LOGINLucien menangkup wajah Helena. Menatap mata coklat itu dalam. “Jangan di sini,” bisik Lucien akhirnya. Lucien menggendong Helena untuk naik ke lantai dua. Langkahnya tergesa, seolah tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Helena spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Lucien, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah di lekuk leher pria itu. “Tidak perlu berlari, aku tidak akan kabur,” kata Helena. Lucien terkekeh rendah. Dia sedikit menunduk, mengecup kening Helena sebentar. “Aku tahu. Tapi aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak memelukmu seperti ini.”Helena mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, membuat kalimat yang semula ingin dia ucapkan lenyap begitu saja. Sesampainya di lantai dua, Lucien membawa Helena ke kamar, lalu membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap.“Aku benar-benar merindukanmu,” bisik Helena. Ia menyentuh pipi Lucien, mengusap rahang tegas itu.Mendengar Helena berkata seperti itu, senyum
“Diam, atau ku potong lidahmu?” Helena melirik Lucien, tak menyangka pria di sampingnya akan mengucapkan ancaman setajam itu. Tangannya refleks meraih tangan Lucien yang terkepal, berusaha menenangkannya sebelum situasi semakin memanas.“Kamu juga diam, Lucien. Biar dia menceritakan apa alasannya. Jangan dulu mencela sebelum aku meminta,” ujar Roy otoriter. Lucien memalingkan wajah, tapi tatapannya justru bertemu dengan Helena. Amarah yang menggelapkan matanya perlahan mereda saat melihat perempuan itu menatapnya dengan tenang.“Maaf,” gumamnya nyaris tanpa suara. Helena hanya mengangguk. “Sekarang jelaskan. Jangan ada yang kamu tutupi,” kata Roy. Deren langsung menegakkan tubuh. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Matanya masih menyipit menatap Lucien dan Helena bergantian.“Aku terdesak. Awalnya, aku hanya ingin bertemu dengan putriku,” jelas Deren. “Tapi mereka terus menolak permintaanku. Sudah hampir lima bulan aku tidak bisa menemuinya. Aku tidak tahu harus melakukan apa la
Setelah perbincangan dengan Roy di gudang bawah tanah, Helena tidak lagi melihat senyum di wajah Lucien.Pria itu fokus pada tablet di tangannya. Kedua alisnya bertaut, sesekali disertai hembusan nafas kasar.“Mereka tidak memberitahu aku masalah ini,” gumam Lucien, lebih pada dirinya sendiri. Helena duduk di sampingnya. Menyentuh pundak Lucien yang sudah tegang. “Apa berita itu memang sudah menyebar?” Lucien tidak langsung menjawab. Tapi dia sudah menoleh pada Helena. Tatapannya gelap dan dingin. Sampai membuat Helena mengatupkan rahang kecilnya. “Berita ini menyebar bersamaan dengan gosip yang beredar di perusahaan.” Lucien mengangkat sudut bibirnya kesal. “Dan aku tahu dari mana awalnya gosip ini beredar.” Pria itu kembali fokus pada layar tabletnya, menggeser beberapa data yang berhasil ia dapatkan. “Itu—” Helena menghentikan ucapannya. Refleks, dia menutup mulut dengan telapak tangan. “Dari mana kamu mendapatkan foto-foto itu, Lucien? Itu Yasmin dan Tessa!”“Anak buahku,” ja
“Tuan besar yang meminta kami membawanya ke tempat ini, Tuan.” Penjaga di sampingnya berbisik di belakang Lucien. Namun bukan itu yang Lucien pikirkan, melainkan wanita yang sudah gemetar di sampingnya. Lucien refleks merangkul pinggang Helena untuk membuatnya lebih dekat. “Lucien,” kata Matteo dingin. “Aku sudah memberimu semuanya. Pengakuan, dan juga istriku. Lalu kenapa kamu masih mengurungku di sini?” Mata Matteo menyipit menatap Helena. Seulas senyum kesal terpancar jelas di wajahnya. “Apa karena ini permintaan bibi tua itu?” Helena langsung mengangkat dagu, membalas tatapan Matteo dengan kening berkerut. Wajah arogan itu masih terlihat jelas walau di balik jeruji besi. “Kamu memang pantas mendapatkan ini—”Brak!Matteo memukul jeruji besi. Matanya menggelap, dengan rahang terkatup erat. “Tidak tahu diri! Aku bahkan sudah menemanimu lepas dari kesendirian di hari duka itu, Helena. Tapi ini balasanmu padaku?” Tangannya keluar dari sela jeruji. Terkepal seolah hendak menghaja
Setelah mendapat perintah itu, Lucien tidak membuang waktu. Dia mengajak Helena untuk pergi bersamanya. Helena menarik tangan Lucien. “Kamu bilang, Deren sudah dilepaskan. Lalu kenapa kita sendiri yang harus menjemputnya?” tanya Helena. Dia menyipit bingung menatap punggung Lucien. Pria itu menoleh. “Ayah memang membebaskannya. Tapi dia masih terkurung di gudang bawah tanah yang ada di rumahku.”Tubuh Helena menegang. Gudang bawah tanah? Penjara macam apa yang dimiliki keluarga Sinclair?Helena refleks meremas jemari Lucien yang menggenggamnya. Pupilnya menyusut membayangkan beberapa kemungkinan yang kini mengganggu isi kepalanya. “Ayo, aku ingin masalah ini cepat selesai—”“Kenapa aku harus ikut?” tanya Helena memotong. Dia melepaskan genggamannya, dan refleks mundur selangkah. “A-aku tidak bisa ketempat seperti itu.”Lucien menghela napas panjang. Dia menghadap Helena sepenuhnya, tangan terlipat di depan dada, dengan wajah yang sedikit dimiringkan. “Jangan terlalu liar imajinasi
Lucien hanya mengangguk datar. Dia mempererat pelukannya. Hembusan napas kasar Helena berhasil membuat pria itu mengendurkan pelukan, dan perlahan melepaskannya.“Aku sudah percaya padamu,” kata Helena, begitu Lucien menatapnya dalam. “Kalau aku tidak percaya, tidak mungkin aku mau melakukan ini berulang kali.” “Tapi kecelakaan itu—”“Adrian memilihnya sendiri. Bahkan jika kamu berhasil menyelamatkannya saat itu, dia mungkin akan mengulanginya lagi sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.”Helena menunduk, mengingat kembali sosok Adrian yang akan selalu tunduk pada pendiriannya, sekalipun itu mengancam nyawa. “Jadi berhentilah menyalahkan dirimu,” lanjut Helena, mengangkat dagu perlahan, dan mengulas senyum untuk Lucien. Keheningan menyapa di kabin mobil itu. Namun perlahan, hati mereka justru menghangat. Ternyata tidak ada yang salah dengan berterus terang. Justru semuanya terasa jauh lebih ringan daripada terus menutupi kebenaran.*** Setelah kembalinya Roy Sinclair, kantor ca







