LOGINTangan Lucien menyentuh dada Helena, meremasnya pelan, sambil sesekali mencubitnya. Helena yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Lucien hanya terkekeh ringan. “Hey, kita sudah melakukannya tadi,” katanya menggoda. “Kita tidak mungkin melakukannya lagi.”Lucien tidak menjawab. Dia justru mencium dan menghisap leher jenjang Helena, membuat wanita itu mendesah halus. “Aku tidak akan pernah bosan melakukannya denganmu, sayang…” katanya berbisik. Tangan Lucien menyentuh bekas merah di leher Helena yang baru saja dia tinggalkan. “Sudah cukup,” kata Helena pelan. Dia berbalik badan menatap Lucien, membelai rahang tegas pria itu, lalu mengecup bibirnya singkat. “Aku mau mandi, dan tidur. Hari ini begitu melelahkan. Aku tidak bertenaga untuk melakukannya.” Ada raut kecewa di wajah Lucien, dan itu berhasil membuat Helena ikut merasa bersalah. Helena menjatuhkan wajahnya di dada Lucien, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu. “Aku lelah…” rengeknya pelan. Lucien tidak menjaw
Selepas pertemuan itu, baik Lucien atau Helena tidak ada yang bergerak. Mereka sama-sama sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hanya suara ponsel Lucien yang membuat keduanya mengerjap pelan. “Siapa?” tanya Helena, nyaris tanpa suara. Dia menatap ponsel di tangan Lucien. “Anak buahku,” katanya. “Mereka sudah mengamankan Deren.” Hening menyapa kembali. Helena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap lurus kedepan. “Apa yang akan kamu lakukan pada Deren? Dia sepupumu, Lucien,” kata Helena serak, ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi di kantor. “Kalau kamu menghukumnya, kamu pasti akan mendapatkan masalah baru dari keluargamu—”“Aku tidak peduli,” potong Lucien. Pria itu berdiri, lalu merapikan jasnya. “Orang yang bersalah, tetap harus dihukum. Sekalipun itu keluarga, dia tetap harus menerima konsekuensi dari semua yang dia lakukan.”Helena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Lucien dalam. “Iya, tapi jangan gegabah. Kamu dikuasai emosi, sekarang,” ujar Helena pelan. Pri
“Aku sudah mengatur waktunya,” kata Helena. Dia tersenyum, tangannya membelai pipi Lucien. “Kita akan bertemu mereka nanti malam.”Lucien tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Helena. “Kamu banyak berubah, sayang…” bisiknya pelan. “Kamu lebih berani dan percaya diri. Aku sangat menyukainya.”Helena diam. Tatapannya lurus kedepan. Bukan karena dia berani, jantungnya justru sudah berdegup kencang. Hanya saja, dia memang harus melakukan itu. Dia tidak bisa membiarkan Lucien terus menanggung masalah karena kecerobohannya. “Itulah tugas sekretaris,” kata Helena, membuat Lucien mendongak menatapnya dengan mata merah. “Dan tugas orang yang sangat menyayangimu,” lanjutnya. Helena menepuk pundak Lucien, lalu melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. “Aku akan menyiapkan proposal itu,” kata Helena. “Aku kenal setiap detailnya lebih baik dari siapapun di timmu. Kalau kita harus meyakinkan investor itu untuk kembali, aku bisa membantu menje
Helena menatap punggung Lucien. Pria itu sedang serius menerima panggilan telepon, tidak banyak bicara, hanya mendengarkan. Tapi diamnya berhasil membuat jantung Helena berdegup kencang. “Ada apa? Siapa yang menghubungimu?” tanya Helena, ketika Lucien selesai menerima panggilan itu. Matanya mengikuti Lucien yang kini duduk di tepi ranjang. “Hey, katakan sesuatu?” tanya Helena, sedikit mengguncang tubuh pundak Lucien. Pria itu menoleh. Matanya merah, wajahnya tegang. Dia seperti hendak bicara, tapi masih ragu. Helena buru-buru menangkup wajah Lucien. “Ada apa? Apa terjadi masalah yang serius?” “Ayahku,” kata Lucien berat. “Dia bilang, investor ini jatuh ke tangan Dubois.” Pria itu menatap Helena sebentar, lalu membungkuk lemas. Helena menahan napas. Ini semua gara-gara map yang hilang itu. Lucien mendapat masalah karena kecerobohannya. “Jatuh ke tangan Dubois?” tanya Helena lirih. “M-maksudmu, investor itu sekarang kerja sama dengan mereka, bukan dengan Sinclair?”Lucien mengang
“Kita keluarkan bersama, sayang…” ujar Lucien, suaranya pecah dengan napas yang semakin kasar. Tangannya tidak diam, terus memukul bokong Helena, membuat wanita itu semakin tersentak. Sampai akhirnya lenguhan panjang keduanya menjadi akhir dari puncak keintiman hari itu. Tubuh Helena ambruk, begitupun dengan Lucien, yang sudah mencabut miliknya dan jatuh ke samping Helena. “Maaf kalau hari ini aku terlalu kasar,” bisik Lucien, dia menarik Helena ke dalam pelukan. “Aku terbawa emosi.”Helena tidak menjawab. Namun dia ikut melingkarkan tangannya di pinggang Lucien, membuat tubuh keduanya saling menempel, hangat, dan nyaman. “Kamu marah padaku?” tanya Lucien, setelah sekian lama Helena tidak bicara. Helena mengangkat wajah, menatap Lucien, lalu tersenyum. Dia menggeleng. “Aku sangat menyukainya,” katanya lirih. “Semuanya… semua yang kamu lakukan hari ini, aku sangat menikmatinya.” Seulas senyum kembali terukir di wajah tegas Lucien. Dia menyeka keringat di kening dan pelipis Helena
Baru saja turun dari mobil, ada dua pengawalnya yang menyambut di depan villa. Wajah mereka terlihat tegang, dan kening yang berkerut. “Minggir,” kata Lucien, melewati keduanya. “Pergilah kemanapun yang kalian mau. Jangan ganggu aku sampai nanti malam.” “Tapi, Tuan…” ujar satu pengawal memotong. Langkah Lucien terhenti, lalu menoleh sinis. “Kalian tidak mendengarku?” tanya Lucien dingin. Matanya melirik Helena yang baru keluar dari mobil. Baju dan rambut wanita itu sudah tampak rapi dari sebelumnya. Dua pengawal itu maju satu langkah, menunduk penuh hormat, sambil menyodorkan tablet di tangannya pada Lucien. “Ini hasil penyelidikan dua hari ini, Tuan,” kata satu pengawal bertubuh besar itu, wajahnya terangkat menatap Lucien yang masih mengernyit. “Ada rekaman CCTV yang memperlihatkan Nona Tessa dengan—” Helaan napas kasar Lucien seketika membungkamnya. Pengawal itu kembali menunduk. “Hari ini, aku tidak ingin membahas ini,” kata Lucien kesal. “Pergi lah. Jangan ganggu aku







