Share

Sahabat Suamiku Merebut Hatiku
Sahabat Suamiku Merebut Hatiku
Author: Larasati

Bab 1

Author: Larasati
"Nona, udah lihat banyak banget model, nggak ada satu pun kalung yang sreg?"

"..."

"Nona?"

Geisha Roland tertegun, lalu tersadar dari lamunannya.

Dia terdiam sejenak, lalu asal menunjuk sebuah kalung berlian. "Yang ini aja. Tolong dibungkus."

Pramuniaga itu akhirnya menghela napas lega. "Baik, mohon ditunggu sebentar, ya."

Semua pramuniaga di toko perhiasan itu tampak sumringah.

Soalnya, Geisha sudah tiga bulan berturut-turut datang ke toko ini setiap hari.

Seorang pramuniaga berkata dengan nada iri, "Nona Geisha, suami Nona pasti sayang banget sama Nona, ya? Beli perhiasan kayak beli sayur, bikin iri deh."

Yang lain ikut menyahut, "Iya, bener. Katanya kalau sayang itu kelihatan dari seberapa besar dia mau ngeluarin duit. Suami Nona rela ngeluarin banyak duit, pasti cinta mati tuh."

"Udah kaya raya, bucin lagi. Nona Geisha bener-bener wanita beruntung ya."

Mendengar pujian bertubi-tubi itu, Geisha hanya menyunggingkan senyum tipis.

Pandangannya hanya tertuju pada seorang pramuniaga wanita di kejauhan.

Perempuan itu tidak ikut mengerumuninya untuk memuji, melainkan diam-diam membungkus kalung yang baru saja Geisha beli.

Sepasang tangan yang lentur dan lembut, dengan kulit putih bersih nan cantik, begitu mencuri perhatian.

Geisha merasa dirinya saat ini seperti seorang pengintip.

Dia benar-benar ingin mengamati dari dekat, wanita seperti apa yang bisa membuat suaminya yang selalu tenang dan terkendali itu jatuh hati.

Pria itu rela mengorbankan hubungan lima belas tahun mereka, mengkhianati semua janji yang pernah mereka buat saat saling mencintai, dan tanpa ragu jatuh hati pada pramuniaga yang tampak biasa saja ini.

Pramuniaga itu bernama Lucy Addison. Parasnya sebenarnya tidak bisa dibilang luar biasa cantik, hanya tampak sederhana, bersih, dan enak dipandang.

Namun, sepasang tangannya sungguh memikat. Lembut dan lentik, ramping dengan proporsi yang pas. Wanita yang melihat saja bisa terpikat, apalagi pria.

Sebelum beranjak, Geisha bertanya, "Kalian bisa bantu aku nggak?"

Sebagai pelanggan super VIP, permintaannya tentu saja dituruti.

Dia pun melepas cincin dari jari manisnya, lalu menyodorkannya pada pramuniaga itu. "Ini, tolong leburin aja."

Pramuniaga itu terkejut. "Nona Geisha, ini 'kan cincin pernikahan Nona? Lagi pula, kayaknya ada ukirannya juga ...."

Memang ada ukirannya.

[DS & GR].

Itu adalah inisial nama mereka berdua. Daniel Stephen mencintai Geisha Roland.

Ukiran itu dibuat langsung oleh Daniel sendiri.

Pramuniaga itu memastikan sekali lagi. "Nona Geisha, cincin ini pasti punya makna khusus, 'kan? Nona yakin mau dilebur?"

"Yakin," jawab Geisha dengan nada tegas. "Tolong secepatnya, ya."

…

Geisha tiba di rumah saat hari sudah senja.

Baru saja melangkah masuk, Geisha langsung melihat Daniel bergegas keluar.

Keduanya bertabrakan di depan pintu hingga Geisha terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris kehilangan keseimbangan.

Untungnya, sebuah tangan besar dengan sigap meraih pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh.

Daniel mengerutkan kening, keringat tipis membasahi dahinya. "Kamu dari mana aja? Kok baru pulang sekarang?"

"Iya, Nyonya. Ini sudah lewat jam tujuh lho. Kalau pulang telat, seharusnya Nyonya kabari Tuan dulu. Tadi Tuan sampai mau lapor polisi ...."

Yang bicara adalah Bi Ani, pengurus rumah tangga mereka.

Di sisi lain, tepat di belakang Daniel, berdiri asistennya, Henry.

Melihat Geisha baik-baik saja, Henry tampak menghela napas lega. Dia lalu berkata kepada orang di ujung telepon, "Maaf, Pak Polisi. Nyonya kami sudah sampai rumah. Terima kasih atas bantuannya."

Daniel membungkuk sedikit, memperhatikan kondisi Geisha dari ujung kepala sampai kaki.

Setelah yakin Geisha tidak apa-apa, raut wajah Daniel sedikit melunak. "Ponselmu kenapa nggak bisa dihubungi? Aku kira kamu kenapa-napa."

Tanpa sadar, dia mengusap pipi Geisha, lalu kembali mengerutkan kening. "Kok dingin banget?"

Geisha menepis tangan pria itu, lalu melangkah masuk melewati tubuhnya. "Di rumah sumpek, jadi keluar sebentar buat cari angin. Ponselku kehabisan baterai."

Daniel menyusulnya dengan beberapa langkah cepat, melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Geisha, lalu merangkul pundak wanita itu. "Angin malam itu dingin, jangan sampai masuk angin."

Geisha sempat berusaha melepaskan diri, tetapi tak berhasil. Akhirnya, dia pasrah saja.

Begitu masuk ke dalam rumah, Daniel langsung berpesan pada Bi Ani, "Bikinkan wedang jahe gula merah yang hangat buat Geisha, biar badannya anget."

Lalu dia berpaling pada Henry. "Kamu pergi ke Restoran Wenak dan bungkus beberapa makanan. Kamu tahu beberapa hidangan favorit Nyonya, 'kan? Bilangin ke mereka, kurangi garam dan gulanya."

"Baik, Pak Daniel."

Yang lainnya pun pergi, meninggalkan Geisha dan Daniel sendirian di ruang tengah.

Daniel masih merangkul bahunya dengan sikap yang dominan dan posesif, tetapi nada bicaranya sangat lembut. "Tadi aku agak panik, nadaku mungkin terlalu keras. Geisha, jangan marah, ya."

Geisha menggeleng. "Aku nggak marah."

"Kamu kelihatan nggak mood beberapa hari ini, apa aku ada salah?"

"Aku baik-baik aja."

"Nggak," sahut Daniel. "Kita udah kenal lima belas tahun, aku tahu kok kalau kamu lagi marah. Beberapa hari ini aku juga udah introspeksi diri, tapi jujur aku nggak ngerti salahku di mana. Bilang aja langsung, nanti aku perbaiki, oke?"

Geisha menatap pria yang telah dicintainya selama lima belas tahun itu, dan tiba-tiba merasa asing.

Wajahnya memang masih sama. Hanya saja, pria itu telah berubah dari seorang pemuda tampan yang keras kepala menjadi pria dewasa yang matang, tenang, mapan, dan sukses. Namun entah kenapa, Geisha merasa seperti tidak mengenalnya lagi.

"Kamu aja yang kebanyakan mikir. Aku cuma lagi datang bulan aja."

Daniel masih tampak kurang yakin. "Yakin cuma karena lagi datang bulan?"

Geisha mengangguk. "Iya."

Daniel menelepon seseorang. "Minggu ini aku nggak ke kantor. Kalau ada urusan, suruh Henry anter dokumennya ke rumah."

Geisha bertanya, "Mau ngapain?"

"Aku mau nemenin kamu di rumah," jawab Daniel. "Kamu lagi nggak mood. Kalau aku di rumah 'kan bisa ngobrol sama kamu."

Geisha tak bisa menahan tawa kecil.

Daniel bertanya, "Kenapa ketawa?"

"Punya suami sebaik kamu, wajar dong aku seneng?"

Daniel pun tersenyum lebar. "Geisha, kalau ada yang bikin kamu nggak senang, harus bilang ya. Kita 'kan suami istri, jangan ada yang dipendam sendiri."

"Terus kamu? Ada nggak hal yang kamu pendam dan nggak kasih tahu aku?"

Daniel mengecup bibirnya singkat, senyumnya penuh godaan. "Kita udah nikah tiga tahun, gimana kalau kita punya anak?"

Geisha tak menjawab. Dia hanya mengeluarkan setumpuk dokumen dari tasnya. "Coba lihat ini, terus tanda tangan ya."

Daniel bahkan tak meliriknya. Dia langsung membuka halaman terakhir dan membubuhkan tanda tangannya.

Lalu dia menyodorkan dokumen itu kembali. "Udah ditandatangani, nih."

Geisha bertanya, "Kamu nggak baca dulu isinya apa baru tanda tangan?"

"Apa pun yang kamu mau, pasti bakal aku kasih. Geisha, aku tahu kamu agak takut soal hamil dan punya anak. Kalau dokumen ini bisa bikin kamu merasa lebih aman, kenapa nggak aku tanda tangani?"

"Daniel, kayaknya kamu harus baca dulu aja deh isinya ...."

Ponselnya bergetar, ada pesan masuk.

Itu ponsel Daniel.

Dia melirik layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat tipis, tatapannya mendadak lembut, seolah bisa melelehkan hati.

Jemarinya mengetuk-ngetuk layar, membalas pesan tersebut.

Tak lama kemudian, dia tiba-tiba berdiri.

"Geisha, aku ke luar dulu ya, mau nelepon."

"Mm, oke."

Setelah Daniel pergi, Geisha pun beranjak dari tempatnya dan menuju garasi.

Geisha menyalakan mesin mobil, layar dasbor pun menyala.

Di sana, akun WhatsApp Daniel ternyata masih tersinkronisasi dan aktif.

Riwayat percakapannya tadi terpampang jelas di layar.

Lucy: [Hari ini cewek sultan itu beli perhiasan lagi! Yeay, gaji bulan ini gede banget. Aku traktir makan enak ya!]

Daniel: [Seneng banget?]

Lucy: [Tentu aja hehehe, semoga cewek sultan itu datang tiap hari! Aku cinta banget sama kakak sultan!]

Daniel: [Dulu aku juga belanja tiap hari, kok kamu nggak pernah sesayang itu sama aku?]

Lucy: [Ya jelas beda dong, dia 'kan pelanggan VVVIP istimewa aku!]

Daniel: [Terus aku?]

Lucy: [Kamu udah aku cuekin! Nggak ada yang bisa ngalangin langkah aku cari cuan!]

Daniel: [Habis manis sepah dibuang, nih?]

Lucy: [Haha, kita teleponan aja yuk. Kakak sultan tadi nyobain puluhan kalung, beres-beresnya bikin aku remuk. Tanganku pegal kalau harus ngetik.]

Daniel: [Oke.]

Geisha menatap nama akun [Lucy] itu cukup lama, lalu memejamkan mata.

Bayangan sosok pramuniaga bernama Lucy itu, beserta sepasang tangannya yang indah, terus saja merasuki pikirannya tanpa bisa dihalau.

Dia mematikan mesin mobil, lalu kembali masuk ke rumah.

Di atas sofa, dokumen yang baru saja ditandatangani Daniel masih tergeletak di tempat semula.

Geisha membereskan dokumen itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Di bagian atas dokumen itu, tercetak jelas dengan huruf hitam tebal: [Surat Perjanjian Cerai].

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 100

    "Mmph!"Geisha hampir tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba dicium. Shane menciumnya?!Adegan ini terlalu absurd. Geisha sempat mengira dirinya masih bermimpi.Namun, rasa perih yang nyata di bibirnya seketika menghancurkan ilusinya.Ciuman Shane mendarat begitu membabi buta, nyaris disertai gigitan dan isapan.Baru saja Geisha membuka mulut untuk berbicara, pria itu langsung membungkamnya dan mengambil alih napasnya. Geisha memukul bahunya, tetapi sama sekali tidak berguna. Pukulannya bahkan tidak bisa menyakitinya sedikit pun. Sebaliknya, itu malah membuat Shane makin gila dan terus menuntut lebih. "Geisha! Geisha!"Geisha tidak menjawab."Geisha, kamu kenapa? Ada apa?"Geisha tetap bungkam."Geisha, kamu di mana? Jawab aku!"Shane tiba-tiba berhenti. Dia menyeringai nakal, lalu menyodorkan ponsel ke depan wajah Geisha. "Mau kasih tahu dia nggak apa yang baru aja aku lakuin ke kamu?"Geisha sudah terlalu lama kekurangan oksigen. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia hanya bisa t

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 99

    Rahasia ini telah disembunyikan oleh kedua wanita tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka berniat membawanya hingga ke liang kubur.Namun, Thea berkata, "Geisha, aku bisa menebak kalau masalah antara kamu dan Daniel itu karena kejadian yang menimpaku. Sebagai teman, aku nggak bisa diam saja melihat kalian berpisah cuma karena salah paham, tapi sekarang ... Sepertinya masalah ini sudah sampai pada titik yang sulit diperbaiki. Aku nggak tahu harus gimana buat menebus rasa bersalahku ke kamu. Jadi, aku cerita semua kejadian malam itu ke Daniel secara utuh dan apa adanya. Sisanya, kalian berdua yang putusin sendiri, ya."Ponsel itu kembali berpindah ke tangan Daniel.Dari seberang telepon, Geisha bisa mendengar suara napasnya.Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pula dengan Daniel.Pada akhirnya, Geisha lah yang lebih dulu bersuara, "Masalah Thea, aku harap kamu bisa merahasiakannya baik-baik dan jangan pernah membocorkannya. Kalau nggak, aku nggak akan ting

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 98

    Geisha tidak punya nafsu makan.Setelah makan, dia secara sukarela mengusulkan, "Aku tidur di sofa ruang tamu aja."Shane sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Geisha tahu persis apa yang ingin diucapkan pria itu. Pasti berkaitan dengan kejadian di Gedung Zenith hari ini.Namun, yang dia butuhkan saat ini bukanlah kata-kata penghiburan, apalagi sindiran.Dia hanya ingin tenang sejenak.Untungnya, Shane kali ini cukup pengertian. Dia hanya mengucapkan, "Istirahatlah yang cukup," lalu masuk ke kamar tidur.Geisha tidak tahu sudah berapa lama dia gelisah bolak-balik di sofa, sebelum akhirnya terlelap dalam kantuk yang berat.Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah bermimpi tentang adegan di atap Gedung Zenith hari ini.Bedanya, kali ini, dialah yang berdiri di tepi atap gedung itu.Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya.Tetesan hujan yang dingin menghantam tubuhnya, lalu diterpa angin malam yang menusu

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 97

    Baru saja keluar dari lift, dia berpapasan dengan Shane.Dengan sigap, pria itu merangkulnya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.Dia langsung menekan tombol lantai 64.Geisha berkata, "Aku mau ke resepsionis buat pesan kamar.""Malam ini kamu tidur di tempatku.""Nggak mau.""Daniel lagi ada di Kota Sentana sekarang. Kalau dia nyamperin terus berlutut di depan pintu kamar kamu buat ngasih penjelasan, kamu masih bisa tidur nggak?"Geisha terdiam."Mending kamu tidur di tempatku. Kalaupun dia nyari ke sini, biar aku yang nyuruh dia pergi. Jangan sampai dia ganggu waktu mesraku sama pacarku."Geisha langsung pasrah. Dia menatap indikator lantai di atas pintu lift yang angkanya terus melompat naik satu per satu. Shane mengusap kepala anjing-anjing itu. "Kalian hari ini kelakuannya bagus. Besok suruh ibu kalian tambahin jatah paha ayam."Anjing-anjing itu menjulurkan lidah sambil menyeringai polos, lalu menjilati tangan Shane.Shane mengerutkan kening, lalu mengusapkan air liur di

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 96

    Saat mereka sedang berbicara, terdengar keriuhan di pintu masuk Gedung Zenith.Sekelompok satpam keluar satu per satu, disusul rombongan besar wartawan yang membawa kamera dan berbagai peralatan liputan. Setelah itu, polisi, pemadam kebakaran, dan para negosiator.Terakhir, sepasang pria dan wanita yang dikelilingi oleh sekelompok satpam.Wajah Lucy masih basah oleh air mata, sementara Daniel menggendongnya di pelukannya."Sudah keluar! Mereka sudah keluar!"Massa langsung berbondong-bondong maju ke depan.Hanya Geisha dan Shane yang masih berdiri di tempat.Ketiga anjing itu sepertinya juga merasakan suasana hati pemiliknya. Mereka duduk dengan patuh tanpa membuat onar, hanya menempel erat di kaki Geisha.Entah kenapa, suasana itu terasa sedikit hangat. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di pinggir jalan. Henry membuka pintu dan berlari cepat ke sana, lalu berdiri melindungi Daniel dan Lucy sambil membantu polisi membuka jalan. Saat rombongan itu melewati tempat mereka, Geisha te

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 95

    Di langit di atas Sungai Grandis, kembang api masih terus meledak.Namun, sudah tidak ada banyak orang yang menonton lagi. Semua orang mulai berlari ke arah yang sama.Geisha bertanya dengan bingung, "Kalian mau ke mana?"Seorang pemuda menjawab, "Katanya ada orang yang mau bunuh diri dengan melompat dari Gedung Zenith!"Melompat dari gedung?Geisha langsung berdiri. Gedung Zenith letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar dua atau tiga ratus meter."Pak Shane, bagaimana kalau kita ke sana?"Shane sepertinya tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkekeh pelan. "Dia memang benar-benar nekat."Suara langkah kaki dan dentuman kembang api di sekitar saling berbaur, membuat Geisha tidak mendengar perkataannya dengan jelas."Kamu ngomong apa?""Ayo, lihat .... Nggak ada salahnya."Geisha menuntun ketiga anjing itu dan berjalan ke arah sana.Shane memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya. "Di sini ramai. Jangan sampai kepisah."Kawasan Sungai Grandis malam ini ditakdirkan untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status