Share

Bab 2

Author: Larasati
Di samping surat perjanjian cerai itu, terselip sebuah dokumen lain.

Dia sempat menyewa detektif swasta untuk menyelidiki latar belakang si Lucy ini.

Usianya 23 tahun, lulusan SMK jurusan keperawatan, lahir di daerah pinggiran. Kedua orang tuanya bekerja serabutan di Kota Astara. Dia juga punya seorang adik laki-laki yang tidak berpendidikan dan kecanduan judi.

Saat pertama kali mengetahui hubungan Daniel dengan gadis itu, Geisha benar-benar tidak habis pikir. Cewek dengan wajah, badan, pendidikan, dan latar belakang keluarga yang pas-pasan begini, apa sih yang membuat Daniel sampai jatuh hati?

Apa cuma karena sepasang tangannya yang cantik?

Atau jangan-jangan, setelah lima belas tahun bersama, pria itu merasa bosan?

Saat Daniel kembali, Sonia masih duduk di tempat yang sama. Dia berlagak seolah tidak pernah turun ke garasi, apalagi membongkar rahasia pria itu.

Senyum tipis masih tersungging di bibir Daniel, dan tatapan lembut di matanya belum juga pudar. Dengan santai, dia memasukkan ponsel ke saku dalam jasnya, lalu berkata dengan nada agak bersalah, "Geisha, aku harus keluar sebentar, ya."

Tepat saat itu, Bi Ani keluar membawa wedang jahe gula merah yang baru dimasak. Dengan nada bingung, dia bertanya, "Loh, Tuan mau keluar malam-malam begini? Ada urusan kantor, ya?"

Daniel hanya bergumam singkat, suaranya terdengar pelan. "Ada orang penting yang mau ngajak aku makan malam."

…

Daniel pun segera tancap gas dan melaju pergi.

Bi Ani berkata, "Nyonya, minum wedang jahe dulu biar anget. Tuan yang minta dibikinin."

Sonia menerima gelas itu. "Masih panas, aku tunggu agak dingin dulu baru minum. Udah malam, kamu istirahat aja sana."

"Jangan lupa diminum ya, Nyonya."

"Iya, Bi."

Bi Ani melepas celemeknya, lalu meninggalkan vila.

Sonia dengan sigap menuangkan wedang jahe itu ke dalam kloset dan menyiramnya sampai habis. Kemudian, dia mengenakan kacamata hitam dan masker, lalu melangkah keluar.

Dia menghentikan sebuah taksi. "Pak, ikuti mobil di depan itu, ya."

Setengah jam kemudian, Range Rover hitam milik Daniel berhenti di depan sebuah gedung apartemen tua yang tampak agak reyot.

Beberapa menit kemudian, sesosok tubuh ramping berlari keluar dari gedung itu. Dengan cekatan, dia membuka pintu penumpang depan mobil Daniel dan masuk ke dalam.

Sepasang tangan putih bersih dan mulus itu meraih bahu lebar pria tersebut. Gadis itu mendongak, lalu mendekatkan bibir merahnya.

Meski sudah menyiapkan mental, melihat langsung kedua sosok yang sedang berpelukan dan berciuman di dalam mobil itu, Geisha tetap terpaku cukup lama sebelum bisa mencerna kenyataan.

"Nona, mereka udah jalan. Mau diikuti terus?"

Geisha tersadar dari lamunannya. "Ikuti."

Sepuluh menit kemudian, Daniel membawa Lucy masuk ke sebuah bar.

Sejak turun dari mobil, Lucy terus menggandeng lengan Daniel dengan mesra, mengoceh sana-sini bak burung kecil yang riang.

Di luar ruang VIP, sudah ada beberapa orang yang menunggu.

Melihat Daniel dan Lucy, mereka langsung menyapa dengan sopan, "Kak Daniel, Kak Ipar."

Lucy menatap dekorasi bar yang mewah dengan tatapan agak cemas, lalu berkata dengan nada manja, "Bukannya tadi kita sepakat aku yang traktir? Tempat kayak gini aku nggak bakal mampu bayar."

Daniel menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Terus kamu mau traktir di mana? Kaki lima di pasar malam?"

Lucy mengerucutkan bibirnya. "Kaki lima itu enak banget lho. Aku bisa traktir kamu makan dari ujung jalan sampai ujung jalan lagi."

"Biar aku diare dari tengah malam sampai besok sorenya."

Lucy menjulurkan lidahnya. "Siapa suruh perutmu terlalu manja, aku makan di pasar malam tiap hari aja masih sehat kok."

Anak buah di sebelahnya tertawa terbahak-bahak. "Kakak Ipar hemat dan pintar ngatur duit. Kak Daniel emang paling beruntung."

Iya, Lucy hemat dan pandai mengatur keuangan, sementara dirinya cuma pemboros yang tiap hari jalan-jalan beli perhiasan.

…

Saat Geisha tiba di rumah, hari sudah larut malam.

Dia memesan jasa kurir lewat ponsel, mandi, lalu tertidur pulas karena kelelahan.

Saat terbangun pagi itu, Daniel sedang membelakanginya sambil mengenakan kemeja.

Geisha agak bingung. "Kamu semalam ... pulang ke rumah?"

Daniel tertawa kecil. "Ngomong apa sih, kapan aku nggak pulang ke rumah?"

"Bukannya kamu seharusnya ..."

Menghabiskan malam bersama selingkuhanmu itu?

Daniel tiba-tiba menindihnya, menekan tubuhnya ke kasur. "Atau jangan-jangan ... kamu semalaman nungguin aku pulang ... buat bikin anak?"

Beberapa kata terakhirnya diucapkan dengan embusan napas panas yang sudah terasa di bibir Geisha.

Ciumannya mendarat dengan ganas, jelas bukan sekadar kecupan sekilas.

Geisha mendorongnya kuat-kuat dengan kedua lengannya. "Turun."

Mata Daniel masih diselimuti bara gairah. Dia sedikit menopang tubuhnya. "Kenapa?"

Geisha menjawab, "Aku ...."

Kring!

Ponselnya berdering.

Geisha segera mengangkatnya. "Iya, ini aku. Sudah sampai? Oke, aku segera turun."

Geisha mendorongnya, lalu turun dari tempat tidur.

Daniel yang gairahnya terputus di tengah jalan tampak kesal. "Siapa sih, telepon kamu pagi-pagi begini? Cowok lagi."

Raut wajah Geisha agak mengeras. Sambil mengenakan jaket, dia mulai menyuruhnya pergi. "Udah siang, kamu nggak ngantor?"

"Kamu lupa? Kemarin aku udah bilang ke Henry, beberapa hari ini aku nggak ke kantor. Aku mau di rumah nemenin kamu."

"Aku baik-baik aja, nggak usah ditemanin."

Daniel bangkit berdiri, merangkul pinggangnya dari belakang, lalu menciumi tengkuknya berkali-kali. "Kalau nggak ada aku, gimana caranya kamu punya anak sendirian?"

Sambil berkata begitu, cengkeramannya di pinggang Geisha makin mengencang, jelas menyiratkan maksud tertentu.

Geisha mulai kesal dan mendorongnya lebih kuat. "Lepasin aku."

Daniel mengira Geisha hanya sedang jual mahal. Dia meraih dagunya dan menciumnya, lalu bergumam tak jelas, "Nggak mau."

"Lepasin!"

Geisha sendiri tidak tahu dari mana datangnya tenaga itu, tetapi dia berhasil melepaskan diri dari pelukan pria itu.

Daniel terpaku. Lengannya masih terangkat, seolah-olah masih hendak memeluk Geisha, tetapi tatapannya dipenuhi rasa tidak senang dan bingung. "Geisha, kamu sebenarnya kenapa sih?"

Geisha berbalik, merapikan pakaiannya yang sudah berantakan oleh ulah pria itu. "Nggak kenapa-napa. Aku udah janjian sama kurir, nggak enak kalau bikin dia nunggu lama."

Saat Geisha turun, kurir itu sudah duduk di ruang tengah setelah dipersilakan masuk oleh Bi Ani.

Melihat Geisha turun, kurir itu berdiri dengan agak canggung. "Nona Geisha, Nona yang mau kirim barang, ya?"

Geisha mengangguk. "Ayo, ikut aku ke atas."

Geisha berjalan di depan dan kurir itu mengikutinya masuk ke kamar tidur.

Daniel yang masih berdiri bersandar sembari bersedekap menatap kurir itu dengan tatapan bermusuhan. "Siapa yang suruh kamu masuk? Keluar!"

Kurir itu langsung panik. "Tadi Nona Geisha yang ...."

"Aku yang menyuruhnya," sahut Geisha seraya membuka lemari pakaiannya, lalu berkata pada kurir itu, "Cuma beberapa kardus ini aja. Tolong ditimbang ya."

Daniel menatap lemari yang tadinya penuh baju kini jadi kosong melompong, dahinya berkerut. "Geisha, baju-bajumu ke mana?"

Geisha menunjuk tumpukan kardus itu.

"Ngapain kamu masukin baju ke kardus? Kamu mau pergi?!"

Daniel langsung berdiri tegak, mencengkeram bahunya. "Geisha, kamu mau ke mana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 100

    "Mmph!"Geisha hampir tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba dicium. Shane menciumnya?!Adegan ini terlalu absurd. Geisha sempat mengira dirinya masih bermimpi.Namun, rasa perih yang nyata di bibirnya seketika menghancurkan ilusinya.Ciuman Shane mendarat begitu membabi buta, nyaris disertai gigitan dan isapan.Baru saja Geisha membuka mulut untuk berbicara, pria itu langsung membungkamnya dan mengambil alih napasnya. Geisha memukul bahunya, tetapi sama sekali tidak berguna. Pukulannya bahkan tidak bisa menyakitinya sedikit pun. Sebaliknya, itu malah membuat Shane makin gila dan terus menuntut lebih. "Geisha! Geisha!"Geisha tidak menjawab."Geisha, kamu kenapa? Ada apa?"Geisha tetap bungkam."Geisha, kamu di mana? Jawab aku!"Shane tiba-tiba berhenti. Dia menyeringai nakal, lalu menyodorkan ponsel ke depan wajah Geisha. "Mau kasih tahu dia nggak apa yang baru aja aku lakuin ke kamu?"Geisha sudah terlalu lama kekurangan oksigen. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia hanya bisa t

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 99

    Rahasia ini telah disembunyikan oleh kedua wanita tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka berniat membawanya hingga ke liang kubur.Namun, Thea berkata, "Geisha, aku bisa menebak kalau masalah antara kamu dan Daniel itu karena kejadian yang menimpaku. Sebagai teman, aku nggak bisa diam saja melihat kalian berpisah cuma karena salah paham, tapi sekarang ... Sepertinya masalah ini sudah sampai pada titik yang sulit diperbaiki. Aku nggak tahu harus gimana buat menebus rasa bersalahku ke kamu. Jadi, aku cerita semua kejadian malam itu ke Daniel secara utuh dan apa adanya. Sisanya, kalian berdua yang putusin sendiri, ya."Ponsel itu kembali berpindah ke tangan Daniel.Dari seberang telepon, Geisha bisa mendengar suara napasnya.Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pula dengan Daniel.Pada akhirnya, Geisha lah yang lebih dulu bersuara, "Masalah Thea, aku harap kamu bisa merahasiakannya baik-baik dan jangan pernah membocorkannya. Kalau nggak, aku nggak akan ting

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 98

    Geisha tidak punya nafsu makan.Setelah makan, dia secara sukarela mengusulkan, "Aku tidur di sofa ruang tamu aja."Shane sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Geisha tahu persis apa yang ingin diucapkan pria itu. Pasti berkaitan dengan kejadian di Gedung Zenith hari ini.Namun, yang dia butuhkan saat ini bukanlah kata-kata penghiburan, apalagi sindiran.Dia hanya ingin tenang sejenak.Untungnya, Shane kali ini cukup pengertian. Dia hanya mengucapkan, "Istirahatlah yang cukup," lalu masuk ke kamar tidur.Geisha tidak tahu sudah berapa lama dia gelisah bolak-balik di sofa, sebelum akhirnya terlelap dalam kantuk yang berat.Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah bermimpi tentang adegan di atap Gedung Zenith hari ini.Bedanya, kali ini, dialah yang berdiri di tepi atap gedung itu.Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya.Tetesan hujan yang dingin menghantam tubuhnya, lalu diterpa angin malam yang menusu

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 97

    Baru saja keluar dari lift, dia berpapasan dengan Shane.Dengan sigap, pria itu merangkulnya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.Dia langsung menekan tombol lantai 64.Geisha berkata, "Aku mau ke resepsionis buat pesan kamar.""Malam ini kamu tidur di tempatku.""Nggak mau.""Daniel lagi ada di Kota Sentana sekarang. Kalau dia nyamperin terus berlutut di depan pintu kamar kamu buat ngasih penjelasan, kamu masih bisa tidur nggak?"Geisha terdiam."Mending kamu tidur di tempatku. Kalaupun dia nyari ke sini, biar aku yang nyuruh dia pergi. Jangan sampai dia ganggu waktu mesraku sama pacarku."Geisha langsung pasrah. Dia menatap indikator lantai di atas pintu lift yang angkanya terus melompat naik satu per satu. Shane mengusap kepala anjing-anjing itu. "Kalian hari ini kelakuannya bagus. Besok suruh ibu kalian tambahin jatah paha ayam."Anjing-anjing itu menjulurkan lidah sambil menyeringai polos, lalu menjilati tangan Shane.Shane mengerutkan kening, lalu mengusapkan air liur di

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 96

    Saat mereka sedang berbicara, terdengar keriuhan di pintu masuk Gedung Zenith.Sekelompok satpam keluar satu per satu, disusul rombongan besar wartawan yang membawa kamera dan berbagai peralatan liputan. Setelah itu, polisi, pemadam kebakaran, dan para negosiator.Terakhir, sepasang pria dan wanita yang dikelilingi oleh sekelompok satpam.Wajah Lucy masih basah oleh air mata, sementara Daniel menggendongnya di pelukannya."Sudah keluar! Mereka sudah keluar!"Massa langsung berbondong-bondong maju ke depan.Hanya Geisha dan Shane yang masih berdiri di tempat.Ketiga anjing itu sepertinya juga merasakan suasana hati pemiliknya. Mereka duduk dengan patuh tanpa membuat onar, hanya menempel erat di kaki Geisha.Entah kenapa, suasana itu terasa sedikit hangat. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di pinggir jalan. Henry membuka pintu dan berlari cepat ke sana, lalu berdiri melindungi Daniel dan Lucy sambil membantu polisi membuka jalan. Saat rombongan itu melewati tempat mereka, Geisha te

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 95

    Di langit di atas Sungai Grandis, kembang api masih terus meledak.Namun, sudah tidak ada banyak orang yang menonton lagi. Semua orang mulai berlari ke arah yang sama.Geisha bertanya dengan bingung, "Kalian mau ke mana?"Seorang pemuda menjawab, "Katanya ada orang yang mau bunuh diri dengan melompat dari Gedung Zenith!"Melompat dari gedung?Geisha langsung berdiri. Gedung Zenith letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar dua atau tiga ratus meter."Pak Shane, bagaimana kalau kita ke sana?"Shane sepertinya tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkekeh pelan. "Dia memang benar-benar nekat."Suara langkah kaki dan dentuman kembang api di sekitar saling berbaur, membuat Geisha tidak mendengar perkataannya dengan jelas."Kamu ngomong apa?""Ayo, lihat .... Nggak ada salahnya."Geisha menuntun ketiga anjing itu dan berjalan ke arah sana.Shane memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya. "Di sini ramai. Jangan sampai kepisah."Kawasan Sungai Grandis malam ini ditakdirkan untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status