登入Ibunya Zahra selalu membandingkan Zahra dengan kakaknya yang bernama Laras. Kasih sayangnya kentara sekali dibedakan. Hal yang sama sekali tidak diketahui Zahra kenapa ibunya bersikap demikian, padahal lahir dari rahim yang sama. Untungnya ayahnya Zahra tak pernah membeda-bedakan kasih sayang untuk Zahra dan Laras. Bahkan sang Ayah begitu menyayangi Zahra. Sampai akhirnya di suatu waktu Zahra harus menerima kenyataan pahit yang sangat membuatnya sedih. Ayah yang selama ini selalu membela dan tulus menyayanginya ternyata bukanlah Ayah kandung Zahra. Bukan hanya dibenci oleh ibu kandungnya sendiri. Tetapi Zahra juga dibenci oleh keluarga Ayahnya, karena Zahra bukanlah anak kandungnya.
查看更多"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"
Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelaminan lebih awal. “Jena, balik, kamu bisa membuat keluarga malu,” katanya berjalan cepat mensejajarkan langkahnya. “Aku tidak peduli, siapa yang mau mengadakan pesta. Harusnya Kak Arlo itu mikir ini pernikahan seperti apa.” “Bukan kemauan aku juga seperti ini,” ujar pria itu menghadang langkahnya. “Aku capek, bisa nggak jangan halangi jalanku,” pinta Jena dengan wajah memelas. “Nanti bisa istirahat setelah acaranya selesai.” “Huek!” Tiba-tiba saja Jena mual. Tubuhnya terasa tidak nyaman ditambah terlilit gaun menyebalkan ini. Sedari tadi dia memang tidak enak badan. Tetapi orang-orang seolah tak mau mengerti keadaannya. Malah mengadakan walimahan di tengah penderitaan dirinya. Apa mereka semua buta dan tuli, kenapa jadi berbahagia dengan pernikahan ini gegara ayahnya main menyetujuinya saja. Sudahlah Jena, Ayah memberi restu. Kemarin memang sebuah kesalahan, tetapi Arlo mau bertanggung jawab. Lagian kamu di sini diurusi dengan baik dan dikuliahkan. Papa sedang tidak bisa mengurusmu. Sepenggal kalimat ayah bernada satir terus terngiang di kepalanya. Sepertinya pria yang selalu menjadi panutannya itu juga tidak peduli. Lalu keadilan seperti apa yang seharusnya Jena dapat. “Kalian di sini? Jena, Arlo! Tamu di luar sudah menunggu,” seru Pak Arlan menginterupsi keduanya. “Iya Pa, ini Jena mau istirahat sebentar. Dia kurang enak badan, dari tadi mual,” jawab Arlo melihat istrinya kurang bersemangat. Memang wajahnya terlihat pucat. Tapi masih sangat menyebalkan kalau lagi marah. Pak Arlan memaklumi, hamil muda memang cenderung banyak keluhan. Pria itu pun berlalu kembali ke depan menemui tamu yang datang. “Jen, kamu nggak apa-apa?” tanya Arlo lembut, menyentuh punggunggnya menenangkan. Namun, Jena langsung bergerak risih menghindarinya. Tatapannya dingin, syarat akan permusuhan. “Oke, aku antar ke kamar ya,” kata pria itu mengalah. Pernikahan mereka dilakukan di salah satu Villa keluarga. Dihadiri beberapa orang kerabat dan tamu ayahnya saja. Tentu saja agar tidak menjadikan fitnah di masa depan mengingat Jena sedang hamil. “Tidak perlu dan jangan mengikutiku,” tolak gadis itu menatap kesal. Jena kembali menyusuri langkahnya menuju kamar. Perasaannya carut marut ditambah kondisi tubuhnya yang tidak nyaman sama sekali. Dia berjalan hampir tumbang kalau seandainya saja Arlo tidak sigap menangkapnya dari belakang. Pria itu langsung menggendongnya ke kamar. Jena tidak sadarkan diri dan memang sedari tadi kelihatan pucat sekali. Hanya saja Arlo tidak menyadari kalau gadis yang masih terlihat galak ini tiba-tiba pingsan. “Jen, sadarlah, jangan membuatku takut,” kata Arlo lembut. Setelah lebih dulu membaringkan di ranjang. Ada perasaan bersalah yang mendera hatinya. Arlo berusaha memberikan pertolongan pertama. Menghirupkan aroma kuat di dekat hidungnya agar gadis ini cepat memenuhi kesadarannya. Pria itu juga berusaha melonggarkan gaun yang menekan tubuhnya. Pasti tidak nyaman sekali pakaian yang dikenakan saat ini. “Kak Arlo ngapain?” tanya Jena tergeragap kaget. Panik seketika melihat wajah pria di depannya begitu dekat. “Tenanglah sedikit Jen, aku hanya membantumu. Kamu tadi pingsan, apa perlu panggil dokter?” tanya Arlo khawatir. Seketika memundurkan tubuhnya memberi jarak normal. “Nggak, Kak Arlo keluar! Jangan di sini,” usir Jena ketus. Wajah yang masih terlihat lemah itu kembali bermuram garang. “Kamu pucat, perlu sesuatu?” tawar pria itu lembut. Menitihnya dengan sabar. Biar bagaimanapun kebencian Jena bersumber dari dirinya, dia harus berbesar hati memaklumi sikapnya. “Tidak usah sok perhatian, keluar dari kamarku!” bentak Jena kesal bukan kepalang. Seumur dia tinggal di rumah budhenya, Jena belum pernah meninggikan suaranya. Tapi kali ini benar-benar mual sekali melihat abang sepupunya yang kini sudah menjadi suaminya. Arlo menghela napas kasar, masih belum juga beranjak dari sana. Sekuat apa pun Jena mengusirnya, mulai saat ini dia yang akan melindungi dan menjaganya. “Aku temui tamu-tamu di luar dulu. Kalau sudah merasa lebih nyaman, tolong keluar ya, nanti kamu bakalan ditanya banyak orang,” kata pria itu yang sama sekali tidak disahuti gadis malang itu. Begitu pintu kamar mewah itu tertutup rapat, Jena langsung merasa lega. Seiring dengan menghilangnya pandangan Jena pada sosok yang begitu dia benci saat ini. Kamar ini rasanya lebih lapang dan nyaman. Walaupun agak risih dengan taburan mawar yang sengaja dipasang tim dekorasi untuk memperindah ruangan ini. Terkesan ironi sekali untuk suasana hati Jena yang hancur. “Jena, Budhe boleh masuk!” seru Budhe Najwa yang tidak bisa ditolak. Mau tidak mau Jena mempersilahkan ibu mertuanya masuk. Apakah wanita yang selalu terlihat bersahaja itu juga akan memaksanya keluar. “Jen, kata Arlo kamu mual-mual? Bagaimana keadaanmu?” tanya Budhe Najwa menghampiri dengan wajah khawatir. “Masih lumayan pusing Budhe, Jena bolehkan nggak lanjut keluar lagi.” “Sebenarnya tidak apa juga sih, di luar tinggal tamu ayah dan Arlo saja.” “Terima kasih Budhe, Jena mau istirahat.” Tidak enak, tapi akhirnya dienakin saja. Memang suasana hatinya yang sedang buruk. Dia tidak bisa terus berpura-pura bahagia di tengah kondisinya yang carut marut. “Mulai sekarang panggil Mama saja, Jen, sekarang kan kamu sudah nikah sama Arlo.” “Iya Budhe, eh Ma,” jawabnya kaku. Tak berselang lama Arlo kembali ke kamar, membuat Bu Najwa undur diri seketika. Memberikan kesempatan pasangan pasutri itu untuk beristirahat. “Ar, jaga istrimu dengan baik,” katanya meninggalkan pesan sembari menepuk pundaknya pelan. Arlo ngangguk, langsung mengunci pintunya begitu ibunya keluar. “Kenapa pintunya dikunci?” tanya Jena langsung bangkit dari pembaringan dengan wajah cemas. “Biar kamu bisa beristirahat dengan nyaman.” “Kak Arlo tidur di sini?” tanya gadis itu waspada. “Iya, memangnya kenapa, kita kan sudah menikah.” Memang benar mereka sudah menikah, tetapi Jena tidak mau satu kamar dengan abang sepupunya yang beberapa jam lalu telah sah menjadi suaminya. “Aku nggak mau,” tolak Jena cepat. Wajahnya terlihat begitu tidak tenang. “Aku bukan penjahat Jena, jangan berlebihan.” “Tapi Kak Arlo jahat.” “Kalau kamu sangat tidak ingin dengan pernikahan ini, kamu bisa menggugat cerai setelah anak itu lahir,” katanya tenang. “Ck, kenapa tidak sekarang saja Kak Arlo talak aku. Dengan begitu kita tidak ada hubungan lagi.” Arlo menghela napas panjang, gadis ini sangat menguji kesabarannya. Dia pikir Arlo menginginkan pernikahan ini juga. Dia hanya ingin menjadi manusia bertanggungjawab. Gegara insiden itu, dia harus menunda pernikahannya dengan kekasih hatinya. “Aku juga tidak ingin di posisi ini, tapi anak itu butuh ayah, Jena.” “Semua gara-gara Kak Arlo, aku benci Kakak, aku mau gugurin anak ini,” ancam Jena kumat. Dari awal tahu hamil, Jena sudah tidak minat mempertahankan kehamilan ini. Namun, keluarga dan pria ini kekeh mempertahankannya. Bahkan mengambil jalan pintas menikahkan mereka walaupun usianya terpaut jauh. “Tidak akan, kamu tidak boleh menyakiti calon anak kamu sendiri.” “Aku tidak sudi hamil atas perbuatan kamu.” “Stop berdebat. Pertahankan kandungan kamu sampai anak itu lahir. Setelahnya terserah kamu mau bagaimana,” geram Arlo kesal.Sudut mata Zahra berair, namun raganya belum sadar. Mungkinkah ia mendengar panggilan sayang dari ibunya?"Sayang ... bangun, ibu, ayah, nenek, Mbak Laras. Semuanya ada di sini jenguk, Ara. Maafiin ibu ya, Sayang. Ibu egois, padahal yang terluka bukan cuma ibu, tapi kamu juga." Rasti tak kuasa menahan tangisnya.Air matanya tumpah mengenai punggung tangan Zahra yang sedang ia ciumi. Setelah beberapa hari saat Zahra berpamitan padanya, dan berjanji untuk tidak hadir di dalam hidupnya lagi.Ada yang kosong di sudut hatinya, perasaan bersalah pada anak yang sudah ia sakiti hati dan fisiknya. Anak yang diperlakukan tidak manusiawi, tapi anak itu masih tetap menyayangi dan mencintainya setulus hati.Saat orang-orang menyindirnya, keluarga suami habis-habisan menghinanya. Zahra lah yang membelanya, berusaha menghibur hatinya yang sedih. Namun orang berusaha menghibur hatinya malah mentalnya habis-habisan dibuat drop oleh dirinya."Buu. Aku juga udah jahat banget ya sama Zahra. Sebagai kakak
Zahra segera dibawa ke rumah sakit di mana tempat kerja kakaknya Dayyan selain ia membuka praktik Klinik sendiri.Suster segera mendorong brankar dan Zahra segera dibaringkan---mereka membawa Zahra ke IGD untuk mendapat penanganan pertama. Zahra segera dipasangkan infus cairan karena dinyatanya dehidrasi karena muntah-muntah.Dokter langsung mengecek tekanan darah, nadi, suhu, saturnasi oksigen dan pernapasan pada Zahra."Dok, dia ini punya sakit asam lambung. Ada masalah dikit aja yang kepikiran langsung kambuh," jelas Nina.Dokter mengangguk lalu menyuntikkan antiemetik untuk mengontrol muntah (Ondansetron, metoklopramide) ke infusan agar cepat bekerja.Lalu memberikannya obat untuk menurunkan asam lambung lewat injeksi.Entah obat apa saja yang diberikan dokter pada Zahra saat Nina dan Risma melihat sahabatnya itu yang terkulai lemas di atas kasur rumah sakit, selang oksigen pun dipasangkan di lewat hidungnya. Yang menemani Zahra di IGD adalah dua sahabatnya, sementar yang lain men
"Jangan meminta maaf atas kesalahan yang nggak pernah kamu lakukan, Nak. Ayah tulus menyayangi kamu. Dengan tangan ini, tubuh ini. Ayah merawatmu, membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Jangan pernah lagi berlutut seperti itu. Ayah benar-benar sakit melihatnya!" lirih Firman.Zahra melepas pelukan Firman, lalu meraih tangannya dan menciumnya dengan takzim."Terima kasih atas kasih sayang yang selama ini ayah berikan untuk Zahra. Zahra nggak akan pernah lupa. Jaga diri ayah baik-baik ya, jangan sakit-sakit lagi. Kasian ibu sama Mbak Laras mengkhawatirkan ayah, mereka masih butuh ayah dan sangat sayang pada ayah." Air mata itu seakan tak mau berhenti dan terus tumpah.Melihat itu, hati Dayyan ikut terasa nyeri dan membuat setitik air jatuh di pipinya. Dengan gerakan cepat ia buru-buru menghapus sudut matanya yang basah.Zahra melepas genggaman tangannya pada Firman lalu menoleh pada ibunya yang berdiri di samping Laras. Kepalanya tertunduk, tak mau melihat Zahra."Zahra, papa mohon.
Langit pagi itu tertutup awan kelabu. Sinar matahari hanya merembes tipis lewat celah gorden yang setengah tertutup. Udara di dalam rumah terasa pengap, seakan menahan napas menunggu sesuatu yang akan pecah. Aroma teh hangat dari dapur pun tak sanggup mengusir hawa dingin yang menusuk. Semua keluarga sudah berkumpul di rumah Firman----semalam Zahra menghubungi Firman dan memintanya untuk mengumpulkan semua keluarga, baik dari keluarga Firman dan keluarga Rasti.Zahra sudah mengatakan semuanya kepada Firman lewat telepon. Ia memohon pada Firman agar mau menuruti permintaanya, karena Zahra ingin meluruskan tentang masa lalu itu. Tentang fitnahan ibunya yang berselingkuh dengan mantan kekasihnya, sampai ada benih di rahim Rasti dan lahirlah seorang Zahra.Di ruang tamu itu semuanya berkumpul, semuanya diam membisu. Firman hanya mengatakan pada mereka akan ada tamu.Pintu mulai terbuka lebar, menampilkan seorang yang amat dibenci oleh Rasti. Matanya terbelalak melihat kehadiran lelaki ya
Rusli terkesiap mendengar segala umpatan Rasti untuk putri mereka. Putri yang tak diharapkan kehadirannya pada Rasti. Terlihat dari cara ia menatap Zahra dan membicarakannya.Matanya penuh kilat kemarahan dan kebencian yang mendalam. Rusli menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar."Jangan pe
Dayyan masih menutupi siapa dirinya pada Zahra dan juga teman-teman Zahra. Yang mereka tahu adalah profesinya pentol intel, tukang cilung dan cilok.Padahal Dayyan adalah seorang pembisnis dan CEO di perusahaan yang dibangun oleh ayahnya dan dikembangkan oleh dirinya. Sebagai CEO perusahaan multina
Sadar dengan hilangnya keberadaan Zahra membuat hati Firman berdenyut perih. Di satu sisi ia juga perlu merangkul istri tercintanya, ia harus bisa mendamaikan antara ibu dan anak yang kelahirannya banyak dicaci maki."Loh, kenapa pada nangis?" Laras datang dengan dahi mengernyit dan wajah kebingung
"Rasti, berhenti menyakiti putrimu sendiri! Sudah cukup selama ini Zahra menderita karena perlakuanmu padanya. Kau sudah menyakiti hatinya, tak perlu juga menyakiti fisiknya dengan tamparanmu!" teriak Firman dengan angkara murka."Kau selalu membelanya, Mas. Apakah Mas nggak mencintai dan menyayang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.