ferdi terangkat, melihat Safir yang memakai seragam melangkah masuk begitu saja mengabaikan kehadiran Ferdi."Safir, sudah pulang?" Tidak tahu kenapa, pertanyaan itu melayang begitu saja padahal Ferdi tahu betul Safir sudah di rumah. Namun jika itu Safir yang dikenalinya







