Share

Bab 3. Janji Yang Menjerat

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-08-28 15:18:12

Suara Matteo yang lembut itu dulu selalu berhasil membuat dadanya yang bergemuruh menjadi lebih tenang.

Tapi entah kenapa, semuanya hilang tanpa jejak setelah Matteo kehilangan pekerjaannya, dan mereka mulai terlilit hutang.

“Helena, apa yang kamu lakukan?!”

Helena mengerjap, lalu meringis saat tanpa sengaja api dari serbet yang terbakar menyengatnya. Dia buru-buru menepuk-nepuk lengan bajunya yang terbakar, sampai apinya padam.

“Kamu ini kenapa? Suruh masak, malah tangan sendiri yang dimasak,” ujar Eve—rekan kerja yang dua tahun lebih muda darinya. Eve buru-buru menarik Helena untuk duduk dan mengobatinya.

“Tahan sebentar, ya. Aku tahu ini akan sakit, tapi kalau tidak diobati, luka bakarnya akan melepuh.”

Helena tidak langsung menjawab. Dia justru menunduk menatap luka di tangannya dengan mata yang basah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi.

“Kenapa nangis? Apa ini sangat menyakitkan?”

Eve menatap Helena panik. Dia sedikit mengguncang bahu wanita itu karena tidak kunjung mendapat jawaban.

Helena menggeleng. “Nggak,” katanya. Dia buru-buru berdiri, dan menghindar sebelum Eve bertanya lebih jauh.

Dari sudut matanya, Helena bisa melihat kalau Eve masih saja memperhatikannya.

“Apa ini ada hubungannya dengan Matteo?” pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Helena menegang.

Memang diantara semua teman kerjanya, hanya Eve yang tahu kondisi Helena, itupun karena lingkungan apartemen mereka yang berdekatan.

Helena selalu mengelak kalau Eve menuduh Matteo melakukan kekerasan, padahal jelas dia selalu datang dengan lebam atau luka baru di wajah maupun bagian tubuhnya.

“Helena…” sentuhan Eve membuat Helena mengangkat wajahnya perlahan.

“Kamu nggak perlu menyiksa dirimu. Kalau memang Matteo kasar dan jahat, tinggalkan saja dia. Biarkan dia menjadi gelandangan. Lagi pula—”

“Apa yang kalian lakukan? Apa tempat ini membayar kalian untuk bergosip?” suara dari koki senior berhasil membuat keduanya kembali pada posisi masing-masing.

Helena menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa. Semuanya masih berjalan lancar kecuali insiden yang berhasil membuat luka bakar di tangannya. Tak lama, ponselnya bergetar. Matanya berkedip saat melihat email masuk.

Mulut Helena sedikit terbuka sebelum akhirnya bersorak, “Aku diterima bekerja!”

Beberapa karyawan lain yang sedang bersiap untuk pulang, saling melirik dengan mata menyipit. Helena buru-buru membekap mulutnya sendiri.

“Eh... maaf…” dia bergegas pergi ke tempat cucian piring. Sesekali dia menggigit kuku jempolnya.

‘Aku benar-benar diterima bekerja di Sinclair Corporation?’ gumamnya dalam hati. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Lucien kemarin. Lima hari kerja. Padahal ia baru kemarin wawancara, apa ini ada hubungannya dengan Lucien?

“Ada apa Helena? Kamu kelihatan beda banget dari tadi. Ada kabar bagus?” bisik Eve seraya menyenggol lengan Helena.

“Nggak ada apa-apa. Aku cuma pengen beresin kerjaan ini lebih cepat aja.” Helena buru-buru menggeleng, menyimpan ponselnya dalam-dalam ke saku celemek.

Eve menyipitkan mata. Helena bisa melihat ekspresi ketidakpercayaan di wajah Eve yang sangat ketara.

“Aku nggak papa, Eve. Jangan menatapku seperti itu.”

“Terserah deh. Tapi kalau ada yang bagus, jangan lupa traktir aku,” godanya, sambil berlalu pergi.

Helena hanya tertawa kecil. Namun ketika ingatannya kembali pada Matteo, tangannya yang semula bergerak cekatan, langsung berhenti dan meremas ujung meja.

Matteo tidak boleh tahu. Pikiran itu muncul begitu saja, mendinginkan kehangatan yang baru saja ia rasakan. Karena dia yakin, kalau Matteo tahu, pria itu pasti akan merampas semuanya.

Helena melepas celemeknya, menggantungnya di paku tepat di sampingnya. Ia berpamitan singkat pada Eve, lalu melangkah keluar. Matanya menatap jalanan gelap yang akan dia lewati.

‘Aku harus tetap kerja di sini seperti biasa. Berangkat dan pulang di jam yang sama. Jangan sampai dia curiga,’ batinnya, menyusun rencana sepanjang jalan pulang.

Helena mengangguk mantap. Karena hanya dengan begini, dia bisa memiliki uang lebih untuk tabungan dan hidupnya sendiri.

Langkahnya berhenti tepat di depan pintu apartemen. Suara tawa yang dia dengar bukan hanya suara Matteo. Helena menahan napas. Tangannya yang sudah terangkat untuk membuka pintu, membeku di udara.

"Ah, Matteo… ini sangat, ah—nikmat sekali…”

Desahan manja wanita itu terdengar sangat jelas. Dada Helena seperti diremas kuat-kuat. Dia mundur selangkah. Tangannya menutup mulutnya sendiri saat rasa mual tiba-tiba menghantam perutnya.

Ponsel yang berisi balasan email penerimaan kerja yang tadi ia peluk erat penuh harapan, kini terasa berat di tangannya.

“Percepat… Matteo…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 106. Jangan Di sini

    Helena membiarkan kerinduan yang selama ini mereka pendam menemukan jalannya. Namun, ketika Lucien mulai menariknya semakin dekat, wanita itu teringat bahwa mereka masih berada di lorong yang bisa dilewati siapa saja.“Lucien, jangan. Kita tidak bisa melakukan ini di sini—”Helena menahan bahu pria itu, berusaha mengingatkannya pada keadaan sekitar. Namun, tatapan Lucien membuat kalimat berikutnya tertahan di ujung lidahnya.“Lucien,” desah Helena. “Aku menginginkanmu…” Lucien melepaskan pelukannya. Matanya mengunci tatapan Helena. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu yang sudah memerah. “Aku juga menginginkanmu, sayang,” katanya serak. Lucien melirik mobilnya yang terparkir di ujung garasi. Ia kembali menatap Helena, seolah menunggu keputusan wanita itu.“Ikut aku,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.Helena memandang tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Ia tahu keputusan tersebut bisa membawa konsekuensi, tapi ada begitu banyak hal di antara mereka yang belum sempat dibica

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 105. Aku Merindukanmu

    Belum sempat Lucien menjawab, Roy sudah berlalu pergi. Dia berjalan tegas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Lucien masih memperhatikan tanpa melepaskan pelukannya. Barulah saat mendengar suara pintu tertutup, pelukannya yang semua rapat kini langsung mengendur. Helena meraup napas sebanyak yang dia bisa, lalu mendongak menatap Lucien. “Kenapa kamu melawan ayahmu?” suara Helena yang lirih membuat Lucien menunduk menatapnya. Wanita itu sudah kembali menangis. Pria itu menangkup wajah Helena, menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku lebih memilih melawannya daripada aku harus kehilanganmu,” katanya. Pria itu tersenyum, lalu mengecup kening Helena. Ekspresi Lucien tidak lagi terlihat tegang seperti ketika berhadapan dengan Roy. “Dan kamu sudah membuatku marah, Helena,” katanya. Kedua alisnya saling bertaut, tapi wajahnya masih mengulas senyum. Dia menempelkan keningnya dengan kening Helena. “Kamu menyakitiku karena sudah mengusirku dari hidupmu.”Helena berkedip ringan

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 104. Keputusan Final

    Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah. “Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.” Roy tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan kedua tangan terlentang di sandaran sofa. Matanya masih memperhatikan Lucien dan Helena silih berganti. “Itu memang sudah seharusnya,” ujar Roy datar. “Kami juga tahu bagaimana Sinclair membersihkan pengacau. Jangan pernah membuang waktu lagi. Aku tidak suka bermain-main.”Helena bisa merasakan Lucien menahan napasnya. Bahkan genggaman tangan pria itu kian menguat, seolah memberi tahu kalau ini bukan hanya sekedar peringatan biasa

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 103. Dia Bekas Adrian!

    “Jangan pernah berani menyentuhnya.” Lucien menegakkan tubuhnya. Napasnya terengah dengan pupil menggelap. Dia menoleh kepada Helena. Wajah wanita itu pucat, matanya dipenuhi ketakutan. Rahang Lucien mengeras. Tanpa membuang waktu, dia segera menghampiri Helena dan berdiri tepat di depannya, melindungi wanita itu dengan tubuhnya.Roy Sinclair masih dengan ekspresi dinginnya. “Jadi benar dia yang membuatmu kehilangan akal sehatmu itu, Lucien?” tanya Roy. Dia memiringkan wajah, menatap sang putra tak percaya. Lucien menarik napas panjang. Genggaman tangannya di tangan Helena mengencang. “Bukan salahnya. Aku yang memilihnya,” kata Lucien. “Aku mencintainya, Ayah.” Roy tertawa, tapi matanya sudah menyipit tajam sampai akhirnya rahanganya kembali mengeras. Dia maju selangkah, menyentuh pundak Lucien. “Ayah tidak pernah bermain-main, Lucien. Kamu tahu itu,” katanya datar. “Berhenti membahas cinta, dan kembali ke posisimu sekarang.” Di belakang, Helena bisa merasakan tangan Lucien yang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 102. Roy Sinclair

    Dua hari setelah kejadian itu, akhirnya Helena memutuskan untuk kembali bekerja. Dia tidak bisa terus dia dan menghindari Lucien seperti ini. “Helena.” Suara Eve menyambutnya tepat ketika pintu apartemennya terbuka. Wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Helena berusaha mengulas senyum. “Iya,” katanya singkat, mengunci pintu sambil menarik napas panjang. “Maafin aku,” kata Eve lagi. Namun Helena belum menoleh. Matanya yang kembali panas, menatap pintu, nanar.“Sudah lah. Semua sudah berlalu. Aku sudah terbiasa dengan semua ini.” Helena berbalik, menatap Eve, lalu mengulas senyum simpul. Sedikit dipaksakan. U“Aku harus bekerja. Kita akan bicara lain waktu.” Helena segera pergi, tanpa memberi kesempatan Eve untuk menjawabnya.Langkahnya tergesa sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah takut kalau Eve mengikutinya lebih jauh. “Tidak, Helena. Dia tidak akan mengejarmu sampai sejauh ini,” gumam Helena. Dia memejamkan mata sesaat, lalu menatap mentari yang

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 101. Maafkan aku

    Sudut mata Helena berkedut. Tangannya meremas pinggiran meja tanpa sadar. Lagi-lagi ada yang mengancam hidupnya. “Mata-mata?” tanya Helena, suara serak dan berat. “Ayahmu sampai mengirim mata-mata untukku?” Tubuh Helena luruh ke lantai. Dia menyandarkan kening ke lemari es, berusaha menenangkan diri meski rasa sesak dan kebingungan terus menghimpit dadanya.Lucien berjongkok di sampingnya. Tangannya membelai puncak kepala Helena. “Aku tidak tahu kenapa. Dan sampai aku tahu alasannya, aku berjanji tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku akan menjagamu, Helena.” Helena langsung menegakkan tubuhnya. Dia menoleh pada Lucien dengan mata menyipit. “Ayahmu tidak menyukaiku, Lucien,” katanya. “Berhenti memberi harapan yang kamu sendiri ragu untuk memberikannya.” Helena mendorong Lucien untuk menjauh darinya. “Setelah lepas dari Matteo, aku hanya ingin menjalani hidup biasa. Dengan cinta biasa, dan masalah yang sewajarnya.”Wanita itu memejamkan matanya yang mulai mengabur. Matanya kembal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status