Share

Bab 4

Penulis: Larasati
Shane tampak agak bingung. "Nona Geisha, kalian udah pertahanin hubungan lima belas tahun. Kemarin aku denger si Daniel bilang, kalian masih ikut program hamil, 'kan? Kamu ... sebenernya ada rencana apa sih?"

"Pak Shane jawab aja, bantu atau nggak."

Shane tidak menjawab. Dia hanya menatap Geisha lekat-lekat, seolah ingin merobek topeng yang dikenakan wanita itu dan membongkar semua rencana liciknya.

Tepat pada saat itu, seorang pelayan datang membawa kopi. Kakinya tiba-tiba terpeleset dan dia menabrak Geisha.

Geisha kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam pelukan Shane.

Tak jauh dari kafe, di sebuah sudut tersembunyi, seseorang menekan tombol kamera. Adegan itu pun langsung terabadikan dalam sebuah foto.

Shane yang peka langsung menyadari kilatan lampu kamera. Raut wajahnya sedikit mengeras, lalu dia mendorong Geisha dengan lembut, tetapi cukup tegas. "Ada yang mengikutimu."

Geisha terhuyung pelan, lalu berpegangan pada tepi meja untuk menstabilkan tubuhnya. "Nggak ada."

"Tadi ada yang memotret kita," kata Shane dengan nada menggoda. "Nona Geisha lagi ada masalah sama orang, ya? Pose kita tadi kalau fotonya disebar, susah lho menjelaskannya."

Geisha terkekeh pelan. "Pak Shane 'kan nggak punya salah. Ngapain takut?"

Shane mengangkat sebelah alis. "Nona Geisha emang selalu sebebas ini?"

Geisha membereskan barang-barangnya, lalu mengenakan kacamata hitam. "Pak Shane, aku ada urusan jadi aku pamit dulu. Soal perceraian ini, aku pengen secepatnya diproses, dan aku yakin kamu juga menginginkan hal yang sama. Surat kuasanya kalau udah beres, kirim versi elektroniknya ke aku ya. Nanti aku cari cara biar Daniel mau tanda tangan, terus kita langsung urus proses cerainya."

"Oke."

Geisha berbalik dan melangkah keluar.

Dia taksi dan pergi.

Di dalam taksi, dia menerima beberapa foto.

Semuanya adalah foto dirinya dan Shane.

Sudut pengambilannya sangat unik, Shane terlihat seolah memeluk erat tubuh Geisha, dengan pose yang sangat intim.

[Geisha, coba cek foto-fotonya. Udah oke belum?]

Pengirim pesan itu adalah sahabatnya, Stella Galen, seorang fotografer pengantin senior.

Dia memang ahlinya kalau soal memotret momen candid yang mesra.

[Bagus, makasih ya, Stella.]

[Jujur, aku nggak ngerti, kamu suruh aku motret beginian buat apa sih? Buat mancing emosi Daniel?]

[Dia udah nggak penting lagi buat aku. Aku nggak punya waktu buat hal begituan.]

[Terus buat apa?]

Jari Geisha mengetuk-ngetuk layar: [Shane ini orangnya keras kepala dan susah diatur. Aku takut dia bakal cari gara-gara atau menghambat urusanku, jadi aku harus pegang kartu truf untuk berjaga-jaga.]

Stella masih bingung. [Kamu takut dia nggak mau urusin cerai kamu? Ah, masa sih? Bukannya dia malah pengen banget kamu sama Daniel pisah?]

Geisha menghela napas. [Daripada ngurusin perceraian kami, dia malah lebih seneng nyari gara-gara sama aku.]

Ini bukan pertama kalinya.

Setiap kali Geisha ingin melakukan sesuatu, Shane pasti selalu menentangnya.

Kali ini dia sudah bulat tekad untuk bercerai. Dia benar-benar takut Tuan Muda Ketiga dari Keluarga Juan ini tiba-tiba 'korslet' lagi dan muncul untuk menghalanginya.

Dia harus menyiapkan kartu truf untuk berjaga-jaga.

Tiba-tiba, taksi itu mengerem mendadak.

Tubuh Geisha terlempar ke depan, membentur sandaran kursi depan dengan keras.

Sopir taksi itu mengumpat, "Mesra-mesraan di tempat umum, malah bikin lalu lintas terganggu! Nggak bisa lihat tempat apa?!"

Barulah saat itu Geisha melihat ke depan. Tidak jauh dari sana, sepasang pria dan wanita sedang berdiri.

Sang pria sepertinya baru saja memungut sesuatu dari tanah dan menyerahkannya pada wanita itu.

Wanita itu menutupi wajahnya sambil menangis, lalu memeluk pria itu dengan terharu.

Keduanya berpelukan tepat di tengah jalan, membuat beberapa kendaraan di belakangnya ikut mengerem mendadak.

Seseorang turun dari sedan hitam di sebelah mereka, nadanya sangat kesal. "Kalau mau pacaran di rumah aja! Tahu bahaya nggak sih?!"

Daniel merangkul wanita di pelukannya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membuat isyarat 'oke'. Dia menjelaskan sambil tersenyum, "Maaf ya, gelang pacarku jatuh. Aku bantu pungutin."

"Kalau jatuh, ya jangan nekat balik ke tengah jalan buat ngambil! Kalau sampai ketabrak, siapa yang tanggung jawab? Lagian, gara-gara kalian, beberapa mobil jadi terhambat. Kalian harus tanggung jawab!"

Daniel tetap tenang, bersuara lantang, "Maaf ya, Bapak-bapak. Kerugian hari ini aku yang tanggung. Silakan hubungi asistenku setelah menghitung jumlahnya, aku ganti tiga kali lipat."

Yang namanya lempar duit, pasti mempan.

Begitu mendengar ada ganti rugi tiga kali lipat, beberapa sopir yang tadinya turun dari mobil untuk protes langsung mengurungkan niatnya.

Henry buru-buru menghampiri, dengan sigap mencatat nomor telepon para sopir, dan arus lalu lintas pun kembali lancar.

"Eh ... Nona tunggu sebentar, ya? Nggak lama, aku cuma kasih nomor terus balik lagi."

Mendengar ada ganti rugi tiga kali lipat, sopir taksi di sebelahnya pun mulai gatal ingin ikut dapat bagian.

Geisha langsung menyelanya, "Ongkosku tadi paling 60 ribu, kalaupun diganti tiga kali lipat juga nggak sampai 200 ribu. Aku kasih dua juta, Bapak jalan aja."

"Oh! Siap, siap."

Sopir taksi itu langsung menginjak gas dengan wajah sumringah.

Pantas saja orang bilang, ada uang, setan pun mau disuruh kerja.

Geisha memijat pelipisnya. Tiba-tiba dia agak bisa memahami Lucy.

Bayangkan, seorang pria tampan, dewasa, dan mapan, setiap hari sengaja mampir ke tokomu. Dia tidak melakukan hal-hal yang kelewatan, tidak pernah memaksa, dan hanya membeli perhiasan dari tanganmu.

Cara pendekatan yang pelan-pelan, tetapi pasti dan penuh target ini, ada berapa wanita yang bisa menolaknya?

Apalagi untuk Lucy, yang latar belakang keluarganya berantakan dan hidupnya memang serba kekurangan.

"Cewek tadi bener-bener beruntung ya. Pacarnya ganteng banget, rela nekat balik ke tengah jalan cuma buat ngambilin gelang. Hoki banget deh."

Geisha tidak menjawab.

Sopir taksi itu masih terus bergumam, "Tapi pacarnya 'kan kaya raya, beliin yang baru aja 'kan beres. Ngapain sih harus balik lagi buat ngambil? Bahaya banget tau!"

Ya, memang sangat berbahaya.

Geisha tiba-tiba teringat, perkenalannya dengan Daniel juga berawal dari kejadian yang hampir serupa.

Saat itu dia baru duduk di bangku kelas dua SMP. Dalam perjalanan pulang, dia memungut seekor anak kucing yang terluka.

Dia menggendong kucing itu dan berniat membawanya ke klinik hewan untuk diobati. Namun entah bagaimana, saat sedang menyeberang jalan, anak kucing itu tiba-tiba meronta lepas dari pelukannya dan berlari menerobos arus kendaraan.

Melihat beberapa mobil nyaris menabrak anak kucing itu, Geisha panik bukan main. Dia memejamkan mata dan hendak menerjang keluar untuk menyelamatkan kucing itu.

Tiba-tiba, sesosok pemuda bertubuh atletis berlari cepat dari seberang jalan. Pemuda itu dengan sigap menyambar anak kucing tersebut, menghindari arus kendaraan, dan segera berlari kembali ke sisinya.

"Kucing kamu nih?"

Pemuda itu masih mengenakan jersey basket berwarna putih, dengan ikat kepala senada di dahinya. Butiran keringat berkilau menetes dari ujung rambutnya.

Dia menarik Geisha dari tengah jalan ke tempat yang aman, lalu mengembalikan anak kucing itu ke dalam pelukannya. Suaranya terdengar pelan, "Nyawa kucing emang berharga, tapi nyawamu sendiri nggak kalah penting, tahu! Tadi itu bahaya banget!"

Saat itu Daniel sudah duduk di kelas tiga SMA, lebih tua beberapa tahun darinya, dan tinggi badannya terpaut dua kepala.

Geisha menggendong anak kucing itu, tubuhnya sepenuhnya tertutup oleh bayangan pemuda tersebut. Dia menggigit bibir dan mengangguk pelan.

Saat itu, Daniel juga datang bersama beberapa teman dekatnya.

Salah satu dari mereka menatap Geisha dengan raut agak jijik. "Kucingnya jelek banget deh. Kalau emang suka kucing, beli aja yang baru dan cantik, 'kan? Masa sih kamu nekat gitu cuma gara-gara kucing jelek, nggak pikir panjang banget?"

Daniel langsung mengerutkan kening dan membentak, "Tutup mulutmu."

"Ya 'kan aku nggak salah. Kucingnya emang jelek, terus kotor ...."

"Lagian, besok juga sepatumu yang bau itu bakal aku buang ke tengah jalan."

"Hei! Ngapain bilang sepatuku bau! Ini sepatu basket kesayanganku! Ada namanya lho, Sayap Masa Depan!"

Daniel melipat tangan di dada, menyeringai dingin. "Tapi menurutku, sepatu itu jelek dan bau. Kalau emang suka sepatu, beli aja yang baru, 'kan? Nggak layak banget kamu nekat ke tengah jalan cuma buat mengambilnya."

Teman-temannya langsung diam dan tidak berani bersuara lagi.

Daniel kemudian menoleh, menatapnya dengan senyum lembut untuk menenangkan. "Udah, aman. Nggak usah takut."

"Makasih."

Daniel menunduk, melirik kartu nama di seragamnya. "Kamu anak Bina Bangsa juga? Namamu ... Geisha?"

"Iya."

Daniel tersenyum tipis. "Aku Daniel. Kalau nanti di sekolah butuh bantuan, cari aku aja."

Geisha memang tipikal orang yang cuek dan pendiam. Meski sudah tahu nama pria itu, dia tidak pernah sekali pun mencari Daniel.

Justru Daniel yang berkali-kali menyempatkan diri mampir ke sekolah Geisha.

Lama-kelamaan, semua orang bisa menebak apa maksud Daniel sebenarnya.

Pertemuan pertama itu adalah awal dari takdir Geisha dan Daniel.

Sedangkan pertemuan tak sengaja hari ini, mungkin adalah akhir dari kisah mereka.

Geisha berpikir, begini pun tak apa. Bagaimana awalnya, begitu pula akhirnya. Lima belas tahun bersama, mereka pernah saling mencintai dan menikmati manisnya cinta. Setidaknya, kisah ini punya awal dan akhir yang jelas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 50

    Geisha menaiki lift menuju lantai 64.Baru saja melangkah keluar dari pintu lift, dia hampir saja diterjang hingga jatuh ke lantai.Tiga ekor anjing herder itu berebutan melompat ke arahnya, membuat Geisha hampir saja kehilangan keseimbangan di tempat."Anak-anak, sini."Dengan satu komando dari Shane, ketiga anjing itu langsung menundukkan kepala dan menggoyangkan ekor, kembali ke sisinya lalu berbaring dengan patuh di dekat kakinya.Geisha menepuk-nepuk bekas tapak anjing di seragamnya, baru kemudian berjalan perlahan mendekat, "Mesin kopinya mana?"Shane menjawab, "Belum dibeli."Ellie bingung setengah mati.Kalau belum dibeli, apa yang harus dia perbaiki?Sambil dengan santai mengelus anjing-anjing itu dan menggeser layar ponsel dengan satu tangan, Shane bertanya, "Kamu 'kan suka minum kopi. Ada rekomendasi mesin kopi yang bagus nggak?"Geisha, "Urusan begini nggak bisa diselesaikan lewat ponsel aja?"Harus banget tengah malam begini manggil dia ke atas?Lagi pula ….Dia menjulurka

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 49

    "Belum tentu. Siapa tahu dia biseksual."Geisha menambahkan, "Dia juga seorang masokis."Thea menghiburnya, "Nggak apa-apa. Aku udah ngomong sama jastipnya. Dia bakal segera bantu beliin buat kamu. Begitu kemejanya udah kamu kasih sebagai ganti, kamu nggak perlu takut sama dia lagi."Sebenarnya, Geisha tidak benar-benar takut padanya.Meskipun Shane agak menargetkannya, perilaku pria itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi.Menjadi seorang manajer hotel berarti harus siap menghadapi berbagai macam tipe tamu.Nona Karina dan pria itu adalah dua contoh kasus yang paling nyata. Berkat pengalaman menangani mereka berdua, jam terbang dan keahlian kerjanya makin bertambah matang.Tok, tok.Terdengar suara ketukan pintu.Thea memberi isyarat agar Geisha diam, lalu pergi membuka pintu.Melihat Henry berdiri di luar, dia langsung memasang wajah tidak ramah. "Ngapain lagi? Belum cukup nyium bau sepatu hak tinggi aku, ya?"Salah satu sisi pelipis Henry sudah ditempeli perban, sepertinya baru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 48

    Henry ketahuan basah dan sambungan telepon langsung terputus.Daniel merasa sedikit kesal. Tadi dia sedang asyik mendengarkan, tetapi kini dia tidak bisa lagi mendengar suara Geisha.Setelah beberapa saat, Henry menelepon balik. "Pak Daniel, saya tadi ketahuan."Daniel sedikit menegurnya dengan suara rendah, "Sudah kubilang hati-hati! Kok bisa ketahuan semudah itu sih?"Henry merasa serba salah. "Nona Lucy mengirim pesan pada saya, nanyain Bapak di mana. Kebetulan layar ponsel saya menyala, dan Nona Thea langsung melihatnya."Daniel menahan napas kesal di dalam dadanya."Blokir aja nomor dia.""Benar nggak apa-apa, Pak? Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung anak Bapak. Kalau tiba-tiba ada keadaan darurat dan dia nggak bisa menghubungi siapa-siapa ...."Daniel menjawab, "Tenang aja. Orang tuaku sekarang jagain dia ketat banget kayak barang berharga, jadi dia nggak bakal butuh hubungi kamu."Henry hanya bisa menurut. "Baik, nanti saya blokir.""Oh ya ...." Daniel teringat percakapan G

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 47

    Dulu, ada ganjalan di hatinya. Dia merasa karena Geisha pernah berselingkuh sekali, maka dia pun harus berselingkuh sekali, agar batinnya bisa seimbang.Sebenarnya, sejak awal dia tidak terlalu melirik Lucy sebagai pilihan.Lagi pula, setelah terbiasa dengan kecantikan Geisha yang luar biasa, paras Lucy jelas jauh di bawah standar.Namun, Lucy memiliki sepasang tangan yang sangat indah.Dia sangat menyukai tangan Geisha. Jari-jarinya lentik, tetapi tidak kurus kering, kulitnya lembut dan putih berseri. Wanita itu juga tidak pernah melakukan perawatan kuku, memancarkan kecantikan yang begitu bersih dan alami.Tangan Lucy memang tidak buruk, tetapi dengan tambahan cat dan desain kuku, dia kehilangan keindahan alaminya dan hanya bisa dianggap seadanya.Saat memilihnya, Daniel meyakinkan dirinya sendiri: parasnya biasa saja, kemampuannya biasa saja, latar belakang keluarganya juga biasa saja. Nanti saat mereka berpisah, dia akan memberinya sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupnya hing

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 46

    Victor dan Orla mana pernah melihat putra mereka marah sehebat ini.Wajah Daniel dingin dan tegas, kata-katanya seolah bercampur dengan angin dingin yang menusuk, "Ayah, dia itu menantumu. Tolong jaga mulut Ayah."Suara gaduh yang luar biasa akhirnya membuat pengasuh itu keluar dari persembunyiannya.Dia bergegas datang dari dapur, dan yang dilihatnya adalah seluruh ruang makan yang berubah menjadi berantakan.Makanan dan lauk pauk berserakan di lantai. Sup dan bubur mengalir ke mana-mana, pecahan porselen beterbangan ke segala arah, bahkan beberapa bagiannya sudah jatuh di dekat pintu gerbang vila, menunjukkan kemarahan Daniel yang luar biasa.Victor juga ikut marah. "Dari awal aku nggak pernah akui dia sebagai menantu! Aku bilang, cuma yang bisa ngasih keturunan yang layak jadi menantu Keluarga Stephen! Orang luar yang nggak jelas, nggak pantas masuk ke rumah Keluarga Stephen!""Oke." Daniel terkekeh dingin. "Aku nggak bisa punya anak, jadi aku juga dianggap orang luar yang nggak pen

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 45

    "Licin banget, kayak belut.""Rebecca yang nyuruh aku ….""Hei … Shane! Sial!"Ellie terdiam kaku.Sekarang ini situasi apa?Shane jelas baru saja selesai mandi, dan di atas kasur masih ada seorang wanita yang berbaring?!Geisha juga jelas terkejut.Cewek seksi berkulit gelap?Dari nada bicaranya, sepertinya cewek ini sangat akrab dengan Shane.Geisha tiba-tiba mendapat pencerahan.Ellie bertanya dengan terbata-bata, "Bu Geisha, boleh aku tanya sesuatu nggak?""Silakan.""Kalian berdua ini lagi ngapain sih?"Geisha menjawab, "Kalau aku bilang aku ke sini cuma buat bikin hiasan kecil di pinggir kasur, kamu percaya nggak?"Ellie menatapnya, lalu melirik Shane yang duduk santai di samping sana seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas sekali Ellie tidak percaya.Geisha bertanya, "Nona Ellie, boleh aku juga tanya sesuatu?""Tanya aja.""Kamu pernah cerai?"Ellie heran.Dia menunjuk Shane. "Kamu sampai cerita soal ini ke dia?!"Shane mengangkat kedua tangannya, menggelengkan kepala dengan wajah t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status