LOGINSetelah beberapa saat, Leon melepaskan ciuman itu. Matanya langsung bertemu dengan Luna, lalu mereka sama-sama tersenyum bahagia. Leon pun mengusap pipi Luna dengan lembut. “Terima kasih karena udah mau mengakui perasaanmu sendiri,” gumam Leon. Luna pun ikut tersenyum. Ia memegang tangan Leon yang berada di pipinya. “Maaf kalau aku selalu menghindari Mas Leon. Aku selalu menahan perasaan ini dan memendamnya dalam-dalam karena aku selalu merasa nggak pantas bersanding sama Mas Leon. Aku cuma anak angkat yang punya banyak utang budi dengan Mas Leon dan keluarga.”Leon menggeleng. “Jangan bicara seperti itu, Luna. Hanya kamu yang pantas bersanding dengan saya. Tidak ada perempuan lain yang bisa menggantikanmu.”Mendengar itu pun Luna tersenyum penuh haru. Hatinya terasa menghangat mendengar ketulusan dalam ucapan Leon.“Apa itu artinya sekarang kita … pacaran?” Pipi Luna bersemu kemerahan saat mengajukan pertanyaan itu. Sontak saja Leon tersenyum lebar mendengarnya. Kedua tangannya be
“Kenapa kamu bicara begitu ke Mama?”Bukannya berangkat bekerja, Leon justru mengikuti langkah kaki Luna yang bergegas hendak masuk ke dalam kamar untuk lanjut mengerjakan skripsinya. Leon langsung mengeluarkan protes yang sejak tadi ditahannya pada Luna. Ia mencekal pergelangan tangan Luna dan menghentikan langkah perempuan itu tepat di depan kamarnya. “Kenapa sih, Mas? Mendingan sekarang Mas berangkat kerja deh. Nanti telat loh,” ujar Luna sambil berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Leon. “Saya nggak akan pergi sebelum kamu menjelaskan maksudmu bicara begitu ke Mama,” balas Leon dengan tegas. “Kenapa kamu menghentikan saya saat ingin menjelaskan ke Mama?”Luna menghela napas panjang dan membalas tatapan Leon. “Terus aku harus apa, Mas? Aku harus membiarkan Mas bilang kalau kita udah ciuman dan punya perasaan terlarang begitu?”“Kamu bisa lewati bagian yang ciuman, Mama akan jantungan kalau mendengar hal itu. Tapi, sisanya saya yakin Mama akan mengerti keadaan kita.”“Nggak
Rencana Luna untuk menghindari Leon benar-benar berantakan. Sekeras apa pun Luna berusaha menghindar, Leon selalu mempunyai seribu satu cara untuk mendekatinya. Seperti yang terjadi pagi ini, Luna sedang sibuk memasak di dapur, tetapi Leon malah menontonnya memasak di dapur. “Kamu hebat sekali bisa memasak, Luna,” komentar Leon. Ia duduk di kursi tinggi sambil menopang dagunya di atas kitchen island. “Hebat apanya? Ini sih kemampuan dasar perempuan,” balas Luna dengan suara yang sedikit ketus. “Tapi tidak semua perempuan bisa memasak, dan kamu satu di antaranya yang bisa memasak. Itu hebat,” ucap Leon. Luna hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Leon. “Mas Leon, tumben banget mau nontonin kita masak,” kata Mbak Narti dengan suara menggoda. “Siapa bilang saya ingin menonton kalian memasak?” Leon pun mendengkus. “Saya ingin menonton Luna memasak.”Sontak saja Luna yang mendengarnya terkejut karena Leon dengan tidak malunya mengucapkan hal itu di depan para asisten rumah tangg
Suara Bu Sekar pun membuat ciuman Luna dan Leon pun terlepas. Mata Luna terbelalak panik takut ketahuan oleh ibu angkatnya, ia mendorong tubuh Leon menjauh. Sementara itu, Leon tampak lebih tenang. “Aduh, gimana ini?” Luna bergumam pelan, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri sambil memandangi pintu kamarnya yang masih tertutup. Lalu ia menoleh pada Leon yang memasang wajah tanpa dosa. “Ini semua gara-gara, Mas!”Leon menaikkan sebelah alisnya dan membalas dengan suara yang pelan juga. “Kok jadi gara-gara saya?”“Ya iyalah. Gara-gara Mas mendobrak pintu, Mama jadi samperin ke kamarku!” sahut Luna jengkel. “Semua itu tidak akan terjadi kalau kamu langsung membuka pintunya,” balas Leon dengan santai. “Terus sekarang gimana ini? Ada Mama di depan. Kalau Mama tau Mas Leon ada di kamarku gimana?” tanya Luna dengan panik. “Luna? Kamu di dalam, kan?”Mata Luna semakin terbelalak saat suara Bu Sekar yang kembali terdengar. Apalagi saat melihat gagang pintu yang mulai bergerak, ia baru
Keesokan harinya Leon keluar dari kamarnya, ia menoleh ke arah kamar Luna yang tertutup rapat. Kemudian Leon melanjutkan langkahnya turun ke lantai satu. Ia langsung menuju ruang makan dan dapur, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Kamu cari Luna?” Bu Sekar seolah dapat membaca pikiran Leon. “Luna udah berangkat pergi tadi pagi-pagi banget.”Kening Leon pun berkerut mendengarnya. “Pergi ke mana, Ma?”Bu Sekar mengangkat kedua bahunya dan menjawab, “Katanya mau cari referensi buat skripsinya.”Leon menundukkan kepala dan mengembuskan napas kasar. Pasti Luna sengaja pergi pagi-pagi sekali untuk menghindarinya. Ini sudah kesekian kalinya Luna menghindarinya, seharusnya Leon sudah menduga hal ini akan terjadi.Sial, padahal sebelumnya mereka baik-baik saja. Ini semua karena ciuman itu!“Apa semua baik-baik saja, Leon?” Bu Sekar menatap Leon dengan curiga. Ekspresi wajah putra sulungnya itu tampak aneh, begitu juga dengan sikap Luna tadi pagi. “Kalian nggak berantem, kan?”“Ngga
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Leon baru melepaskan ciumannya usai merasakan dorongan kecil dari Luna yang kehabisan napas karenanya. Leon menempelkan dahinya pada dahi Luna, matanya memperhatikan wajah Luna yang sudah memerah seperti kepiting rebus dengan napas yang terengah-engah.Luna yang menyadari sedang diperhatikan pun mendongak dan menatap mata Leon. Pipinya semakin bersemu kemerahan saat tatapannya jatuh pada bibir Leon yang baru saja menciumnya. Seketika itu juga Luna tersadar dan segera bangun dari posisinya. Luna berpindah duduk di tempatnya semula dan langsung membuang muka ke arah lain. Leon berdeham. “Luna, soal tadi–”Sebelum Leon menyelesaikan ucapannya, Luna langsung memotong ucapannya dengan cepat sambil menunjuk kaca jendela. “Eh, lihat deh itu wahana arung jeram kelihatan dari sini. Seru banget kayaknya.”Leon pun mengurungkan niatnya untuk membicarakan ciuman tadi. Luna terus saja bicara tanpa henti, seolah tidak membiarkan Leon membicarakan apa yang baru sa







