LOGINSuara Matteo yang lembut itu dulu selalu berhasil membuat dadanya yang bergemuruh menjadi lebih tenang.
Tapi entah kenapa, semuanya hilang tanpa jejak setelah Matteo kehilangan pekerjaannya, dan mereka mulai terlilit hutang. “Helena, apa yang kamu lakukan?!” Helena mengerjap, lalu meringis saat tanpa sengaja api dari serbet yang terbakar menyengatnya. Dia buru-buru menepuk-nepuk lengan bajunya yang terbakar, sampai apinya padam. “Kamu ini kenapa? Suruh masak, malah tangan sendiri yang dimasak,” ujar Eve—rekan kerja yang dua tahun lebih muda darinya. Eve buru-buru menarik Helena untuk duduk dan mengobatinya. “Tahan sebentar, ya. Aku tahu ini akan sakit, tapi kalau tidak diobati, luka bakarnya akan melepuh.” Helena tidak langsung menjawab. Dia justru menunduk menatap luka di tangannya dengan mata yang basah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi. “Kenapa nangis? Apa ini sangat menyakitkan?” Eve menatap Helena panik. Dia sedikit mengguncang bahu wanita itu karena tidak kunjung mendapat jawaban. Helena menggeleng. “Nggak,” katanya. Dia buru-buru berdiri, dan menghindar sebelum Eve bertanya lebih jauh. Dari sudut matanya, Helena bisa melihat kalau Eve masih saja memperhatikannya. “Apa ini ada hubungannya dengan Matteo?” pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Helena menegang. Memang diantara semua teman kerjanya, hanya Eve yang tahu kondisi Helena, itupun karena lingkungan apartemen mereka yang berdekatan. Helena selalu mengelak kalau Eve menuduh Matteo melakukan kekerasan, padahal jelas dia selalu datang dengan lebam atau luka baru di wajah maupun bagian tubuhnya. “Helena…” sentuhan Eve membuat Helena mengangkat wajahnya perlahan. “Kamu nggak perlu menyiksa dirimu. Kalau memang Matteo kasar dan jahat, tinggalkan saja dia. Biarkan dia menjadi gelandangan. Lagi pula—” “Apa yang kalian lakukan? Apa tempat ini membayar kalian untuk bergosip?” suara dari koki senior berhasil membuat keduanya kembali pada posisi masing-masing. Helena menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa. Semuanya masih berjalan lancar kecuali insiden yang berhasil membuat luka bakar di tangannya. Tak lama, ponselnya bergetar. Matanya berkedip saat melihat email masuk. Mulut Helena sedikit terbuka sebelum akhirnya bersorak, “Aku diterima bekerja!” Beberapa karyawan lain yang sedang bersiap untuk pulang, saling melirik dengan mata menyipit. Helena buru-buru membekap mulutnya sendiri. “Eh... maaf…” dia bergegas pergi ke tempat cucian piring. Sesekali dia menggigit kuku jempolnya. ‘Aku benar-benar diterima bekerja di Sinclair Corporation?’ gumamnya dalam hati. Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Lucien kemarin. Lima hari kerja. Padahal ia baru kemarin wawancara, apa ini ada hubungannya dengan Lucien? “Ada apa Helena? Kamu kelihatan beda banget dari tadi. Ada kabar bagus?” bisik Eve seraya menyenggol lengan Helena. “Nggak ada apa-apa. Aku cuma pengen beresin kerjaan ini lebih cepat aja.” Helena buru-buru menggeleng, menyimpan ponselnya dalam-dalam ke saku celemek. Eve menyipitkan mata. Helena bisa melihat ekspresi ketidakpercayaan di wajah Eve yang sangat ketara. “Aku nggak papa, Eve. Jangan menatapku seperti itu.” “Terserah deh. Tapi kalau ada yang bagus, jangan lupa traktir aku,” godanya, sambil berlalu pergi. Helena hanya tertawa kecil. Namun ketika ingatannya kembali pada Matteo, tangannya yang semula bergerak cekatan, langsung berhenti dan meremas ujung meja. Matteo tidak boleh tahu. Pikiran itu muncul begitu saja, mendinginkan kehangatan yang baru saja ia rasakan. Karena dia yakin, kalau Matteo tahu, pria itu pasti akan merampas semuanya. Helena melepas celemeknya, menggantungnya di paku tepat di sampingnya. Ia berpamitan singkat pada Eve, lalu melangkah keluar. Matanya menatap jalanan gelap yang akan dia lewati. ‘Aku harus tetap kerja di sini seperti biasa. Berangkat dan pulang di jam yang sama. Jangan sampai dia curiga,’ batinnya, menyusun rencana sepanjang jalan pulang. Helena mengangguk mantap. Karena hanya dengan begini, dia bisa memiliki uang lebih untuk tabungan dan hidupnya sendiri. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu apartemen. Suara tawa yang dia dengar bukan hanya suara Matteo. Helena menahan napas. Tangannya yang sudah terangkat untuk membuka pintu, membeku di udara. "Ah, Matteo… ini sangat, ah—nikmat sekali…” Desahan manja wanita itu terdengar sangat jelas. Dada Helena seperti diremas kuat-kuat. Dia mundur selangkah. Tangannya menutup mulutnya sendiri saat rasa mual tiba-tiba menghantam perutnya. Ponsel yang berisi balasan email penerimaan kerja yang tadi ia peluk erat penuh harapan, kini terasa berat di tangannya. “Percepat… Matteo…”Lucien menangkup wajah Helena. Menatap mata coklat itu dalam. “Jangan di sini,” bisik Lucien akhirnya. Lucien menggendong Helena untuk naik ke lantai dua. Langkahnya tergesa, seolah tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Helena spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Lucien, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di lekuk leher pria itu. “Tidak perlu berlari, aku tidak akan kabur,” kata Helena. Lucien terkekeh rendah. Dia sedikit menunduk, mengecup kening Helena sebentar. “Aku tahu. Tapi aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak memelukmu seperti ini.”Helena mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, membuat kalimat yang semula ingin dia ucapkan lenyap begitu saja. Sesampainya di lantai dua, Lucien membawa Helena ke kamar, lalu membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.“Aku benar-benar merindukanmu,” bisik Helena. Ia menyentuh pipi Lucien, mengusap rahang tegas itu.Mendengar Helena berkata seperti itu, senyum
“Diam, atau ku potong lidahmu?” Helena melirik Lucien, tak menyangka pria di sampingnya akan mengucapkan ancaman setajam itu. Tangannya refleks meraih tangan Lucien yang terkepal, berusaha menenangkannya sebelum situasi semakin memanas.“Kamu juga diam, Lucien. Biar dia menceritakan apa alasannya. Jangan dulu mencela sebelum aku meminta,” ujar Roy otoriter. Lucien memalingkan wajah, tapi tatapannya justru bertemu dengan Helena. Amarah yang menggelapkan matanya perlahan mereda saat melihat perempuan itu menatapnya dengan tenang.“Maaf,” gumamnya nyaris tanpa suara. Helena hanya mengangguk. “Sekarang jelaskan. Jangan ada yang kamu tutupi,” kata Roy. Deren langsung menegakkan tubuh. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Matanya masih menyipit menatap Lucien dan Helena bergantian.“Aku terdesak. Awalnya, aku hanya ingin bertemu dengan putriku,” jelas Deren. “Tapi mereka terus menolak permintaanku. Sudah hampir lima bulan aku tidak bisa menemuinya. Aku tidak tahu harus melakukan apa la
Setelah perbincangan dengan Roy di gudang bawah tanah, Helena tidak lagi melihat senyum di wajah Lucien.Pria itu fokus pada tablet di tangannya. Kedua alisnya bertaut, sesekali disertai hembusan nafas kasar.“Mereka tidak memberitahu aku masalah ini,” gumam Lucien, lebih pada dirinya sendiri. Helena duduk di sampingnya. Menyentuh pundak Lucien yang sudah tegang. “Apa berita itu memang sudah menyebar?” Lucien tidak langsung menjawab. Tapi dia sudah menoleh pada Helena. Tatapannya gelap dan dingin. Sampai membuat Helena mengatupkan rahang kecilnya. “Berita ini menyebar bersamaan dengan gosip yang beredar di perusahaan.” Lucien mengangkat sudut bibirnya kesal. “Dan aku tahu dari mana awalnya gosip ini beredar.” Pria itu kembali fokus pada layar tabletnya, menggeser beberapa data yang berhasil ia dapatkan. “Itu—” Helena menghentikan ucapannya. Refleks, dia menutup mulut dengan telapak tangan. “Dari mana kamu mendapatkan foto-foto itu, Lucien? Itu Yasmin dan Tessa!”“Anak buahku,” ja
“Tuan besar yang meminta kami membawanya ke tempat ini, Tuan.” Penjaga di sampingnya berbisik di belakang Lucien. Namun bukan itu yang Lucien pikirkan, melainkan wanita yang sudah gemetar di sampingnya. Lucien refleks merangkul pinggang Helena untuk membuatnya lebih dekat. “Lucien,” kata Matteo dingin. “Aku sudah memberimu semuanya. Pengakuan, dan juga istriku. Lalu kenapa kamu masih mengurungku di sini?” Mata Matteo menyipit menatap Helena. Seulas senyum kesal terpancar jelas di wajahnya. “Apa karena ini permintaan bibi tua itu?” Helena langsung mengangkat dagu, membalas tatapan Matteo dengan kening berkerut. Wajah arogan itu masih terlihat jelas walau di balik jeruji besi. “Kamu memang pantas mendapatkan ini—”Brak!Matteo memukul jeruji besi. Matanya menggelap, dengan rahang terkatup erat. “Tidak tahu diri! Aku bahkan sudah menemanimu lepas dari kesendirian di hari duka itu, Helena. Tapi ini balasanmu padaku?” Tangannya keluar dari sela jeruji. Terkepal seolah hendak menghaja
Setelah mendapat perintah itu, Lucien tidak membuang waktu. Dia mengajak Helena untuk pergi bersamanya. Helena menarik tangan Lucien. “Kamu bilang, Deren sudah dilepaskan. Lalu kenapa kita sendiri yang harus menjemputnya?” tanya Helena. Dia menyipit bingung menatap punggung Lucien. Pria itu menoleh. “Ayah memang membebaskannya. Tapi dia masih terkurung di gudang bawah tanah yang ada di rumahku.”Tubuh Helena menegang. Gudang bawah tanah? Penjara macam apa yang dimiliki keluarga Sinclair?Helena refleks meremas jemari Lucien yang menggenggamnya. Pupilnya menyusut membayangkan beberapa kemungkinan yang kini mengganggu isi kepalanya. “Ayo, aku ingin masalah ini cepat selesai—”“Kenapa aku harus ikut?” tanya Helena memotong. Dia melepaskan genggamannya, dan refleks mundur selangkah. “A-aku tidak bisa ketempat seperti itu.”Lucien menghela napas panjang. Dia menghadap Helena sepenuhnya, tangan terlipat di depan dada, dengan wajah yang sedikit dimiringkan. “Jangan terlalu liar imajinasi
Lucien hanya mengangguk datar. Dia mempererat pelukannya. Hembusan napas kasar Helena berhasil membuat pria itu mengendurkan pelukan, dan perlahan melepaskannya.“Aku sudah percaya padamu,” kata Helena, begitu Lucien menatapnya dalam. “Kalau aku tidak percaya, tidak mungkin aku mau melakukan ini berulang kali.” “Tapi kecelakaan itu—”“Adrian memilihnya sendiri. Bahkan jika kamu berhasil menyelamatkannya saat itu, dia mungkin akan mengulanginya lagi sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.”Helena menunduk, mengingat kembali sosok Adrian yang akan selalu tunduk pada pendiriannya, sekalipun itu mengancam nyawa. “Jadi berhentilah menyalahkan dirimu,” lanjut Helena, mengangkat dagu perlahan, dan mengulas senyum untuk Lucien. Keheningan menyapa di kabin mobil itu. Namun perlahan, hati mereka justru menghangat. Ternyata tidak ada yang salah dengan berterus terang. Justru semuanya terasa jauh lebih ringan daripada terus menutupi kebenaran.*** Setelah kembalinya Roy Sinclair, kantor ca







