Share

Bab 11. Amarah Matteo

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-09-05 18:50:13

Langkah yang semula bersemangat, kini menemui keraguan. Mata Helena menatap pintu apartemennya yang masih tertutup rapat.

“Tenanglah, Helena. Semua pasti akan baik-baik saja.” Dia menarik napas panjang, lalu menekan beberapa sandi sampai pintu itu terbuka.

“Akhirnya kamu pulang, Helena Ricci.”

Tubuhnya langsung menegang. Matteo sudah duduk dengan sebelah tangan meremas botol bir. Penampilan pria itu begitu berantakan. Rambut gondrong, kumis dan janggut tak terurus. Sangat berbeda dengan Matt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 25. Hawa Panas Di Tepi Kolam

    Lucien membuka celananya, lalu menarik celana dalam Helena yang menurutnya mengganggu. Dia menindih tubuh ringkih itu. Menyusuri setiap tulang selangka, dagu, hingga bibirnya. Napas Helena sudah tersenggal. Pupilnya menyusut, ketika Lucien mengarahkan miliknya di bawah sana.Helena menopang tubuh dengan kedua siku tangannya. Gumpalan daging yang menggantung, langsung di raup ganas oleh Lucien, seolah tidak tega membiarkan keindahan itu begitu saja. “Ah…” desah Helena, saat milik Lucien sudah masuk seutuhnya. Bulir bening menyembul di kedua pelupuk mata itu. Lucien melihatnya. Pria itu tersenyum penuh gairah. “Apa ini menyakitimu? Kalau iya, aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisiknya. Helena menggeleng. Dia kembali membaringkan tubuhnya, membiarkan Lucien mengangkat kedua kakinya, dan meletakkannya di bahu. Wanita itu berkedip cepat. Tidak ada rasa sakit, tidak ada paksaan, milik Lucien yang sebesar itu bisa masuk dengan begitu nikmat. Apa ini yang dinamakan sudah siap sec

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 24. Malam Di Tepi Kolam

    Mulut Helena sedikit terbuka, tapi tak ada satu katapun yang berhasil dia ucapakan. Tubuhnya tidak bergerak, bahkan ketika Lucien sudah kembali mendekat. “Apa kamu masih meragukanku?” bisik Lucien, tepat di samping telinga Helena.Dia menatap Helena sebentar, lalu sedikit menjauhkan wajahnya. Helena memalingkan wajahnya. “Bukan begitu… aku hanya tidak ingin banyak berharap lagi,” katanya lirih. “Tentang janjimu dengan Adrian. Aku sudah menganggapnya cukup, Lucien. Kamu tidak perlu terbebani lagi. Kamu sudah bebas sekarang.” Untuk beberapa saat, Lucien tidak bergerak. Dia masih menatap Helena lurus, sampai akhirnya satu kalimat darinya berhasil membuat tubuh Helena kembali menegang. “Aku tidak peduli.”Helena refleks menoleh. Belum sempat dia menatap pria itu, Lucien sudah lebih dulu menarik tengkuknya, dan kembali melumat bibirnya, kali ini lebih kasar. Tangan Helena mendorong dada Lucien. Perlakuan kasar ini, mengingatkannya pada Matteo. Dada Helena naik turun dengan cepat. Dia

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 23. Apa Semua Karena Janji?

    Helena menyandarkan tubuhnya di sofa. Berdiam diri tanpa melakukan sesuatu, membuat tubuhnya terasa begitu kaku. Lucien benar-benar menyiapkan semua kebutuhannya, bahkan untuk hal yang sepele, seperti makan dan minumnya. Untuk seseorang yang tidak bisa diam sepertinya, Helena jelas bosan. Belum lagi, malam ini terlalu sepi untuk dihabiskan seorang diri. Mata Helena menyipit ketika mendengar suara air tepat di samping balkon. “Lucien?” tanya Helena. Namun tetap tidak ada jawaban. “Lucien itu kamu?” tanya Helena lagi. Jantungnya sudah berdegup dengan cepat. Helena menelan ludahnya, lalu melangkah untuk memastikan. Tubuhnya mematung saat melihat Lucien yang masih berendam di dalam air. Pria itu menyibak rambutnya, dan kembali menyelam. “Dia berenang malam-malam begini?” gumam Helena. Alih-alih pergi, wanita itu justru semakin mendekat. “Apa nggak dingin? Aku kira, dia belum pulang dari kantor.”“Ngapain kamu disitu?” suara Lucien berhasil membuat Helena menegang. “Aku kira, kamu suda

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 22. Tinggal Bersama?

    Setelah hampir satu minggu dirawat, akhirnya Helena sudah diperbolehkan pulang. Eve masih setia menemani. Wanita itu bahkan rela izin kerja untuk merawat Helena. Dia tidak percaya sepenuhnya pada Lucien. “Kamu tetap mau ikut, kalau Helena tidak kembali ke apartemennya?” tanya Lucien, saat ketiganya sudah berada di parkiran. Pria itu bersandar di body mobil, dengan kacamata hitam yang membuat auranya semakin misterius. Eve yang merasa tersindir, hanya mendengus. Dia merangkul lengan Helena lebih erat. “Helena, kamu yakin nggak pulang ke apartemen? Lagian, aku bisa jaga kamu—”“Dia tidak akan pulang kesana,” tukas Lucien datar. Pria itu membuka kacamata, menatap Helena dan Eve silih berganti. “Tempat itu belum aman, dan tidak ada jaminan orang-orang itu tidak akan kembali.”Helene memperhatikan Lucien cukup teliti. Pria itu masih terlihat cuek, tapi semua yang dia lakukan pasti selalu ada alasan, dan itu untuk kebaikannya. Helena menggeleng. Dia menepis perasaan aneh yang merayap

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 21. Kecurigaan Helena

    Mata Helena berkedut ringan. Kepalanya terasa berat, seolah ada yang menindihnya. Tepat ketika dia mendapat kesadaran seutuhnya, orang yang ia lihat pertama kali adalah Eve. Wanita itu sudah duduk di samping ranjang dengan mata terpejam. Helena mengerjap pelan. “Eve, itu kamu?” tanyanya memastikan. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat Eve.Namun tidak ada jawaban. Eve masih tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Helena bangun. Pandangannya mengedar, memindai setiap sudut ruangan berwarna putih. Rumah sakit? Kening Helena berkerut sesaat, sebelum akhirnya pupilnya melebar saat mengingat kejadian yang menimpanya semalam.“Matteo… dimana dia?” Helena bangun dengan sangat susah payah. Kepalanya semakin berdenyut nyeri. “Aku harus cari dia—”“Kamu sudah bangun?” suara berat itu memotong kalimat Helena dalam sekejap.Helena langsung mendongak, menatap ke arah pintu. Lucien—pria itu berdiri di sana. Masih tanpa ekspresi, lengkap dengan sorot mata dinginnya. Dia berjalan men

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 20. Pria Misterius

    Matteo mendorong Helena hingga tersungkur. Mata gelapnya menatap Helena tanpa belas kasih.Wanita itu mendongak. Rahangnya yang berkedut nyeri, membuat rasa bencinya pada Matteo semakin besar. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan dua tumpuk uang dari dalam tas, lalu melemparkannya tepat di depan Matteo. “Ambil itu,” katanya. “Dan jangan pernah lagi membawa Lucien ke dalam masalah ini.”Wanita itu berdiri. Merapikan bajunya dan hendak pergi, tapi Matteo menarik tanganya, lalu mendekap tubuhnya dengan sangat erat. “Kamu pikir uang ini cukup?” bisiknya tepat di telinga Helena. “Matteo, uang itu cukup untuk melunasi salah satu hutang kita yang paling besar,” ujar Helena, sambil terus meronta. “Sisanya, aku bisa mencicil dengan gajiku. Tidak perlu lagi memeras Lucien.”Tangan Matteo yang semula mendekap tubuh Helena, perlahan mengencur. Napasnya tertahan untuk beberapa saat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah tak menyangka dengan perubahan sikap Helena yang semakin berani melawannya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status