แชร์

Bab 127. Bala Bantuan

ผู้เขียน: Min Ye-Rin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-11-01 20:15:47

“Ahhhh aku keluar, Lucien.”

Helena meremas pundak Lucien. Tubuhnya mengejang menyambut pelepasan yang sedari tadi ia nantikan.

Lucien masih belum berhenti bergerak. Wajahnya semakin merah. Rahangnya mengeras. Rupanya pria itu juga hendak mencapai klimaksnya.

Sampai akhirnya hembusan napas Lucien menjadi klimaksnya yang paling panjang.

Pria itu terengah. Memeluk tubuh Helena yang juga sudah seperti kapas.

“Milikmu selalu membuatku puas, sayang,” kata Lucien. Suaranya serak dan berat.

Helen
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 127. Bala Bantuan

    “Ahhhh aku keluar, Lucien.” Helena meremas pundak Lucien. Tubuhnya mengejang menyambut pelepasan yang sedari tadi ia nantikan. Lucien masih belum berhenti bergerak. Wajahnya semakin merah. Rahangnya mengeras. Rupanya pria itu juga hendak mencapai klimaksnya. Sampai akhirnya hembusan napas Lucien menjadi klimaksnya yang paling panjang. Pria itu terengah. Memeluk tubuh Helena yang juga sudah seperti kapas. “Milikmu selalu membuatku puas, sayang,” kata Lucien. Suaranya serak dan berat. Helena tidak menjawab. Dia mempererat pelukannya. Menenggelamkan wajah di dada bidang Lucien.“Andaikan saja kita bisa cepat menikah,” kata Helena. Ucapan itu keluar begitu saja. Keduanya kini sudah berendam di dalam bathtub. Helena bersandar di dada Lucien. “Menurutmu, apa kita akan sampai ke pelaminan?” tanya Helena lagi. Wanita itu mendongak. Menatap Lucien yang tak kunjung menjawabnya. Lucien mengulas senyum. Ia menunduk mencium bibir Helena.“Kapan kamu mau menikah? Aku akan mempersiapkannya

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 125. Terlalu Besar

    “Berendam?” Pupil Helena menyusut. Ia menatap pintu kamar mandi. Tenggorokannya bergerak pelan. Bingung apalagi yang akan Lucien lakukan kali ini.Namun belum sempat selesai dengan imajinasinya, Lucien sudah menggendong Helena untuk membawanya di kamar mandi. Hawa dingin dari ruangan itu menyapu permukaan kulit Helena. Membuat rasa gugup menjadi lebih meningkat dari sebelumnya. Tangan Helena yang masih menggantung di leher Lucien, kini turun ke dada pria itu. “Apa yang akan kita lakukan disini?” tanya Helena bingung. “Ini musim dingin, Lucien. Tidak mungkin kita melakukannya di sini.”Wanita itu menggigit bibir bawahnya ketika Lucien menatapnya dengan senyum penuh siasat. Dadanya mengencang. Dia juga tidak sabar menunggu apa yang akan pria itu lakukan kali ini. “Aku akan membuatmu hangat. Kamu tidak usah khawatir.”Lucien menurunkan Helena. Pria itu perlahan membuka semua baju Helena tanpa menyisakan sehelai benangpun di sana. Pria itu tidak bergerak. Matanya berkilat memperhatik

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 125. Sambil Berendam?

    “Kalau dia bisa melihatnya, biarkan dia melihat apa yang kita lakukan hari ini.” Ucapan Lucien membuat dada Helena menghangat. Matanya melirik nakas yang sudah kosong. Tidak ada lagi foto dirinya dengan Adrian di sana. Helena mengalungkan kedua tangannya di leher Lucien. Lalu kembali mencium bibir tebal itu semakin dalam.Helena mendorong pria itu untuk berbaring ditempat tidur. Dengan gerakan perlahan, ia naik ke tubun Lucien. Menjilat dan menghisap buah jakunnya. Lucien hanya memejamkan matanya. Merasakan setiap cumbuan yang membuat pusakanya semakin mengeras. “Buka kemejanya,” bisik Lucien serak. Matanya masih terpejam dengan kedua tangan terbuka lebar, menyambut Helena. Tangan Helena bergerak cepat melucuti dasi dan kancing kemeja itu. Matanya terpana saat melihat dada Lucien yang sangat kekar dan berbulu.Ini bukan pertama kali. Tapi kali ini dia benar-benar memulai segalanya sendiri. Ada gelenyar aneh yang mendorong hasrat Helena menjadi lebih meningkat. Wanita itu menjila

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 124. Jangan Malu-malu

    “Apa kamu mau aku membantunya?” Helena tidak menjawab. Melihat ekspresi Lucien, rasanya pria itu memang tidak berniat menurunkan egonya. “Apa aku boleh izin keberka hari ini?” tanya Helena. Seolah memohon permintaan yang dia sendiri tahu jawabannya. Lucien mendekat. Satu tangannya menyentuh kening Helena, lalu turun ke lehernya. Keningnya berkerut. “Tidak demam,” katanya dengan wajah bingung. “Apa ada sakit yang lain, yang kami rasakan?” Helena terkekeh pelan. “Apa izin kerja, itu artinya aku harus sakit dulu?” tanya Helena di tengah tawanya. Pria itu memundurkan tubuhnya. Menatap Helena dengan tatapan yang masih bingung. “Aku cuma mau pulang,” kata Helena akhirnya. “Aku mau pulang ke apartemen. Apa boleh aku izin hari ini, Tuan Sinclair?” “Kenapa? Kalau kamu mau istirahat, pulang lah ke villa. Ada banyak pelayan yang bisa membantumu di sana,” katanya. Dia sedikit menjeda kalimatnya. “Lagipula, Ayahku tidak akan ke villa malam ini. Kita akan disana.” Helena menghela

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 122. Apa Aku Harus Membantunya?

    Suasana semakin ricuh.Tubuh Helena gemetar. Dia terus berusaha menjauhkan diri dari Deren. Helena mengangkat dagunya, menatap Lucien yang masih diam dengan mata menyipit ke arah Deren. Ia tidak mengerti kenapa Lucien justru menikmati kejadian itu, alih-alih cepat menolongnya. Namun tak lama, dua pengawal datang, lalu menarik Deren menjauh. “Siapa lagi yang menyuruhmu kali ini?” tanya Lucien dingin. Telunjuknya menuntun wajah Deren untuk menatapnya. “Bukankah urusan kita sudah selesai? Drama apalagi yang sedang kamu mainkan?” Deren tidak langsung menjawab. Matanya gelisah menatap dua pengawal di sampingnya. “Lucien, tolong! Jangan seperti ini. Aku tidak mau jauh dari putriku!” Suaranya pecah, bergetar. Orang yang mendengar, mustahil tidak merasakan kegelisahan yang Deren rasakan.Dengan susah payah, Deren menangkup kedua tangan di depan wajahnya. “Aku tidak peduli kalau aku tidak bisa kembali padanya, tapi ku mohon… bantu aku mengambil hak asuh putriku,” ujar Deren lirih. Pri

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 122. Helena Ampuni Aku

    Suasana berubah menjadi lebih tegang. Lucien mundur dua langkah, membuat jarak antara dirinya dengan sang ayah. Roy mengulas senyum. “Bereskan semua kekacauan yang sudah kamu buat selama kamu berhubungan dengan dia, Lucien.”Mata Roy yang gelap melirik Helena yang kini sudah menegang. “Kalau memang dia calon menantuku, setidaknya dia harus bersih dari masalah. “ Pria tua itu merapikan bajunya. “Urus juga mantan suaminya yang terus berteriak minta dibebaskan.” Roy beranjak pergi. Tidak peduli dengan apa yang dia tinggalkan akibat ucapannya barusan. Mendengar kata Matteo, Helena refleks meremas jemarinya. Dadanya menegang. Matanya menatap punggung Lucien yang lebar. “Benar kata ayahmu,” ujar Helena. “Lebih baik, kita serahkan Matteo pada pihak yang berwajib. Dikurung di sana, hanya akan membawa masalah baru.”Lucien tidak langsung menjawab. Namun, pundak yang semula tegang, perlahan merosot. Dia berbalik badan, menatap Helena dengan senyum yang kembali dipaksakan. “Tentu saja. An

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status