Share

Bab 3

Author: Larasati
Geisha mendongak, menatap pria yang telah dicintainya selama lima belas tahun ini, sudut bibirnya terangkat tipis.

Dia memang akan pergi, tetapi bukan sekarang.

Meski sudah berhasil mengelabui Daniel untuk menandatangani surat perjanjian cerai, masih ada proses yang harus dilalui sebelum akta cerai keluar.

Sekarang Geisha sudah paham betul sifat Daniel. Istri di rumah tetap dipertahankan, selingkuhan di luar tetap jalan. Di satu sisi mengajaknya program hamil, di sisi lain tetap asyik 'mencicipi menu baru' di luar.

Daniel pikir, selama semuanya bisa dirahasiakan, kehidupan seperti ini bisa terus berjalan untuk waktu yang lama.

Sayangnya, pria itu meremehkan insting seorang wanita.

Pria itu memang sudah berusaha cukup hati-hati, tetapi lima belas tahun bersama bukan waktu yang singkat. Cukup dengan satu ekspresi atau gerak-geriknya, Geisha sudah bisa mencium gelagat aneh, lalu mengikuti jejaknya hingga menemukan wanita bernama Lucy itu.

Geisha tidak menyalahkan siapa pun. Bosan dengan yang lama dan tergila-gila pada yang baru memang sifat dasar manusia.

Daniel boleh saja berselingkuh dan Geisha mungkin hanyalah salah satu dari 'kapal' yang dia tumpangi. Namun, Geisha tidak mau terus terkurung di pelabuhan yang sama.

Di luar sana masih ada sungai, danau, dan lautan luas. Di mana pun dia bisa berlayar dan menembus ombak.

Geisha bukan tipe wanita yang tidak bisa hidup tanpa laki-laki.

"Katakan! Ngapain kamu masukin semua baju ke kardus?"

Daniel marah, cengkeramannya di bahu Geisha makin mengencang tanpa dia sadari. Geisha kesakitan dan mendadak menjerit kecil.

Daniel melepaskan tangannya, tetapi tatapannya tetap mengunci wajah Geisha, memaksa wanita itu memberikan penjelasan.

Geisha tertawa pelan. "Baju-baju ini udah ketinggalan musim, aku nggak suka lagi. Jadi, mau aku sumbangin semua terus beli yang baru. Emangnya kenapa? Kemarin kamu baru aja bilang aku boleh beli apa aja tanpa perlu lapor kamu, masa sekarang mau ingkar janji?"

Daniel agak terkejut. "Kamu masukin baju-baju ini ke kardus ... buat disumbangin?"

Geisha mengangguk. "Sayang kalau dibuang, mending disumbangin, biar barangnya tetap kepakai."

Daniel langsung lega dan terkekeh. "Kamu bikin aku kaget aja. Kirain kamu mau mengemas barang buat ninggalin aku."

"Kamu 'kan nggak ngelakuin hal yang salah sama aku, ngapain juga aku pergi?"

"Iya 'kan, hubungan kita baik-baik aja. Mana mungkin kamu tega ninggalin aku?"

Kurir di sebelahnya asyik menyaksikan drama tersebut dan harus menerima 'pamer kemesraan' di depan mata, tetapi semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kegembiraan mendapatkan pesanan besar hari ini.

Totalnya ada empat kardus besar, dengan berat paling tidak puluhan kilogram.

Pesanan besar!

Suasana hatinya sedang sangat baik, nada bicaranya pun terdengar ceria. "Menurut saya, Tuan cuma terlalu protektif sama Nona Geisha. Nona Geisha beruntung banget, lho. Zaman sekarang cowok setia sudah langka banget!"

Daniel merangkul pinggang Geisha dengan posesif. "Denger nggak? Suami sebaik aku tuh susah dicari. Kamu harus hargai aku, ya."

Geisha kembali mendorongnya. "Ponselku mana? Bentar lagi harus bayar kurirnya."

…

Setelah sarapan, Daniel kembali ke ruang kerjanya.

Setiap hari Rabu pagi adalah jadwal rapat eksekutif. Meski tidak masuk ke kantor, dia tetap harus mengikuti rapat melalui video konferensi.

Geisha pun menelepon seseorang.

"Pak Fino, draf surat cerainya sudah dibaca? Nanti begitu proses habis, langsung urus surat cerainya. Ada kendala nggak?"

Fino, sang pengacara, di seberang sana menjawab, "Drafnya sendiri nggak ada masalah. Kalian nggak punya anak, jadi nggak ada sengketa hak asuh. Nona juga nggak menuntut pembagian harta, jadi seharusnya aman. Tapi ...."

"Tapi apa?"

"Nanti saat mengurus surat cerai di kantor catatan sipil, tetap butuh tanda tangan langsung dari Pak Daniel. Nona yakin dia mau bercerai?"

Geisha mengerutkan kening. "Apa ada cara lain untuk memproses perceraian ini tanpa perlu melibatkan dia?"

"Sangat sulit."

Geisha terkekeh dingin, lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening Fino. "Kalau sekarang? Ada cara nggak?"

Sikap orang di seberang sana langsung berbalik seratus delapan puluh derajat. "Meski susah, tapi pasti ada caranya."

"Katakan."

"Kita bisa meminta Pak Daniel menandatangani surat kuasa, lalu pengacara perwakilannya yang akan mendampingi Nona mengurus prosedur perceraian."

Geisha berpikir sejenak. Toh cuma tanda tangan dokumen. Lagi pula, dia sudah berhasil sekali sebelumnya, jadi tanda tangan sekali lagi pasti tidak sulit.

"Oke, aku paham. Tolong siapkan surat kuasanya. Nanti aku cari cara supaya dia mau tanda tangan, setelah itu kamu ikut aku mengurus suratnya ...."

"Wah, jangan, jangan ...."

Melihat pria ini terlalu serakah, kesabaran Geisha pun menipis. "Kamu tenang saja, kalau urusannya beres, bayaranmu nggak akan kurang."

"Ini bukan soal bayaran," Fino berkata dengan nada serba salah. "Pak Daniel cepat atau lambat pasti tahu kebenarannya. Nona 'kan bisa kabur jauh setelah cerai, tapi aku masih harus cari makan di Kota Astara. Kalau beliau balas dendam, firma hukum kecil kami mana kuat menanggungnya ...."

"Lalu, menurutmu bagaimana?"

"Hmm ... Nona Geisha ada kenalan pengacara lain yang bisa dipercaya? Paling nggak, yang tipe selesai satu kasus langsung kabur begitu?"

Pengacara nakal?

Geisha tidak kenal siapa-siapa.

Namun, kalau mencari pengacara yang justru senang melihat dia dan Daniel bercerai, ada satu orang yang sangat pas.

…

Pukul tiga sore, di sebuah kafe.

Geisha sudah menunggu selama dua jam sebelum orang yang ditunggunya akhirnya datang dengan santai.

"Pak Shane, sudah lama nggak bertemu."

Pria yang datang itu berpostur sangat tinggi, hampir 190 cm. Dia mengenakan setelan jas yang pas di tubuh, tetapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum mengejek yang penuh sinisme.

Shane, sahabat karib Daniel sejak kecil, sekaligus putra ketiga dari Keluarga Juan di sisi timur kota.

Kedua kakaknya sibuk bertikai memperebutkan harta warisan, tetapi Tuan Muda Juan yang ketiga ini terlalu angkuh dan enggan ikut campur. Setelah lulus dari universitas hukum, dia memilih menjauh dari keluarga dan berkarier sebagai pengacara.

Hanya saja, entah mengapa, sejak Geisha menjalin hubungan dengan Daniel, pria ini selalu menunjukkan ketidaksukaan dan permusuhan yang besar terhadapnya.

Berbeda dengan teman-teman Daniel yang selalu memanggilnya 'Kakak Ipar' dengan hangat, Shane selalu memanggilnya 'Nona Geisha' dengan nada dingin dan seadanya.

"Nona Geisha, kenapa kamu cari aku? Sepertinya nggak ada lagi yang perlu kita obrolkan."

Geisha berkata, "Aku ke sini untuk mengucapkan selamat kepadamu, Pak Shane."

Shane mengangkat sebelah alis. "Mengucapkan selamat untuk apa?"

"Akhirnya keinginanmu terkabul. Impianmu terwujud."

Geisha mengeluarkan setumpuk foto dari dalam tasnya. Semua foto itu diberikan oleh detektif swasta, memperlihatkan momen-momen mesra antara Daniel dan Lucy.

Ada yang sedang bergandengan tangan, berpelukan, dan ... berciuman.

Melihat foto-foto itu, Shane langsung tertawa. "Lumayan, si Daniel akhirnya sadar juga. Hidup itu luas, masa sih mau mati-matian sama satu orang yang jelas-jelas nggak beres?"

Selama bertahun-tahun, Geisha sudah terbiasa dengan sindiran tajam dan nada nyinyir Shane yang selalu menusuknya.

Orang yang tidak beres ya orang yang tidak beres. Yang penting saat ini, satu-satunya orang yang bisa membantunya mengurus perceraian hanyalah pria ini.

Shane menggeser tumpukan foto itu kembali ke hadapan Geisha, menyipitkan mata dengan tatapan santai. "Kenapa, Nona Geisha jangan-jangan mau minta tolong aku buat bujuk si Daniel biar balik ke keluarga? Kalau gitu, kamu salah orang. Aku malah pengen banget kalian berdua tidur sekasur tapi hati masing-masing."

"Aku tahu," sahut Geisha. "Tapi kali ini, tujuan kita sama."

Shane mengangkat sebelah alis. "Maksudnya?"

"Aku bakal cari cara supaya Daniel mau tanda tangan surat kuasa. Nanti kamu yang jadi pengacara perwakilannya, terus nemanin aku ngurus proses cerainya."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 100

    "Mmph!"Geisha hampir tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba dicium. Shane menciumnya?!Adegan ini terlalu absurd. Geisha sempat mengira dirinya masih bermimpi.Namun, rasa perih yang nyata di bibirnya seketika menghancurkan ilusinya.Ciuman Shane mendarat begitu membabi buta, nyaris disertai gigitan dan isapan.Baru saja Geisha membuka mulut untuk berbicara, pria itu langsung membungkamnya dan mengambil alih napasnya. Geisha memukul bahunya, tetapi sama sekali tidak berguna. Pukulannya bahkan tidak bisa menyakitinya sedikit pun. Sebaliknya, itu malah membuat Shane makin gila dan terus menuntut lebih. "Geisha! Geisha!"Geisha tidak menjawab."Geisha, kamu kenapa? Ada apa?"Geisha tetap bungkam."Geisha, kamu di mana? Jawab aku!"Shane tiba-tiba berhenti. Dia menyeringai nakal, lalu menyodorkan ponsel ke depan wajah Geisha. "Mau kasih tahu dia nggak apa yang baru aja aku lakuin ke kamu?"Geisha sudah terlalu lama kekurangan oksigen. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia hanya bisa t

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 99

    Rahasia ini telah disembunyikan oleh kedua wanita tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka berniat membawanya hingga ke liang kubur.Namun, Thea berkata, "Geisha, aku bisa menebak kalau masalah antara kamu dan Daniel itu karena kejadian yang menimpaku. Sebagai teman, aku nggak bisa diam saja melihat kalian berpisah cuma karena salah paham, tapi sekarang ... Sepertinya masalah ini sudah sampai pada titik yang sulit diperbaiki. Aku nggak tahu harus gimana buat menebus rasa bersalahku ke kamu. Jadi, aku cerita semua kejadian malam itu ke Daniel secara utuh dan apa adanya. Sisanya, kalian berdua yang putusin sendiri, ya."Ponsel itu kembali berpindah ke tangan Daniel.Dari seberang telepon, Geisha bisa mendengar suara napasnya.Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pula dengan Daniel.Pada akhirnya, Geisha lah yang lebih dulu bersuara, "Masalah Thea, aku harap kamu bisa merahasiakannya baik-baik dan jangan pernah membocorkannya. Kalau nggak, aku nggak akan ting

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 98

    Geisha tidak punya nafsu makan.Setelah makan, dia secara sukarela mengusulkan, "Aku tidur di sofa ruang tamu aja."Shane sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Geisha tahu persis apa yang ingin diucapkan pria itu. Pasti berkaitan dengan kejadian di Gedung Zenith hari ini.Namun, yang dia butuhkan saat ini bukanlah kata-kata penghiburan, apalagi sindiran.Dia hanya ingin tenang sejenak.Untungnya, Shane kali ini cukup pengertian. Dia hanya mengucapkan, "Istirahatlah yang cukup," lalu masuk ke kamar tidur.Geisha tidak tahu sudah berapa lama dia gelisah bolak-balik di sofa, sebelum akhirnya terlelap dalam kantuk yang berat.Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah bermimpi tentang adegan di atap Gedung Zenith hari ini.Bedanya, kali ini, dialah yang berdiri di tepi atap gedung itu.Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya.Tetesan hujan yang dingin menghantam tubuhnya, lalu diterpa angin malam yang menusu

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 97

    Baru saja keluar dari lift, dia berpapasan dengan Shane.Dengan sigap, pria itu merangkulnya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.Dia langsung menekan tombol lantai 64.Geisha berkata, "Aku mau ke resepsionis buat pesan kamar.""Malam ini kamu tidur di tempatku.""Nggak mau.""Daniel lagi ada di Kota Sentana sekarang. Kalau dia nyamperin terus berlutut di depan pintu kamar kamu buat ngasih penjelasan, kamu masih bisa tidur nggak?"Geisha terdiam."Mending kamu tidur di tempatku. Kalaupun dia nyari ke sini, biar aku yang nyuruh dia pergi. Jangan sampai dia ganggu waktu mesraku sama pacarku."Geisha langsung pasrah. Dia menatap indikator lantai di atas pintu lift yang angkanya terus melompat naik satu per satu. Shane mengusap kepala anjing-anjing itu. "Kalian hari ini kelakuannya bagus. Besok suruh ibu kalian tambahin jatah paha ayam."Anjing-anjing itu menjulurkan lidah sambil menyeringai polos, lalu menjilati tangan Shane.Shane mengerutkan kening, lalu mengusapkan air liur di

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 96

    Saat mereka sedang berbicara, terdengar keriuhan di pintu masuk Gedung Zenith.Sekelompok satpam keluar satu per satu, disusul rombongan besar wartawan yang membawa kamera dan berbagai peralatan liputan. Setelah itu, polisi, pemadam kebakaran, dan para negosiator.Terakhir, sepasang pria dan wanita yang dikelilingi oleh sekelompok satpam.Wajah Lucy masih basah oleh air mata, sementara Daniel menggendongnya di pelukannya."Sudah keluar! Mereka sudah keluar!"Massa langsung berbondong-bondong maju ke depan.Hanya Geisha dan Shane yang masih berdiri di tempat.Ketiga anjing itu sepertinya juga merasakan suasana hati pemiliknya. Mereka duduk dengan patuh tanpa membuat onar, hanya menempel erat di kaki Geisha.Entah kenapa, suasana itu terasa sedikit hangat. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di pinggir jalan. Henry membuka pintu dan berlari cepat ke sana, lalu berdiri melindungi Daniel dan Lucy sambil membantu polisi membuka jalan. Saat rombongan itu melewati tempat mereka, Geisha te

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 95

    Di langit di atas Sungai Grandis, kembang api masih terus meledak.Namun, sudah tidak ada banyak orang yang menonton lagi. Semua orang mulai berlari ke arah yang sama.Geisha bertanya dengan bingung, "Kalian mau ke mana?"Seorang pemuda menjawab, "Katanya ada orang yang mau bunuh diri dengan melompat dari Gedung Zenith!"Melompat dari gedung?Geisha langsung berdiri. Gedung Zenith letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar dua atau tiga ratus meter."Pak Shane, bagaimana kalau kita ke sana?"Shane sepertinya tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkekeh pelan. "Dia memang benar-benar nekat."Suara langkah kaki dan dentuman kembang api di sekitar saling berbaur, membuat Geisha tidak mendengar perkataannya dengan jelas."Kamu ngomong apa?""Ayo, lihat .... Nggak ada salahnya."Geisha menuntun ketiga anjing itu dan berjalan ke arah sana.Shane memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya. "Di sini ramai. Jangan sampai kepisah."Kawasan Sungai Grandis malam ini ditakdirkan untuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status