Mag-log in"Itu ruangannya," bisik Arka sambil menunjuk pintu tersebut dengan dagunya.
Arka bergerak maju dengan langkah sangat hati-hati, memastikan tidak ada penjaga atau sistem keamanan otomatis yang aktif di koridor darurat itu, sedangkan Rian dan Kinan mengekor tepat di belakangnya. Rian mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya, memastikan daya baterainya masih cukup untuk melakukan proses dekode sistem. Sebagai penulis yang merancang seluruh latar belakang karakter di dunia ini, Rian tahu persis bahwa paman Arka menyukai teka-teki logika klasik berbasis angka, sebuah kebiasaan kecil yang sengaja Rian sisipkan dalam lembar deskripsi tokoh antagonis tersebut. Arka membuka pintu sebab pintu itu tidak terkunci, tetapi panel kunci digital di sampingnya memancarkan cahaya merah berkedip, menandakan sistem keamanan brankas di dalam ruangan sedang dalam status siaga tinggi. "Sistem keamanannya menggunakan enkripsi lapis ganda," kata Arka dengan kening berkerut, menatap layar sentuh bernomor di dinding. "Biasanya paman mengganti kata sandinya setiap minggu berdasarkan tanggal rapat penting perusahaan." Rian melangkah maju menggantikan posisi Arka. Ia membuka laptopnya dan menyambungkan kabel USB tambahan ke port kecil di samping panel digital brankas. Layar laptop Rian seketika berubah menampilkan baris-baris kode teks mentah berwarna hijau tua. "Jangan gunakan tanggal rapat, Arka," kata Rian tenang sambil mengetik diatas keyboard. "Pamanmu adalah tipe orang arogan yang meremehkan detail kecil. Di bab latar belakang yang kutulis tiga hari lalu, aku mendeskripsikan bahwa dia selalu menggunakan tanggal ulang tahun kucing kesayangannya sebagai kata sandi cadangan ketika panik." Kinan menatap Rian dengan mata membelalak takjub. "Kamu bahkan menulis detail sekecil itu untuk karakter figuran musuh?" "Perfeksionisme punya keuntungannya sendiri," jawab Rian sambil menyeringai tipis. Rian memasukkan kombinasi angka delapan digit berdasarkan ingatan semburnya tentang draf bab masa lalu. 'Tiit!' Layar panel digital yang tadinya berwarna merah menyala berubah menjadi hijau terang. Suara klik mekanis yang berat terdengar dari balik dinding, menandakan sistem penguncian brankas utama telah berhasil dilumpuhkan. Di sudut ruangan, sebuah brankas besi berukuran besar tertanam rapi di balik lukisan dinding berbingkai emas. Tanpa membuang waktu, Arka memutar roda pengaman brankas dan menarik pintu bajanya lebar-lebar. Di dalam brankas tersebut, tersusun rapi map-map dokumen fisik serta sebuah 'flash drive' transparan yang memuat seluruh data cadangan keuangan asli PT Sinar Abadi. "Ketemu!," katajawab Arka lega, lalu meraih 'flash drive' dan map dokumen tersebut dengan tangan sedikit bergetarbergemetar. "Dengan bukti ini, paman tidak akan bisa berkutik lagi di hadapan dewan direksi besok pagi." Namun, sebelum mereka sempat bernapas lega, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema dari arah koridor luar. Disusul oleh suara hantaman keras di pintu masuk ruangan. "Sial, seseorang mendatangi tempat ini!" seru Kinan panik, menoleh ke arah pintu yang mulai bergetar hebat akibat tendangan dari luar. "Lewat jendela!" perintah Rian tegas. Ia mengemas kembali laptopnya ke dalam ransel dengan gerakan kilat. "Ruangan di lantai dasar ini terhubung langsung ke halaman belakang gedung dekat taman air mancur!" Arka tidak berpikir dua kali, lalu dengan. Ia segera dia merusak kunci pengait jendela kaca besar di samping meja kerja dan , mendorongnya terbuka lebar. Langit senja di luar tampak semakin kacau, dipenuhi garis-garis kode teks yang berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas atap gedung pencakar langit. Satu detik kemudian, pintu kayu mahoni di dalam ruangan jebol berkeping-keping. Sesosok bayangan pria paruh baya bertubuh tegap dengan tatapan mata penuh amarah berdiri di ambang pintu, dikepung oleh partikel cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya. Itu adalah paman Arka, sang antagonis utama bab ini, yang wujudnya mulai terdistorsi oleh 'glitch' semesta fiksi. "Arka! Berani sekali kau mencuri dokumen itu dari ruanganku!" bentak sang paman dengan suara yang bergema aneh, terdengar seperti suara rekaman kaset yang berputar terlalu cepat. "Waktunya kita kabur!" teriak Arka menarik lengan Kinan, lalu melompat keluar melalui jendela disusul oleh Rian tepat sebelum gelombang teks putih menyapu bersih seluruh isi ruangan kerja tersebut dalam sekejap mata.Bab 21 : Titik Nadir di Ujung CangkirMalam merayap semakin pekat, membawa serta keheningan yang kian menekan dada di dalam ruang Cafe D’Amour yang tertutup rapat dari dunia luar. Udara di dalam ruangan terasa begitu padat, seolah-olah setiap oksigen yang tersisa telah habis terkuras oleh keputusasaan dan deru napas tiga manusia yang terjebak dalam labirin tak berujung.Rian masih duduk terpaku di kursi sudutnya, menatap sisa-sisa ampas kopi hitam yang mengering di dasar cangkir porselen putih. Sebuah saksi bisu yang kecil atas kebodohan dan kegagalan mereka malam ini.Kepalanya masih terasa berat, berdenyut-denyut nyeri akibat hantaman kafein dosis tinggi yang memaksa sistem sarafnya bekerja di luar batas kewajaran. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menggerogoti jiwanya dari dalam. Dunia tempat ia dilahirkan, kamar kosnya yang berantakan dengan tumpukan naskah cerita, aroma jalanan basah usai hujan di kota asalnya, serta wajah-wajah
Bab 20 : Labirin Kopi dan KeputusasaanKeheningan di dalam Cafe D’Amour mendadak berubah menjadi teror yang mencekam ketika tubuh Rian terkulai sempurna di atas meja kayu. Suara detak jam dinding bergaya vintage terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian yang kian menghimpit dada Arka dan Kinan.Kinan lantas berlari kecil, berlutut di sisi meja, lalu mengguncang bahu pria itu dengan tangan yang bergetar hebat. "Rian? Hei... bangun, Rian! Ini tidak lucu lagi!" teriaknya, napasnya tersengat kepanikan murni ketika merasakan tubuh itu terkulai lemas tanpa perlawanan sama sekali.Arka langsung membungkuk, meraba nadi di pergelangan tangan Rian dengan jarinya yang dingin. Denyutnya ada, lambat namun stabil, hal ini menjadi bukti biologis yang telanjang bahwa jiwa pria itu belum terbang ke mana-mana."Dia masih di sini, Kinan," bisik Arka serak, suaranya kehilangan seluruh wibawa CEO yang biasa melekat padanya. Pria itu menatap lurus ke arah kepala Rian yang menelungkup di atas meja dengan
Bab 19 : Eksperimen Konyol di Cafe D'AmourMalam baru saja merangkak turun ketika sebuah mobil sedan mewah hitam milik Arka berhenti tepat di depan fasad bangunan Cafe D’Amour. Tempat itu tampak begitu temaram dan tenang, dihiasi lampu gantung bergaya vintage yang berpijar lembut di balik dinding kaca berwarna pastel. Namun, ada satu hal yang tidak biasa malam ini. Pintu utama kafe tampak terkunci rapat, dan seorang petugas keamanan berbadan tegap berdiri berjaga di luar tanpa mempersilakan satu pun pengunjung umum untuk masuk.Arka memang tidak mau mengambil risiko. Sebagai CEO yang terbiasa mengendalikan segala situasi di balik layar korporat, ia telah mengerahkan kekuasaannya untuk menyewa seluruh area Cafe D’Amour malam itu demi satu tujuan yang sangat rahasia: melakukan uji coba lintas dimensi secara tertutup agar tidak menarik perhatian publik atau disangka sebagai orang gila oleh pengunjung lain.Rian, Kinan, dan Arka melangkah masuk ke dalam ruangan kafe yang sunyi senyap. Ar
Bab 18 : Permintaan RianAcara pertemuan dari para stakeholder itu telah berakhir ditutup dengan kemenangan Arka. Sandra yang memang masih menaruh harapan atas kemenangan bisnis dan juga kisah percintaannya terhadap Arka, akhirnya terlihat meninggalkan ruangan tersebut.Rian, Kinan, dan Arka segera melangkahkan kakinya di atas lantai marmer dengan kilauan cahaya dari sinar matahari dan juga lampu gedung. Mereka akan segera membahas masalah tentang Rian.Rian tidak percaya dengan apa yang sedang ia alami di hidupnya sekarang. Sebuah latar yang dulu hanya berada di dalam imajinasinya, sekarang benar-benar ada di depan matanya.“ Bro Arka, urusanmu sudah beres dengan pamanmu! Sekarang kalian bantu pikirkan bagaimana caraku kembali dunia asal ku !” ucap Rian yang langsung duduk di kursi depan meja Arka.Mendengar hal itu, ada raut kesedihan terlukis di wajah mereka, raut itu terlihat sangat jelas di wajah Kinan. Kinan seolah tidak mau berpisah dengan Rian, begitupun juga dengan Arka sang
Bab 17: Manuver Hebat dari Arka Acara pada siang itu pun berhasil menahan rencana licik dari paman Arka. Mereka bertiga terbukti berhasil mengulur waktu dengan menjatuhkan kepercayaan dari para Investor dari perusahaan milik Arka terhadap pamannya. Arsalehe yang dari kemarin sibuk membangun sebuah narasi untuk menjatuhkan Arka di depan para pemegang modal, kini sudah tidak berdaya. Hanya melalui jentik jari tangan dari Rian, semua yang ia rencanakan dalam beberapa bulan harus musnah seketika dalam hitungan menit. Sebuah skenario yang mengingatkan kita, akan pentingnya kehadiran Sang Pencipta, yang Maha dari segala Maha. Apabila kita terkadang merasa seperti sudah tersudut, bahkan kita beranggapan tidak ada lagi jalan keluar. Namun berkat usaha dan pertolongan yang terkadang selalu kita ucapkan berupa untaian kata dalam keheningan suatu masa, sehingga memiliki makna dan jiwa ketika menuju kepada Sang Pencipta. Suasana pun berakhir ricuh dengan gagalnya upaya dari paman Arka. Denga
Bab 16: Pidato Heboh Rian terlihat sangat sibuk dengan laptop miliknya. Jemarinya menari dengan amat lincah di atas papan ketik, menekan satu demi satu tombol dengan kecepatan yang mengagumkan. Entah naskah apa yang sedang ia otak-atik di sana, tidak ada satu orang pun di sekitar meja operator yang menyadarinya. Namun tiba-tiba saja, suara pembukaan yang keluar dari pengeras suara aula mulai terdengar janggal. Kalimat yang diucapkan oleh pembawa acara wanita di atas panggung terasa begitu kaku dan memiliki penekanan nada yang benar-benar asing di telinga. “Serta tamu undangan, rekan-rekan mitra, dan seluruh hadirin, Yang berbahagia. Pertama-tama marilah kita, Panjatkan puji syukur atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena atas Limpahan rahmat serta karunia-Nya, Kita dapat berkumpul Di tempat ini Dalam keadaan sehat wal-afiat Untuk Memulai acara Yang penuh makna dan harapan.” Suara itu bergema ke seluruh penjuru ruangan. Belum sempat hadirin mencerna intonasi bicara pembaw







