LOGINSetelah kepergian Roy, Helena langsung duduk lemas di sofa. Lucien yang masih memperhatikannya hanya tersenyum melihat kegugupan perempuan itu. “Apa aku bisa bicara di depan Ayahmu nanti?” gumam Helena, nyaris tanpa suara. Lucien bangkit dari duduknya. Ia menepuk pundak Helena, membuat wanita itu mendongak menatapnya. “Bisa. Apa yang tidak bisa kamu lakukan? Selama ini semuanya baik-baik saja,” kata Lucien. “Bahkan kamu berani berdebat dengan investor asing hanya untuk mempertahankan karakteristik Sinclair. Apa kamu lupa itu?”Helena tidak menjawab. Dia mungkin berani dengan orang lain. Tetapi kalau ini berhubungan dengan Roy, rasanya beda. Keberaniannya langsung sirna. Ruang rapat terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kehadiran Roy Sinclair di ujung meja utama memberikan tekanan tersendiri yang membuat para kepala divisi enggan bersuara keras. Pria paruh baya itu hanya bersedekap, menatap lurus ke arah layar presentasi dengan raut wajah yang sulit ditebak.Helena berdiri di sam
“Ibu… ini sakit sekali.” Inggit meremas jemarinya di depan tubuh. Kalimat ‘selamatkan putramu’ berhasil membuat dia mengingat setiap teriakan sang putra yang terus berjuang dengan rasa sakitnya. Dia sampai tidak sadar, kalau Lucien sudah menyipitkan mata. “Apa yang kamu pikirkan. Ambil uang di kartu ini, dan pergi. Tanda-tangani surat persetujuan operasi itu.” Suara Lucien menarik Inggit dari lamunan panjang. Wanita itu luruh ke pantai. Tangannya terkatup di depan wajah. “Terimakasih,” katanya berulang kali. “Tuan Sinclair, Helena. A-aku sangat berhutang budi pada kalian. Maaf… maafkan aku karena sudah berkhianat dan memilih mereka.” Helena menghela napas panjang. Ia membungkuk, meraih kedua pundak Inggit yang bergetar, lalu menuntunnya berdiri. Semua mata masih memperhatikan mereka. Tapi kini, tak ada sedikitpun tatapan jijik di antara para karyawan. Semua masalah yang menekan, seolah meluap bersama rasa syukur dan penyesalan di ruangan itu. “Yang terpenting seka
“Ahhhh aku keluar, Lucien.” Helena meremas pundak Lucien. Tubuhnya mengejang menyambut pelepasan yang sedari tadi ia nantikan. Lucien masih belum berhenti bergerak. Wajahnya semakin merah. Rahangnya mengeras. Rupanya pria itu juga hendak mencapai klimaksnya. Sampai akhirnya hembusan napas Lucien menjadi klimaksnya yang paling panjang. Pria itu terengah. Memeluk tubuh Helena yang juga sudah seperti kapas. “Milikmu selalu membuatku puas, sayang,” kata Lucien. Suaranya serak dan berat. Helena tidak menjawab. Dia mempererat pelukannya. Menenggelamkan wajah di dada bidang Lucien.“Andaikan saja kita bisa cepat menikah,” kata Helena. Ucapan itu keluar begitu saja. Keduanya kini sudah berendam di dalam bathtub. Helena bersandar di dada Lucien. “Menurutmu, apa kita akan sampai ke pelaminan?” tanya Helena lagi. Wanita itu mendongak. Menatap Lucien yang tak kunjung menjawabnya. Lucien mengulas senyum. Ia menunduk mencium bibir Helena.“Kapan kamu mau menikah? Aku akan mempersiapkannya
“Berendam?” Pupil Helena menyusut. Ia menatap pintu kamar mandi. Tenggorokannya bergerak pelan. Bingung apalagi yang akan Lucien lakukan kali ini. Namun belum sempat selesai dengan imajinasinya, Lucien sudah menggendong Helena untuk membawanya di kamar mandi. Hawa dingin dari ruangan itu menyapu permukaan kulit Helena. Membuat rasa gugup menjadi lebih meningkat dari sebelumnya. Tangan Helena yang masih menggantung di leher Lucien, kini turun ke dada pria itu. “Apa yang akan kita lakukan disini?” tanya Helena bingung. “Ini musim dingin, Lucien. Tidak mungkin kita melakukannya di sini.” Wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika Lucien menatapnya dengan senyum penuh siasat. Dadanya mengencang. Dia juga tidak sabar menunggu apa yang akan pria itu lakukan kali ini. “Aku akan membuatmu hangat. Kamu tidak usah khawatir.” Lucien menurunkan Helena. Pria itu perlahan membuka semua baju Helena tanpa menyisakan sehelai benangpun di sana. Pria itu tidak bergerak. Matanya berki
“Kalau dia bisa melihatnya, biarkan dia melihat apa yang kita lakukan hari ini.” Ucapan Lucien membuat dada Helena menghangat. Matanya melirik nakas yang sudah kosong. Tidak ada lagi foto dirinya dengan Adrian di sana. Helena mengalungkan kedua tangannya di leher Lucien. Lalu kembali mencium bibir tebal itu semakin dalam.Helena mendorong pria itu untuk berbaring ditempat tidur. Dengan gerakan perlahan, ia naik ke tubun Lucien. Menjilat dan menghisap buah jakunnya. Lucien hanya memejamkan matanya. Merasakan setiap cumbuan yang membuat pusakanya semakin mengeras. “Buka kemejanya,” bisik Lucien serak. Matanya masih terpejam dengan kedua tangan terbuka lebar, menyambut Helena. Tangan Helena bergerak cepat melucuti dasi dan kancing kemeja itu. Matanya terpana saat melihat dada Lucien yang sangat kekar dan berbulu.Ini bukan pertama kali. Tapi kali ini dia benar-benar memulai segalanya sendiri. Ada gelenyar aneh yang mendorong hasrat Helena menjadi lebih meningkat. Wanita itu menjila
“Apa kamu mau aku membantunya?” Helena tidak menjawab. Melihat ekspresi Lucien, rasanya pria itu memang tidak berniat menurunkan egonya. “Apa aku boleh izin keberka hari ini?” tanya Helena. Seolah memohon permintaan yang dia sendiri tahu jawabannya. Lucien mendekat. Satu tangannya menyentuh kening Helena, lalu turun ke lehernya. Keningnya berkerut. “Tidak demam,” katanya dengan wajah bingung. “Apa ada sakit yang lain, yang kami rasakan?” Helena terkekeh pelan. “Apa izin kerja, itu artinya aku harus sakit dulu?” tanya Helena di tengah tawanya. Pria itu memundurkan tubuhnya. Menatap Helena dengan tatapan yang masih bingung. “Aku cuma mau pulang,” kata Helena akhirnya. “Aku mau pulang ke apartemen. Apa boleh aku izin hari ini, Tuan Sinclair?” “Kenapa? Kalau kamu mau istirahat, pulang lah ke villa. Ada banyak pelayan yang bisa membantumu di sana,” katanya. Dia sedikit menjeda kalimatnya. “Lagipula, Ayahku tidak akan ke villa malam ini. Kita akan disana.” Helena menghela







